Pernah sekolah? Kalau pernah tentu kita punya kenangan dengan guru-guru masa sekolah kita dulu. (Catatan elmod: Judul diubah agar sesuai formatnya dengan syairnya WW)



Kadang saya merasa takjub, sosok-sosok guru yang mengajarkan banyak
hal pada kita, seringkali diingat justru bukan dari hal-hal yang
diajarkannya, tetapi dari hal-hal lainnya.

Sifatnya yang pemarah, yang lucu, yang gemar bercanda, yang ngganteng
atau cantik, yang kebiasaannya menjiwir telinga, memeletkan lidah,
atau hal-hal tak terlalu penting seperti itu.

Mengherankan bukan?

Guru yang selama kurun waktu cukup panjang -setahun atau mungkin
lebih- menemani hari-hari kita, dan setiap harinya bertemu pasti ada
saja yang diajarkan oleh sang guru, ternyata diingat dalam hal-hal
yang tak (perlu) masuk di akal. Bahkan beberapa mungkin sebenarnya
memang tak pantas untuk diingat-ingat. :p

Tapi mungkin tidak selamanya demikian.
Mungkin tanpa kita sadari ada hal-hal yang mempengaruhi diri kita,
menjadi bagian sehari-hari dalam kehidupan kita, yang kalau ditelusuri
sebenarnya berasal dari ajaran guru-guru kita dahulu.

Ada yang berbentuk perilaku dan dipraktekkan secara konsisten sampai
tua, kalau diingat-ingat ternyata bersumber dari hasil latihan, atau
perintah sang guru. Atau yang mungkin lebih banyak terjadi, ada
prinsip-prinsip yang kita pegang teguh dan menjadi bagian kuat dalam
pola pikir kita, ternyata kalau dikaji-kaji adalah buah hasil wejangan
sang guru tempo dulu.

Mungkin ada baiknya sekali-sekali menelusuri kepingan diri kita, lalu
menelaah dari mana tiap kepingan itu bersumber.
Dari mana kepingan itu terbentuk.
Bisa jadi dari satu kepingan kita menemukan korelasinya dengan sosok
guru-guru kita.
Dan bisa jadi kita menemukan sosok guru dalam kepingan diri kita dalam
hal-hal yang menakjubkan.

Bukan hanya untuk mencari pola "mengenang secara berbeda" (dengan yang
biasanya mengenang hal-hal tak penting seperti saya tulis di awal
tulisan ini), tapi mungkin dengan begitu kita sedikit mencoba untuk
tak menjadi "kacang yang lupa kulit." Atau iseng-iseng, anggap saja
itu proyek pribadi untuk berterimakasih dengan cara tak nyata. :)

* * *

Apa ajaran yang "penting" dari guru-guru kita dulu ya?

Saat-saat tertentu, saya kerap teringat satu sosok guru saya. Sebut
saja belia Pak M. Guru mata pelajaran PMP semasa SMP dan saat saya
SMA, beliau mengajar mata pelajaran Olahraga..

Kalau mengenang hal-hal tak penting terkait dirinya, saya ingat beliau
guru yang punya sense humor cukup kenyal, tetapi pola mendidiknya
tetap dengan style disiplin yang agak-agak militeristik. Selera humor
misalnya terlihat kalau beliau mengabsen nama lengkap saya (berikut
nama fam atau marga). Berlagak seperti salah mengeja, ia selalu
melafalkan nama belakang saya menjadi Manukfora.

Jadi lucu karena nama plesetan itu justru dilafalkan dengan suara yang
bernada tegas (agak menghardik, tetapi bukan dengan nada membentak
yang galak..). Bukan hanya saat mengabsen atau bicara, style disiplin
ala militer akan lebih terasa saat beliau memerintahkan kami untuk
melakukan kegiatan-kegiatan saat pelajaran olahraga. Lompat jongkok,
lari mengitari lapangan, berenang bolak-balik, tak ada ampun dan tak
ada cerita bisa dilakukan sambil berleha-leha.

Itu sebagian dari hal-hal tak penting yang saya ingat tentang sosok
guru saya itu.
Terlalu sedikit?
Mungkin malah terlalu banyak.

Karena untuk ajaran-ajaran yang penting, ternyata lebih sedikit lagi
yang bisa saya munculkan di benak.
Bahkan sejujurnya hanya satu.

Saya ingat, dalam suatu sesi senggang di tengah pelajarannya, beliau
melantur dengan bertanya satu hal pada kami murid-muridnya :

Kamu kalau ke WC, pernah lihat kotoran kamu atau langsung disiram
begitu saja?

Pertanyaan aneh untuk suatu pelajaran PMP. Tapi mungkin tak terlalu
aneh juga, karena bisa jadi pertanyaan itu diberikan dalam pelajaran
Kesehatan/Teori Olahraga.

Saya tak ingat secara pasti dalam pelajaran apa. Tapi yang saya ingat
dengan sangat jelas, adalah setelah itu beliau memberi satu ajaran
yang ternyata sampai tua begini saya praktekkan setiap hari.

---- Janganlah langsung menyiram kotoran. Lihat dan perhatikan
baik-baik. Karena dari kotoran kamu itu, kamu bisa tahu apakah ada
yang tidak beres atau tidak dalam tubuh kamu. Lagipula, itu kan
kotoranmu sendiri.

* * *

Sadar tak sadar, lebih dari 20 tahun telah berlalu, dan saya setiap
hari melakukan apa yang diajarkannya. Bahkan mungkin secara perlahan
ajaran sederhana itu perlahan-lahan berkembang lebih jauh dan
membentuk kalimat-kalimat baru dalam diri saya.

---- Jangan pernah merasa jijik dengan kotoran kita sendiri.
Perhatikan baik-baik kotoran kita, karena dari situ kita bisa belajar,
dan mengobati kalau-kalau ada penyakit dalam tubuh yang menghasilkan
kotoran itu.

---- Jangan pernah merasa malu dengan kesalahan-kesalahan yang
tercipta dari diri kita sendiri. Jangan langsung disiram dan
dilupakan. Tapi sebaliknya perhatikan dan pelajari. Mudah-mudahan
justru dari kesalahan-kesalahan itu kita bisa menjadi manusia yang
lebih baik.

* * *

Sebetulnya lucu juga.

Dari seorang guru pelajaran moral dan olahraga, saya tumbuh menjadi
tua dan menganut erat-erat ajarannya, dalam hal yang mungkin tak
berkaitan dengan moral, atau olahraga, tapi dalam hal mengamati barang
buangan di dalam wc.

Lebih dari 20 tahun berlalu dan setiap hari saya mengamati lekat-lekat
kotoran saya sendiri.
Pikir-pikir, aneh juga saya tidak berkarir menjadi pengamat feses. ;-p

Apa yang anda ingat dari guru anda?
Adakah sosok guru anda dalam kepingan diri anda sekarang?
Mungkin sesekali, anda perlu bernostalgia.



Sentaby,
DBaonk © 2007




Keterangan :
Oh Captain My Teacher itu plesetan dari judul puisinya Walt Whitmann
yang diangkat lagi dalam salah satu film favorit saya sepanjang masa,
Dead Poets Society (1989).
Film pemenang Oscar 1989 ini mengisahkan seorang guru (Robbin
Williams) yang benih pikirannya memberi pengaruh besar bagi
murid-muridnya, sampai-sampai salah satu memutuskan berkarir menjadi
anak yang mati muda ;-p


Dimuat sebagai jurnal di blog :
http://dennybaonk.multiply.com/journal/item/80