Tag

KEUNGGULAN generasi muda kita, ialah, mereka selalu berinisiatif dan aktif. Selalu rela berkorban demi cita-cita luhur kemerdekaan, keadilan, kemakmuran serta kebesaran bangsa dan tanah air INDONESIA.

 Ini terukir dalam sejarah perjuangan bangsa kita  untuk
kemerdekaan Tanah Air dan Bangsa. Bukti keras yang monumental,
didemonstrasikan pada Hari SUMPAH PEMUDA 28 Oktober 1928, REVOLUSI
AGUSTUS 1945 dan maraknya GERAKAN REFORMASI DAN DEMOKRATISASI 1998,
yang telah menggulingkan rezim Orba di bawah Presiden Suharto.

Memperingati -- Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 -- , memang
sudah menjadi suatu tradisi bangsa kita. Suatu tradisi yang baik. Yang
sudah berlangsung puluhan tahun lamanya. Tradisi ini relevan dan
perlu diteruskan. Memperingati Hari Sumpah Pemuda, mengingatkan kita
kembali tentang perlunya mengkhayati arti penting memahami secara
tepat, sejarah perjuangan bangsa kita dalam membangun nasion
Indonesia dan memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan Republik
Indonesia.

Ada pendapat yang menyatakan, bahwa belakangan ini , peringatan
Hari Sumpah Pemuda, lebih banyak dilakukan secara seremonial dan
ritual belaka. Atau hanya bersifat formal. Maka,-- begitu
diargumentasikan , --- sebaiknya hapuskan saja peringatan Hari
Sumpah Pemuda, yang bersifat seremonial dan ritual itu. Tidak perlu
itu, demikian dikatakan.

Seremoni dan ritual, adalah bagian (bahkan bagian yang termasuk
penting) dari kehidupan budaya manusia, termasuk budaya manusia
Indonesia. Yang harus diperhatikan dan dijaga, ialah agar jangan
sampai kebablasan dalam melakukan seremoni dan ritual. Perlu dicegah
jangan sampai merayakan Hari Sumpah Pemuda semata-mata, atau lebih
banyak bersifat seremonial dan ritual. Kebiasaan dan tradisi
memperingati Hari Sumpah Pemuda, dan hari-hari penting nasional
lainnya, termasuk segi seremoni dan ritualnya, samasekali tidak ada
salahnya.

* * *

Seminar untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, yang
diadakan pada hari Miggu, 28 Oktober 2007 di Leiden, dengan
mengambil tema -- 'SAMPAI DIMANA KEINDONESIAAN KITA' -- , telah
berlangsung di gedung Teater LAK, Universiteit Leiden. Tidak
ketinggalan dipentaskannya malam kebudayaan. Diisi dengan tari dan
nyanyi Indonesia, merdu dan indah. Cukup meriah. Sayang Penulis tidak
sempat hadir terus pada bagian kedua Seminar, dan juga tidak ambil
bagian dalam malam kebudayaannya, karena, ada urusan lain.

Tema yang dipilih cukup menarik dan luas. Bisa dibayangkan betapa
sulitnya panitya menyimpulkan hasil seminar nantinya. Ketika
moderator memberikan orasinya, tersirat fikiran yang dipengaruhi oleh
pesimisme mengenai hari depan bangsa dan tanah air. Padahal,
seyogianya, memperingati Hari Sumpah Pemuda, tujuannya adalah untuk
memperkokoh semangat dan jiwa opitmisme, kesadaran satu bangsa, satu
bahasa dan satu tanah air, serta semangat nasionalisme patriotik
yang optimis.

* * *

Perlu dikemukakan bahwa secara keseluruhan Hari Peringatan Sumpah
Pemuda yang diisi dengan sebuah seminar, adalah positif. Namun, tidak
boleh menutup mata terhadap kekurangan-kekurangan nya, baik mengenai
pemanduan maupun mengenai isi pembicaraan sementara nara sumber.
Panitya Penyelenggara Seminar (FKMIN bekerjasama dengan KBRI Den Haag)
menunjukkan kesungguh-sungguhan dengan a.l. menyediakan bahan bacaan
tercetak untuk keperluan seminar. Antara lain, yang disusun atau
dikemukakan secara lisan oleh para nara sumber, termasuk Mintardjo SH
(Yayasan Sapulidi Leiden), Prof. Amal Tamrin Tamagola, Leiden, Sofyan
Siregar (Ketua FKMIN) dan J.E Habibie, Dubes RI untuk Kerajaan
Belanda,dan lain-lain.

