Beberapa waktu yang lalu Presiden SBY mengatakan bahwa Indonesia hanya menganut paham sistem Ekonomi Pancasila dan bukan komunisme, kapitalisme atau neo liberalisme. Ini memang pernyataan yang lucu, karena semua orang tahu di Indonesia hanya berkembang logika Kapitalisme dalam menjalankan sistem ekonominya, dari tukang mie ayam sampai konglomerasi kelas kakap menggunakan instrumen kapitalis untuk menjalankan tujuan-tujuan usaha. Kemudian apa ada ekonomi Pancasila itu? Dengan mendasarkan pada sejarah pemikiran apa ekonomi Pancasila itu? Apa ekonomi Pancasila merupakan sebuah paham utopis yang sejauh ini – dan sepengetahuan saya hanya dibidani oleh Mubyarto – dan kita tak pernah merasakan langsung tentang bagaimana ekonomi Pancasila bekerja. Jadi hematnya pernyataan SBY tempo hari adalah sebuah pernyataan yang kacau dan mungkin saja untuk menyenangkan rasa ketidaktahuan masyarakat akibat pembodohan Orde Baru tentang ideologi-ideologi yang berkembang dalam sejarah dunia.



Saat ini hanya satu atau dua negara yang mungkin tidak terjamah
sistem kapitalis dan menjalankan sistem Komunisme orthodox bergaya
Marxisme-Leninis. Kuba dan Korea Utara. Lainnya menggunakan dasar-
dasar kapitalisme untuk melakukan rasionalisasi sistem ekonomi
mereka termasuk dua negara komunis paling militan Vietnam dan RRC.
Lantas apakah kemudian teori Marx sudah terbantahkan dengan
kapitalisme? Justru disaat kapitalisme menunjukkan kematangannya
teori Marx bekerja dengan efektif dan akurat.

Selama ini kita terdidik untuk salah paham tentang Marx sebagai
teori dan Marx sebagai ideologi. Bahkan salah paham ini menimbulkan
kerancuan yang fatal bila dilihat dari landasan bernegara kita.
Pancasila. Adalah lucu sebuah TAP MPRS yang dirilis tahun 1967
tentang larangan ajaran Marxisme. Tapi dalam sila ke lima Pancasila
di inspirasikan oleh Marxisme, Keadilan Sosial Bagi Seluruh
Indonesia – berarti logikanya Keadilan Sosial bagi Rakyat Indonesia
adalah barang haram - . Ini sama saja dengan mengingkari adanya
pengaruh paham tauhid Islam dalam Ketuhanan Yang Maha Esa atau
Konsepsi NKRI tanpa Jawa yang dikorelasikan pada Persatuan
Indonesia. Ketika Bung Karno berpidato untuk menempatkan sila
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia sebagai penyempurna
dasar struktur Pancasila semua orang yang duduk pada Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia tahu benar bahwa sila itu adalah
pengaruh Marxisme.

Bukan Bung Karno saja yang terilhami oleh Marxisme dalam
menggerakkan sejarah dan melahirkan konsep Indonesia. Semua tokoh
penting yang kemudian memainkan peran dalam revolusi bersenjata
1945-1949 adalah Marxist-Marxist tulen mulai dari Hatta, Sjahrir,
Amir sampai Tan Malaka. Mereka tahu dan mempelajari Paris
Manuscript 1844, German Ideology, The Poverty of Philosophy,
Manifesto Communist sampai karya raksasa Karl Marx, Das Kapital.
Anak-anak muda jaman pergerakan 1920-an mendasari pada teori Marx
untuk memahami sejarah masyarakat.

Marx sebagai teori tentunya masih terus relevan untuk dikaji dan
dipelajari bahkan tidak kehilangan aktualitasnya untuk menguji
kritik Marx atas kapitalisme terutama kapitalisme saat ini yang
sudah berubah wajah dari kapitalime khas abad 19 dan permulaan abad
20, kapitalisme saat ini adalah Kapitalisme Global. Yang
meminggirkan negara-negara tidak mampu dan lemah sumber daya
manusianya, Penipuan negara maju dengan jeratan utang yang tidak
akan mampu dibayar (baca Economics Hit Man, John Perkins),
Penyerangan Amerika Serikat tanpa alasan seperti kasus Irak dan
Afghanistan, Penempatan konflik Israel atas negara Palestina untuk
mengalihkan kongkalingkong minyak di Arab Saudi dan pergerakan
rakyat Arab, Bullying terhadap Iran, Penyerangan Panama, usaha diam-
diam memusuhi Islam yang dianggap sebagai ancaman dunia modern dan
konspirasi-konspirasi internasional yang bertujuan untuk mengambil
untung baik dari minyak maupun konsesi-konsesi lainnya.

