20 Nopember 2007   Arti kata ini sebenarnya telah dan akan tetap dilakukan oleh semua orang, baik bagi diri sendiri maupun bagi manusia kelompoknya sendiri atau kelompok orang lain. Upaya serta usaha saya dalam menulis adalah sebuah daya yang tujuannya untuk dapat menyampaikan apa yang ada di dalam benak saya, di dalam batin saya kepada orang lain atau pihak lain, pihak yang bukan diri saya.

Apa ganjaran dari menulis sesuatu bagi saya?

Nomor pertama yang amat mendominasi adalah saya dapat melakukan pemindahan bentuk pikiran dan bentuk gagasan dan bentuk rancangan ke dalam bentuk yang dapat dibaca oleh orang atau pihak lain. Hal ini adalah sesuatu yang saya tidak akan mungkin mampu menyampaikannya dengan berhadapan muka dan berbicara. Sepandai apapun saya dalam menyampaikan pikiran, gagasan dan rancangan, saya memilih cara menulis daripada menyampaikannya secara langsung dan berbicara (oral atau verbal). Tulisan saya akan dibaca orang atau pihak lain pada waktu mereka senggang serta sempat. Di sinilah unsur waktu menentukan apakah penyampaian pikiran dan gagasan saya tadi bisa dicerna dengan lebih tenang dan pikiran terang. Kalau si pembaca meragukan isi atau makna yang dibacanya dari tulisan saya, maka dia tidak akan dengan tergesa-gesa memberikan reaksi atau komentar terlalu cepat. Tentu saja dia bisa menenangkan diri terlebih dahulu.

Dia akan dengan lebih santai membaca ulang bagian yang kurang dia mengerti. Setelah membaca ulang mungkin sang pembaca akan bisa mereda reaksi kerasnya menjadi kelegaan hati.

Itulah sebabnya saya menulis.

Kalau saja saya berbicara seperti seorang penyelenggara talk show, maka apa yang saya bicarakan, sebaiknyalah sebanyak 99% berupa materi yang benar dalam isi dan makna, dalam pengucapan kata, dalam intonasi dan lain-lain. Sudah saya lakukan uji coba atau testing berkali-kali selama hidup saya, bahwa saya ini adalah seorang yang tergolong hanya mampu dan bisa berbicara mengenai sesuatu hal, hanya dengan kurun waktu 15 menit saja untuk bisa dimasukkan dalam kategori di atas. Saya kurang sabar kalau melihat orang bereaksi tidak menentu dan disertai luapan rasa marah atau emosi. Apalagi persepsinya melenceng dari pokok masalah. Saya kurang sabar, itu biasanya akan menyebabkan saya ikut menjadi serupa dengan pihak pendengar dan pemberi reaksi negatif tadi. Saya bisa saja terpelanting dan berbicara terikut kurang berkonsentrasi.

Singkatnya: tertular.

Lain halnya dengan menulis.

Anda pasti bisa merasakannya kalau anda seperti saya.

Tetapi ada juga hal lain yang paling penting dalam menulis.

Selesai menulis saya merasa lega hati, lapang dada.

Selesai menulis, saya merasa telah menjalankan tugas yang tersembunyi: menyampaikan pesan, yang intinya malah untuk keperluan pada masa setelah saya nanti sudah meninggalkan dunia ini.

Dengan bertambahnya umur, saya merasakan bahwa yang saya punyai sekarang, mungkin tidak dapat saya pakai untuk berbagi dengan masyarakat sekarang, saat ini.

Saya juga menyadari bahwa banyak juga, sesuatu yang amat mungkin, yang tidak disetujui isinya oleh orang lain. Tetapi seperti biasanya, saya selalu mencantumkan tanggal pada waktu saya menulis yang isinya biasanya tersirat pada judul tulisan. Tanggal ini amat penting, karena setelah tanggal tersebut mungkin esensinya akan mengalami perubahan, dan berubah menjadi kurang benar atau malah bisa terbukti menjadi bukti nyata bahwa memang sungguh-sungguh benar seratus persen.

