Kolom Mayapada, November 19, 2007   Peribahasa lama mengatakan:” Semua jalan menuju Roma”. Peribahasa baru (khas Indonesia) mengatakan: “Semua jalan menuju Senayan”. Tidak masalah, jalan biasa, jalan tol atau busway. Kenapa peribahasa baru ini diberi predikat “khas Indonesia”? Karena di Amerika tidak ada peribahasa mengatakan “semua jalan menuju Gedung Putih”. Di Uni Soviet (dulu) juga tidak ada peribahasa mengatakan “semua jalan menuju Kremlin”. Sesudah menjadi Rusia, juga tak ada peribahasa mengatakan: “Semua jalan menuju Duma” (Parlemen). Di Paris yang banyak jalan, tak semuanya menuju Assemblee Nationale.

Entah kenapa, di Rusia parlemennya disebut Duma, yang berasal dari kata “dumat” yang artinya berpikir. Mungkin di negeri itu setiap orang dari parpol yang duduk di kursi Duma harus bisa berpikir, memikirkan nasib rakyat yang diwakilinya. Jadi jelas tidak sama dengan yang terjadi di Senayan, meskipun keduanya sama-sama berpikir juga. (Sebagai catatan, secara kebetulan kata “dumat” dalam bahasa Rusia ini mirip sekali dengan kata “duit” dalam bahasa Indonesia).
 
Tapi apakah betul semua jalan menuju Senayan? Tampaknya begitu. Sebab banyak orang berjuang habis-habisan untuk menjadi anggota parpol, selanjutnya berjuang habis-habisan lagi agar parpolnya mendapat kursi sebanyak-banyaknya di Senayan. Dan perjuangan habis-habisan berikutnya tentu saja bagaimana bisa duduk di kursi yang diraih parpolnya itu.
 
Tampaknya tidak ada impian yang lebih manis daripada bagaimana bisa berjalan menuju Senayan. Yang disayangkan, kalau perjalanan dengan perjuangan habis-habisan itu hanya diakhiri untuk bisa duduk di kursi. Dan sesudah itu tak tahu lagi apa yang harus diperjuangkan habis-habisan untuk menyuarakan kepentingan yang diwakilinya, sekaligus yang mendudukkannya, yakni rakyat. Ini mudah dimengerti karena jarak antara keduanya memang amat jauh dan terus semakin jauh saja. Dan ini juga ciri khas Indonesia, di mana wakil dan yang diwakili bukan hanya tak saling kenal tapi juga tak saling membutuhkan.
 
Apalagi ketika mulai diberlakukan sistem pemilihan eksekutif langsung oleh rakyat dan legislatif tak bisa lagi ikut nimbrung apalagi pegang kartu As seperti dulu sebagai kekuatan penentu, mulai pilkada, pilgub hingga pilpres. Toh tidak berarti wakil rakyat kita tak lagi mempunyai pekerjaan. Serangkaian acara padat masih menunggu, mulai agenda jalan-jalan ke luar negeri untuk studi banding, memperdebatkan urusan kenaikan gajinya sendiri, menyusun anggaran renovasi rumah dinasnya yang bocor tersapu angin puting beliung, sampai belajar menggunakan laptop.
 
Entah mengapa, pekerjaan dan tantangan begitu banyak, dan lebih banyak lagi adalah sorotan rakyat yang semuanya bernada “menyedihkan”, tapi masih banyak juga yang ingin berjalan menuju Senayan untuk menjadi wakil rakyat. Suatu fenomena aneh yang sulit dipecahkan secara ilmiah. Mungkin karena para penghuni Senayan tidak perlu berpikir seperti anggota Duma di Rusia, jadi banyak orang berminat ke Senayan. Ini sesuai dengan hasil survei dan penilaian berbagai lembaga internasional yang menyebutkan bahwa bangsa Indonesia termasuk paling rendah atau paling malas membaca, yang identik dengan malas berpikir, meskipun berpikir tidak berarti hanya untuk membaca.
 

Karena itu, peribahasa “semua jalan menuju Senayan” tampaknya memang lebih relevan dan lebih indah  daripada misalnya peribahasa “semua jalan menuju perpustakaan”. Untuk apa perpustakaan bagi orang yang malas berpikir? Masih adakah buku yang perlu untuk dibaca selain buku ATM? Adakah koran yang lebih menarik untuk dibaca daripada rekening koran? Dan semua itu tak ada di perpustakaan. Jadi, apakah kita ini termasuk bangsa primitif, agresif, provokatif atau progresif? Mungkin pertanyaan ini juga sulit untuk dipecahkan secara ilmiah. Arnold Toynbee (1852-1883), ahli sejarah ekonomi Inggris itu, konon meninggalkan warisan kata-kata mutiara begini: “Semakin banyak pemakai sabun dan oplah suratkabar,maka semakin berbudayalah mereka”.