6 Nopember 2007 Hari-hari terakhir ini berita-berita dan tulisan-tulisan para pembaca menyuarakan suara jengkel dan sinis terhadap kemacetan lalu kendaraan dan lintas kendaraan di jalan-jalan di Ibukota Negara.

Budiarto Shambazy dalam tulisannya pagi ini berjudul Kaisar Bugil di halaman 15 Kompas menyebutkan bahwa menurut TTI (Texas Transportation Institute) di Texas A&M University di AS (Amerika Serikat) menyimpulkan Jakarta kota termacet di dunia bersama Bangkok (Thailand), Cairo (Mesir), Chennai (India), Sao Paulo (Brasil) serta Beijing dan Shanghai (China).

Saya pikir-pikir, lumayan sering kita ini mendapat peringkat nomor satu, dalam kategori yang bersifat kurang menyenangkan saja: soal macet, soal korupsi, soal mantan Presiden yang menjadi pencuri nomor satu dan penggundulan hutan nomor satu dan apalagi? Yang baik-baik misalnya Juara Nomor satu di Olimpiade Matematik, beritanya malah kalah gencar dan tenggelam.

Di lingkungan perusahaan-perusahaan yang saya ketuai dulu, saya menerapkan waktu masuk kerja adalah pukul 07.00 sampai dengan 09.00 pagi dan waktu pulang pukul 16.00 sampai dengan 18.00 siang/sore hari. Hal ini memenuhi ketentuan waktu kerja total sepanjang 7 jam sehari dan satu jam istirahat serta makan antara pukul 12.00 sampai dengan pukul 13.00. Ini mempunyai tujuan agar para karyawan yang rumahnya berada di daerah-daerah pemukiman yang berlain-lainan, dapat berangkat dan pulang dengan akses yang lebih mudah. Ada yang tidak macet kalau sudah liwat pukul 07.00 pagi ada yang sore hari didepan kantor-kantornya lalu lintas justru masih macet diluar gedung, sehingga toh harus menunggu juga. Yang saya ceritakan ini adalah sepuluh tahun yang lalu. Tulisan saya dibawah ini adalah tulisan pada tahun 2004.

Di dalamnya ada yang masih berlaku sekarang ini tahun 2007 tetapi ada yang perlu diperhatikan lebih.

Tulisan saya memuji Polisi Tidur di daerah Pondok Indah, tetapi Budiarto Shambazi menganjurkan agar Polisi yang Tidur itu di suruh pergi saja agar lalu lintas menjadi lancar, demikian juga Pos-Pos Keamanannya. Hal ini terjadi karena adanya pembangunan jalur baru untuk bus Trans Jakarta atau yang terkenal dengan Bus Way …. Dan bukan hanya proyek ini saja, di Pondok Indah saja, tetapi juga yang di Gatot Subroto dan lain-lain.

Yang sama dan malah menjadi-jadi adalah kebuasan manusia Jakarta dalam mengemudi kendaraan, tanpa perduli keselamatan badan dan jiwa orang lain maupun diri sendiri.

Sempat hinggap di dalam pikiran saya pada awal tahun 1990an bahwa yang mempunyai peran diam-diam tetapi menentukan terhadap bertambahnya kemacetan ini antara lain adalah :

1. GAIKINDO(Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia)

2. Bank-Bank yang memberi Kredit Pembelian Kendaraan dengan jangka waktu kredit yang lebih panjang dan lebih mudah.

Mereka ini saya anggap sebagai penghalang terlaksananya pembangunan Subway Train (Kereta Bawah Tanah) dan Monorail. Dua proyek ini selalu gagal selama bertahun-tahun lamanya. Pikiran saya: kalau kedua sarana itu tidak gagal maka pasti penjualan kendaraan akan menurun drastis dan tentu saja No. 1 dan No. 2 diatas akan tidak bergembira samasekali. Mengapa dua proyek ini gagal tetapi jalan Tol dibuat dengan lebih mudah, padahal investasinya sama-sama menggunakan uang “panas” dari negara antah berantah??? Saya tahu bahwa saya akan dibantah dan disebut prejudice (berburuk sangka). Tidak apa-apa lah, toh dari pada mengendap di dalam pikiran saya selama ini, dan sekarang kentara sekali sudah waktunya akan berubah menjadi penyakit kalau tidak saya tembakkan sebagai keluaran isi hati saya.

Banyaknya sepeda motor di Jakarta saat ini saya lihat di Kompas disebutkan 3.325.790 dan mobil 2.677.303 buah (Data dari Dinas Perhubungan DKI, BPS DKI.)