Hal ini adalah sesuatu yang akan menjadi pertahanan bagi saya bila hal itu terjadi, karena saya akan yakin bahwa sampai dengan tanggal yang tercantum, isinya sudah saya teliti agar relevan dan menuju ke kebenaran. Untuk keperluan ini saya melakukan upaya pencarian referensi menggunakan kamus-kamus, encyclopaedia dan macam-macam search engine (mesin-mesin pencari data dan fakta) seperti Google, Yahoo! Bahkan Kitab Religi atau sumber-sumber yang sejenis. Juga melalui perpustakaan serta bertanya secara langsung kepada sumber yang saya anggap dapat saya percayai. Saya betul-betul memerlukan referensi-referensi mengingat kemampuan saya yang memang pada kenyataannya sangat terbatas. Saya sering mengingat percakapan di bawah ini, yang terjadi di sebuah Community Center (Pusat Kegiatan Masyarakat) di daerah Leslie Road dekat Don Way di Toronto, Canada. Saya menjawab sebuah pertanyaan mengenai masalah Pasar Uang kepada seseorang yang kelihatannya orang yang berimigrasi asal dari India.

Saya katakan betapa awamnya saya di dunia Money Market. Dia memberikan kata-kata yang menyejukkan hati saya seperti berikut ini: “You are absolutely right. No one should say that he knows anything for sure, because what we believe today is right, might be wrong tomorrow!”

Saya selalu ingat hal ini, karena dapat dengan mudah diterapkan di mana-mana.

Bukankah yang selalu tetap di dunia itu hanyalah perubahan saja?

Membaca kembali tulisan hasil menulis sendiri merupakan kesenangan yang tersendiri juga. Saya baca tulisan saya yang empat tahun lalu, dan saya merasakan esensi yang berlaku masih sama. Atau saya berseru keheranan: “Apa benar ya, saya yang menulis ini semua??” Dan bukan hanya sekali dua kali saya benar-benar lupa, karena kalau saya sedang emosional menulis, sebabnya yang paling menonjol adalah: kalau ditunda sampai besok, saya sudah kehilangan topik! LUPA. Itulah sebabnya saya tulis dulu dan tergesa, soal ejaan dan salah ketik dapat dilakukan pada waktu yang lain. Tata bahasa juga dapat dibetulkan kesalahannya kalau ada. Seperti itulah suasana emosional telah menguasai saya, sampai pada suatu saat, saya mendapatkan bagi diri saya, sebuah julukan sebagai orang yang menulis : OUTBURST DARI HATI (Semburan / ledakan dari hati). Tulisan itu adalah sebuah tulisan mengenai almarhum Soekarno yang sahabat ayah saya sejak masih kana-kanak dan remaja. Beliau sedang ditahan oleh pemerintahan Suharto. Ayah saya yang ingin mengunjungi temannya yang sedang dalam kondisi yang mengenaskan, “tidak dibolehkan oleh seorang Komandan Korem”.

Meskipun memang pada akhirnya bisa terlaksanalah pertemuannya di Istana Bogor itu, untuk waktu yang terakhir kalinya sebelum Soekarno, sang sahabat, meninggalkan kita semuanya untuk selama-lamanya. Ya, saya memang emosional karena sebelum pertemuan itu pihak Tentara telah mengancam akan menangkap ayah saya dengan cara intimidasi yang bentuknya bermacam-macam.

Hari ini setelah sekian tahun kemudian, saya sudah tidak seperti itu lagi.

