Ada suku yang sangat unik, metropolis, mengenal budaya kota jauh lebih dulu ketimbang New York  yang urban, suku itu adalah suku Betawi, bagi kita yang tinggal di Jakarta suku betawi sesungguhnya tidak asing bahkan menjadi bagian  budaya dari orang-orang yang lahir dan besar di Jakarta. Betawi bagi sementara orang merupakan hal yang identik dengan Jakarta. Namun sejak pembangunan besar besaran kota Jakarta yang dimulai sejak terselenggaranya Asian Games 1962 dan Ganefo, juga runtuhnya pemerintahan Sukarno yang menaikkan Suharto di tahun 1967 berakibat banyak sekali terhadap suku asli Betawi. Faktor lokasi-lah yang menyebabkan suku betawi menjadi semakin berjarak dengan Jakarta.

Asal muasal nama Betawi bukanlah nama yang sesungguhnya di berikan
kepada suku ini, nama Betawi merupakan turunan kata/ penyesuaian
lidah dari Batavia.  Nama Batavia-pun ada di  Negara Bagian New
York. Bahkan kota Batavia pernah menjadi role model bagi Belanda
untuk membangun New Amsterdam sebuah kota di  pinggir sungai Hudson,
setelah ditaklukkan Inggris kota itu berubah nama menjadi New York.

Portugis yang mengincar pelabuhan-pelabuhan dagang Banten di tahun
1520-an, bekerja sama dengan kekuasaan Pajajaran-Hindu untuk
membendung gerakan politik Banten-Islam. Namun pada tahun 1590,
Banten mengirim seorang panglima perang bernama fatahillah yang baru
saja datang dari Malaka, Fatahillah bersama para jawara dari Banten
dan dibantu dengan pasukan dari Cirebon berhasil mengusir Portugis
dan membangun benteng pertahanan di sekitar pantai Sunda Kelapa,
sejak saat itu oleh Fatahilllah pantai Sunda Kelapa dijadikan
pelabuhan dagang, namun keramaiannya tetap kalah dengan pelabuhan
Banten.

Ketika pelabuhan sunda kelapa sudah ramai, datanglah armada dagang
Belanda dan membangun loji-loji dagang di sekitar Sunda Kelapa, pada
awalnya kedatangan Belanda ini disukai oleh Pangeran Jayawikarta
penguasa Sunda Kelapa dan menamakan wilayah kekuasaannya sebagai
Jayakarta, tetapi atas desakan dari Banten yang pada waktu itu sudah
tidak menyukai kehadiran Belanda akibat politik campur tangan di
Kesultanan Banten, Pangeran Jayawikarta di paksa untuk melawan
Belanda. Pada saat itu pemimpin dagang dan bersenjata Belanda
bernama Jan Pieter Zoen Coen yang oleh orang-orang Betawi di kenal
sebagai Murjangkung, nah JP Zoen Coen melakukan tindakan penyerangan
ke arah benteng-benteng di tepi pelabuhan Sunda Kelapa, pada awalnya
Pangeran Jayawikarta mampu bertahan dan berharap ada bantuan dari
Banten dan Cirebon, namun Belanda dengan cerdik melakukan
pengepungan dengan memblokir jalan-jalan yang kemungkinan di lalui
pasukan bala bantuan. Pada tahun 1614 Pangeran Jayawikarta
memutuskan untuk meloloskan diri dari pengepungan yang berbulan-
bulan lamanya. Ia bersama lima ratus orang pasukannya menyingkir ke
daerah rawa-rawa yang kini dikenal sebagai Sunter, Pangeran-pun
mendirikan  pusat-pusat perlawanan gerilya. Pada awal tahun 1618,
pasukan Banten berhasil menyusup ke Jayakarta dari arah Bogor, dan
mereka membangun markasnya di sekitar hutan Jati yang sangat lebat
(kini bernama Jatinegara). Pangeran Jayawikarta-pun bergabung dengan
pasukan Banten dan menyusun serangan, namun JP Zoen Coen memutuskan
untuk menggempur habis-habisan pasukan Banten-Jayakarta, sebelum
datangnya pasukan yang jauh lebih besar Mataram-Sultan Agung.
Intelijen JP Zoen Coen mendengar bahwa pasukan Mataram akan
melakukan penyerbuan-penyerbuan ke wilayah pesisir dan pada saat itu
sedang bertarung di wilayah priangan untuk menaklukkan bekas wilayah
Pajajaran-Hindu yang dikuasai raja-raja kecil Islam. Menurut hitung-
hitungan JP Zoen Coen, lambat tapi pasti Mataram akan menyerang
Jayakarta untuk membangun pelabuhan dagangnya yang dekat dengan
pelabuhan Malaka. Untuk itu dia membereskan separatis Betawi di
tanah-tanah yang diakui sebagai hak VOC.