Saya berjalan kaki di Orchard Road, Singapore atau di Bloor Street West, Toronto dan di Ginza, Tokyo merasa lebih aman dan dengan bebas menghirup udara bersih.

Di atas trotoir tidak ada Warung Tegal dan Penjual Koran/Majalah dan penghalang-penghalang lain yang terasa mengganggu bagi orang yang berjalan kaki, meskipun ada sepeda dikendarai (memang dijinkan) dan juga pengguna skateboard lalu lalang.

Para pengendara sepeda dan skateboard semuanya terasa amat sopan dan terutama sekali mendahulukan kami yang sudah tua usia ini. Saya mempunyai pengalaman pernah mengirim surat kepada Lurah, Camat dan Kapolsek Tebet Barat di Jakarta karena saya hampir celaka di sambar kendaraan, sebab ada bus yang ditahan oleh kantor Polsek dan diparkir berhari-hari malah berminggu-minggu diatas trotoir di depan Kantor Polisi itu. Surat saya itu juga mengimbau agar diberikan prioritas pembuatan trotoir biar setengah meter saja lebarnya, atau mungkin kurang jelas lima puluh sentimeter saja lebarnya. Ketiga pegawai kita (yang tidak lain: rakyat) itu sama sekali tidak menunjukkan perhatian. Membalas surat saya juga tidak, meskipun saya amat yakin surat-surat saya itu sampai dengan selamat, karena diantarkan langsung oleh penegemudi mobil saya, bukan melalui Pos atau perusahaan courrier. Begitulah, kesantunanpun telah terlupakan oleh para pemuka dan pimpinan masyarakat seperti mereka. Mereka bukan pemimpin, karena tidak kenal siapa yang dipimpinnya. Saya marah benar soal ini tetapi tanpa bisa dan mau melawan mereka. Orang-orang arogan seperti inikah yang sedang mengelola Negara kita?

Berita lain di Kompas hari ini juga memuat angka-angka kerugian karena macet yang menjadi-jadi ini:

  1. KERUGIAN WAKTU dengan asumsi UMP (Upah Minimum Pekerja) sebesar RP 4.329 per jam kali 2 per orang kali 7.500.000 pekerja kali 313 hari kerja didapat angka Rp 20.324.655.000.000,- (Iya, tidak salah: dua puluh Trliun Rupiah lebih)
  2. KERUGIAN BBM (BAHAN BAKAR MINYAK) mobil sebesar Rp 6.599.217.232.125 dan sepeda motor Rp. 8.238.748.557.375 (Data Bappenas)
  3. KERUGIAN ANGKUTAN PENUMPANG Rp 2.364 Triliun per tahun
  4. KERUGIAN KESEHATAN Rp. 5.39 Triliun pertahun
  5. KERUGIAN LINGKUNGAN Rp 5 Triliun

Total kerugian-kerugian diatas adalah: Rp 43 Triliun lebih atau setingkat dengan dua kali lipat Anggaran Pendapatan dan Belanja DKI Jakarta untuk tahun 2007.

Saya tidak bisa melupakan kecelakaan lalu-lintas yang terjadi waktu rombongan Presiden SBY di Tol Jagorawi pada waktu belum genap satu bulan dilantik menjabat Presiden. Kemudian pelanggaran iring-iringan rombongan Wakil Presiden Hamzah Haz yang memasuki jalur bis Trans Jakarta/Bus Way. Saya juga membaca beberapa kali keluhan dalam kolom Surat Pembaca, mengenai terjadinya pelanggaran lalu-lintas atau sikap arogan rombongan Gubernur DKI yang bersikap berlebihan dan arogan terhadap pengemudi mobil pribadi yang lain. Para pengemudi yang lain ini sebenarnya adalah majikan dari Gubernur yang manapun, karena gaji Gubernur dibayar oleh APBD/APBN yang pendapatannya dari pajak dan lain-lain pungutan dari rakyat. Kalau para pejabat diatas menjadi marah kepada saya terhadap tulisan saya ini, saya akan menyilakan mereka melakukan semedi dan renungan agar mereka dapat menyelesaikan masalah kekesalan hati saya ini. Kalau ini juga tidak dilakukan, maka benarlah ungkapan yang mengatakan bahwa: para pejabat itu makin jauh dari rakyat yang seharusnya diayomi dan dilindungi.

