Apa yang dilakuken Paul Steinhardt, Neil Turok, dan Burt Ovrut menghasilken kesan bahwa bigbang bukanlah sesuatu yang ujug2-jleg, … bigbang! Tetapi proses evolusi dari berbagai jagat-suwung yang terapung2 dizagat-raya.


Kemudian ada pula James Hartle dan Stephen Hawking, yang berusaha menjelasken bahwa proses bigbang bukanlah ujug2-jleg tetapi suatu evolusi. Teori Hartle-Hawkin

 

The essence of the Hartle-Hawking idea is that the big bang was not the abrupt switching on of time at some singular first moment, but the emergence of time from space in an ultrarapid but nevertheless continuous manner. On a human time scale, the big bang was very much a sudden, explosive origin of space, time, and matter. But look very, very closely at that first tiny fraction of a second and you find that there was no precise and sudden beginning at all.

 

Maka, ndak ada yang ujug2-jleg, yang terjadi adalah evolusi berkesinambungan terus menerus sikit demi sikit. Dalam peristiwa bigbang, untuk skala manusia itu adalah revolusi, sesuatu yang teramat sangat cepat. Tetapi dalam skala Hartle-Hawkin proses berjalan alon2.

 

Yang paling anyar adalah roti spekuk Martin Bojowald, yang berbasis Loop Quantum Gravitity. Teori ini beranjak dari spekulasi bahwa jagat kita adalah jagat satu2nya, ndak ada jagat-lain di dimensi lain. Jagat kita mengalami osilasi ekspansi-kontraksi = kembang-kempis = bigbang-bigcrunch = big bangbangbang. Interval dalam big bangbangbang disebut bigbounce. Ketika mengempis jagat raya tidak benar2 menjadi satu titik tetapi seukuran x, y dan z = sekian nanonanonanonanonano milimeter. Dan waktu t bukanlah t=0 tetapi = sekian nanonanonanonanonano detik. Kepadatan masa bukan tak berhingga.

 

Matematika yang dulunya macet ketemu x=0, y=0, z=0, t=0 dan gravitasi tak berhingga dalam keadaan nanonanonano tadi menjadi bisa dikerjaken. Apa yang disampaiken bukanlah penemuan baru, sekedar konfirmasi bahwa bigbang yang menghasilken jagat-kita sekarang ini adalah bigbang yang kesekian. Bukan bigbang yang pertama yang ujug2-bang! Dan bukan pula bigbang yang terakir.

 

Yang juga dispekulasiken adalah adanya kelinglungan kosmis yaitu bahwa konstanta2 kosmis (fisika, kimia, biologi, dll) pada tiap jagat yang dilahirken tidak pernah sama. Bisa jadi bigbang yang dulu2 maupun yad tidak memiliki konstanta2 yang memungkinken kehidupan. Atau, kehidupan yang terjadi tidak sama seperti sekarang. Masih ada beberapa roti spekuk lain yang tak begitu laku.

 

Kesimpulan : jagat yang kita huni berasal dari bigbang dan bigbang bukanlah ujug2-jleg tetapi matarantai dari proses sebelumnya. Apapun teorinya, selalu melibatken adanya siluman nanonano. Yang kita sebut siluman nanonano adalah kuanta = satuan terkecil enerji / materi. Seperti kita ketahui ada hukum kekekalan enerji dan kesetaraan massa-enerji.

 

Seliter bensin adalah materi dan jika kita tuangken ke sepeda motor maka bensin tadi akan berubah menjadi enerji panas yang berubah lagi menjadi enerji gerak yang menjalanken motor. Ada pula yang berubah menjadi enerji lain misalnya panas pada knalpot. Ada pula yang berubah menjadi materi lain yaitu asap, gas karbonmonoksida, dan air.

 

Maka, sejauh ini sebelum ada teori yang lebih baru, kita sampai pada kesimpulan <semi> final : sangkan paraning (asal muasal = the origin) jagat raya adalah ENERJI.

 

Enerji ini memenuhi syarat sebagian teologi samawi yaitu : tidak ada yang menciptaken, tidak berawal dan tidak berakir, kekal abadi, tidak selalu tertangkap oleh indra kita dan oleh karenanya kita sebut siluman nanonano. Siluman ini bisa berubah bentuk menjadi apa saja, gas, cairan, benda padat. Bisa berujut planet, bintang, hewan, juga Harley Davidson ;-). Bisa 'menghilang' dalam artian tidak bisa kita tangkap eksistensinya.

 

'Menghilang' ada dua arti. Menghilang dari tangkapan indra tetapi kita bisa mengetahui kehadirannya secara tidak langsung maupun via piranti. Misalnya lobang hitam tidak tertangkap mata tetapi kita bisa melihat sinar disedot kesitu. Ada pula 'menghilang' yang bahkan piranti apapun tidak bisa mendeteksi. Ini terjadi di fisika kuantum dan orang menduga bahwa dimensi bukan sebatas tiga tetapi lebih.

 

Sebagai penutup kosmologi ini, …. pada mulanya … in the begining, … apapun teorinya, … ada suatu ruang. Entah berapa dimensinya tidak penting. Didalam ruang itu ada lautan enerji yang tak terkira besarnya, yang ter-apung2 dalam ruang. Yang tak bermula dan tak berakir kekal nan abadi.

 

Ada pula kosmogoni yang berspekulasi bahwa ada dewa / siluman / berhala yang ujug2-jleg ada. Yang ujug2-jleg mahakuasa entah dari mana ia mendapat kuasa, yang ujug2-jleg maha-teu. Yang ujug2-jleg maha pengasih. Yang ujug2-jleg dalam waktu seminggu mencipta jagat raya.