Justru kalau saya sedang emosional maka saya akan menahan diri untuk menunda menulis, akan tetapi agar tidak lupa untuk menuliskan topiknya baik di komputer ataupun di sehelai / sepotong kertas. Rupanya umur juga yang membuat saya sedikit berubah. Ada lumayan banyaknya tulisan saya yang tidak saya siarkan dan pasti akan berguna nanti kalau saya sudah tiada di dunia. Dengan bercanda di dalam hati saya berpikir: ini hampir seperti seorang pelukis. Pelukis itu, nilai dan harga lukisannya akan naik dan laku keras setelah dia meninggal dunia. Ada yang membisikkan kearah telinga saya: kalau perlu dibunuh saja dahulu …Wah, wah !!! Padahal sampai sekarang saya belum pernah mendapatkan imbalan uang apapun dari siapapun terhadap dan oleh karena tulisan saya. Kelegaan hati saya masih lebih bernilai dari pada uang. Kalau saya sudah merasakan uang sebagai imbalan tulisan, maka saya duga saya akan menjadi budak uang. Saya bisa berubah menjadi akan menulis atas pesanan. Tak usah aja, ya?! Unsur outburst sudah jauh berkurang, tetapi saya belum mau komersial. Saya ingin untuk tetap liberal, saya ingin sekular dan saya ingin plural.

Kelihatannya ketiga buah kata ini mahal juga ya?

Semua orang pasti setuju bahwa uang itu, meskipun perlu, ternyata bukan segala-galanya.

Bukankah ada sindiran bahwa banyak orang Indonesia sekarang menjalankan hidup yang mengarah ke “SILA” Ke-Uang-an Yang Maha Esa?

Sebenarnya secara singkat apa yang saya tulis di atas adalah sebuah upaya dalam berkomunikasi dengan sesama orang sekitar hidup saya. Upaya seperti ini adalah salah satu sarana agar tidak terjadi konflik yang tidak perlu terjadi.

Tulisan ini juga saya tulis, segera setelah saya melihat sebagian besar Acara ulangan: Forum Soegeng Sarjadi di Q Channel, yang menghadirkan empat tokoh: M. Assegaf, Todung Mulya Lubis, Fadli Zon dan Bambang Harimurti dari group TEMPO. Topik yang dikemukakan adalah mengenai Kebebasan Pers Versus Indonesia. Dalam diskusi yang berjalan lumayan seru tetapi sopan karena moderatornya bisa mengendalikan opini-opini yang kurang perlu, saya mendengarkan sampai selesai. Terungkap hal-hal yang selama ini belum pernah saya dengar:

1. Bahwa majalah Time itu pernah “berjasa” kepada Republik Indonesia karena Henry Luce (sang Pemilik Time), pernah mengumpulkan orang-orang Amerika yang dipilih karena diketahui sebagai para Investor kuat di Amerika Serikat; pertemuan dilaksanakan di Jenewa pada awal era orde baru Suharto. Diatur pertemuan dengan pihak Indonesia yang antara Prof. Widjojo Nitisastro dan Adam malik serta entah siapa lagi saya lupa. Yang jelas pertemuan yang tidak diingat orang lagi, padahal pertemuan itu telah membuat Republik Indonesia bangkit dengan pembangunan-pembangunan yang luar biasa.

Dan itu semua membuat pemerintahan Suharto naik peringkat di banyak pengamatan dunia nasional maupun dunia internasional. Maka terjadilah pada beberapa saat yang lalu sebuah ironi yang menyedihkan dengan adanya peristiwa bahwa: “Jasa” majalah TIME waktu itu baru-baru ini telah “dibalas” oleh Suharto. Bagaimana cara dia membalasnya? Suharto menuntut, memenangkan perkara di Mahkamah Agung RI dan diberi hadiah keputusan sejumlah uang “ganti rugi” sebesar satu triliun Rupiah. Dan kelakar pun tidak dapat dihindari dengan mengatakan karena pernah membesarkan dan memberi makan seekor macan, maka sang macan menggigit kaki yang memberinya makan.

2. Bahwa di dunia ini pers telah terbukti merupakan sebuah industri. Pemodal industri ini bisa saja sebuah pemerintahan dan juga sebuah sindikat perusahaan. Seperti saya singgung di atas maka pers pun bisa memuat atau tidak memuat yang bisa benar dan bisa salah, berita sesuai dengan pesanan, yang sampai hari ini belum saya alami yakni sebagai seorang penulis komersial. Berita yang dimuat memenuhi kaidah yang berbunyi kira-kira: news that is worth printing. Berita yang patut untuk dicetak. Siapa yang bisa mengatakan patut mungkin pada jaman sekarang sudah tidak penting lagi.

