Jakarta, Oktober 2007   Salat adalah sebentuk doa. Bukan doa tunggal. Tapi sekumpulan doa yang tertabur didalam bacaan-bacaan yang terbakukan untuk posisi-posisi tertentu dalam salat. Dan doa yang utama tentunya adalah permohonan agar ditunjuki jalan yang lurus “Ihdinash shirotol mustaqim” yang dibaca sebagai ayat dari Al Fatihah dalam setiap rakaat. Membaca Al Fatihah wajib hukumnya. Disamping itu ada doa-doa lain yang lazim dibaca dalam posisi duduk diantara dua sujud, a.l. mohon ampunan Tuhan, mohon rahmat, mohon dinaikkan martabat (taqwa), mohon kesehatan (lahir batin) dsb.

 

Karena salat adalah kiprah doa, maka dengan sendirinya pelaksanaan salat pun menuntut suasana batin yang selaras. Yaitu kita haruslah dapat merasakan kebutuhan ditunjukkannya jalan yang lurus oleh Tuhan. Yang benar-benar harus keluar dari relung kalbu yang terdalam. Benar-benar harus dirasakan kebutuhan untuk diampuni. Benar-benar harus dirasakan kebutuhan untuk selalu sehat lahir batin. Benar-benar harus dirasakan kebutuhan untuk meningkatnya derajat taqwa. Suasana batin yang menunjang sikap keseluruhan salat harus benar-benar hadir. Dan itu hanya bisa terjadi apabila kebutuhan-kebutuhan itu memang genuine. Bagaimana mencapai hal ini ? Upaya yang bisa dilakukan adalah dengan menanamkan keyakinan mendasar bahwa kita memang selalu dalam keadaan butuh bimbingan Tuhan. Kalau keyakinan itu tidak ada, yaitu kalau kita yakin bahwa kita sudah sangat berkecukupan dalam segala hal, sudah tidak perlu bimbingan Tuhan lagi, SUDAH TIDAK PERLU TUHAN LAGI, maka tidaklah mungkin mengharapkan dapat salat dengan baik. Mungkin sebaiknya tidak salat samasekali……………..

Jadi itu dahulu yang harus hadir : kebutuhan akan bimbingan Tuhan. Yang lebih mendasar lagi : KEBUTUHAN AKAN TUHAN ITU SENDIRI. Rasa itulah yang harus selalu hadir dalam batin kita. Selalu harus kita rasakan. Diluar salat, apalagi didalam salat. Supaya predikat genuine bisa terpelihara. Kalau tidak begitu, maka salat kita hanya pura-pura saja. Apabila susana batin tidak kondusif, maka salat hanya ibarat gerak badan saja. Dan salat akan sia-sia saja jadinya. Kita salat karena kita memang butuh Tuhan. Kalau tidak, apa gunanya lidah ini berucap “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”, “(Hanya) Kepada Engkau kami mengabdi dan (hanya) kepada Engkau kami minta tolong” ? Tak mungkin kita merasa perlu mengabdi kalau kita tidak merasa butuh kepadaNya, bukan ?

Karena salat adalah doa, maka tatakrama berdoa pun harus diaplikasikan dalam salat. Berdoa adalah muara rasa serba butuh. Serba kurang. Perlu minta tolong. Sikap butuh dan minta tolong pun dengan sendirinya haruslah pula hadir. Kalau kita sedang butuh dan memerlukan datang kepada yang kita yakini mampu menolong kita, tentulah kita datang dengan penuh hormat, menyapaNya dengan penuh ta’zim. Tentulah pula kita tidak langsung mengutarakan maksud kita. Tentulah kita mulai dengan memujaNya, bukan ? Karena itulah kita baca “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin” dalam setiap rakaat. Kita puji Dia Tuhan yang Memelihara seluruh alam ini. Puji, Syukur, HANYA milik Tuhan. Karena itulah setiap kali orang memuji kita, kita berterimakasih kepada orang itu DAN “mem-forward” terimakasih orang ybs kepada Tuhan dalam wujud SYUKUR. In THAT order : terimakasih pada sesama dulu, baru berterimakasih kepada Tuhan. Horizontal dulu baru vertikal. Begitu juga kalau kita bersalah : minta maaf dulu pada yang kita zalimi, baru mohon ampun pada Tuhan. Tuhan baru akan mengampuni kita apabila kita terlebih dahulu meminta maaf kepada pihak yang telah kita zalimi. Horizontal baru vertikal. HAMDU dan SYUKRU bukan milik kita. Itu milik Allah. Tidak etis merebut milik Tuhan dan menjadikannya seolah-olah itu milik kita.