Silakan membaca tulisan yang ditulis pada Natal tahun 2004 dibawah ini:

Macet

26 Desember, 2004 Created by Anwari Doel Arnowo

Lalu lintas macet ? Itu bukan berita di Indonesia, terutama di Jakarta. Saya pernah membaca tulisan wartawan Pakistan yang banyak mengunjungi banyak negara-negara dan memperhatikan lalu-lintasnya sebagai acuan untuk tulisannya.

“Kurang ajarnya” dia itu telah berkesimpulan sendiri sebagai hasil pengamatannya bahwa kemacetan lalu lintas disuatu Negara itu menggambarkan juga bagaimana ruwetnya pikiran para politikus dan jajaran birokrasi di Negara bersangkutan. Kurang ajar? Barangkali tidak juga, ya? Saya melihat kenyataan, bahwa memang banyak conto seperti disebutkan oleh tuan wartawan dari Pakistan itu.

Beberapa tahun lalu pernah ada data survey yang menyebutkan perbandingan statistik lalu lintas di Amerika Serikat, Jepang dan Singapura. Ukurannya adalah banyaknya mobil didalam jalan yang panjangnya satu kilometer. Di Singapura dalam satu kilometer kalau tidak salah, ini saya pakai dasar ingatan saya saja jadi mungkin angkanya tidak terlalu tepat, ada 70 kendaraan. Di Jepang dan Amerika Serikat lebih sedikit. Tetapi menurut ukuran macet, kata hasil survey, yang paling macet di Amerika Serikat dan kemudian Jepang. Bagaimana mungkin dalam satu kilometer kendaraannya berjumlah paling banyak malah paling tidak macet? Saya kira Singapura dan kedua Negara lainnya yang yang tersebut diatas sudah lumayan dikenal, patut kita amati bersama, kenapa tidak macet? Apa yang dapat diterapkan di Indonesia dan bukan hanya Jakarta? Selain masalah bencana alam, kita juga patut menggolongkan macet sebagai bencana juga, tetapi karena ulah manusia sendiri.

Dua puluh tahun yang lalu saya naik taksi di daerah Jurong dekat Pelabuhan di Singapura. Jalan sepi sekali hampir tidak ada mobil lain.

Tetapi pada waktu tiba disuatu perempatan, lampu lalu lintas hijau berarti bebas meneruskan perjalanan, tetapi sopir taksi menginjak rem dan hampir berhenti serta memindahkan gigi persneling kegigi lebih rendah. Sopir taksi menengok kekiri dan kekanan dengan sungguh-sungguh, baru setelah merasa aman dia melanjutkan perjalanan. Apa perasaan saya? Ini orang membuang-buang waktu saja. Sok hati-hati amat! Atau ini sopir masih baru? Tetapi setelah saya tanya, dia menjawab sudah sepuluh tahun dia menjadi pengemudi taksi.

Ternyata bahwa itu berarti saya salah sangka karena prejudice! Memang mereka selalu ekstra hati-hati bila mendekati persimpangan jalan. Lain sekali dengan negeri kita, Indonesia.

Tahun 1981 saya naik taksi di Osaka, Jepang. Waktu masuk, disamping sopir sudah ada seorang lagi dengan seragam sama tetapi tampak lebih senior, lebih tua dalam pengalaman. Sepanjang perjalanan yang satu jam lamanya, kalau saya tanya dengan pasti yang menjawab adalah si senior, dan setelah seperempat jam saya terdorong bertanya, mengapa begitu. Akhirnya dia ceritakan sipengemudi yang sedang tugas adalah pengemudi baru, baru dua bulan, dan sedang dalam pengawasan. Berapa lama diawasi? Jawabnya satu tahun. Masyaallah. Satu tahun? Iya, itu peraturan, sampai si junior ini dinyatakan benar-benar lulus dan dibolehkan mengemudi sendiri. Sebelum ini dia juga harus menunggu satu tahun dalam pendidikan, misalnya mengenai situasi kota, jalan, gedung-gedung. Wah lain sekali dengan negeri kita, Indonesia.

Pernah, pada tahun 1996, saya menginap di Singapura di Hotel Westin (Hotel tertinggi didunia pada waktu itu – sekarang berganti nama Swissotel) di Raffles City di lantai 65. Di balkon, setelah mengganjal pintu dengan sandal supaya tidak tertutup sendiri, saya “berpetualang” ke railing pagar balkon dan mengintip ke bawah.

Angin kencang sekali seakan-akan bisa menerbangkan badan saya.

Apa yang tampak dibawah sana ? Mobil yang merayap perlahan dijalan di sekitar Marina Square, seperti match box (mainan mobil kecil-kecil) saja. Atau seperti semut.