Hitungan JP Zoen Coen ternyata sangat tepat, ia berkonsentrasi
menghabisi pasukan Banten-Jayakarta untuk itu ia mengambil ratusan
tentara bayaran dari Jerman dan beberapa budak yang didatangkan dari
Bali, Bugis dan Ambon untuk menyerbu markas Pangeran Jayakarta. Pada
tahun 1620, markas pangeran jayakarta diserbu oleh JP Zoen Coen dan
sejarah membuktikan Pangeran tu mengalami kekalahan, Pada saat
pasukan Belanda mengepung masjid yang digunakan Pangeran untuk
berlindung, Pangeran masuk ke dalam sumur yang berada di dalam
masjid, dan Belanda mengira Pangeran sudah mati di dalam sumur itu,
Masjid itu kini bernama Masjid Salafiyah yang berdiri di wilayah
Jatinegara.

Setelah beres dengan perlawanan dari unsur Banten, Zoen Coen
menghadapi pasukan Mataram yang berada dibawah pimpinan Sura Agul-
Agul dan beberapa senopati perang lainnya yang dibantu orang-orang
Priangan. Namun taktik penghancuran logistik terhadap sawah-sawah
yang menjadi sumber makanan pasukan Mataram  dan  diracunnya sungai
Ciliwung menjadi kunci kemenangan VOC.

Kota Jayakarta-pun diganti nama menjadi Batavia oleh Zoen Coen nama
ini diambil dari kata Bataafs, sebuah dinasti yang menguasai Belanda
dan Jerman Utara.Dan orang-orang asli yang menempati wilayah Batavia
disebut juga Betawi    Banyak orang yang mengira asal-usul suku
asli Batavia adalah budak-budak Zoen Coen, namun perkiraan ini
banyak salahnya daripada betulnya, suku Betawi merupakan suku yang
memiliki sifat uniknya sendiri, mereka sangat apolitis, dan
menghindar dari struktur kekuasaan, walaupun ada juga orang Betawi
yang `keningrat-ningratan dengan menggunakan gelar Raden, Raden
betawi beda dengan Raden Sunda atau Raden Jawa yang hanya terdiri
huruf `R', penulisan gelar Raden Betawi ditulis `Rd' misalnya : Rd.
Mochtar, aktor jaman baheula. Orang Betawi sendiri mungkin berasal
dari Melayu atau orang Jawa yang tinggal di pesisir namun menolak
bagian dari suku pedalaman, ini sama saja dengan kaum Melayu di
Kalimantan yang merasa bukan bagian dari Dayak, atau Melayu di
Sumatera Utara yang menihilkan suku Batak.  Sedari awal kita sudah
lihat pemegang-pemegang kekuasaan di Sunda kelapa atau batavia
adalah orang-orang pendatang seperti : Pajajaran-Hindu, Banten,
Portugis dan Belanda. Saking sering konflik dengan Pajajaran Bogor,
orang Betawi sampai sekarang kalau mengumpat berkata "Dasar
Pejajaran!"

Orang-orang asli Betawi seakan-akan tidak peduli siapa pemegang
kekuasaannya.Itulah yang dapat menjelaskan mengapa suku betawi
jarang sekali menduduki jabatan-jabatan penting di pemerintahan
kotanya sendiri, jabatan yang paling disenangi orang Betawi adalah
jabatan-jabatan yang berhubungan dengan agama, makanya banyak sekali
dari orang-orang Betawi yang terdidik bekerja di Departemen Agama.

