27 November 2007 Hari Minggu yl kami diundang ke suatu resepsi perkawinan salah satu keluarga dekat kami. Resepsi itu adalah dalam rangka apa yang lazim dikenal dengan istilah “ngunduh mantu”, yaitu dimana keluarga pihak pengantin pria mengundang keluarga dan handai tolannya. Undangan yang “konvensional” adalah dimana pihak keluarga pengantin wanita, yaitu pihak yang “empunya gawe”, yang mengundang. Dalam hal ini keluarga kami adalah pihak pengantin wanitanya. Jadi dalam ajang ini pihak kami justru menjadi tamu pihak besan kami.

 

Resepsi diselenggarakan di Balai Sudirman, suau tempat yang populer di Jakarta untuk ajang resepsi perkawinan. Dan sekaligus juga suatu tempat yang termasuk “wah” untuk ukuran terkini. Tapi resepsi yang dalam undangannya jelas-jelas dicantumkan mulai pk 11.00 siang sampai pk 13.00 siang, baru mulai “hidup” sekitar pk 12.00 siang. Molornya waktu tidak kurang dari satu jam mengingatkan saya pada tulisan rekan saya sdr. A. M. Budiman berjudul “BUDAYA TEPAT WAKTU” yang beliau release di www.superkoran.info pada tanggal 28 Nopember 2007 (dimuat di kolom tengah Superkoran ini).

Tapi sebelum kita sampai pada sebab-musabab molornya sang waktu dalam resepsi besan keluarga kami itu, mungkin ada baiknya saya mengajak Anda berkeliling menikmati suasana ajang resepsi itu sendiri terlebih dahulu. Bayangkanlah Anda memasuki gedung dan mulai menaiki anak tangga demi anak tangga yang sungguh sangat melelahkan untuk orang seusia saya yang kemana-mana menggunakan dua tongkat sekaligus : tongkat konvensional dari kayu atau logam dan “tongkat hidup” dengan siapa saya telah menjalin hubungan selama lebih dari 53 tahun, yaitu isteri saya sendiri. Jadi begitu tongkat konvensional ditekankan kebawah setiap kali melangkah, tongkat hidup saya pun selalu dengan kokoh memegang lengan kiri saya supaya saya tidak jatuh terjerembab. Dan itu sudah berlangsung sudah agak lama. Sudah bertahun begitu terus.

Alhamdulillah. Nah, Anda sekarang sudah sampai di pelataran atas. Disana Anda bisa memilih untuk menuju meja-meja sebelah kiri atau sebelah kanan, untuk mengisi daftar hadir dan mencemplungkan “amplop in lieu of present” kedalam bejana-bejana berhias yang masyaallah cukup besar-besar semuanya. Mungkin dimensi dan jumlah bejana ini didasarkan pada ekspektasi sang empunya gawe akan jumlah amplop yang akan dicemplungkan orang selama k.l. dua jam. Begitulah perkiraan saya. Saya kira ini sudah menjadi pemandangan biasa dalam setiap resepsi perkawinan atau pun sunatan. So nothing new there. Selera materialisme vulgar yang terpajang begitu telanjang yang sudah menjadi pemandangan biasa di negeri tercinta ini. No free lunch here man………..

Di pelataran tempat Anda berpisah dengan amplop Anda itu juga terpampang beragam “papan tulis kembang”, yang satu lebih besar dari yang lainnya. Atas-mengatasi. Mungkin inilah cara untuk menampilkan identitas diri bagi si pengirim kembang secara lebih gamblang : prestige yang diukur dengan dimensi “papan tulis bunga itu sendiri. Lebih besar bermakna lebih prestigius. Lebih berduit. Lebih kaya. Lebih penting. Lebih. Lebih. Lebih….etc…etc…”Papan-papan tulis” juga banyak yang “terpaksa” di pajang di pelataran bawah karena kekurangan tempat. Disini bukan lagi dimensi yang berbicara. Dan bukan lagi prestise si pengirim kembang yang berbicara. Tapi disini yang berbicara adalah volume : semakin banyak papan bunga semakin tinggi martabat yang punya gawe. Pentingnya kedudukan yang punya gawe bisa diukur dari jumlah papan kembang yang bertebaran, yang terserak, sejauh mata memandang. Hal ini tentulah diharapkan memancing decak kagum dan rasa segan para undangan dalam mengira-ngirakan martabat si empunya gawe. “Wah, hebat kali orang ini…..”. Mungkin kira-kira begitulah harapan yang ada dalam benak sang punya gawe. Semacam “self-enhancement” begitulah kira-kira.

