Kejadian yang wajar banget bila mahasiswa bingung apa beda Reksa Dana dengan Danareksa karena secara bahasa-nya juga aneh. Saya tidak tahu bahasa sanskrit menggunakan kaidah DM apa MD tapi kata Reksa Dana dan Danareksa kalau dalam makna bahasa Indonesia artinya sama sama menjaga uang, Reksa=menjaga (sing mbaurekso) Dana = Harta. Jadi menjaga harta tapi kalau orang yang hidup di jaman Gajah Mada pasti heran karena Reksadana dan Danareksa jadi dua arti yang berbeda. Yang satu `Jaga dana' yang lain `dana Jaga' jadi mana yang benar?



Danareksa yang berdiri tahun 1977 dan kemendannya JA Sereh, jago tua
Pasar Modal itu yang awalnya ngendon di bangunan tua Kebon Sirih
samping kantor Gubernuran Jakarta Dulu kata orang Danareksa
didirikan untuk bikin Reksadana Saham sebagai counterpart dari
pendirian Bursa Efek yang kantornya berbentuk gedung dengan tiang
bulet-bulet ngikutin gaya Bursa Efek di Taiwan, -(tapi sekarang
malah sok jadi bangunan gaya Gothik). Dikemudian hari Danareksa
menjadi gurita besar Pasar Modal Indonesia bidang kerjanya banyak
banget, dari Brokerin saham sampai ngasih kredit utangan (katanya
sekarang nggak lagi), dari IPO sampe bikin produk Reksadana.
(Komisaris Danareksa sekarang aneh Dino Patti Djalal - ngerti apa
dia dengan Pasar Modal? – apa cuman alat SBY untuk ngangkangi
Danareksa saja, setelah Lin Chen Wei terdepak...). Daripada Dino
kenapa nggak ngangkat Jojon sekalian aja biar tambah lucu.

Beda lagi dengan Reksa Dana, nah instrumen ini sebenernya bukan
barang baru sudah dikenalkan sejak tahun 70-an dan mulai beredar di
tahun 80-an. Tapi baru booming setelah tahun 1997 gara-gara Tito
Sulistio sama Titiek Prabowo rajin kampanye Pasar Modal dan Reksa
Dana. Tapi tahun 1998 bangkrut lagi tuh perputaran uang di Reksa
Dana kemudian sesuai siklus ekonomi Indonesia yang baik terjadi
booming Reksa Dana terutama yang berkonten Obligasi. Bahkan banyak
Manajer Investasi yang bermain di Indonesia berpendapat Nilai Aktiva
Bersih Obligasi selalu bertumbuh jadi variabel resiko habis dan
masuk dalam wilayah return free market di titik itu mereka koar-koar
ke investor awam...sampai disini semua orang masih terbahak-bahak
banyak Investor datang dan menggelembungkan pundi-pundinya. Tapi
pertukulan reksadana (tukul=tumbuh) kayak balon gas yang meledak di
UI dan melukai banyak pelari pagi, amblas. Bank Global untung besar
gara-gara ngeluarin Reksa Dana bodong, Reksa Dana BNI juga
bermasalah. Kehancuran total itu disebabkan oleh ketidaktahuan dari
orang-orang MI sendiri tentang faktor resiko sehingga resiko
penurunan nilai dikelabui dari pikiran publik, dan publik kadung
menganggap Reksa Dana mirip-mirip Deposito yang dananya dijamin oleh
negara, padahal orang yang belajar tentang hukum Kapital mana-mana
juga ngerti semangkin tinggi ekspektasi return, semangkin tinggi
daripada resiko. Kalo ndak percaya tanya sama tukang kredit panci
sana....Hancurnya obligasi ditahun 2005 akhir lalu itu benar-benar
bikin ngakak investor asing, dan investor kecil yang nangis bombay
banyak banget.

