Untuk menguatken pembelaannya pengacara meminta romo Carey bersaksi bahwa peristiwa yang terjadi adalah mukjijat sehingga Joni Embuh seharusnya dibebasken. Disatu sisi romo bersimpati kepada Joni yang malang, yang menggelandang dituntun suara goib. Disisi lain romo itu berpembawaan rasional. Ia menjadi ragu2 karena serba salah. Jika ia bersaksi bahwa pembunuhan itu adalah karena mukjijat ia berbohong karena ia sendiri ndak yakin. Romo bohong? Jika ia bersaksi bahwa pembunuhan itu bukan mukjijat, ia akan mengecewaken para penyembah berhala dan mengirim Joni ketiang gantungan. Ia menjadi galau.

 

Iapun menduga2. Jangan2 si ngah ngoh ini diperalat kelompok yang ingin membunuh pak Mul? Jangan2 si amnesia adalah penyembah berhala fanatik yang kesurupan siluman sinai? Jangan2 anu, anu, anu?

 

Ia lantas berkonsultasi dengan seniornya. Romo senior yang menangkap keraguan romo Carey bilang bahwa rasanya mustahal dewa mereka yang mendalangi pembunuhan. Romo Carey yang masih ragu2 kemudian mengontak temannya dari tanah Jawa, si Gemblong.

 

"Mblong, benarkah kematian pak Mul disebabken karena dewa yang kusembah?"

"Bukan"

"Bukan?"

"Itu bukan modus operandi berhalamu"

"Ha? Memangnya apa modus operandi berhala sinai itu?"

"Kalau pipinya ditempilingi maka ia akan menyodorken pipi yang satunya agar ditempilingi sekalian"

"Ah, … lantas, … siapa yang mendalangi peristiwa goib ini?"

"Mbah Marijan"

"Mbah Marijan?. Nguawur!"

"Jika ada yang menduga bahwa kematian pak Mul adalah akibat suatu siluman dan tak ada bukti maka akan timbul berbagai spekulasi. Akibatnya ndak ada hil yang mustahal. Dalangnya bisa berhala dari Sinai, siluman merapi, si manis dari jembatan ancol, makluk dari planet zog, dst"

"Jadi?"

"Lebih baik romo tidak usah berspekulasi tentang siluman2. coba tanya saja Si Joni, barangkali sampiyan bisa mendapat keterangan berharga"

 

Dengan bersemangat Romo itu mewawancarai sipembunuh nyolowaði Joni Embuh. Tetapi ia kecewa karena Joni hanya ah uh ah uh dengan mata yang menatap kosong plónga plóngó, ngah ngoh, dan pah poh. Paling banter ia menjawab dengan kata pendek satu2nya : embuh.

 

"Apakah kau membunuh atas suruhan orang?"

"Embuh"

"Siapa yang menyuruhmu kesini?"

"Embuh"

"Kamu penyembah berhala fanatik, bukan?"

"Embuh"

 

Berbagai pihak termangsuk polisi, wartawan, dll, mewawancarainya tetapi tetep saja si Joni Embuh nyolowaði.

 

Romo Carey menjadi semangkin galau dan ia cemas menunggu hari kesaksiannya. Haruskah ia bersaksi bahwa itu mukjijat ataukah ia berterus terang bahwa itu bukan mukjijat. Ndak ada siluman yang terlibat. Beberapa hari sebelum hari kesaksian dipengadilan tiba2 ia menerima sepucuk surat kaleng tanpa alamat pengirim. Isinya hanya sebuah alamat.

 

Dengan penuh rasa ingin tahu ia menuju ke alamat itu. Yang ditemuainya adalah rumah kosong, yang tak terawat karena lama tak dihuni. Romo lantas masuk dan ia menemuken sesuatu yang bikin kaget. Sebuah buku alumni, … ada foto2 bersama. Ternyata Joni Embuh adalah teman seangkatan dan sealumni pak Mul!

 

Bak detektip romo itu keluyuran kesana kemari mewawancarai berbagai pihak, mencari2 bukti2, dlsb. Ternyata pak Mul adalah musuh bebuyutan Joni. Joni juga novelist dan pak Mul menangkap basah si Joni adalah plagiator. Ia menyontek karya orang lain. sejak peristiwa itu kehidupan Joni hancur. Ia malu dan jadi gelandangan. Ia dendam kepada pak Mul dan ia tahu kebiasaan pak Mul yang atheist yang suka mengejek penyembah berhala dari Sinai. Ia merencanaken semua dengan rinci, mencari saat yang tepat, dan, … duerrrr, … dendamnya terlaksana.

 

Kisah seterusnya adalah anti klimax, si Joni dihukum. Ndak ada mukjijat.

 

Moral dari cerita : ini adalah modus operandi dari dunia klenik, dunia mistis, dunia siluman, dunia berhala2 : post hoc, post factum, after the fact. Sesudah suatu kejadian, para penyembah siluman lantas mengait2ken bahwa kejadian itu didalangi suatu siluman, dewa atau berhala.

 

Biangnya adalah tanpa bukti. Tanpa bukti siapapun bisa ngarang2 cerita seenaknya tentang adanya suatu siluman dibalik suatu peristiwa.