Nah, setelah berpisah dengan amplop, Anda pun sudah siap masuk ke dalam ruang resepsinya sendiri. Di kiri dan kanan Anda sudah berderet “pagar betis” yang menerpa mata Anda dengan serba kemilau pantulan cahaya dari sekian banyak hiasan busana yang “serba emas”. Suatu pemujaan primitif yang klasik terhadap emas sebagai komoditas bernilai. Semakin “ber-emas” semakin kaya. Semakin kaya, semakin terpandang, Semakin… Semakin…Semakin…Kira-kira begitulah mungkin falsafah dasarnya. Dan bukan manusia pagar betis saja yang penuh dengan pernik-pernik emas. Bahkan seluruh interior ruang resepsi seolah-olah sudah disulap menjadi gudang emas. Bayangkan apabila para conquistador Spanyol datang ketika itu, tentulah dengan segala sukacita mereka boyong segala yang berkilau itu pulang kenegerinya. For God, Gold and Glory. Setelah sekian lamanya kita meninggalkan emas sebagai standar uang sesuai deklarasi Nixon di Brettonwoods puluhan tahun y.l., saya sungguh tetap heran melihat kerinduan abadi manusia terhadap kilauan keemasan yang bukan emas sebenarnya itu. Mengapa kita masih memelihara budaya berpura-pura itu ? Mengapa kita masih saja menampilkan wajah ganda modern sekaligus primitif ?

Dan di sudut-sudut yang strategis juga dipajang monitor-monitor plasma TV yang besaaaar-besaaaar untuk memudahkan para undangan menonton prosesi pengantin nanti dan suasana resepsi pada umumnya. Begitu banyak jumlahnya, sehingga yang terbersit adalah begitu tidak berharganya barang berharga itu dibuat oleh sang empunya gawe. Suatu keangkuhan dan kepongahan yang benar-benar telanjang. Look, I can afford all this…………

Dan kita pun menunggu. Menunggu. Dan menunggu. Jarum jam tangan saya sudah mendekati pk 11.30. Tiba-tiba berdengkinglah suara announcer yang membacakan maklumat bahwa pengantin sudah di jalan menuju gedung dalam kereta kencana. Gumam kesal saya yang nyaris kedengaran oleh orang-orang sekitar mengiringi sederet sumpah serpah saya terhadap peerilaku sang empunya gawe yang dengan lancangnya telah menyuruh saya menunggu dan menunggu. Dan “menjemur” saya sekian lama. Alangkah tak beradabnya orang ini, pikir saya.

KERETA KENCANA ? Ya, kita seolah-olah disuruh mundur dalam time machine ke zaman Gajah Mada dan Majapahit. Dan ketika – at long last – si kereta kencana “beneran” yang mengangkut sepasang pengantin yang aduhai yang terlilit sangat banyak emas-yang-bukan-emasnya itu akhirnya tiba – and the time was then 12.00 and counting – di depan gedung resepsi, ditengah deru mesin sekian belas motor Harley-Davidson dari the local HD chapter, yang rupanya sudah dirancang sebagai pengawal kereta kencana sang pengantin, sadarlah saya bahwa resepsi akan segera dimulai. Semua tamu otomatis mengarahkan pandangan ke pintu – maaf : “gerbang” – masuk.

Ternyata harapan saya yang ini pun rupanya tidaklah realistis. Dibutuhkan waktu k.l. setengah jam lagi untuk para pengantin beringsut perlahan-lahan dari kereta kencananya menuju pelaminan. Masyaallah. Benar-benar tega mereka yang punya helat ini memperkuda suasana batin orang-orang yang mereka undang sebagai tamu-tamu terhormat. “Para undangan dimohon BERDIRI”, demikian perintah si pembawa acara menggema memenuhi ruangan. Dan dengan penuh taat (atau kesal ?) berdirilah seluruh hadirin. Pak Harto saja tidak segila hormat begini rasanya. Yakin saya.

