Para buruh bekerja bukan lagi untuk memenuhi kebutuhannya, melainkan demi para majikan yang akan memberi mereka upah, yang berupa uang(Karl Marx)



Bila Abraham Maslow mengatakan puncak tertinggi dari kerja seseorang
adalah kerja aktual yang tahapannya harus melalui kerja pemenuhan
kebutuhan hidup, rasa aman dan kerja-kerja paksa lainnya maka dalam
pandangan Marxian kerja Aktual adalah kerja yang langsung dilakukan
manusia dalam struktur masyarakat tanpa kelas dan tidak mengenal
konsep Pasar. Jadi tidak mengenal tahapan-tahapan ala Maslow.Kenapa
bila kaum Marxian mengartikan kerja aktual tanpa tahapan Maslow,
karena dalam masyarakat Komunis suprastructure (bangunan atas)
masyarakat tidak lagi mengenal penaklukkan kelas masyarakat yang
satu dengan kelas masyarakat lainnya. Sehingga kerja `paksa'
tergantikan menjadi kerja `aktual', dengan kerja
manusia `mengaktualisasikan' dirinya bukan dengan kerja
manusia `mengasingkan' dirinya.

Manusia menurut pandangan Marx bisa dibedakan dengan binatang dari
esensi kerja-nya. Memang binatang bekerja untuk mendapatkan makanan
untuk keberlangsungan hidupnya, namun kerja binatang adalah `kerja
harus' yang juga tidak menciptakan alat-alat (dalam bentuk
abstraksinya). Binatang tidak mampu menyusun rencana dan menciptakan
alat sedemikian rupa seperti manusia, hanya manusialah yang memiliki
konsep-konsep kerja secara teratur dan baik. Namun kemudian
masyarakat-masyarakat yang merupakan ciptaan manusia itu melakukan
modifikasi terhadap nilai kerja. Dalam masyarakat Feodal kerja
diartikan sebagai pemenuhan kebutuhan kelas yang berkuasa atau yang
dianggap baik secara mistis ataupun sejarah memiliki hubungan yang
lebih tinggi. Dalam bangunan masyarakat kapitalis makna kerja
merupakan penjerumusan manusia ke dalam kerja paksa dimana kaum
kapitalis mendapatkan nilai lebih dari akumulasi modal dari kerja-
kerja manusia yang terkumpulkan.

Kenapa manusia terasingkan dari kerjanya?. Dan kapan manusia merasa
tidak menemukan dirinya dalam kerja yang dihasilkannya?, padahal
kerja merupakan identifikasi kemanusiaan seseorang. Salah satu
jawabannya adalah karena adanya kepentingan egoistis sekelompok
orang yang secara historis telah memenangkan dan menggondol Kapital
kemudian memperbudak kemanusiaan kelompok yang terkalahkan.

Untuk memaknai kerja-kerja kita dari sisi Proletar yang tidak
memiliki basis modal mari direnungkan. Ketika kita bangun pagi ada
perasaan segan dan malas untuk berangkat ke kantor, pabrik, toko
atau tempat kerja lainnya rasa malas inilah yang kemudian menjadi
sebuah bentuk kesadaran diam-diam kita bahwa kita
menolak `keharusan' atau `paksaan-paksaan' dari luar. Rasa ini
kemudian berkembang menjadi bentuk keterasingan kita pada produksi
yang kita hasilkan, kita tidak lagi mengambil manfaat penambahan
nilai guna dari hasil kerja kita karena nilai guna tersebut sudah
direbut menjadi nilai tukar oleh para pemilik kapital atau orang
yang membayar kita. Hubungan kita dengan produksi sosial bukan lagi
hubungan : manusia-manusia tapi sudah menjadi : Manusia-uang-
Manusia. Pada tahapan uang inilah para kapital mengambil manfaat
dari keterasingan kita.

