Kemarin malam salah satu stasiun televisi memutar lagi satu film kesukaan saya, Saving Private Ryan.



Satu moment yang selalu saya ingat dari film ini bukan adegan
peperangan yang mengerikan, atau adegan-adegan dramatis perjuangan
Kapten Miller (diperankan Tom Hanks) dan kawan-kawannya menemukan
prajurit James Francis Ryan (diperankan Matt Damon).

Adegan yang sangat membekas bagi saya justru di penghujung film,
ketika seluruh dramatika peperangan masa lalu telah berlalu.
Saat James Francis Ryan Tua (diperankan Harrison Young) bersimpuh di
depan makam Captain John H. Miller, mengenang mereka-mereka yang
mengorbankan nyawa untuknya, lalu bertanya pada istrinya (Kathleen Byron):

Tell me I have led a good life.


* * *

Mungkin tak ada orang yang mati untuk saya, seperti juga halnya,
mungkin, tidak ada yang mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan
kehidupan anda.

Tapi adegan film itu sering membuat saya berpikir, berapa banyak
pengorbanan yang dilakukan orang-orang untuk saya?
Berapa banyak yang dilakukan orang lain, sehingga saya sampai hari ini
masih bisa menjalani hidup meski kadang dengan sungsang-sumbel tetapi
pada pokoknya tetap masih tergolong aman-sentausa, segar-bugar,
nyaman-tenteram?

Kalau bicara soal pengorbanan, wajar kalau pikiran kita tertuju pada
orang tua, kakak, adik, sanak saudara atau kerabat lain, yang kita
sadari sedikit banyak pasti pernah membantu kita.

Tapi kali ini saya ingin katakan, orang tua, sanak saudara atau
kerabat dan sahabat yang menjadi bagian lekat dari kehidupan kita
adalah wujud-wujud kasat mata, yang sangat aneh kalau kita tak melihat
atau tak mengingat jasa-jasa mereka bagi hidup kita.

Apakah hanya mereka yang membuat anda, dan saya bisa tertawa lepas
hari ini? Yang membuat kita merasa nyaman menghirup udara saat ini?

Rasanya bukan hanya mereka.

Yang saya bicarakan kali ini lebih pada orang-orang di sekitar kita,
yang seringkali bukan lagi jasanya tak pernah terpikirkan, wujud dan
sosoknya pun seringkali luput dari pandangan kita.

Seperti Caparzo (diperankan Vin Diesel) yang mati lebih dahulu.
Francis Ryan mungkin tak pernah tahu sosoknya, atau apa yang diperbuatnya.

Seperti mereka, tukang sapu jalan yang bagun pagi-pagi buta di saat
kita masih lelap dalam peraduan. Mereka yang bekerja menyiapkan jalan
raya sehingga saat kita melewatinya dalam perjalanan ke kantor, ke
pasar atau mengantarkan anak ke sekolah, kita merasakan kenyamanan
karena jalan bersih. Atau meskipun mungkin tidak terlalu bersih,
paling tidak perjalanan kita tak terusik bau-bauan tumpukan sampah
membusuk yang menggunung di tepi jalan.

Atau mereka, para penjaga malam, yang sibuk mondar mandir keliling
lingkungan rumah saat kita asik bergelung rapat-rapat di bawah
selimut-selimut kita. Yang tetap menjaga kenyamanan tidur kita
sementara mereka menghadapi malam dingin berhujan, atau sebaliknya
malam pengap yang bernyamuk.

Atau pula mereka, para supir angkutan, masinis, penjaga lintasan
kereta, pedagang martabak, penjual bubur kacang ijo, pengantar pos,
surat kabar, pemangkas rumput, penyiram tanaman, pembasuh wc-wc umum,
tukang pel di perkantoran.

Mereka membuat kita menjalani hari-per hari dengan nyaman. Atau
mungkin di beberapa bagian tidak terlalu nyaman, tetapi paling tidak
mereka turut mengantarkan kita untuk tetap bisa sampai menikmati sinar
mentari hari ini, menatap bulan malam nanti, dan semoga tetap bisa
menghirup udara esok hari.

Kita katakan mereka bekerja. Dan untuk itu mereka mendapat upah atas
jasa yang dikeluarkannya.

Cukup?

Saya tidak tahu, apakah hitung-hitungannya begitu.
Apakah bersama lenyapnya lembar-lembar uang dari kantong kita, lalu
jasa mereka sebagai penyokong kehidupan kita layak pula disirnakan.
Ataukah berapapun yang kita bayarkan, tak dapat menyeimbangkan skor
kita, dan pada mereka kita tetap berhutang sebuah kehidupan.

Saat menulis inipun saya tetap tidak tahu, apakah hitung-hitungannya
begitu.
Tapi yang saya tahu, banyak Caparzo yang mati tanpa pernah saya kenal,
dalam upaya yang tak pernah saya tahu, tetapi membuat saya masih bisa
bernapas hingga hari ini.

Atau paling tidak banyak mereka-mereka yang karena nasib dan
kesempatan buruk yang hinggap dalam hidup mereka, bergumam kesal
Fubar*) saat menjalankan pekerjaannya, tapi tetap karena hasil kerja
saya bisa menjalani kenyamanan sehari-hari.

Itu membuat saya sering memaksa diri di depan cermin, bergumam pada
bayangan di sana,

Tell me I have led a good life.
Tell me I'm a good man.




Sentaby,
DBaonk © 2007


*) Fubar : "F**ked Up Beyond All Repair"
Bagi pemilik account Mulitply, bisa berkomentar diberikan di :
http://dennybaonk.multiply.com/journal/item/78