Tag

 Minggu, 11 Nov, 2007: 'Jalan Baru' dan 'True-Confession H. ROSIHAN ANWAR

Belum lama ini aku sempat ngomong-ngomong dengan seorang kawanku, pejuang kawakan, yang kini sudah mencapai umur di atas 80. Usianya kira-kira setara dengan umur Rosihan Anwar, wartawan senior, sebagaimana Rosihan selalu menamakan dirinya. Kawanku itu kenal Rosihan sejak zaman Revolusi Kemerdekaan. Mengenai masalah politik, dalam banyak hal, mereka, pejuang kawakan itu dan Rosihan Anwar, sering bertolak belakang. Dalam cakap-cakap itu, kami menyinggung artikel yang belum lama ditulis Rosihan Anwar, berjudul: 'AKU MAU PRESIDEN BARU'. Tulisan yang patut dibaca. Aku menanyakan kepada kawan itu, apakah ia sudah membaca tulisan Rosihan Anwar tsb. Belum, katanya.



Tidak lama kawanku itu menilpunku lagi. Katanya, ia sudah membaca
tulisan Rosihan itu.. Kesan kawan itu: Wah kali ini tulisan Rosihan
itu baik. Ada perubahan pada Rosihan, tambahnya, tanpa menjelaskan
persis apa alasannya, ia menyatakan bahwa 'ada perubahan baik' pada
Rosihan Anwar.

* * *

Aku sendiri berpendapat bahwa memang, sejak ia menulis
'kenang-kenangannya' mengenai ultah ke-55 Konferensi Asia-Afrika,
Bandung (1955) ---- mengenai sikap terhadap peristiwa sejarah,
tulisan Rosihan Anwar, memang lebih baik, terbanding tulisan-tulisan
sebelumnya. Rosihan menulis (22 April 2005) tentang pengalamannya
ikut hadir sebagai wartawan muda pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di
Bandung (1955). Dengan lugu ia menulis tentang keadaan
wartawan-wartawan Indonesia, periode itu. Perlengkapan kerjanya yang
amat sederhana, menjurus ke wartawan yang miskin. Rosihan berusaha
menjelaskan betapa pentingnya arti sejarah Konferensi Asia-Afrika di
Bandung. Saat ketika para pejuang kemerdekaan dan pemimpin
bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk pertama kalinya bertemu,
berembuk bersama dalam suasana membina persatuan dan solidaritas demi
perjuangan kemerdekaan, tanpa seizin dan restu fihak Barat. Blok Barat
ketika itu, jelas sekali mengharapkan konferensi tsb akan gagal. Di
Bandungnya Indonesia, tulis Rosihan, disitulah bertemu untuk
pertama kalinya begitu banyak pemimpin-pemimpin Asia dan Afrika,
membicarakan perihal perjuangan kemerdekaan dan perdamaian dunia.
Disitulah bertemu tokoh-tokoh penting seperti Sukarno, Nehru, Ali
Khan, Zhou En-lai, U Nu, Kotelawala, Nasser dll.

Arti penting apa yang ditulis Rosihan itu, disebabkan oleh
gejala-gejala menyolok waktu itu dan sampai sekarangpun, di kalangn
sementara fihak di negeri kita, termasuk kaum intelektuil dan pekerja
medianya, yang tidak atau kurang menyadari, kurang mengkhayati arti
penting Konferensi Bandung. Baik ditinjau secara strategi perjuangan
bangsa-bangsa AA ketika itu, maupun dalam usaha untuk ikut aktif
dalam memperjuangan perdamaian daunia. Mereka-mereka itu menganggap
memperingati KAA sebagai 'nostalgia'. Tak lebih dari itu. Mereka
tidak bisa melihat, betapa besar dampak 'Semangat 10 Prinsip
Bandung' yang dideklarasikan oleh Konferensi , di masa itu, juga
untuk masa depan bangsa-bangsa Asia dan Afrika.

Rosihan juga menekankan pada generasi muda kita tentang arti penting
mempelajari dan memahami sejarah bangsa sendiri. Menghargai usaha para
pemimpin bangsa sendiri dalam membina bangsa dan kehidupan bersama
bangsa-bangsa Asia dan Afrika.