Demi kelengkapan “reportase” ini perlu kiranya ditambahkan bahwa rombongan pengantin didahului oleh pasangan-pasangan yang mengenakan aneka busana yang dimaksudkan sebagai mewakili kultur daerah-daerah yang beragam. Ada yang dari Tanah Pasundan, ada dari Jawa, ada dari Minangkabau, ada dari Batak, dsb. You name it. Each cultural entity in Indonesia is well represented. Ada yang pakai blangkon. Ada yang pakai sorban. Ada yang pakai destar. etc…etc…etc…Rupanya mereka itulah yang telah ditabalkan sebagai tamu-tamu terhormat yang telah dirancang untuk menggunakan “jalan tol” menuju pelaminan. Ada pun tamu yang bayar ini, tamu-tamu yang dari rumah sudah mengantongi amplop yang sudah “dicemplungkan” itu, tamu-tamu kelas rakyat jelata ini, ya boleh tunggu dululah. Setelah mereka puas di potret dari atas, bawah kiri dan kanan, menyusul pulalah rombongan Harley-Davidson dengan busana klasik jeans lusuh dan dekil, jaket kulit yang membungkus otot-otot gempal, masing-masing disertai pasangan wanitanya yang equally dekil dan penuh keringat. Mereka ini pun sibuklah mematut diri bergambar bersama kedua pengantin yang seolah-olah baru turun ke bumi (dengan kereta kencana) dari langit ke tujuh setengah.

Hampir lupa saya memberitakan disini bahwa sebelum para tamu terhormat itu menaiki panggung kehormatan, sebagaimana biasa tampillah wakil kedua keluarga menyampaikan sambutan tunggalnya yang disusul oleh seorang kiai yang mengemban job description klasik : baca doa. Mereka ini termasuk tamu kehormatan ring 3 yang dipersilahkan naik panggung, bersalaman dengan pengantin, dipotret dari kiri, kanan, atas, bawah. Barulah datang giliran kami bersama rakyat rendahan lainnya dengan penuh keringat menaiki panggung kehormatan. 

Ketika pada akhirnya tiba pengumuman yang menggelegar dari sang announcer supaya “rahayat” ini naik ke panggung untuk memberikan doa restunya kepada kedua pengantin, terbelalaklah mataku mencoba menghindari bunga-bunga (plastik) putih yang tersusun rapi bersaf-saf dan berbanjar-banjar diatas permadani dimana “para raja, ratu serta hulubalang” berdiri dengan penuh wibawa menerima kedatangan rakyat mereka. Walaupun terbuat dari plastik, rasanya tak layaklah bunga diinjak oleh kaki. Bukankah bunga putih seolah-olah melambangkan kejernihan, keindahan dan kejujuran ? Sesuatu yang agung. Sesuatu yang datang dari atas. Patutkah kaki yang lebih dekat ke bumi menginjaknya ? Bukankah itu suatu pemerkosaan keindahan dari Tuhan oleh manusia ? Sementara itu sejumlah remaja putera dan puteri memperagakan suatu tarian Melayu yang entah apa namanya di pelataran bawah yang langsung menghadap ke panggung kehormatan tempat raja dan ratu bersanding.

Segera setelah acara wajib itu usai – jarum jam sudah menunjukkan pk 13.00 lewat – saya dan isteri saya meninggalkan istana 1001 malam itu tanpa sedikit pun mencicip makanan yang tampaknya sudah diserbu oleh para tamu, tak ubahnya bak segerombolan ikan piranha memangsa di sungai-sungai Brazil sana.

Memang sah-sah saja membuat helat sedahsyat bagaimana pun. Sah-sah pula membuang uang ber-M M sementara rakyat miskin merasa galau dalam upaya mencari sesuap nasi penyambung hidup. Bukankah itu uang mereka ? Mereka belanjakan kek, mereka buang kek, bahkan mereka bakar pun adalah hak penuh mereka. Bukankah itu uang mereka ?