Memang ada pendapat rasa malas itu disebabkan karena tidak adanya
motivasi, menurut Dale Carnegie motivasi-lah yang membuat orang
merasa memiliki energi yang tak kenal lelah untuk memuaskan motif
tersebut. Hanya saja dalam struktur masyarakat kapitalis motivasi
ini merupakan salah satu bagian nilai surplus yang termanfaatkan
dari kesadaran palsu kelas pekerja. Kelas pekerja terus menerus di
motivasi atau termotivasi untuk memeras daya kerjanya dengan
kesadaran-kesadaran pembentukan eksistensinya tapi yang terjadi
adalah produksi kelas pekerja termanfaatkan dengan maksimal oleh
pemilik modal, semakin produktif maka semakin menjayakan kaum
pemilik modal dan pada gilirannya memenangkan pertarungan historis
untuk menebar kapital-kapital baru. Dimana anak cucu pemilik modal
akan tetap menjadi majikan bagi anak cucu pekerja.

Keterasingan manusia ini juga dengan cerdik dimanfaatkan oleh
pemilik kapital untuk semakin mengeksploitasi gaji kelas pekerja
menjadi kapital. Kelas pekerja yang lama kelamaan merasa diasingkan
pada lingkungannya, terasing pada produksi yang dihasilkannya dan
terasing pada dirinya sendiri kemudian dijebak dalam konstruksi-
konstruksi kebudayaan kapital dimana imaji-imaji menjadi sangat
berpengaruh dalam menciptakan kebahagiaan-kebahagiaan. Kebudayaan
Kapital yang mendasari dirinya pada imaji lalu bertransformasi
menjadi kebudayaan massa, pada tahap kebudayaan massa inilah budaya
dijadikan bagian terpenting dalam susunan suprastruktur masyarakat
kapitalis. Sehingga manusia terbangkit kesadarannya dari realita
budaya yang tumbuh disekitarnya, inilah yang kemudian disebut
sebagai `kesadaran sejarah' individu terhadap masyarakat.

Penurunan dari konsumsi masyarakat akibat ketidakmampuan membayar
iming-iming ciptaan kapitalis diperdayakan lagi oleh kaum kapitalis
dengan menemukan sistem kredit. Pada sistem kredit ini pekerja
dijebak untuk menggadaikan nilai kerja masa depannya bahkan nilai
kerja masa depannya itu dikenakan bunga untuk barang yang
sesungguhnya tidak ia butuhkan (Pengijonan nilai kerja). Disinilah
kemudian manusia mulai menemukan kesengsaraannya karena secara
intensif terus menerus diperbudak. Pekerja sebagai bagian dari kelas
yang lemah dan tidak berdaya menjadi mainan yang cantik bagi pemilik
modal.

Lalu bagaimana dengan konsep kerja aktual. Kerja aktual adalah kerja
yang menjadikan manusia menemukan `keberadaannya' menemukan dirinya.
Kerja aktual ini merupakan lawan dari kerja paksa. Manusia yang
sudah menemukan motivasi, talenta dan disiplin dalam memenuhi kerja
yang dipandang merupakan cerminan dari nilai-nilai dirinya maka dia
sudah menemukan kerja aktual-nya. Dalam kerja aktual manusia tidak
lagi menjadi capek badan dan pikiran, tidak lagi terasing oleh
produksinya dan menjadi bagian yang utuh dengan masyarakatnya,
menjadi manusia bebas yang tidak tereksploitasi oleh sesuatu diluar
dirinya. Untuk menjadikan kerja kita kerja aktual tidak usah
menunggu sistem masyarakat menjadi komunis atau sosialis dimana
dimungkinkan kerja tidak lagi menjadi kerja paksa, tapi bisa dalam
lingkup alam kapitalis asal kita mampu mendeteksi jebakan-jebakan
kapital yang akan menjerumuskan kita pada keterasingan. Pintu
pembuka kerja aktual adalah kesadaran talenta kita dan kemampuan
untuk menjaga motivasi secara terus menerus untuk mendayagunakan
kerja kita sehingga produk yang kita hasilkan merupakan pengembangan
terus menerus dari kepribadian kita secara utuh. Jika kita sudah
sampai pada tahapan ini maka kita sudah bisa menemukan kerja dalam
artian praksisnya, selamat bekerja!... "Hindari jebakan-jebakan
kapitalis termasuk konsumsi berlebihan kartu kredit"

ANTON