Mari baca lagi secuplik dari tulisan Rosihan tsb tentang Konferensi AA
di Bandung:

'Dewasa ini ada orang yang bertanya apakah gunanya bagi kita
memperingati 50 tahun KAA Bandung, sedangkan dunia sudah berubah?
Sebagai wartawan yang meliput KAA dulu saya ingin menjawabnya dengan
mengemukakan bahwa betul dunia sudah berubah, namun kita mesti
berusaha menanamkan kesadaran sejarah kepada generasi muda Indonesia.
Generasi muda jangan sampai melihat sejarah bangsa kita seperti
terputus- putus, merasa hidup hanya dalam zamannya saja, bersikap
bagaikan "muara melupakan hilirnya". 50 Tahun yang lalu Indonesia
tampil aktif di gelanggang politik internasional dengan tujuan
membebaskan bangsa Asia-Afrika dari kolonialisme.
'Indonesia sukses menyelenggarakan KAA walaupun keadaannya masih sukar
dan pengalamannya masih kurang. Tapi, Indonesia tetap maju ke depan
dan aktif bergerak dalam human pilgrimage, perjalanan umat manusia.
'Apakah pengetahuan sejarah tentang KAA itu tidak memberi inspirasi
dan optimisme bagi generasi sekarang untuk menatap masa depan? Saya
yakin ada, karena itu ada gunanya memperingati 50 tahun KAA Bandung.
God bless Indonesia.' Demikian Rosihan Anwar tentang arti sejarah
Konferensi AA di Bandung (1955).

Sungguh tepat dan kena sekali apa yang dikemukakan oleh Rosihan Anwar
tertuju pada generasi muda, khususnya para wartawannya dewasa ini.
Itulah antara lain, yang terpenting, mengapa kukatakan tulisan Rosihan
itu baik.

* * *

Lalu, ------ Ada puisi Rosihan Anwar yang berjudul, 'SAYA TIDAK
MALU JADI ORANG INDONESIA'

Di tengah-tengah pendapat yang direkayasa menjadi 'pendapat umum',
bahwa Indonesia dewasa ini amat 'memalukan', disebabkan
merajalelanya budaya KKN, situasi ketiadaan kepastian hukum, dsb.
Sedangkan sementara orang meneriakkan dengan suara menyesal, bahwa
ia 'MALU JADI ORANG INDONESIA'. Nah, dalam situasi demikian itulah,
bak gebrakan di tengah-tengah cerita wayang yang bikin sementara
orang ngantuk dan mulai bosan, muncullah puisi Rosihan. Seperti ia
tulis sendiri, itulah bentuk perlawanan Rosihan terhadap korupsi.

* * *

Lihat cara Rosihan menumpahkan kritik sosialnya dalam puisi
SAYA TIDAK MALU JADI ORANG INDONESIA, a.l.

'Catatlah, Bung Karno menciptakan keamanan dan persatuan bangsa
Pak Harto menciptakan kemakmuran bangsa dan keluarganya
Habibie menciptakan demonstrasi
Gus Dur menciptakan partai kebangkitan bangsa
Megawati menciptakan kenaikan-kenaikan harga'

Semakin keras kritik Rosihan terhadap budaya korupsi, s.l.:

'Akan tetapi drakula-drakula Indonesia tetap perkasa
Beroperasi 24 jam, ya malam ya siang mencari korban
Sehingga sia-sialah aksi melawan korupsi membasmi drakula
Yang telah merasuki rongga dan jiwa aparat negara
Yang membuat media memberitakan
Akibat bisnis keluarga pejabat, Tutut-Tutut baru bermunculan.

'Aku orang terpasung dalam terungku kaum penjarah harta negara
Akan aneh bila berkata aku malu jadi orang Indonesia
Sorry ya, Aku tidak malu jadi orang Indonesia
Kuhibur diri dengan sajakku magnus opus karya sang Empu
Sajak pendek yang berbunyi:
Katakan beta
Manatah batas
Antar gila Dengan waras
Sorry ya, inilah puisiku melawan korupsi
Siapa takut?'
(Dibacakan pada acara Deklamasi Puisi di Gedung Da'wah Muhammadiyah di
Jakarta, 31 Desember 2004. Juga dibacakan dalam acara pertemuan
keluarga wartawan senior di rumah penulis pada tanggal 9 Januari 2005,
di Jakarta)

Demikian Rosihan yang TAK MALU JADI ORANG INDONESIA.


