Jakarta – Senin, 05 Nopember 2007 Hari Sabtu tanggal 3 Nopember sore, saya melihat sekilas sebagian dari sebuah siaran Trans TV. Karena tidak dari awal saya melihatnya, maka saya hanya melihat siaran dimana sebuah investigative report mengenai pelapisan cairan di permukaan luar dari semua buah-buahan yang dijual kepada publik. Cairan itu adalah air yang diberi campuran formalin, kemudian diaduk dan dioleskan dengan kuas seperti orang mengecat dan melukis, ke permukaan luar buah-buahan. Semua buah-buahan! Yang diulasi cairan berbahaya itu, saya lihat berkali-kali adalah buah apel, buah anggur dan hampir semua buah yang dijual di warung-warung kecil dan termasuk juga TOKO BUAH-BUAHAN YANG BESAR SERTA REPRESENTATIVE !

Siaran tersebut amat informative, juga ditayangkan bagaimana upaya petugas sebuah laboratorium (bukan Pemerintah?) yang membeli buah-buahan dari toko-toko besar, dan kemudian langsung menguji ada tidaknya lapisan cairan dimaksud diatas buah yang mereka beli tadi. Hasilnya? Saya lihat bahwa ada perubahan warna hasil test dan air putih biasa.Hal itu diterangkan sebagai bukti adanya lapisan formalin diatas kulit semua buah-buahan yang dijual-belikan kepada umum di warung pinggir jalan dan Toko-Toko besar khusus buah-buahan, termasuk dijual kepada diri saya, kalau saya beli.

Sekarang sebisanya, saya akan menahan diri tidak beli dari outlet-outlet seperti itu karena saya sudah lumayan berumur dan harus menjaga kesehatan lebih berhati-hati.

Hal ini akan saya lakukan sampai ada tindakan nyata pemerintah Republik Indonesia secara nasional. Silakan membaca tuisan dibawah ini yang saya tulis pada tahun lalu:

Formalin

Kamis, 05 Januari 2006 – 22:35:25

Masyarakat gempar dan dari mula sekali semua orang sudah tahu bahwa akibat kegemparan ini para pedagang kelas bawahlah yang akan mengalami dampak terburuk. Dagangan mie segala macam, bakso segala macam dan tahu segala macam, semua menurun penjualannya. Setelah pasar-pasar dan outlet kecil-kecil dirazzia dan ancaman-ancaman dikeluarkan denda tinggi dan hukuman diumbar dari mulut petugas, pejabat dan aparat lainnya, maka yang menangis tetap kalangan bawah. Ada yang menangis karena jualannya kurang laku, berarti pendapatan dan labanya berkurang, tetapi ada juga yang harus memilih dagang komoditi lainnya. Yang jelas sekali banyak orang menuding orang lain dan banyak petugas menindak pedagang mungkin distributor formalin, tetapi pelaku utama alias biang kerok dari semuanya dilupakan orang. Siapa? Ya pemerintah, lah. Yang harus ditindak itu pemerintah. Formalin ada pengaturannya dalam penyalurannya ke masyarakat. Kalau pengaturan ini sudah ada, mengapa pengawasannya longgar sekali? Fungsi pengawasan selamanya lemah sekali. Siapa yang mengawasi? Pemerintah siapa dan instansi yang mana? Ditjen POM Dep Kes (Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan) dan para penegak hukum, yaitu Kepolisian, Kejaksaan dan Kehakiman !! Mereka yang diberesi terlebih dulu.

Selama bertahun-tahun rakyat dibiarkan melakukan konsumsi makanan yang diawetkan, seperti halnya aplikasi kepada mayat dan autopsi, dengan menggunakan formalin.

Hari ini didepan banyak teman saya, saya katakan bahwa sejak dulu saya memang menyantap konsumsi formalin. Buktinya ada hasil positive nya yaitu rambut saya masih awet warna hitamnya meskipun beruban sedikit. Yang mendengarkan mencibir atau tertawa terbahak-bahak, saya yang bercanda dalam mengatakan yang demikian, sedih juga didalam hati memikirkan mereka yang kurang beruntung yang mengalami hal buruk karena formalin, Saya tetap menyalahkan pemerintah karena saya tidak akan pernah mau menyalahkan rakyat kecil dalam masalah ini. 

Hari ini dimedia ada yang menulis mengenai Kambing Putih, yang dimaksud adalah pemerintah dan aparat-aparatnya. Ada bagian yang menyatakan biasanya rakyat (Kambing Hitam) itu salah dan Kambing Putih gampang sekali menunjuk pihak lain terutama sekali si Kambing Hitam yang bertanggung jawab. Ada yang menulis bahwa masyarakat Indonesia sendiri yang menyukai formalin. Ini mengejutkan, Kambing Hitam yang menderita karena kelakuan Kambing Putih, masih dikatakan kurang cerdas dalam menangkap maksud baik Kambing Putih yang sesungguhnya ingin menyejahterakan Kambing Hitam. Wah.