3. Bambang Harimurti dari Tempo menceritakan bahwa orang-orangnya Tommy Winata menyerbu Tempo dengan permintaan agar Tempo bersedia memberikan sumber berita, hal itu menurut kode etik (?) Pers adalah tidak mungkin bisa diberikan, karena kalaupun dikerjakan maka yang disebut dengan kebebasan Pers akan sirna, hilang.

Masalah utamanya: isi kebenaran pemberitaan yang dimuat di TEMPO tidak dipersoalkan. Ternyata pokok masalah tuntutan oleh kelompok Tommy Winata hanya berkonsentrasi kepada masalah siapa sumber beritanya. Menurut TEMPO ini hampir sama dengan kasus TIME-Suharto di atas, di mana TIME memberikan sebanyak lebih dari 200 buah bukti-bukti referensi yang digunakan mengenai korupsi Suharto Inc. yang dituangkan dalam suatu terbitan TIME tersebut. Sedangkan Suharto sendiri tidak membuktikan apa-apa bahwa dia tidak korupsi. Itu adalah cara penuntutan yang aneh karena yang ditunjukkan hanya sebuah majalah terbitan Time saja. Dan itu dimenangkan oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia. Berkaitan dengan hal ini, maka saya mengulangi usul saya beberapa tahun lalu agar Ketua Mahkamah Agung dan Jaksa Agung itu dilantik oleh dpr dan atau mpr bukan oleh Presiden. Kedua lembaga yang saya tulis dengan huruf kecil itu seharusnya mengemban arti dan makna AGUNG yang lengket sebagai nama kedua-dua lembaga yang semestinya mereka lantik. Sekarang mungkin banyak khalayak yang meragukan integritasnya.

Banyak yang terungkap dari pembicaraan dalam acara satu jam lamanya yang menghadirkan tokoh-tokoh empat orang istimewa dengan pembicaraan yang berkelas seperti itu.

Banyak judul buku serta nama penulisnya disebut sebagai referensi pembicaraan dan banyak yang disitir.

Bagi saya yang sudah agak lama cueg (tidak peduli) terhadap berita-berita masalah-masalah korupsi yang mewabah ini, forum ini telah memberi informasi yang baik.

Suasana politik di Indonesia banyak yang tidak berubah. Penguasa yang incumbent (yang sedang menjabat) masih dengan gagahnya mengangkangi peraturan dan undang-undang dan memanipulir dengan conto-conto perbuatan dan kata-kata yang membingungkan masyarakat. Anggota masyarakat yang awam tidak terlalu peduli atau malah sama sekali tidak peduli dengan tingkah akrobatik para the incumbents di atas. Melihat hal ini kembali saya ingin mengajukan anjuran saya, juga telah saya lakukan sejak bertahun-tahun yang lalu: MELAKUKAN SEGALA PERBAIKAN HARUS SELALU DIMULAI DARI DIRI SENDIRI. Todung Mulya Lubis memang tidak percaya bahwa Indonesia akan hancur, entah saya kurang menyimak apa alasannya. Akan tetapi saya melihat bahwa sebagai salah seorang pelaku hukum di Indonesia dan juga bersama ahli hukum kawakan M. Assegaf yang dalam Forum itu ikut aktif memberikan pengalamannya, saya punya pendapat sendiri. Mereka mestinya sama dengan pendapat saya yang begitu yakin bahwa Indonesia ini sudah memiliki cukup banyak peraturan dan undang-undang, mungkin jumlahnya terlalu banyak. Saya pikir yang harus dilakukan adalah dilaksanakannya semua peraturan dan undang-undang yang ada: membuang sampah, meludah, menyeberang dan akhirnya sampailah ke pencurian hak rakyat antara lain uang hak Rakyat Jelata dan lain-lain yang berupa hak-hak yang hakiki.

Itu saja.

Anwari Doel Arnowo