* * *

Belakangan ada dua lagi tulisan Rosihan Anwar yang bagiku menunjukkan
benarlah kata pejuang kawakan kawanku itu, bahwa Rosihan SUDAH BERUBAH
jadi baik.

Yang ingin kubicarakan di sini ialah tulisannya yang berjudul '10
NOVEMBER, TANPA MITOS'.
Yang utama maksud tulisan itu adalah untuk menyampaikan kepada umum, sbb:

'Bulan November 1945 itu, saya sudah ke Surabaya, tetapi tidak pernah
sampai ke front pertempuran paling depan. Jadi apa yang saya
banggakan? Maka bila saya menulis bahwa saya adalah wartawan perang di
zaman revolusi, hal itu tak lebih hanya mitos. (Kutipan selesai)

Sebelumnya Rosihan menjelaskan:
(Kutipan mulai) 'Hari ini, memperingati perjuangan arek Suroboyo 10
November 1945, saya
ingin berhenti memitoskannya atau mendewa-dewakannya, sejauh mengenai
diri saya sebagai wartawan dan pelaku sejarah saat itu.

Untuk menghapuskan mitos, ada ungkapan, demitologisasi. Orang lain
bilang debunking menolak aneka kepalsuan seseorang. Saya pakai istilah
true confessions, pengakuan-pengakuan sejati'.(Kutipan selesai)

Bila diterjemahkan dalam bahasa sehari-hari, maka begini kira-kira
jadinya --- Selama ini sementara orang menganggap Rosihan Anwar,
wartawan senior, suatu waktu ketika bekecamuk PERTEMPURAN SURABAYA
(12 November, 1945), ia berkiprah sebagai wartawan perang. Sebagai
wartawan yang meliput pertempuran Surabaya yang bersejarah itu..
Padahal keadaan sebenarnya tidak demikian. Memang Rosihan ke
Surabaya, tetapi tidak hadir di front. Cerita-cerita seolah-olah
Rosihan melaporkan situasi perang lawan Inggris di Surabaya, di
tengah-tengah pertempuran yang sedang berkobar, itu tidak benar.
Rosihan lama-lama merasa tidak énak keberadaannya di Surabaya ketika
itui, dibikin menjadi mitos. Entah oleh siapa. Maka Rosihan sekarang
ini, MELAKUKAN DEMITOLOGISASI, pengakuan-pengakuan sejati, atau
TRUE-CONFESSION. Ngaku sendiri, bahwa mitos itu tidak benar.

Betullah adanya, . . . . . sungguh jarang ada orang, apalagi
wartawan, yang berani berbuat seperti halnya Rosihan Anwar yang
melakukan TRUE-CONFESSION secaras terbuka dan blak-blakan begitu.
Meskipun nyerempet-nyerempet menyinggung Sumarsono, pemimpin PRI,
yang dikatakannya tidak pernah dilihatnya pada waktu pertempuran di
Surabaya (Ini dibantah oleh Sumarsono yang menegaskan bahwa dia hadir
di Surabaya ketika itu, hanya Rosihan yang tidak melihatnya, karena
memang Rosihan tidak pernah ke front pertempuran). Bagaimanapun
Rosihan hendak menunjukkan bahwa ia seorang wartawan yang mau JUJUR.
Yang tidak mengada-ada, yang tidak ngibul.Maka dalam hal ini,
Rosihan Anwar memberikan teladan bagi para wartawan junior dewasa ini.

Rosihan menyatakan , ini saya lho, berterus terang saja. Saya adalah
wartawan biasa yang tidak ikut berperang di zaman PERTEMPURAN
SURABAYA. Titik.