Untuk menjawab mengapa Betawi sangat berjarak dengan kekuasaan,
mungkin jawaban yang paling tepat adalah orientasi budaya. Budaya
betawi sangat unik dibanding budaya-budaya urban di kota-kota besar
dunia pada jamannya seperti Huan Long (Vietnam) atau Kyoto (Jepang).
Biasanya budaya urban mendorong kegiatan niaga kepada penduduk
aslinya, namun untuk kasus Betawi mereka tidak menyukai dunia
dagang, hidup mereka di orientasikan pada agama Islam. Untuk
menjelaskan cara hidup Betawi, cara pandang Islam merupakan jawaban
tepat. Bagi orang-orang Betawi kehidupan dunia tidak memiliki arti
apa-apa, cita-cita terbesar orang Betawi adalah naik haji, dan
bergelar Haji. Bagi orang Betawi pendidikan harus diorientasikan ke
pendidikan agama bukan pendidikan cara Belanda, berbeda dengan suku-
suku lain seperti Banten, Sunda dan Jawa yang perlahan menganggap
pendidikan sekuler sangat penting, suku betawi sampai saat ini
melihat pendidikan sekuler kalah penting ketimbang pendidikan agama.
Jika kita menonton sinetron si Doel ada sebuah kesalahan fatal dari
penilaian Rano Karno (sebagai penulis ide cerita) yang menganggap
betawi itu sebagai orang-orang yang terbelakang secara pendidikan,
karena disini Rano Karno melihat cara pendidikan Betawi dari kaca
mata orang yang dididik dan dibesarkan dalam pendidikan sekuler dan
ala barat. Orang-orang Betawi sangat berpendidikan bahkan beberapa
orang kaya Betawi (contohnya Betawi Kuningan dan Betawi Tenabang)
menyekolahkan anaknya ke Mesir dan Irak, banyak dari mereka bermukim
di Mekkah untuk menimba ilmu agama, ratusan madrasah-madrasah
dibangun untuk menampung anak-anak betawi, nah disinilah letak
perbedaan orientasi, bagi suku-suku Batak, Minang, Sunda, Jawa dan
Bugis (suku yang paling mendominasi arus intelektual di Indonesia),
pendidikan ala barat merupakan patokan kecerdasan dan tingkat
intelektualitas seseorang yang diperoleh melalui kapital simbolik
ijazah sekolah barat yang sekuler. Lain ladang lain belalang bagi
orang Betawi keberhasilan adalah bagaimana ia menyelesaikan
pendidikan agama dan menjalani hidup dengan irama yang ia yakini,
berorientasi pada alam akhirat dengan mengambil pahala banyak-banyak
sesuai apa yang mereka yakini. Perbedaan orientasi inilah yang kerap
menimbulkan salah paham bahwa orang-orang betawi sangat tidak
menghargai pendidikan. Mereka justru sangat menghargai dasar-dasar
pendidikan, hanya orang Betawi-lah yang mengenal kultur `Pagi
belajar di SD, Siang ke Ibtidaiyah'. Pandangan mereka pendidikan
haruslah holistik bukan kompartemental yang berakibat tidak
seimbangnya nalar dan hati.

Orang Betawi terkenal senang menerima pendatang.  Banyak dari
pendatang-pendatang luar Jakarta yang modalnya buntelan menjadi
sukses di Jakarta, waktu susah banyak ditolong orang Betawi di gang-
gang sempit atau toleran terhadap bayaran rumah kontrakan. Rasa
bertetangga mereka sangat tinggi, bahkan banyak ketika orang
pendatang itu pindah ke tempat yang lebih jauh dan lebih nyaman dari
awal dia hidup masih sering berhubungan dengan `kerabat-kerabat
betawi-nya yang dulu pernah menolong'. Orang Betawi terkenal blak-
blakan, kalau bicara seperti orang nyanyi. Bahasa Betawi adalah
bahasa Melayu yang terkenal dengan akhiran huruf e. Kalau orang
Melayu mengucapkan huruf e itu dengan mengayun lembut, orang Betawi
membunyikannya dengan lempeng. Bahasa Betawi adalah bahasa yang
paling berpengaruh dalam ruang pergaulan informal anak muda, kini
seluruh radio-radio di seantero Nusantara menggunakan bahasa
Indonesia dengan dialek Betawi sebagai bagian dari
proses `Jakartanisasi'.