Jadi bila nanya apa beda Reksa Dana dengan Danareksa sama mahasiswa
yang mau bikin skripsi wajar aja kalo nggak tahu, lha Manajer
Investasi-Manajer Investasi kita juga masih bingung apa yang
dimaksud Reksadana. Liat aja buat ngindarin pajak setiap lima tahun
mereka bubarkan produk reksadana dan bikin yang baru, atau untuk
ngindarin pembelian pajak keuntungan obligasi para dedengkot kapital
bikin reksadana supaya nggak kena 20% pajak final. Reksadana tidak
dijadikan alat pertumbuhan nilai sejati sesuai kaidah-kaidah
keuangan.

Kalau mau bicara melek finansial kita harus bicara melek
spectacle. Spectacle secara harafiah diartikan sebagai `tontonan'
dan merupakan bentuk pendangkalan dari pemaknaan. Misalnya saya
pakai peci putih, baju koko maka sontak saya menjadi alim dan bisa
mendiktekan norma-norma kebenaran saya, kalau saya ingin dianggap
pemberontak cukup pakai baju gambar Che Guevara yang dominan warna
merahnya, kalau saya ingin dikatakan seperti kyai pujaan dan banyak
penggemar cukup cantumkan kata A'a di depan nama saya sukur-sukur
bisa memperistri artis kemudian masuk TV dan mendakwahkan pemahaman
agama saya, kalau saya ingin dibilang kaya tidak usah saya punya
uang milyaran di Bank atau portofolio saham-saham bagus di Pasar
Modal, cukup kredit mobil baru dan pakai baju bermerk maka saya
sudah kaya. Budaya Spectacle merupakan budaya yang menghilangkan
pendalaman dan melebih-lebihkan penampilan. Akar dari budaya
tontonan ini adalah pengelembungan kapital yang fantastik. Semakin
memiliki kadar nilai tukar tinggi semakin fantastik nilainya tanpa
diikuti utilitas nilai guna. Jadi ketika saya naik Mercedes maka
secara nilai tukar saya lebih tinggi daripada saya naik Honda atau
Toyota, karena penggelembungan nama Mercedes –penganut kapitalis
menyebutnya Branded – Jadi komoditi yang pada dasarnya berbentuk
realitas kemudian secara holahop berubah ke dalam alam gaib dan
mempengaruhi naluri.

Spectacle juga mempengaruhi relasi-relasi antara manusia dengan
lingkungannya, ketika saya memakai berambut panjang maka saya
direlasikan sebagai penggemar musik Metal lalu tatkala saya
menggunakan asesoris anak dugem maka saya sontak menjadi bagian dari
kaum Dugem. Kalau saya pakai baju merah dan ada gambar banteng
gemuknya, maka saya bagian dari `wong cilik' kalau saya pakai baju
kuning dan ada gambar `Ringin Kurungnya' maka saya adalah pecinta
status quo, minimal anak bekas pejabat Orde Baru. Dan ketika baju
saya ada gambar Palu Arit...maka tahu sendiri akibatnya

Relasi-relasi yang kemudian dipengaruhi oleh spectacle ini kemudian
membentuk niat awalnya, yaitu : Modal.

Modal-lah yang kemudian menciptakan spectacle-spectacle dan
bertransformasi menjadi alam realitas, menjadi sebuah keharusan
supaya kita menjadi bagian dari komunitas. Misalnya seorang anak
dikabarkan gantung diri karena orang tuanya tidak membelikannya
handphone, disini HP bagi si anak bukan lagi merupakan alat
fungsional dimana tanpa HP ia tidak bisa berkomunikasi, tapi lebih
merupakan spectacle bagi dirinya, dengan HP secara dangkal ia
mendapatkan eksistensinya, dengan HP dia menemukan jati dirinya di
tengah pergaulan. Ketika realitasnya orang tuanya tidak membelikan
HP maka hancurlah eksistensinya, dan penghancuran eksistensi itu
merupakan kiamat bagi pembentukan esensi kemanusiaannya maka tak ada
lagi bagi pikirannya kecuali menempuh jalan mati.