George Bush, Sr berkata di Rio de Janeiro tahun 1992 "Gaya hidup
kami tidak bisa di negosiasikan" ketika dia menolak ketentuan efek
rumah kaca. Pernyataan Bush ini bukan saja Amerika Serikat menolak
untuk ikut dalam bagian mengurangi pemanasan global, tapi juga sikap
arogansi Amerika Serikat yang tak mau tahu terhadap kondisi dunia.
Alias Egois. Disinilah sistem borjuasi mendapatkan kebingungannya
sendiri ketika alam sudah mengamuk dan iklim menjadi tak tentu, kita
dihadapkan pada masalah lingkungan yang serius gara-gara kebutaan
borjuasi untuk memahami problema dunia.

Marxisme sendiri sering dinisbahkan pada sistem komunisme garis
keras yang banyak muncul di permulaan abad 20 dan layu pada akhir
abad itu juga. Padahal Marx sebagai teori berkembang kemana-mana.
Semua teori ekonomi dan sosiologi sejak Marx menelurkan filsafatnya
berubah drastis. Semua teori ekonomi dan sosiologi mendasari pada
Marxisme baik sebagai alat kritik, alat teori maupun alat
perbandingan terhadap sistem Kapitalisme. Marxisme sebagai varian
bercabang kebanyak pemikir-pemikir dunia mulai dari Karl Kautsky,
Eduard Bernstein, Antonio Gramsci, Tan Malaka sampai Adorno dan
Horkheimer - yang semakin bergairah setelah diterbitkannya History
and Class Consciousness, karya Georg Lukacs setelah dilarang terbit
selama 60 tahun oleh rezim Uni Soviet dan melahirkan gerakan kiri
baru yang ditandai pemberontakan mahasiswa Perancis tahun 1968 -.
Panjang jika kita disini berbincang tentang teori Marxisme karena
kita juga harus membuka filsafat GWF Hegel yang rumit sebagai dasar
untuk mengetahui filsafat Marx.

Sejarah menerangkan pada kita tentang bagaimana peran Marxisme
mengubah pandangan hidup manusia. Sejak Lenin menggerakkan Bolsyevik
tahun 1917 sampai perang Vietnam yang usai tahun 1975 semua
mengesankan pada bahwa Teori Marxisme mengandung kekerasan dan
mengekang kebebasan. Pendapat itu sepenuhnya benar. Karena
penafisran Marxisme yang dikembangkan Lenin kemudian diikuti
sistemnya oleh negara-negara di hampir sepertiga dunia dengan
menggunakan kekerasan merupakan pragmatisme Lenin dalam memahami
Marx yang ujung-ujungnya pencaplokan negara atas masyarakat. Lenin
yang berusaha mendahului sejarah dan mengabaikan tahapan-tahapan
dalam Teori Marx terjebak dalam sistem Komunisme yang kasar dan
tidak menghargai kemanusiaan. Manusia dalam pandangan Lenin –
kemudian terjebak dalam Stalinis - tidak lebih sebagai objek dari
perkembangan sejarah yang bisa dikendalikan semau-maunya. Rosa
Luxemburg tokoh Marxisme dari Jerman yang menjadi tokoh Partai
Sosialis Demokrat Jerman mengecam cara-cara Lenin yang membubarkan
konstituante, pembentukan sistem Soviet, penindasan kelas Borjuasi,
kekurangan kebebasan dan pemakaian teror. Rosa Luxemburg mengkritik
Lenin bahwa kebebasan hanya bagi penganut pemerintah, hanya bagi
anggota sebuah partai bukanlah kebebasan. Kebebasan selalu hanya
kebebasan orang yang berpikir berlainan. Dan Rosa Luxemburg dengan
basis teori Marx juga mengatakan sistem komunisme yang tidak
menghargai kebebasan dan kemanusiaan akan hancur dengan sendirinya
karena keterasingan, baik itu keterasingan pihak buruh dari dirinya
maupun keterasingan antara teori dan praxis Marx. Lenin mewarisi
pada gerakan komunisme terhadap sikap dogmatis terhadap teori Marx
yang melahirkan kekejaman-kekejaman bahkan menimbulkan kesan bahwa
Marxisme adalah sebuah teori setan yang melahirkan bajingan. Padahal
Marx adalah teori yang sangat baik untuk membuka teka-teki sejarah,
kritik terhadap kapitalisme dan mampu mendalami secara totalitas
tentang pemahaman bagaimana sesungguhnya makna komoditi itu. Melalui
hal-hal itulah kita bisa mengerti bagaimana sistem kapitalisme itu
menjadikan dapat menciptakan sekelompok manusia nyaman dan
sekelompok masyarakat lainnya hidup dibawah garis kemiskinan.