Perlu diperhatikan apa yang disampaikan oleh Mintardjo yang
mengemukakan tentang peran masyarakat Indonesia di negeri Belanda
dalam 'membentuk dan menjaga ke-Indonesiaan'. Tentang pentingnya
membangkitkan kepedulian orang-orang Indonesia tehadap nasib
bangsanya sendiri, dan perlunya memberikan keyakinan bahwa Indonesia
bukanlah Negara yang tanpa harapan.

Namun, yang paling menarik perhatian adalah sumbangsih fikiran yang
disampaikan oleh Prof. Dr Amal Tamrin Tomagola. Terutama karena yang
diajukan itu, selain amat kritis dan juga analitis, --- juga karena
ia mengangkat soal-soal yang nyata, yang riil, yang relevan mengenai
kendala-kendala yang dihadapi bangsa kita dewasa ini, tanpa tedeng
aling-aling. Baik dari yang terdapat di kalangan masyarakat maupun di
kalangan yang berwewenang. Tamrin memfokuskan pada masalah-masalah
yang menyangkut lingkungan hidup, budaya korupsi dan kemiskinan, yan
bila tidak ditangani dengan baik dan pandai, akan merupakan kendala
bagi kemajuan bahkan kelangsungan hidup bangsa ini. Penting sekali apa
yang dikemukakan Tamrin tertuju kepada para pemuda-pemudi yang sedang
menempuh studi di Belanda. Yaitu, agar bila selesai studi dan pulang
ke tanah air, jangan 'nongkrong' di Jakarta, hendaknya terjun ke
daerah-daerah, ikut membangun kekuatan demokratis masyarakat dari
tingkat bawah, akar rumput.

* * *

Kiranya perlu diperhatikan ( terutama oleh yang bersangkutan)
pendapat sementara hadirin, yang menyatakan (kepada penulis) bahwa
apa yang diajukan oleh Prof Amal Tamrin Tomagola, jauh lebih relevan
dengan situasi tanah air dan bangsa. Apa yang disampaikan Tamrin,
lebih bermutu. terbanding, misalnya, pembicaraan yang disampaikan
oleh JE Habibie, Dubes RI untuk Kerajaan Belanda, yang tampil
sebagai nara sumber. Dengan segala hormat kepada beliau, dinyatakan
bahwa sebagai salah seorang nara sumber, apa yang diorasikan JE
Habibie terlalu banyak yang terpaut dengan dirinya sendiri. Di
satu fihak, pendengar menghargai semangat nasionalis yang
dimanifestasikan JE Habibie. Pada segi lainnya dikemukakan dengan
kesal (kepada penulis), bahwa Dubes kita, tidak tahan dan tidak bisa
mendengar kritik, seperti tampak ketika berliau berrreaksi keras
terhadap kritik mengenai kehidupan parpol, para elite (yang
berkuasa) dan maraknya korupsi di tanah air. Suatu kritik tajam dan
keras golongan muda, yang diajukan pembicara dari PPI Belanda.
Kontan saja Dubes , melakukan 'serangan balas', sehingga kesannya,
beliau ingin meredam pendapat yang berbeda dengan pendapatnya sendiri.

Selain itu ada pendapat JE Habibie yang menarik perhatian, ketika
beliau memberikn tafsirannya sendiri sekitar digulingkannya Presiden
Sukarno. Dengan maksud untuk menonjolkan 'peranan pemuda-pemuda' yang
berdemo menentang Presiden Sukarno pada periode 1965-1966,
dinyatakannya bahwa aksi-aksi yang dilakukan oleh KAPPI/KAMI pada
periode 1965/1966, akhirynya menyebabkan TUMBANGNYA SUKARNO.

Padahal catatan dan analisis mengenai peristiwa pada masa itu, baik
yang ditulis oleh pakar-pakar dan penulis-penulis Indonesia maupun
luar negeri, cukup jelas mengungkapkan bahwa tergulingnya Presiden
Sukarno, penyebabnya, pertama-tama dan terutama adalah kekerasan
militer, adalah 'KUP MERANGKA' yang dilakukan oleh bagian dari AD
yang dipimpin oleh Jendral Suharto dengan kekuatan pasukan KOSTRAD.
Peranan AS dan CIA-nya tidak kalah penting dalam menumbangkan Presiden
Sukarno, yang memang telah berusaha berkali-kali untuk menggulingkan
Presiden Sukarno, seperti yang mereka lakukan melalui pemberontakan
PRRI/Permesta <Ingat keterlibatan pilot CIA, Alan Pope, dalam serangan
pemboman kaum pemberontak PRRI/PERMESTA terhadap wilayah RI di
daerah kepulauan Maluku.