Begitu juga seorang wanita kenapa mereka bisa banyak dikibuli oleh
laki-laki, karena penampilan, karena spectacle yang kemudian
menciptakan romantika di dalam pikirannya, setelah menikah barulah
ia mendapati kesejatian sang laki-laki pujaannya yang ternyata bias-
nya jauh sekali dari jalur romantika yang dia impikan. Dunia kaum
wanita adalah dunia paling rentan untuk dirasuki budaya spectacle.
Karena sejak dulu wanita adalah objek bagi kepentingan alam pikiran
laki-laki, budaya agraris mengenal wanita sebagai alat reproduksi
juga tampilan erotis maka muncullah Dewi Sri atau Ronggeng Sri
Kanthil, dalam budaya feodal wanita ditampilkan sebagai penambah
nilai untuk legitimasi kekuasaan, disini wanita harus ditampilkan
sebagai `yang agung' atau `yang suci' dan bisa memancarkan `wahyu
kedaton dan wahyu cakraningrat' maka dari dalam betis Ken Dedes
muncul sinar wahyu kedaton dalam alam pikiran Ken Arok, maka
memperistri Pembayun adalah sebuah bentuk pengakuan kekuasaan dari
Ki Ageng Mangir Wonoboyo terhadap Panembahan Senopati. Atau ageman
Ibu Tien Suharto yang masih kerabat Mangkunegaran bagi Suharto yang
hanya anak ulu-ulu.

Dalam spectacle ciptaan Kapitalis wanita dikonstruksikan lebih
dahsyat lagi. Apa yang ada pada diri wanita harus memenuhi kaidah-
kaidah penambahan kapital bagi pencipta komoditi dan perangkai imaji
dimana tujuan mereka adalah mereproduksi Kapital. Kaum wanita mau
tidak mau diasingkan dari kewanitaannya dan hanya menjadi objek
tampilan pada dunia – yang disangka wanita korban spectacle itu
adalah kehendak laki-laki dan aturan tak tertulis- . Apa yang
menjadi kiamat bagi kaum wanita urban Indonesia saat ini adalah
ketika ia tidak lagi memenuhi kaidah-kaidah tampilan kapitalis. Kaum
Kapital merekonstruksi kecantikan sesuai dengan imaji yang
diciptakan. Saat ini di Indonesia kecantikan selalu diartikan :
keturunan Indo-Eropa, Berambut pirang, tinggi diatas 165 cm, berdada
sedang dan memiliki kaki jenjang diatas semuanya adalah : kulit
putih bersih ala Eropa. Hal ini selain merupakan bagian inferior
compleks orang Indonesia yang selalu memandang barat di atas
segalanya, juga adalah produksi imaji yang diciptakan oleh kaum
produsen komoditi kecantikan yang memang berpusat di Eropa.
Kecantikan dimulai dari sana. Citra kecantikan bukan lagi pada Gusti
Nuril bangsawan puteri Mangkunegaran yang dulu terkenal cantik
jelita tapi pada Nadine Chandrawinata yang sudah sempurna memenuhi
kecantikan-kecantikan ala barat.

Ketika Spectacle itu sudah menjadi bagian dari kehidupan terpenting
dan merupakan prakondisi bagi terciptanya eksistensi kemanusiaan
seseorang maka dibentuklah permainan finansial dimana korbannya
adalah memang orang yang sudah terjajah oleh aturan-aturan yang
dihidupkan oleh kaum Kapitalisme.

