Bandung, 27 November 2007   Bangsa Indonesia secara umum sudah dikenal dunia luar sebagai bangsa yang tidak disiplin dan tidak punya budaya tepat waktu. Tersinggung dan sakit rasa hati ini mendengarnya. Namun, bukankah memang demikian kenyataannya?

 

Tulisan pendek ini mencoba sedikit membahas tentang budaya tepat waktu dan bagaimana kiranya kita bersama dapat mengatasinya.

Selama satu bulan terakhir, dua sahabat saya Bang Arifin Abubakar, tinggal di Lebak Bulus dan Bung Anwari Doel Arnowo, tinggal di Bintaro dan saya sendiri, tinggal di Bandung telah 4(empat) kali mengadakan janji-temu di beberapa tempat di Jakarta. Sengaja saya cantumkan tempat tinggal kami masing-masing, supaya lebih dapat membayangkan betapa saling berjauhan kami bertiga tinggal. Tidak perlu ditulis lagi betapa macetnya jalan-jalan di kota Jakarta, hampir sepanjang hari. Perlu saya sampaikan pula, saya selalu berangkat langsung dari Bandung pada hari kami berjanji bertemu.

Sungguh di luar dugaan kami bertiga bahwa kedatangan kami masing-masing di tempat janji-temu hanya berselisih 1-2 menit saja. Luar biasa? Mungkin bagi orang lain. Namun bagi kami bertiga terasa biasa-biasa saja. Harus diakui, di dalam hati kecil kami masing-masing ada rasa 'nikmat' yang sulit dinyatakan. Nikmat apa sih? Oh, sekedar rasa puas: koq bisa tepat begitu ya?

Janji-temu keempat terjadi baru kemarin pagi. Kami terkejut sendiri karena mobil kami bisa pas bersamaan tiba di depan pintu masuk. Kami bertiga tersenyum gembira tanpa membicarakan 'kebetulan' yang luar biasa ini. Kami anggap lagi-lagi itu sebagai hal 'biasa'.

 

Budaya tepat waktu dapat menjadi faktor penting dalam menunjang keberhasilan seseorang sewaktu menjalankan berbagai kegiatannya, baik itu di bidang bisnis, organisasi ataupun sosial. Mengapa?

Pertama, karena dengan berbudaya tepat waktu, berarti kita menghargai pihak yang akan kita temui. Orang tersebut kita hargai sebagai pribadi yang penting, kita hargai waktunya. Pertemuan tepat waktu akan membuat pihak-pihak terkait merasa saling dihormati, gembira, bersahabat dan disusul kemudian oleh suasana pertemuan yang cair, hangat dan kondusif bagi kelanjutan proses berikutnya.

Kedua, kita menghargai diri kita sendiri. Dengan hadir tepat waktu, menandakan kita punya self esteem, harga diri yang seyogyanya disegani orang lain – dan dengan demikian orang akan menaruh respek kepada kita.

Berarti, kalau kita sering terlambat, kita akan dicemooh dan kurang dihormati.

 

Budaya tepat waktu sering di-claim sebagai budaya orang barat yang hidup di daerah yang bermusim empat, penuh dengan segala macam tantangan yang menggemblengnya agar bisa survive mengatasi berbagai kesulitan hidupnya. Betulkah ini? Sampai sebatas tertentu memang betul. Mereka harus tertib menata waktunya karena mereka sadar bahwa waktu tidak berpihak kepadanya. Kalau mereka tidak tertib waktu, orang lain akan menyepelekannya dan kemudian meninggalkannya. Jadi, mau tidak mau, mereka harus tertib dan tepat waktu.

Di negeri tercinta ini, bangsa kita terlalu dimanja oleh Ibu Pertiwi. Cuacanya, alamnya – semua serba 'enak' bagi rakyatnya. Akibatnya, banyak yang terlalu menggampangkan segala sesuatu – termasuk menyepelekan orang lain dengan tidak merasa perlu punya budaya tepat waktu.

Namun demikian, saya berpendapat bahwa budaya tepat waktu itu bukanlah 'dari sononya memang begitu'. Saya yakin bahwa budaya tepat waktu itu tidak lain adalah suatu acquired skill. Sesuatu yang dapat diperoleh dengan belajar dan melatih diri.

 

Budaya tepat waktu dimulai dari suatu political will, suatu niat dan tekad yang kuat. Ingin tepat waktu. Titik.

Berikutnya memang kita memerlukan persiapan dan perhitungan waktu.

Persiapan apa? Kita perlu mengecek jadwal kegiatan kita, apakah ada yang harus diatur ulang supaya tidak overlapping , dsb. Bila ada penjadwalan ulang, kita harus segera menginformasikan kepada pihak-pihak terkait.

Perhitungan waktu? Kita harus mulai meneliti dan menghitung mundur dari Hari-H. Jarak tempat janji-temu dari tempat kita akan berangkat, hari libur atau hari kerja, rush hour atau tidak – yang penting kita menghitung berapa lama dibutuhkan agar kita bisa tepat waktu sampai di tempat. Di dalam menghitung waktu, sudah dimasukkan faktor-faktor penghambat seperti kemungkinan traffic jam, cuaca dan faktor X lainnya.

Sulitkah ini? Ah, tidak. Karena bagi mereka yang sudah terbiasa tepat waktu, mereka memilih lebih baik tiba di tempat terlalu pagi daripada terlambat. Biar menunggu barang sebentar atau lamapun tidak apa-apa. Benar, untuk tepat waktu kita memang dituntut berkorban. Berkorban demi kebaikan semua pihak.

 

Saya yang berniat selalu tepat waktu dan berupaya supaya tidak terlambat, sering merasa 'horor'  bilamana ada sesuatu yang menghambat perjalanan saya menuju tempat janji-temu. Apalagi kalau sampai betul-betul ternyata saya terlambat, wah, tiada terkatakan rasa malunya. Dengan rasa penyesalan yang besar saya akan segera menelpon dan meminta maaf, tanpa menyebutkan alasan mengapa saya terlambat. Mereka yang sering, bahkan selalu terlambat, mempunyai ribuan alasan mengapa mereka terlambat. Sesuatu yang sama sekali tidak ingin didengarkan oleh pihak yang sudah menunggu-nunggu.

 

Bagi saya, dan barangkali juga dua sahabat saya di atas: Being punctual has become our way of life.