Tag

 Menjelang akhir 2007 Pengurus Wertheim Foundation < Stichting Wertheim, Leiden-Amsterdam> memutuskan memberikan 'WERTHEIM AWARD 2008' kepada BENNY G. SETIONO, sebagai pengakuan dan penghargaan terhadap usaha, kegiatan dan karya Benny G. Setiono, dalam rangka usaha besar EMANSIPASI NASION INDONESIA.




Nama Benny G. Setiono, dengan demikian, turut menghiasi daftar nama-nama
tokoh-tokoh Indonesia yang oleh WERTHEIM FOUNDATION telah diberikan
WERTHEIM AWARD. Nama-nama para tokoh Indonesia yang telah diberikan
WERTHEIM AWARD, adalah: Pramoedya Ananta Toer (novelis), S. Rendra
(penyair), Widji Thukul (penyair), Goenawan Mohammad (budayawan) dan
Joesoef Isak (wartawan/publisis). Sumbangan mereka terhadap usaha
EMANSIPASI NASION INDONESIA dalam arti yang seluas-luasnya, mereka
berikan dari posisi mereka masing-masing dalam masyarakat yang aktif
peduli terhadap usaha pembebasan bangsa Indonesia . Itulah pertimbangan
utama yang telah mendorong Wertheim Foudantion memberikan pengakuan dan
penghargaan tsb.


Penyerahan WERTHEIM AWARD kepada Goenawan Mohammad dan Joesoef Isak,
masih jelas dalam ingatan orang, telah berlangsung akhir tahun 2005,
dengan mengambil tempat di Ruangan Nusantara Kedutaan Besar Republik
Indonesia di Den Haag. Suatu peristiwa yang penuh makna, bahwa,
penyerahan 'Wertheim Award' telah berlangsung di gedung KBRI, yang
menurut hukum internasional, formal diakui sebagai wilayah Republik
Indonesia. Apalagi bila disadari bahwa tokoh-tokoh Goenawan Mohammad dan
Joesoef Isak, dalam kegiatan dan perjuangan mereka demi membela hak-hak
untuk kebebasan menyatakan pendapat, untuk hak-hak demokrasi dan HAM,
sasaran utama mereka adalah penguasa ( rezim Orba) yang dengan
sewenang-wenang telah melanggar hak-hak demokrasi. Untuk itu, Orba telah
menjebloskan Pramoedya A. Toer, ke pulau pembuangan BURU, serta
memenjarakan Joesoef Isak 12 tahun lamanya di Penjara Salemba. Majalah
Tempo yang dipimpin oleh Goenawan Mohammad, pernah diberangus karena
membela hak-hak demokrasi.


Gelombang gerakan Reformasi dan Demokrasi yang bergelora dalam tahun
1998 dan jatuhnya Presiden Suharto, adalah faktor utama yang bisa
menjelaskan mengapa penyerahan WERTHEIM AWARD 2005 kepada Goenawan
Mohammad dan Joesoef Isak bisa berlangsung dengan hikmat dan lancar di
Ruangan Nusantara Kedutaan Besar Republik Indonesia, Den Haag.


* * *


Menurut rencana, pemberian Wertheim Award kepada Benny G. Setiono akan
dilangsungkan bertepatan pada peringatan SEABAD Prof. W.F. WERTHEIM,
yang akan dilangsungkan bersama oleh Wertheim Foundation dengan IISG,
pada kwartal ke-2 tahun 2008. Penyampaian Wertheim Award, dan seminar
Peringatan Seabad Wertheim, akan mengambil tempat di IISG,
Internationaal Instituut voor Sociaal Geschiedenis - Institut
Internasional untuk Sejarah Sosial - di kota Amsterdam. IISG adalah
sa;ah satu lembaga dokumentasi dan penelitian terbesar di dunia yang
melakukan kegiatan di bidang ilmu sejarah sosial dunia.


* * *


SIAPA BENNY G. SETIONO

Benny G Setiono dilahirkan di desa Ceracas, Kabupaten Kuningan, Jawa
Barat, pada 31 Oktober 1943. Ayahnya, Endang Sunarko (Khouw Sin Eng),
adalah seorang penulis. Buku yang ditulisnya a.l. adalah ‘ Tiongkok
Baru, Kawan atau Lawan. Endang Sunarko sering menulis di majalah
'Pantjawarna’ dan harian ‘ Sin Po’. Benny menempuh studinya di Fakultas
Ekonomi Universitas Respublica, Jakarta. Baru mencapai tingkat tiga,
Benny terpaksa ‘drop out’ , karena kampusnya dibakar rombongan
KAMI/KAPPI yang didukung milisia.


Pada tahun 1999 Benny G. Setiono ikut mendirikan Perhimpunan Indonesia
Tionghoa, INTI, dan pada 2002 turut mendirikan Lembaga Kajian Masalah
Kebangsaan (ELKASA).


Untuk lebih mengenal siapa Benny G Setiono, apa dan bagaimana visi dan
misinya, mengenai hasil studi dan analisisnya, barangkali yang terbaik
adalah membaca bukunya yang telah diterbitkan oleh ELKASA di Jakarta.


