Iput sang "sekretaris kami" dalam kolom saya "Aurat Itu Apa Sih?" (AIAS)–juga Indah—bukanlah tokoh imajiner, melainkan sosok yang benar-benar ada dan memiliki "kecantikan perempuan Aceh yang eksotik" (lihat foto).
Moral tulisan saya itu adalah, kalau tujuan menutup aurat, termasuk rambut adalah untuk "mencegah timbulnya nafsu liar" seorang pria dalam melihat seorang wanita—sebuah tafsir agama yang sangat patriarkal, maka anggapan tersebut sangat mudah untuk dibantah.
Tetapi saya tidak ingin sekedar berwacana, saya mencoba memotretnya dari kacamata saya, seorang pria normal, yang sebagaimana saya tulis dalam AIAS sudah lama melatih diri saya untuk "menundukkan pandangan" terhadap apa yang dapat menimbulkan "fantasi-fantasi liar" dalam fikiran saya sebagaimana diajarkan oleh agama yang saya anut: Islam.

Lalu bagaimana pendapat Iput mengenai jilbab, apakah dia mengenakan jilbab hanya sekedar mengikuti ketentuan formal yang berlaku di Aceh?"

"Bagi saya pakai jilbab itu wajib, karena seperti itulah diajarkan orang tua saya," jelas Iput ketika saya tanyakan pendapatnya tentang jilbab.

Tentu saja pendapat Iput tersebut saya hormati—selain istri saya sendiri berjilbab—seperti yang saya tulis dalam kolom saya tersebut, saya sama sekali bukan anti jilbab, apa lagi anti syariat. Namun saya menerima pendapat pakar Al Quran Prof Dr Qurais Shihab yang mengatakan bahwa bahwa jilbab adalah masalah khilafiah. Dengan kata lain ada ulama yang berpendapat bahwa aurat seorang perempuan termasuk rambutnya, tetapi ada juga yang berpendapat—-walaupun saat ini masih merupkan minoritas—bahwa mengenakan pakaian sopan seperti Indah dalam AIAS yang tidak menonjolkan bentuk badan, sudah menutup auratnya.

Sebagaimana tersirat di atas, saya cenderung pada pendapat kedua, walaupun tetap menghormati yang memilih pendapat pertama. Karena itu saya dan isteri saya yang berjilbab timbul dari keinginannya sendiri,
memberikan kebebasan kepada kedua anak gadis kami, apakah mereka akan
berjilbab atau tidak. Yang penting bagi kami rok tidak boleh di atas
lutut, tidak boleh ketat dan tidak boleh berdada rendah dan tidak
berlengan.

Perintah menutup Aurat bagi perempuan—apapun definisi aurat di sini-
–dalam Al Quran seperti halnya dengan perintah "menundukkan
pandangan" bagi para lelaki, hanya ditujukan terhadap orang-orang
beriman. Dengan kata lain tidak untuk semua orang. Selain itu hampir
tidak mungkin keimanan timbul karena paksaan.

Kembali ke Iput, dia jauh lebih cantik kalau tidak pakai jilbab. Saya
ada fotonya yang tidak pakai jilbab, di mana Iput lebih mirip seorang
artis dari pada seorang sekretaris, yang tidak mungkin saya sertakan
pada tulisan saya ini karena dia tidak menginginkannya. Tetapi Iput,
seperti muslimah-muslimah lainnya yang berjilbab dengan kesadaran
sendiri—termasuk isteri saya Kur—hanya akan memperlihatkan bagian
tertentu dari tubuh dan wajahnya hanya untuk sang suami atau pria
yang menikahinya nanti.

Dan ini tentu sah-sah saja

Ada dua hal di sini, pertama penerimaan terhadap perintah dan norma-
norma agama pada dasarnya adalah sebuah "lompatan keimanan"
atawa "faith leap". Perdebatan mengenai masalah ini berdasarkan nalar
akan berkelanjutan seperti ketiak ular. Kedua kalau kita sependapat
bahwa perempuan adalah yang paling berhak atas tubuhnya, tentunya
mereka berhak berpendapat seperti itu, sejauh mereka melakukan
tersebut bukan karena keterpaksaan, dan hal itu membuat mereka
bahagia.

Tetapi apakah pernyataan saya bahwa saya sudah lama melatih diri saya
untuk "menundukkan pandangan", sebagai sikap "sok suci".

Sama Sekali tidak. Melalui kebiasaan tersebut, anak mertua selalu
tampak cantik di tempat tidur. Sueerrr

Wassalam, Darwin
Untuk Superkoran