Ketika individu atau masyarakat menghadapi banyak chaos dan berbagai krisis yang diakibatkan oleh masalah ekonomi, politik atau konfik-konflik sosial, bahkan bencana alam, dan ketika semua permasalahan itu berujung pada jalan buntu, maka agama selalu diharapkan akan memberikan semacam eksternalitas positif, memberikan suatu panduan, pencerahan  dan penyelamatan guna mengikis berbagai krisis tersebut. Padahal dalam kenyataannya, agama itu sendiri justru sering sebagai penyebab terjadinya chaos dan berbagai konflik karena perilaku para pemeluknya. Memang benar, ikon-ikon agama selalu sarat dengan seruan damai, bersahabat, saling menghormati, membangun harmoni dan lain sebagainya. Namun di sisi lain, wajah angker juga diperlihatkan oleh pemeluknya yang menampilkan semangat untuk berperang.

 
Barangkali ini tak jauh dari apa yang dikemukakan oleh Thomas Hobbes bahwa manusia pada dasarnya adalah mahluk yang bengis dan selalu mementingkan dirinya sendiri. Karena itu manusia lahir untuk siap perang bukan siap damai. Filsuf Inggris ini jugalah yang mengatakan, the condition of man, is a condition of war of everyone against everyone (Kondisi manusia itu merupakan kondisi peperangan, setiap orang melawan setiap orang lainnya).
 
Manusia lahir untuk bersaing dengan lainnya. Ini gejala positif, karena buah persaingan adalah kemajuan. Tetapi itu hanya terjadi bila masih dalam tataran atau koridor competition yang sehat. Sayangnya kemudian mengembang menjadi  rivalry (persaingan tidak sehat) dan malah berujung pada conflict di mana persaingan menjadi pertentangan yang bukan hanya tidak sehat tapi malah mendatangkan banyak penyakit. Dan sumber utamanya antara lain adalah masalah ambisi ekonomi dan ambisi  politik yang menyelubungi auranya.
 
Dalam kenyataannya, yang muncul ke permukaan manausia bukanlah homo homini socius (kawan sosial bagi sesama manusia), juga bukan seperti dikemukakan oleh Seneca yaitu homo sacra res homini (keramat bagi sesama manusia), melainkan seperti dikatakan Nietzshe, homo homini lupus. Sangat menyedihkan memang, tapi inilah fenomena di era globalisasi saat ini.Manusia adalah serigala bagi sesamanya. Meskipun konon masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang religius, tapi bukan homo religiousus yang tampil ke permukaan melainkan homo economicus.
 
Mereka yang aktif di partai politik bukan semata-mata karena ingin melampiaskan syahwat politik, tetapi juga karena dorongan syahwat ekonomi. Bukankah pundi-pundi ekonomi bisa dibuka lewat jalur politik? Bahkan naik haji pun bukan murni karena pelakunya sebagai homo religiousus, melainkan karena motivasi untuk membuka akses bagi terpenuhinya ambisi ekonomi dan politiknya. Mendirikan parpol berasas agama bukan karena pendirinya merasa sebagai homo religiousus, melinkan karena ingin menjadikan  parpol yang didirikannya itu sebagai kendaraan untuk meraup harta (ekonomi) dan tahta (politik). Mencalonkan diri menjadi pemimpin rakyat mulai dari tingkat  pilkades hingga pilpres, bukanlah karena dorongan nuraninya  sebagai homo socius untuk mengabdi kepada rakyat, melainkan karena dorongan nafsunya untuk melampiaskan syahwat kuasa berbasis harta dan tahta.
 
Rupanya di tengah persaingan (ekonomi dan politik) bebas, tak ada manusia keramat. Tak ada homo sacra res homini. Tak ada homo homini socius. Ketika kepentingan ekonomi dan politik menjadi barometer untuk menilai baik buruknya suatu kehidupan, maka ketika itu kehidupan sudah tak bernilai apa-apa lagi. Kita semua tersesat oleh barometer yang menyesatkan.