Ini tidak dapat dibiarkan, karena Kambing Putihlah yang bertanggung jawab penuh tanpa reserve. Kambing Putih sudah bergaji tinggi dan yang membayar gajinya adalah si Kambing Hitam, malah disalah-salahkan dan dibiarkan menderita. Apalagi si Kambing Putih tetap dengan pongahnya mengatakan aku benar dan yang harus taubat itu kamu. Mmmmmbbbbèèèèkkkk !!!

Sebenarnya apa sih susahnya minta maaf karena keteledoran, pasti dimaafkan oleh Kambing Hitam. Sesuai pengalaman, belanda yang telah menjajah bangsa Indonesia, merampok habis kekayaan alamnya dan meninggalkan kerusakan berupa morat maritnya kerukunan bangsa, belum minta maaf kepada Indonesia, malah banyak orang Indonesia yang telah memaafkannya.

Ada yang masih ke-belanda-belanda-an, malah ada yang mengagungkannya dan ada yang masih menyatakan “kesetiannya”. Masa Kambing Putih tidak dimaafkan? Begitu, ya??

Bukankah sang Kambing Putih saat ini yang memegang kendali pemerintahan, memegang kekuasaan atas keuangan dan lagi pula mempunyai senjata api dan senjata-senjata lainnya. Kambing Hitam pasti takkuuuutt.

Itulah gambaran yang kita peroleh karena morat maritnya tatanan hidup rakyat sekarang. Kalau memang ada ketidak-tertiban dalam berkelakuan pencegahannya dan tindakan preventive lain selalu lambat. Sudah terlanjur, baru ditindak. Melawan? Percuuuma lah. Kalau tidak dapat preventive dan kalau tidak dapat persuasive menyelesaikan masalah, jangan bertindak yang tidak-tidak. Tindak dulu golongan Kambimg Putih dan akan diperoleh Kambing Putih yang ideal. Kambing Hitam akan meneladani Kambing Putih yang ideal. Kambing Hitam dalam bahasa lain disebut Scape Goat dan mengeluarkan pernyataan yang berbunyi : I LOVE MY COUNTRY, BUT IT IS THE GOVERNMENT THAT I AM AFRAID OF — SAYA MENCINTAI NEGERIKU, AKAN TETAPI PEMERINTAHLAH YANG SAYA TAKUTI.

MBèèèK – nya Kambing Putih bunyinya apa ya? Mau mungkir?? Silakan saja, memang mungkir itu kelihatannya sudah menjadi salah satu dari pekerjaan routine-nya.

Selain formalin pernah terjadi “bencana” yang disebut sebagai penyakit minamata, yang disebabkan memproses penambangan mineral dengan menggunakan air raksa (mercury) dengan cara salah. Rakyat yang menjadi PETI (Penambang Tanpa Ijin) yang jumlahnya ratusan ribu menambang dengan cara ini dan melakukannya secara sembrono. Lingkungan menderita degradasi lingkungan yang gawat, malah mereka sendiri yang menggunakan air yang terpolusi tersebut. Tetapi perlu dicari Kambing Hitam dulu, diperas uangnya dan urusan belakangan. Siapa Kambing Hitam kali ini. Perusahaan Tambang besar dengan modal besar !!

Modal besarnya dibawa ke Indonesia oleh Investor International tanpa bantuan para pengusaha jasa keuangan di Indonesia. Orang-orang Finance di Indonesia tidak mendanai kegiatan Investor.

Para bankir lebih senang melayani Eddy Tanzil yang membobol bank Bapindo dan dan Maria Lumowa yang membobol bank BNI. Mendanai Investor tidak mau, ditipu mau. Malah penggede Polisinya disogok juga, bersedia disogok dan menjadi kaya serta sekarang menjadi tersangka. Mana tanggung jawab pemerintah, si Kambing Putih? Belum dengar saya sampai hari ini. Malah Pak Petinggi Polisi ikut antre menjadi Kambing Hitam !! Ini kado Tahun Baru 2006. Oom SBY reaktif terhadap kritik tetapi kurang aktif bila ada desakan rakyat. Demi namamu yang mengemban jabatan bergengsi: Presiden Republik Indonesia, sebaiknya jagalah sekelilingmu dengan baik. Ajaklah para Kambing Hitam menjaga Presiden, jangan hanya mengandalkan para elite dan politikus celebrity dilingkungan pemerintahan saja. Sekali-sekali incognito dong, karena banyak orang yang sanggup mengantar diam-diam kemana saja yang ada diluar acara resmi Presiden. Oom SBY akan mendapat data yang tidak pernah dilihatnya didalam istana ke-Presiden-an. Data ini akan dapat diambil sebagai jamu mengobati segala cobaan yang ada dan dialami oleh Oom SBY sekarang. Tinggalkanlah nama baik dan hasil baik yang berguna untuk para Kambing Hitam dan kambing-kambing yang lain. Mari kita hilangkan issue Formalin dan issue Minamata dan Aji no Moto dan Lia Aminuddin dan bekerja keras yang jujur kepada hati sendiri. Jangan terlalu repot dengan issue-issue, tetapi repotlah dengan memproduksi barang yang dapat dijual baik lokal maupun export.

Rambatté Rata Hayooo !!! Hoo Lopis Kuntul baris !!!