Betul. Betul sekali. Tapi bukankah pula untuk setiap kerja yang diangkat ada aturannya ? Ada falsafahnya ? Apa sebenarnya yang tersirat dalam setiap helat perkawinan ? Pada mulanya helat kawin – istilah aslinya “walimah” atau lengkapnya “walimatun nikah” – adalah suatu ajang dimana orang tua mempelai (biasanya orang tua pengantin perempuan) bersyukur telah mendapatkan jodoh untuk anaknya sekaligus mengumumkan perjodohan itu kepada handai tolannya, supaya mereka menerima pasangan muda itu sebagai sesama anggota penuh dari komunitas. Dan sekaligus supaya mereka yang baru berjodoh itu tidak disangka “main-main”. Tapi benar-benar sudah resmi merupakan pasangan suami-isteri. Demikianlah sederhananya dasar helat itu. Kesepakatan masyarakat untuk melembagakan helat kawin itu dengan sendirinya membuahkan kewajiban-kewajiban dasar sebagai derivatnya, baik bagi si empunya gawe maupun bagi para undangan. Adalah kewajiban hakiki setiap yang diundang untuk hadir pada helat nikah, supaya diperkenalkan dengan jodoh anak yang punya gawe, supaya memulai menjalin tali silaturrahim baru antara anggota-anggota komunitas senior dengan anggota junior yang baru saja menikah. Sebaliknya ada kewajiban hakiki bagi sang punya gawe untuk menghormati tamu yang diundangnya. Penghormatan itu bermula diwujudkan dalam bentuk makanan ala kadarnya sebagai imbalan jerih payah tamu yang telah memerlukan datang secara khusus ke helat nikah, dan dengan demikian telah mengorbankan kewajibannya yang lain seperti memelihara tanah ladang atau mencari ikan di laut sebagai upaya mencari nafkah untuk keluarganya masing-masing.

Dalam konteks kehidupan modern penghormatan pada tamu mungkin sekali perlu diwujudkan dengan melakukan helai secara tepat waktu, tidak bertele-tele, tidak menghabiskan waktu para undangan dengan percuma, menyediakan ajang resepsi yang menyejukkan mata, telinga dan terutama sekali hati para tetamu, secara tepat waktu. Ingatlah bahwa tamu kita mungkin punya kewajiban lain yang perlu ditepatinya. Helat kita janganlah sampai memonopoli “daftar tugas” tamu kita.

Resepsi perkawinan bukanlah ajang peragaan budaya. Maksud sang empunya gawe dengan menggelar berbagai tarian dan nyanyian mungkin saja diniatkan untuk menghormat tamu, tapi jangan alpa bahwa tamu pun bisa saja berpendapat bahwa sang punya gawe ingin pamer budaya, lebih parah lagi : ingin pamer kemampuan dan pamer kekayaan. Kalau begini dampak yang timbul, niscaya sia-sialah upaya sang punya gawe. 

Kata kunci yang perlu diingat adalah “menghormat” dalam makna menghormat para tamu. Bukan sebaliknya : janganlah memaksa orang datang dengan predikat tamu tapi menuntut dari mereka supaya mereka menghormat kita sang punya gawe.

Mungkin juga bisa dinukil disini ajaran tentang HARMONI. Dalam khazah klasik orang Minangkabau ada ungkapan yang berbunyi “Anak pangku kamanakan bimbiang. Urang kampuang patenggangkan”, yang secara harfiah bisa dialihbahasakan sebagai “anak (haruslah) dipangku, kemenakan (haruslah) dibimbing. Sedang orang kampung (orang lain) haruslah ditenggang perasaannya”. Sayang kewajiban “menenggang perasaan orang lain” seringkali diabaikan.

Arifin Abubakar,

Jakarta, 29 November 2007

 

Sambutan atas tulisan ini:

Tetek,

Sangat menyentuh sekali, yah begitulah adanya kita
tidak bisa "mengharuskan" orang lain untuk berfikir
secara kita.

Banyak cerita yang ada dilatar belakang kehidupan
setiap manusia, sehingga ada kemungkinan kemudian
mereka merefleksikan dirinya dengan kekiniannya.

