Rashomon Effect      

Secara sederhana, efek rashomon adalah ketika beberapa orang memberiken keterangan berbeda2. Misalnya, dalam suatu musibah wartawan bertanya kepada 4 orang yang menyaksiken dengan matakepalanya dan mereka orang2 yang 100% jujur, berapa korban mati? A : ndak ada. B : sikit. C : banyak. D : ndak tahu. Mana yang benar? Embuh!

Keterangan yang berbeda2 itu adalah karena saksi2 hanya melihat sebagian realitas, tidak saksama, lupa, subyektifitas, dll. Apakah saksi2 itu jujur? Tentu saja, apa untungnya menipu pewawancara.

 

kejujuran tidak identik dengan ketidak bohongan.

Apakah nabi anu ketemu siluman yahu jujur? Kemungkinan, ya. Apakah Lia Eden juga bilang ketemu salah satu dewa yahu jujur? Ya. Jika begitu, kenapa ada yang menghakimi bahwa nabi2 itu benar dan Lia salah?

 

Maka kesaksian thok doang tidak cukup. Harus disertai BUKTI2. Tanpa bukti, munculah spekulasi2. Misalnya, sesudah duel dengan Tajomaru, korban dut 25%, korban mencoba bunuh diri menjadi dut 50%, ditusuk Masago jadi dut 75%, belati yang tertancap didadanya diambil maka korban menjadi dut 100%. Maka pembunuhnya penebang pohon?

 

Skenario lain : sesudah duel dengan Tajomaru, korban dut 20%, korban mencoba bunuh diri menjadi dut 40%, ditusuk Masago jadi dut 60%, belati yang tertancap didadanya diambil maka korban menjadi dut 80%. Maka tak seorangpun dari saksi2 itu adalah pembunuhnya?

 

Spekulasi yang lain, ketika duel korban kena serangan jantung dan 100% dut. Maka tak ada yang membunuh korban, .. dut sendiri. Akibatnya, munculah spekulasi2 yang tak terbilang banyaknya

 

Lebih parah lagi ada yang berspekulasi pembunuhnya mbah Marijan ;-). Ini mah, sudah ndak ada bukti, ndak logis.

 

Itu baru mencari siapa pembunuh si samurai. Bayangken kalau mencari tuhan. Ada banyak saksi2 yang mengaku mendapat pencerahan, ketemu siluman anu, dlsb dan mengklaim bahwa apa yang disampaiken 100% jujur. Lantas terjadilah salah kaprah bahwa yang jujur adalah 'kebenaran'. Pengikut2nya lantas membusungken dada bahwa apa yang diimani adalah yang paling 'benar' dan yang lain pasti salah.

 

Kesaksian2 itu saling bertentangan. Misalnya, Isa bersaksi bahwa ia adalah anak dewa yahoo. Nabi lain bersaksi, ia bukan anak siluman yahoo. Muhammad bersaksi bahwa ia ketemu Jibril. Kesaksiannya bertentangan dengan Lia Eden.

 

Selain kesaksian, pengikut2 kesaksian2 itu mengajuken berbagai argumen yang kelihatannya logis. Selogis logika bahwa yang ditusuk Masago adalah mayat mata mlóló. Tanpa BUKTI, kesaksian plus logika ndak cukup. Kata 'bukti' adalah suatu kata yang membuat para penyembah siluman, terutama siluman sinai, alergi. Ada yang terbungkam, ada yang kelimpungan, ada yang mrongos, ada yang ngamuk2 karena kesurupan siluman sinai, ada pula yang cukup bening pikirannya.

 

Tanpa bukti maka yang ada adalah kesaksian2 jujur yang bohong.

Tanpa bukti yang ada adalah spekulasi2.

Tanpa bukti, masing2 akan mengklaim paling benar.

 

Sering kita dengar bahwa kebenaran bukan monopoli. Yang benar adalah tanpa bukti, semua klaim kebenaran tak lebih dan tak kurang hanyalah SPEKULASI. Seperti dalam kisah ini, semua kesaksian dan spekulasi TAMPAK BENAR.

 

Kesaksian jujur plus logika kuat saja ndak memastiken bener apa lagi kalau kesaksian plus ketidak logisan seperti yang banyak kita jumpai dalam mistisme, klenik, agama2, kepercayaan2, dst. ketidak logisan menghasilken spekulasi nguawur. Sama ngawurnya dengan berspekulasi bahwa pembunuhnya mbah Marijan.

Maka salah satu jawaban untuk pertanyaan siapa pembunuh samurai itu? Embuh

Adakah tuhan? Embuh

Seperti apakah tuhan? Embuh

Agnostik :  a person who holds the view that any ultimate reality (as God) is unknown and probably unknowable.

Agnostik : seseorang yang berpandangan bahwa pembunuh samurai = embuh

Agnostik : seseorang yang berpandangan bahwa realitas diluar yang kita pahami, termangsuk dalamnya tuhan = embuh

Theist adalah yang berkeyakinan 100%, tanpa bukti apapun, dengan logika thulalit bahwa pembunuhnya adalah mbah Marijan 😉

Guyoooooooooooooooooooooooooon, …. 😉