Suku Betawi adalah satu-satunya suku di Jakarta yang paling awet
menerima gempuran budaya urban, suku-suku lain seperti Jawa, Sunda
dan Bugis mengalami kekalahan yang hebat dan mundur ke wilayah-
wilayah pedalaman, pesisirnya dikuasai Belanda dan orang-orang timur
asing (Vreemde Osterlingen) seperti Cina dan Arab. Berbagai macam
pengaruh yang mencampuri keragaman budaya Betawi bahkan darah suku-
suku Betawi tidak murni lagi sebagai sebuah ras, orang-orang Betawi
adalah campuran dari cina, eropa dan arab. Bagi saya pribadi  pernah
membagi-bagi fisiognomi-geografi orang-orang Betawi, untuk ras yang
di dominasi oleh ras Arab berdiam di sekitar wilayah-wilayah pusat
dan utara kota Jakarta, orang-orang Betawi Ancol, Sunter, Tanah
Abang, Slipi, Pekojan, dan sekitar Kampung Melayu dan Jatinegara
merupakan betawi yang memiliki tekstur arab secara khas, mereka
banyak yang keturunan arab. Sedangkan betawi-betawi yang berdiam di
sekitar Kuningan, Mampang, Buncit, Pejaten, Kemang dan wilayah-
wilayah tengah banyak yang berkulit putih bersih dan bermata sipit,
mereka ini banyak keturunan dari ulama-ulama besar Islam keturunan
Cina, sedangkan untuk wilayah Depok, ada sebuah keunikan, suku-suku
betawi ini di bagi dua kelompok besar yaitu : keturunan Belanda dan
keturunan sisa-sisa lasykar Mataram yang tidak berani pulang ke
asalnya karena takut dihukum. Untuk yang keturunan Belanda terlihat
sekali tingginya, bila anda datang ke wilayah-wilayah Jagakarsa,
Ciganjur, Depok lama maka sesekali terlihat wajah-wajah indo yang
tinggi badannya sekitar 180-an cm yang bicaranya `ngapak-ngapak',
namun jenis ras indo ini tidak banyak, keturunan Mataram-lah yang
banyak, mereka sendiri tidak mengetahui atau tidak mau mengetahui
keturunan lasykar-lasykar Mataram, tapi bila dilihat dari namanya
sungguh nama-nama itu adalah nama yang berasal dari Jawa; seperti
Wiro, Tole, Bagor, Diro, Pulung dll yang bukan merupakan ciri khas
nama Sunda atau Banten yang lebih banyak terpengaruh nama-nama
Islam. Karena merupakan suku melting pot yang terus menerus berbaur
bisa dikatakan wanita Betawi itu cantik-cantik.

Ada juga betawi-betawi yang menyimpang dari arus besar komunitas,
dan membentuk subkultur yang pertama, adalah keturunan Betawi-
Portugis yang berdiam di sekitar wilayah Tugu dekat Tanjung Priok,
agama mereka bukan Islam tetapi Kristen Protestan, pada awalnya
mereka beragama Katolik tapi atas paksaan VOC  yang anti Katolik dan
penganut protestan Calvinis, mereka dipaksa masuk Protestan oleh
Belanda  dan sampai sekarang agama mereka protestan, mereka memiliki
budaya sendiri seperti lempar-lempar bedak pada hari natal atau yang
paling populer adalah musik keroncong, di tahun 1930-an orang-orang
Tugu banyak menjadi buaya-buaya keroncong terkenal. Yang kedua
subkultur Betawi "Belanda-Depok".

Dulu disekitar wilayah Depok berdiri sebuah perkebunan besar yang
dibangun oleh Cornelis Chastelein, pejabat penting VOC, wilayah ini
mencakup Depok, Cinere dan sebagian kecil wilayah Jakarta Selatan.
Luasanya sekitar 1285 hektar (hitungannya sekarang mungkin mencakupi
6 kecamatan). Pada tahun 1696 menjelang Chastelein pensiun ia
membeli tanah tersebut dan tahun 1714 tanah tersebut di wariskan
oleh budak-budak yang dimerdekakannya, budak-budak itu diperkirakan
ada 12 orang, nama-nama mereka adalah Leander, Loen, Jacob, Laurens,
Joseph, Jonathans, Bacas, Soedira, Isakh, dan Zadokh. Keturunan-
keturunan mereka banyak menguasai tanah-tanah di Depok, agama mereka
kebanyakan Kristen Protestan, untuk nama belakang Zadokh saat ini
tidak ditemukan lagi, kemungkinan karena beberapa generasi setelah
Zadokh tidak ada lagi keturunan pria.

ANTON