Ada orang yang dulunya melarat lalu kemudian dia tidak
melarat lagi dan ia ingin memperlihatkan pada dunia
bahwa sekarang dia tidak melarat lagi dan dunia harus
tahu siapa dia sekarang.

Ada lagi orang yang dulunya melarat lalu sekarang dia
kaya raya tapi dia tidak butuh pengakuan dunia bahwa
sekarang dia sudah kaya raya, jadi kekayaannya
dinikmatinya sendiri juga dengan mengajak
lingkungannya dan dia bahagia.

Ada orang yang dulunya kaya raya, sekarang melarat,
tapi dunia harus tetap tahu sekarang dia kaya raya,
sehingga dia harus berupaya sedemikian rupa ngutang
kek apa kek agar dunia tetap mengakuinya bahwa dia
tetap orang kaya raya.

Ada lagi orang yang dulunya kaya raya sekarang tetap
kaya dan dia tidak butuh pengakuan dunia (pamer), tapi
sekedar melestarikan budaya negara Indonesia tercinta
ini.

Mudah2an perhelatan di balai sudirman yang tetek
datangai itu termasuk pada kategori yang keempat ini.

Yah, mungkin itu tek yang dapat gadis tanggapi tentang
manusia dan kekayaannya.

Salam
Gadis

 

Hai Sahabat,
 
Saya punya perasaan yang sama dan kalau saya bisa menulis seperti Anda, mungkin hasilnya akan sejalan, tapi tak sebagus ekspresi yang saya baca pada tulisan ini. Saya senang membaca tulisan-2 anda, serasa ada di Sungei Gerong lagi.
 
Salam
Soedjanto
 
Dear Arifin
 
Terima kasih banyak atas kiriman 'cerita bermuatan makna'nya. Terus terang saya juga mempunyai persepsi yang sama tentang resepsi semacam itu, hanya saja saya kurang mampu dan sempat mengabadikan dalam bentuk tulisan. Sekali lagi terima kasih.
 
Kalau saya boleh mengomentari sedikit, ada satu aspek yang agaknya belum terangkat dalam cerita itu, yakni ada satu sektor masyarakat yang sangat mendambakan pesta semacam itu, yakni sektor-sektor 'usaha jasa' yang mendapat limpahan rexeki karena adanya pesta tersebut, seperti: jasa catering, jasa dekorasi dan pelaminan, jasa foto/video dokumentasi, jasa baju seragam panitya dan baju pengantin,pasok bunga, jasa cetak dan edarkan undangan, jasa pemasok souvenir ucapan terima kasih. jasa secority, jasa parkir liar, dan sebagainya dan sebagainya.
 
Mereka juga 'punya andil' dalam mempromosikan pesta yang semakin wah dan mewah. Jasa yang ditawarkan semakin meluas saja. Jasa foto dokumentasi misalnya,tidak saja melakukan pengambilan foto selama resepsi, tetapi meluas termasuk 'pre-wedding photo' dan juga membuat album yang semakin 'wah' .
 
Saya sendiri pernah merasakannya, ketika saya mulai ditugasi koordinasi proyek X dan Y (red: disamarkan untuk menjaga privacy penulisnya). Pertama kali saya ke lokasi Proyek X, saya dibisikin tuan rumahnya waktu itu, General Manager X, bahwa saya harus menjalano upacara selamat datang sesuai adat setempat, yakni yang disebut 'pesejeuk'. Pada awalnya saya ingin menolaknya, karena ini hanya kunjungan kerja. Tetapi kemudian terpaksa juga menjalani, ketika dikasih tahu bahwa upacara tersebut tidak hanya untuk menghormati tamunya, tetapi sudah menjadi tradisi yang memberikan lahan usaha bagi pelaksana upacara ( serombongan penabun gendang, dekorasi 'singgasana dsb ).Nah!
 
Jadi memang ada 'economical trickle down effect' dalam peristiwa ini, dimana uang si- kaya mengalir ke si kurang- kaya ( meskipun mungkin bukan cara yang terbaik).
 
Wassalam, Kartiyoso