Yang menarik perhatian saya adalah pintu keluar masuk kendaraan dari jalan raya ke halaman gedung dimana Hotel berdiri. Terletak di jalan raya tepat di depan pintu masuk Hotel ada satu bagian jalan yang berupa segi empat sekitar ukuran +/- 10 x 6 meter di beri bergaris dan dicat warna kuning. Berikut ini menarik. Apabila ada mobil dari dalam pekarangan bermaksud keluar dari pekarangan Hotel, maka deretan mobil di jalan raya akan berhenti tepat sebelum kotak kuning dan memberi kesempatan kepada mobil yang keluar untuk memasuki jalan raya dan masuk dalam antrian. Tidak ada polisi atau petugas Satpam seorangpun.

Semua berjalan dengan sendirinya, tidak ada klakson berbunyi, tidak ada orang marah-marah. Saya cepat masuk kamar, karena memang saya sadar bahwa yang saya lakukan memang melanggar peraturan, tidak boleh berada di area balkon. Dasar orang Indonesia. Pada kesempatan turun esok harinya saya mendekati kotak kuning tadi, dan berdiri disekitarnya selama sepuluh menit mengamati. Sama saja seperti kemarin, tidak ada Polisi atau Satpam, semua berjalan seperti saya lihat dari atas kemarin.

Ternyata kotak kuning itu sesuai ukuran simpang jalannya, terdapat dimana-mana di perempatan serta simpang jalan yang rawan macet di Singapura. Namanya terkenal dengan istilah Junction Box. Dan sebenarnya junction box itu sudah ada disana kalau tidak salah sejak duapuluhan tahun yang lalu. Perlu dicatat bahwa pernah diadakan percobaan junction box diberlakukan di simpang empat Thamrin – Kebon Sirih. Mungkin undang-2nya belum jelas dan implementasinya tidak sejalan. Sekarang saya mengharapkan agar junction box ini di”taruh” di Jalan Thamrin, Sudirman, Warung Buncit, Kuningan, Hayam Wuruk, Gajahmada, Sawah Besar Gunung Sahari, Stasiun Jakarta Kota, Pasar Minggu, Cibubur, didepan Sekolah Katholik Gereja Theresia, Santa Maria, didepan Gunadarma Kelapa Dua, didepan IAIN Ciputat, Bintaro dan lain-lain simpul kemacetan yang ada di Jakarta.

Junction Box ini adalah sebuah alat anti macet yang paling canggih yang saya pernah lihat. Modalnya hanya cat dan peraturan atau undang-undang. MURAH. Bagaimana peraturannya?

Mudah saja! Barang siapa yang berkendaraan dan kendaraannya terjebak berhenti didalam kotak kuning, meskipun lampu sedang hijau, dan dia menghalangi lalu lintas lain, maka dia kena denda. Denda agar benar-benar dilaksanakan. Uang denda agar benar benar dijaga, senyata-nyatanya masuk ke Kas Negara.

Kesimpulannya: MURAH dan MUDAH akan tetapi membutuhkan pelaksanaan yang jujur dari petugas dan dari pengguna jalan. Pertanyaannya, bisakah Indonesia melaksanakan ?

Jawabannya adalah: Siapa bilang tidak bisa?

Ya, ternyata saya sendiri yang menjawab tidak bisa.

Buktinya ?

Sudah lebih duapuluh tahun junction box ada disana, dan Indonesia tidak juga menirunya, kan ?

Itu namanya tidak bisa dan tidak mau !?

Bukankah saya ini cuma orang awam, maksud saya adalah, saya ini bukan ahli lalu lintas. Mustahil ahli kita yang kerjanya mengatur lalu lintas setiap harinya, tidak mengetahui masalah junction box di Singapura. Apakah ada gengsi dan rasa malu meniru dari Negara kecil. Malu macam apa pula ini ?

Kalau memang malu, sadarkah kita hanya karena malu kita telah menderita kerugian mental, kelelahan karena macet, keuangan karena harus membayar harga bahan bakar yang digunakan selama macet, membayar obat dan dokter karena akibat depresi dan stress, karena macet dan lain-lain? Berapa kerugian karena datang kerja terlambat, terlambat rapat, terlambat janji macam-macam? Bisa membayangkan lagi bagaimana semua kendaraan secara tergesa-gesa dan semua berdesak-desak karena ingin berbuka puasa dirumah bersama keluarga? Semua pengendara saling memotong jalannya pengguna jalan yang lain. Bisakah kita membayangkan bagaimana menghadapi boss yang galak dan terpaksa memecat orang yang sering datang terlambat?