* * *

'AKU MAU PRESIDEN BARU' dan 'JALAN BARU' BAGI INDONESIA
Selanjutnya. Sikap Rosihan yang kritis dan analitis mengenai pertemuan
di Gedung Perpustakaan
Nasional di Salemba, Jakarta, siang, 1 November 2007, yang
diselenggarakan oleh Komite Bangkit Indonesia, atas inisiatif mantan
Menko Ekonomi Kabinet Abdurrahman Wahid, dr Rizal Ramli. Menurut
Rosihan, dalam tulisannya 'AKU MAU PRESIDEN BARU', banyak selebriti
politik dari tempo dulu hingga sekarang, tokoh intelektual di luar
establishment, pemimpin lintas agama, hadir untuk memberi warna pada
pertemuan itu.

Dengan panjang lebar Rosihan memberitakan sekitar orasi Rizal Ramli,
mengenai 'Jalan Baru' yang perlu ditempuh negeri dan bangsa ini.
Karena, kata Ramli, dalam 40 tahun terakhir Indonesia menjadi negara
yang tertinggal dari negara lain di Asia Timur. Reformasi pada 1998
belum juga berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyat. Karena watak
feodal para pemimpin. Karena praktik neokolonialisme di mana kebijakan
ekonomi Indonesia hanya menjadi subordinasi dan alat kepentingan
internasional. Karena adanya kepemimpinan yang tidak efektif serta
lemah secara visi dan karakter. Maka untuk keluar dari keterpurukan
dan untuk menciptakan kesejahteraan
bagi mayoritas rakyat, Indonesia harus memperjuangkan jalan baru yaitu
jalan yang anti-neokolonialisme dan lebih mandiri..

Bagaimana pendapat Rosihan sendiri? Inilah dia: SEKITAR 'JALAN BARU'
BAGI INDONESIA.
Rosihan mengharapkan mudah-mudahan usaha elite politik dan oligarki
hendak merintis JALAN BARU bagi Indonesia, menimbulkan harapan baru di
kalbu rakyat, dapat bergaung dan berterima baik di kalangan rakyat.
Saya teringat salah satu dikotomi lain yakni hall of fame (bangsal
kemasyhuran) dan hall of shame (bangsal keaiban). Bila usaha berhasil,
maka dalam sejarah mereka akan tercatat masuk ke dalam hall of fame.
Bila gagal, tempat mereka dalam hall of shame.

Lanjut Rosihan:
Dalam pertemuan itu saya dengar, tulis Rosihan, banyak orang
bertanya: What next? Apakah cuma bicara dan silaturahmi saja
sebagaimana diperlihatkan oleh Komite Bangkit Indonesia? Apakah cuma
tinggal pada NATO belaka yaitu akronim bukan dari North Atlantic
Treaty Organization, melainkan dari No Action Talk Only? Tiada aksi
ngomong doang? Saya pikir, bila mau sedikit lebih
serius, NATO itu bisa pula diartikan sebagai New Action Towards
Oneself. Tindakan (gerakan) baru ke arah diri pribadi sendiri. Ke arah
watak pribadi bangsa yang mandiri, yang menjunjung harkat dan martabat
kemanusiaan. Sebagaimana sudah dikemukakan oleh Soebadio Sastrosatomo,
tokoh PSI (Partai Sosialis Indonesia) dalam bukunya Pengembang Misi
Politik (1995), "Bangsa Indonesia harus kembali menegakkan be yourself".
Berarti jadilah kamu bangsa mandiri, punya harga diri, menolak
dijadikan budak oleh kepentingan-kepentingan asing. Demikian liputan
dan pendapat Rosihan mengenai situasi dewasa ini.

Rosihan mengutip ucapan tokoh PSI Soebadio Sastrosatomo.
Mudah-mudahan, dalam rangka menempuh JALAN BARU tsb., ia tidak lupa
strategi perjuangan Subadio Sastromo, yang mengimbau persatuan dengan
Bung Karno, (sekarang tentunya dengan para Sukarnois dan pendukung
Bung Karno yang sungguh-sungguh) dalam rangka membangun kekuatan
nasional untuk MENEGAKKAN YOUSELF. Halmana adalah kebijakan strategi
Bung Karno yang dirumuskannya dalam TRISAKTI dan PRINSIP BERDIKARI
bagi Indonesia.

Hematku, Rosihan Anwar benar-benar telah berubah, bila ia memanfaatkan
sisa umurnya, memberikan sumbangannya demi membangun kekuatan
nasional seperti yang digariskan oleh Bung Karno dan juga oleh
Subadio Sastrosatomo.