Dan kita tanpa sadar terjebak dalam penipuan borjuasi. Coba
perhatikan gaya hidup kita, periksa tujuan-tujuan hidup kita, apa
yang mendesak kita untuk berlari mengejar waktu?, apa yang memaksa
kita membeli barang-barang yang seharusnya tidak kita butuhkan?, apa
yang membuat kita membeli barang sepuluh atau dua puluh kali lebih
mahal dari yang seharusnya kita bayar?, apa yang membuat kita
berutang dengan bunga tinggi tanpa sadar kita berutang? apa yang
membuat kita tidak menghargai hubungan-hubungan bermasyarakat,
harmoni sosial, cita-cita bersama, dan tidak lagi menoleh pada
kemanusiaan kita?. Gaji kita dihabiskan untuk mengejar hal-hal yang
sesungguhnya tidak kita mengerti, sistem keuangan yang kita pahami
adalah bagaimana cara mengutang bukan bagaimana mengembangkan
keadilan distribusi kekayaan, utang-utang diplesetkan oleh sistem
kapitalisme sebagai pencapaian-pencapaian standar hidup, para wanita
distandarisasikan kecantikannya lewat gaya hidup yang kapitalistik
mereka yang menolak sesuai dengan standar kecantikan kapitalistik
dipaksa mundur, mereka yang tidak memenuhi standar kecantikan
kapitalistik tapi memaksa maju cukup senang menjadi bahan tertawaan
publik. Tontonan-tontonan kita adalah bagaimana caranya menghabiskan
uang, bukan membangun masyarakat produksi, anak-anak kita diajari
menghapal merk-merk mobil dan tidak tahu lagi tentang alam
lingkungan, mall-mall yang mewah banyak dibangun sementara pasar dan
lapangan dimana interaksi antar manusia dulu terjadi kini
dihilangkan, tanpa sadar kita diasingkan dari hal-hal alamiah.
Keterasingan manusia ini adalah penipuan borjuasi yang cemerlang.
Dan akumulasi modal lah menjadi alasan utama pengasingan manusia
pada dirinya sendiri.

Saat ini jangan kaget kalau kita mendengar cita-cita orang untuk
membobol bank milyaran bahkan trilyunan secara terang-terangan, atau
saat membaca berita tentang penipuan milyaran kita bilang `hebat'.
Menjadi pembobol bank atau Anggaran Negara saat ini adalah pahlawan
yang dipuji banyak orang. Pemuda-Pemuda kita berebutan menjadi
pegawai negeri dengan menyogok untuk mendapat kursi yang basah.
Dalam sistem penipuan borjuasi stadium paling parah adalah ketika
uang dijadikan satu-satunya ukuran kehormatan manusia. Semua hal
dinegosiasikan, dan semua hal menjadi komoditi dagangan, dari
jabatan sampai agama semua diukur dari nominal uang. Menjadi
koruptor lebih terhormat daripada menjadi sopir taxi yang bekerja
dengan keringatnya sendiri, anak-anak koruptor lebih dihargai dan
punya gengsi ketimbang menantu tukang sol sepatu. Kita dipaksa
membeli barang yang sesungguhnya kita tidak mampu kemudian
ketidakmampuan itu diterjemahkan sebagai utang. Dan utang melalui
rekayasa iklan yang mengimajinasikan keindahan hidup menjadi sebuah
paksaan psikologis, tanpa berhutang kita berdosa menjadi bagian dari
masyarakat, tanpa korupsi kita diasingkan oleh sistem masyarakat.
Keterasingan manusia pada dirinya sendiri adalah anak kandung dari
kapitalisme. Dan itu diramalkan oleh Marx.

Baik sistem Stalinis maupun Kapitalisme Global adalah pengasingan
manusia terhadap dirinya sendiri. Ketidakbebasan manusia terhadap
kehendaknya. Pengaburan manusia terhadap tujuan-tujuan hidupnya.
Jika Stalinis membuat ketidakbebasan itu dari luar diri manusia
berupa paksaan dari penguasa pada pihak yang dikuasai, maka
kapitalisme global saat ini adalah pemaksaan halus manusia dari
dalam dirinya kemudian menjebak pada ketidakbebasan demi keuntungan
pemilik modal.

Mari kembalikan Marx sebagai teori, alat kritik kapitalisme dan
filsafat sosial-ekonomi, bukan dogma yang melahirkan kekerasan, dan
ada baiknya membaca filsafat Hegel sebelum membaca filsafat Marx.

ANTON