Tahukah para pejabat yang berwenang di Republik Indonesia ini, bagaimana nikmatnya berjalan-jalan ditrotoir yang lebar, bersih dan santai, meskipun ribuan mobil berlalu-lalang dalam jarak dekat dari trotoir. Berapa lebarnya trotoir? Di Indonesia yang terkenal dengan kaki lima adalah pedagangnya, tetapi sebenarnya ini adalah lebar trotoir yang lima kaki atau sekitar satu setengah meter. Trotoir disana juga mungkin sebagian besar juga lima kaki, akan tetapi di Orchard Road amat lebar bisa mencapai limabelas kaki. Biarlah orang membaca ini dan mengatakan tulisan ini terlalu Luar Negeri sentris. Tujuannya tiada lain supaya kita bisa meniru yang baik-baik dari Negara lain, tidak perduli dari negeri kecil seperti Singapura. Encik tak usah malu-malu, laaah …

Ada kemacetan yang penyebabnya selalu terjadi pada waktu hujan, hujan kecil ataupun hujan deras. Terjadinya dibawah jembatan, jembatan kecil seperti jembatan penyeberangan jalan kaki atau jembatan besar seperti jembatan Semanggi. Semua orang pejalan kaki dan sepeda motor berteduh dan berhenti, bertumpuk-tumpuk secara melimpah menutupi jalan raya sampai lebih separuh jalan besar. Apa yang terjadi?

Lalu lintas mobil dan bus yang terhambat karena harus melalui jalan yang menyempit, karena orang berteduh, seperti jalur leher botol. Nah dibelakangnya macet total dari jembatan Semanggi sampai Dukuh Atas atau sampai Hotel Indonesia atau sampai Medan Merdeka Barat. Ini keterlaluan. Bukankah ini didepan Komdak? Di Jembatan Semanggi macet sudah lebih dari tigapuluh tahun, sejak jalan S. Parman belum dilebarkan, sejak jalan Gatot Subroto dilebarkan, sejak sebelum Jembatan Semanggi direnovasi. Semua ini terjadi tidak lebih dari limaratus meter jaraknya dari Komdak dan terjadi selama puluhan tahun? Janganlah, karena hal ini, kita menjadi sinis dengan istilah Polisi Tidur.

Polisi Tidur yang ada di semua simpang jalan didaerah Pondok Indah sungguh amat berhasil, tanpa lampu dan tanpa petugas jaga. Ini adalah bentuk junction box yang dinaikkan atau lebih tepatnya raised junction box. Tetapi biayanya sudah pasti lebih mahal dari junction box yang hanya dicat dijalan.

Apa solusinya? Solusi biasanya memang tidak pernah memihak kepada rakyat kecil atau orang kecil. Tetapi kita harus berpikir kearah yang lebih makro sifatnya.

Usul untuk solusi : Dipasang talang-talang air dibawah jembatan Semanggi yang mngalirkan air yang berasal dari jalan diatas jembatan Semanggi. Talang-talang air ini diarahkan kebawah jembatan dan dibuat berlubang-lubang yang akan memancarkan air sehingga membasahi daerah teduh dari air dan mengubahnya menjadi sebaliknya. Dengan demikian diharapkan akan tidak ada lagi sepeda motor dan orang yang berhenti berteduh. Biayanya kan murah?! Kejam? Mungkin saja!

Sebelum solusi ini terlaksana, siapa yang terlebih dahulu bersifat dan berlaku kejam ? Silakan cari kambing hitam.

Saya pernah menduga bahwa kalau komunikasi telepon baik dan lancar, maka lalu lintas akan sepi dan juga lancar. Sekarang saya tahu ini terbukti tidak benar. Malah orang bertelepon untuk bikin janji bertemu. Perlengkapan webcam di computerpun tidak menolong keadaan. Ada email dan facsimile tetapi toh manusia perlu bertemu. Sudah ada virtual office, tetap saja diperlukan human contacts dan berarti perlu bertemu.

Sekarang kita sedang sibuk mengerjakan overpass atau fly over, underpass dan busway sudah sebagian ada, sebentar lagi akan menyusul ada monorail bahkan project subway sudah mulai membicarakan tender, besarnya biaya dan sebagainya. Dapatkah diberi jaminan bahwa kalau semua sarana itu sudah jadi, maka Jakarta akan berkurang macetnya? Ternyata kita masih memiliki penyakit menahun dan memasyarakat, yaitu tidak tertib dan tidak disiplin.

Kapan tertib ?

Kapan disiplin ? 

Wallahualam.