Betapun, Seminar Leiden pada Hari Sumpah Pemuda, telah mengingatkan
kita pada sejarah perjuangan bangsa kita, mengenai peranan pemuda di
dalamnya. Di lain fihak telah mengungkapkan pula bahwa mengenai
beberapa peristiwa sejarah yang penting terdapat pengertian dan
tafsiran yang amat berbeda-beda. Halmana menunjukkan bahwa, untuk
mencapai pengertian dan pemahaman mengenai masalah sejarah yang
sesuai dan obyektif, sesuai dengan fakta-faktanya, mengenai masalah
tugas-tugas mendesak dalam proses Reformasi dan Demokratisasi, bangsa
kita masih memerlukan proses pemahaman dan penyatuan fikiran, yang
akan memerlukan waktu yang cukup lama.

* * *

LAMPIRAN - I

*SOEMPAH PEMUDA INDONESIA*

Pertama : ----
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA
MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua : ----
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA,
MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga : ----
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA
MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Batavia, 28 Oktober 1928

Sumpah Pemuda merupakan hasil Kongres Pemoeda yang berlangsung pada
tanggal 27 - 28 Oktober 1928, di Batavia. Panitia kongres ini terdiri
dari Soegondo Djojopoespito (Ketua; dari PPPI), R.M. Djoko Marsaid
(Wakil Ketua; dari Jong Java), Mohammad Jamin (Sekretaris, dari Jong
Sumateranen Bond), Amir Sjarifuddin (Bendahara; dari Jong Bataks
Bond), Djohan Mohammad Tjai (Pembantu I; dari Jong Islamieten Bond),
R. Katja Soengkana (Pembantu II; dari Pemoeda Indonesia),
Senduk (Pembantu III; dari Jong Celebes), Johanes Leimena (Pembantu
IV; dari Jong Ambon), dan Rochjani Soe'oed (Pembantu V; dari Pemoeda
Kaoem Betawi).

Orang-orang yang hadir dalam kongres pemuda kedua tersebut yakni:
Abdul Muthalib Sangadji, Abdul Rachman, Abu Hanifah, Adnan Kapau Gani,
Amir, Anta Permana, Anwari, Arnold Manonutu, Assaat, Bahder Djohan,
Dali, Darsa, Dien Pantouw,
Djuanda, Pijper, Emma Puradiredja, Halim, Hamami, Jo Tumbuhan,
Joesoepadi, Jos Masdani, Kadir, Karto Menggolo, Kasman Singodimedjo,
Koentjoro Poerbopranoto, Martakusuma, Masmoen Rasid, Mohammad Ali
Hanafiah, Mohammad Nazif, Mohammad Roem, Mohammad Tabrani, Mohammad
Tamzil, Muhidin, Mukarno, Muwardi, Nona Tumbel, Purnama Wulan, Raden
Soeharto, Raden Soekamso, Ramelan, Saerun, Sahardjo,
Sarbini, Sarmidi Mangunsarkoro, Sartono, S.M. Kartosoewirjo, Setiawan,
Sigit, Siti Sundari, Sjahpuddin Latif, Sjahrial, Soejono Djoenoed
Poeponegoro, R.M. Djoko Marsaid, Soekamto, Soekmono, Soekowati,
Soemanang, Soemarto, Soenario,
Soerjadi, Soewadji Prawirohardjo, Soewirjo, Soeworo, Suhara, Sujono,
Sulaeman, Suwarni, Tjahija, Van der Plaas, Wilopo,
Wage Rudolf Soepratman.

Sebagai peninjau kongres hadir empat orang dari golongan Tionghoa,
yakni Kwee Thiam Hong, Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok, dan Tjio
Djien kwie.
<Dicuplik dari: http://dewa-api.blogspot.com/2007/07/soempah-pemoeda.html>

* * *
LAMPIRAN II
Diskusi Reflektif Sumpah Pemuda dan Nasionalisme Indonesia
==============================================
Dalam rangka menanggapi maraknya kembali gerakan restorasi dan
berbagai persoalan yang dihadapi Indonesia saat ini, Rumah Kiri dan
Ultimus menyelenggarakan Diskusi Reflektif tentang Sumpah Pemuda dan
Nasionalisme Indonesia pada:

Hari Senin 5 November 2007; Narasumber : Hilmar Farid (Sejarawan)
Samsir Mohamad (Bekas Anggota Konstituante, Penulis. Waktu Pukul 19.00
WIB – Selesai. Tempat Toko Buku Ultimus, Jalan Lengkong Besar No. 127
Bandung
Kegiatan ini Terbuka untuk Umum dan Gratis
Contact Person: Sadikin 081573218225
Informasi Selengkapnya di http://rumahkiri.net/
Link:http://rumahkiri.net/index.php?option=com_events&task=view_detail&agid=6&ye
ar=2007&month=10&day=27&Ite