Berbicara mengenai milik Tuhan, ada pula sifat-sifat yang khas busana Tuhan : sombong, pongah, angkuh, takabbur. Hanya Tuhan yang boleh sombong, pongah, angkuh, takabbur. Betapa tidak ? Seluruh semesta alam ini hanya Dia sendiri yang punya. Tapi namun demikian, bukanlah pula sifat sombong, pongah, angkuh, takabburnya yang menonjol. Justru yang DitonjolkanNya adalah sifat-sifat pengasih dan penyayangNya. Kalaulah manusia bersikap sombong, pongah, angkuh, takabbur, maka dia seolah-olah telah mengambil busana Tuhannya. Tuhan tidak suka itu. Mungkin karena itulah Tuhan tidak akan menerima ibadah seseorang apabila di hatinya masih tersimpan rasa sombong, pongah, angkuh, takabbur, walau sekecil apa pun.

Ada cerita sufi klasik mengenai sikap sombong, pongah, angkuh, takabbur. Orang yang bersikap demikian, jauh sekali jaraknya dari Ridha Allah. Demikian jauhnya sehingga digambarkan bahwa sikap sombong, pongah, angkuh, takabbur yang menjadi tunggangannya itu diibaratkan sebagai dinding perkasa yang amat sangat tinggi, sedangkan Ridha Allah digambarkan sebagai kolam kecil jauh dibawah dinding seram itu. Sebagaimana juga orang lain, orang ybs juga merindukan suatu ketika dapat mereguk air dari kolam Ridha Allah. Tapi bagaimana mencapai kolam kecil jauh dibawah itu sedangkan dia jauh diatas dipunggung dinding ? Tentulah dinding itu harus dirobohkannya kalau mau mencapai air kolam di bawah itu. Karena dinding itu demikian perkasanya – saking lamanya dia dibangun dan dilanggengkan – maka mau tidak mau dia harus membongkar dinding itu bata demi bata. Begitu lepas satu bata dia lempar ke bawah menimpa kolam Ridha Allah. Suara gemercik air yang terkena lemparan bata itu begitu merdu terdengar ditelinganya, sehingga dia pun teruslah membongkar bata-bata kesombongan, kepongahan, keangkuhan dan takabburnya dan melemparkannya satu demi satu ke kolam Ridha Allah. Apabila dia beruntung mungkin masih dapat dia berharap dapat mereguk air dari kolam Ridha Allah itu. Itu pulalah harapannya. Tapi bagaimana kalau maut menjemput sebelum bata kesombongan habis terbongkar dan terbuang ke kolam Ridha Allah ? Dan dia tidak sempat lagi mereguk air dari kolam Ridha Allah ? Nah, orang yang sedang sujud sebaiknya membayangkan dirinya sedang membongkar bata-bata kesombongan, kepongahan, keangkuhan dan takabburnya dalam upaya menggapai Ridha Ilahi.

Sujud juga merupakan posisi paling merendah. Bayangkan : kepala yang menjadi mustika tubuh, yang menyandang mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, bibir untuk mengecup, rambut yang bak mahkota, kepala semulia itu diletakkan begitu saja diatas tanah. Tanah yang biasanya dianggap begitu hinanya sehingga cukuplah apabila disuruh sentuh oleh kaki saja. Dan kepala itu pula yang kita letakkan menyentuh tanah yang begitu hina ? Tapi kita rela melakukannya. Kita bahagia melakukannya, karena bukankah itu menjadi perlambang rendah kita di hadirat Tuhan yang Mahatinggi ? Tuhan yang pada kesempatan itu kita sapa dengan Subhana Rabbiyal A’la ? Mahasuci Tuhan Yang Mahatinggi ? Yang lainnya ini rendah semuanya ?

Posisi sujud juga merupakan posisi yang paling rawan bagi keamanan manusia. Dalam posisi sujud manusia menjadi sangat terancam keamanan fisiknya. Bayangkan apabila ketika bersujud manusia tiba-tiba dizalimi, maka dia sungguh tidak akan berdaya sama sekali untuk mempertahankan diri. Dalam sujud dia menjadi sangat vulnerable. Karena itulah sujud juga merupakan perlambang keberserahan diri secara total manusia kepada Sang Khalik. Disitulah dia menjadi muslim sejati. Muslim = dia yang berserah diri secara total (kepada Tuhan).

Demikianlah beberapa segi simbolisasi dalam salat. Insyaallah dalam tulisan berikutnya akan diterangkan simbolisasi-simbolisasi salat yang lain.

Arifin Abubakart

Jakarta, 28 Oktober 2007