Ketika menjelaskan tentang studinya yang disimpulkan dalam buku TIONGHOA
DALAM PUSARAN POLITIK, Benny a.l. mencatat, bahwa bukunya disusun atas
dasar rangkaian informasi dari berbagai buku, majalah, koran, tabloid
dll. Tujuan ditulisnya buku tsb ialah untuk berbagi pengetahuan dan
memberikan keseimbangan kepada para pembaca. Karena, masalah Tionghoa
seperti juga masalah G30S/PKI selama ini ditulis dengan kurang berimbang
hingga sangat menyudutkan kedua kelompok tsb. Sedang, dalam
kenyataannya, mereka itu merupakan bagian integral bangsa kita.


Dikemukakan oleh Benny bahwa dalam bukunya itu, peranan etnis Tionghoa
ditulis dengan tidak mengkotak-kotakkan atau memisahkannya dari
perkembangan sejarah bangsa Indonesia. Ditandaskannya pula bahwa etnis
Tionghoa telah mempunyai akar sejarah lebih dari 500 tahun di bumi
Nusantara, serta merupakan bagian yang tak terpisahkan dari bangsa
Indonesia.


Bisalah dikatakan dengan pasti, bahwa visi dan misi Benny ialah
untukTERUS memberikan sumbangsihnnya bagi usaha pencerahan masyarakat
kita, mengenai etnis Tionghoa di Indonesia, khususnya pada generasi muda
yang lahir dan dibesarkan dalam periode Orba, bahwa:


ETNIS TIONGHOA DI INDONESIA adalah BAGIAN YANG INTEGRAL DARI BANGSA
INDONESIA.


Dengan demikian segala masalah yang timbul terpaut etnis Tionghoa,
solusinya, pemecahannya harus dicari/diusahakan dalam pemecahan
keseluruhan pembangunan dan pengkonsolidasian nasion Indonesia. Dengan
tidak ‘mengkotak-kotakkan’ atau ‘ memisahkannya dari perkembangan
sejarah bangsa Indonesia.


* * *


INDONESIANIS Dr Daniel S. LEV mengenai BENNY G. SETIONO

1 Januari 2003.


Dalam bukunya, tulis Dr. Daniel Lev, ---- Benny G. Setiono mencoba
menggali kembali sejarah (etnis Tionghoa) yang kompleks itu. Buku ini,
tulis Dan Lev dalam Kata Pengantar pada buku Benny, bukan buku pertama
mengenai minoritas etnis Tionghoa di Indonesia. Ada banyak buku lain
yang telah dibuat dan diterbitkan sejak dulu, baik oleh sarjana asing
maupun Indonesia dan penulis awam juga.


Harus saya akui, tulis Dan Lev, bahwa ketika Pak Ben minta apakah saya
rela membaca naskahnya yang belum selesai dan masih mentah, saya agak
ragu karena dia bukan seorang sarjana profesional. (Ini juga pengakuan
arogansi seorang sarjana profesional).

Dan naskah itu ternyata panjang sekali, beberapa ratus halaman. Akan
tetapi, sesegera setelah mulai membaca, saya jadi heran, karena
kelihatan bahwa si penulis yang ‘awam’ itu mempunyai otak dan hati
seorang sarjana tulen yang tertarik pada seluk beluk sejarah dan ingin
mengerti suatu proses evolusi yang penuh teka-teki yang perlu dipikirkan
kembali sambil mengajukan berbagai pertanyaan baru.


Dr Daniel S. Lev, sarjana yang berdomisili di Seattle, Washington itu,
menutup kata pengantarnya dengan menunjukkan bahwa:


‘Fokus buku ini sebetulnya adalah sejarah Indonesia, dimana minoritas
Tionghoa juga memiliki peranan. Perspektifnya berganti-ganti dan
keseimbangan selalu dicari di antara banyak peserta dalam sejarah yang
serba kompleks.


Tujuannya adalah untuk mendapatkan sebuah gambaran sejarah yang
realistis tentang orang yang sudah lama merupakan bagian dari masyarakat
Indonesia, orang Indonesia yang kebetulan minoritas yang diciptakan
sejarah itu. Demikian a.l. Dr Daniel S. Lev tentang buku Benny.


* * *


Diberikannya WERTHEIM AWARD 2008 kepada Benny G Setiono, pertama-tama
merupakan pengakuan dan penghargaan oleh Wertheim Foundation atas
kegiatan, usaha dan karya (buku yang ditulisnya berjudul ETNIS TIONGHOA
DALAM PUSARAN POLITIK. Dari segi lain menunjukkan kepedulian lembaga
Belanda terhadap Indonesia, persoalan-persoalan yang dihadapinya,
perkembangan dan kemajuannya.


Sebagai suatu lembaga ornop Belanda, diberikannya WERTHEIM AWARD 2008
kepada Benny G Setiono, juga memanifestasikan solidaritas rakyat Belanda
terhadap perjuangan bangsa Indonesia untuk demokrasi, keadilan dan
kemakmuran.


* * *

Lampiran

DAFTAR ISI Buku ETNIS TIONGHOA DALAM PUSARAN POLITIK

BAGIAN I
BANGSA INDONESIA DAN KEDATANGAN ORANG TIONGHOA
BAB 1 - Asal Usul Bangsa Indonesia . BAB 2 - Awal Kedatangan Orang
Tionghoa di Indonesia
BAB 3 - Orang Tionghoa Menyebarkan Islam di Jawa. BAB 4 - Pengaruh
Kedatangan Orang Tionghoa di Jawa
BAB 5 - Kedatangan Orang Belanda

BAGIAN II
MASYARAKAT TIONGHOA ABAD XVI - AWAL ABAD XX
BAB 6 - Souw Beng Kong : Kapiten Tionghoa Pertama. BAB 7 - Phoa Beng Gan
: Kapiten Tionghoa Ahli Irigasi
BAB 8 - Pembunuhan Etnis Tionghoa 1740 .BAB 9 - Tindakan VOC Pasca
Pembunuhan Etnis Tionghoa 1740
BAB 10 - Perang Etnis Tionghoa Bersama Etnis Jawa Melawan VOC
(1740-1743) BAB 11 - Tan Djin Sing : Kapiten Tionghoa Yang Jadi Bupati
Yogyakarta. BAB 12 - Pembantaian Tionghoa Pada Masa Perang Jawa (1825-1830)
BAB 13 - "Republik" Langfong di Borneo Barat BAB 14 - Tanam Paksa. BAB
15 - Etnis Tionghoa di Sumatera
BAB 16 - Oey Tamba Sia : Jutawan Kriminil Dihukum Gantung BAB 17 - Lie
Kim Hok : Perintis Sastra dan Jurnalistik Melayu-Tionghoa . BAB 18 -
Mayor Tionghoa Oei Tiong Ham : Raja Gula dari Semarang BAB 19 - mayor
Tionghoa Tjong A Fie : Dermawan dari Medan

BAGIAN III
MASA KEBANGKITAN NASIONAL - PROKLAMASI KEMERDEKAAN (1900-1945)
BAB 20 - Tionghoa Hwe Koan. BAB 21 - Kebangkitan Nasional 1900-1927 .BAB
22 - Aksi Boikot Pedagang Tionghoa di Surabaya. BAB 23 - Kerusuhan Anti
Tionghoa di Kudus .BAB 24 - Berkembangnya Sastra Melayu Tionghoa
BAB 25 - Jaman Keemasan Pers Melayu Tionghoa . BAB 26 - Munculnya
Kesadaran Politik Orang Tionghoa
BAB 27 - Orang Tionghoa dan Pergerakan Partai Politik Nasional
(1926-1942) . BAB 28 - Orang Tionghoa di Masa Pendudukan Jepang
(1942-1945) . BAB 29 - Menyongsong Kemerdekaan

BAGIAN IV
MASA REVOLUSI (1945-1950)
BAB 30 - Awal Kemerdekaan . BAB 31 - Pembunuhan Massal Etnis Tionghoa
(1946-1948) . BAB 32 - Pao An Tui
BAB 33 - Perjuangan Bersenjata dan Politik Diplomasi . BAB 34 -
Peristiwa Madiun . BAB 35 - KMB dan Republik Indonesia Serikat

BAGIAN V
MASA DEMOKRASI PARLEMENTER (1950-1959) . BAB 36 - Negara Kesatuan
Republik Indonesia
BAB 37 - Peristiwa 17 Oktober 1952 . BAB 38 - BAPERKI dan LPKB . BAB 39
- KAA dan Pemilu Pertama
BAB 40 - PRRI/PERMESTA

BAGIAN VI
MASA DEMOKRASI TERPIMPIN (1959-1965)
BAB 41 - Politik Pasca Dekrit Presiden . BAB 42 - PP-10 . BAB 43 -
Trikora . BAB 44 - Peristiwa Rasialis 10 Mei 1963
BAB 45 - Dwikora . BAB 46 - G30S

BAGIAN VII
MASA ORDE BARU (1966-1998)
BAB 47 - Supersemar. BAB 48 - Penggusuran Presiden Sukarno . BAB 49 -
Kampanye dan Aksi Anti Tionghoa Pasca G30S
BAB 50 - Pembangunan Ekonomi Orde Baru dan CSIS
BAB 51 - Peristiwa Rasialis 5 Agustus 1973 dan Malari 1974 . BAB 52 -
Skandal Pertamina . BAB 53 - Aneksasi Timor Timor
BAB 54 - Bakom-PKB . BAB 55 - Peristiwa Rasialis Anti Tionghoa Solo
Semarang . BAB 56 - Rejim Otoriter Orde Baru
BAB 57 - Presiden Soeharto Lengser dan Keruntuhan Rejim Orde Baru . BAB
58 - Penutup


TAMBAHAN
Kata Pengantar . Catatan Penulis . Pengarang . Lampiran . Daftar Pustaka

* * *


*) Ibrahim Isa,

Sekretaris Wertheim Foundation, Leiden - Amsterdam.