Melek Finansial hanya mengajarkan bagaimana kita bisa mengatur
keuangan dan menjaga nilai uang kita atau kalau bisa menumbuhkannya.
Tapi tidak mengajari bagaimana memahami lebih jauh spectacle yang
merupakan tuntutan kebudayaan. Seorang yang biasa bergaul ketika
pulang kerja di cafe-cafe dan meminum minuman yang harganya 40 kali
lebih mahal dari seharusnya, jika tidak mengikuti acara minum-minum
maka dia akan tersisih secara sosial dan diisolir kemampuannya
berbudaya dimana komunitas nongkrong di kafe merupakan bagian dari
budaya urban. Saat ini profesional yang berusia 25-29 tahun
katakanlah memiliki gaji 15-25 juta sebulan, namun di akhir bulan
uang yang tersisa hanyalah sekitar 600 ribu, atau malah hutang.
Banyak profesional sekarang setiap bulan harus membacai lembar-
lembar kartu kredit, karena Bank-Bank sebagai komprador Kapitalis
itu melemparkan candu-nya berupa utang lalu dengan pesona-pesona
spectacle mereka menggunakan titik-titik tipuannya seakan-akan utang
itu adalah bagian dari asset mereka, bagian dari penghasilan mereka
dan kemudian oleh nilai-nilai fantastik yang dijual di mall-mall
mewah para korban spectacle kartu kredit menggadaikan nilai masa
depan penghasilan mereka untuk mendapatkan barang-barang yang tidak
dibutuhkan bahkan tidak punya nilai guna sama sekali naluri-lah yang
membuat mereka membeli barang itu. Melek Finansial hanya tahu
bagaimana aliran uang berjalan, rasio-rasio antara utang dan asset,
pertumbuhan nilai uang dan pemanfaatan dari pertumbuhan tersebut.
Dari semuanya melek Finansial adalah cara terbaik bagaimana
menciptakan egoisme.

Melek Kapital adalah tahap lebih lanjut dari Melek Finansial. Melek
Kapital ini biasanya sangat dekat dengan budaya dan merupakan
pemenang dari pertarungan dunia kapital saat ini. Di kebudayaan
Indonesia kelompok yang sudah menyadari melek Kapital adalah
keturunan Cina, Kelompok yang sudah terpengaruh kapital barat
(ningrat-ningrat pribumi yang paham bagaimana modal bekerja dan
menguasai kemanusiaan) dan kaum pedagang pesisir yang sudah tau
susahnya bagaimana memutar uang. Dulu engkong-engkong Cina yang
ngerti gimana caranya ngumpulin modal selalu nyaranin buat cucu-
cucunya "kalo lu belum kaya, lu jangan makan nasi...makan bubur"
beda dengan priyayi Jawa "dadi wong aja nganti nduwe ati saudagar,
ora ilok" (jadi orang jangan punya hati saudagar tidak baik).
Jadilah peranakan Cina mengakumulasi modalnya sedemikian rupa
apalagi yang sudah mendapatkan keuntungan dari siklus politik. Namun
sekarang melek kapital bukan hanya milik peranakan Cina thok tapi
juga milik pribumi seperti : anak turun Ahmad Bakrie atau keluarga
Kalla, yang dapat prestise politiknya, dapat pula gengsi modalnya,
perkara kasus Lapindo belum beres, thoh dengan kekuatan spectacle
dia bisa buat Universitas Bakrie untuk melambungkan popularitas
wajah humanisme-nya (termasuk Bakrie Award) dengan langkah awalnya
memberikan beasiswa kepada anak-anak yang kurang mampu, tapi cuek
pada anak-anak yang tidur di los-los pasar gara-gara lumpur sialan
itu. Itulah kekuatan modal membentuk spectacle.

Orang yang melek Kapital biasanya tidak memperdulikan spectacle bagi
dirinya, dia hanya peduli bagaimana Kapital ini bisa tumbuh secara
ajaib. Misalnya bagaimana bisa membeli saham-saham kinclong model
BUMI atau TMPI yang naiknya ribuan persen cuman dalam waktu kurang
dari 1 tahun. Orang seperti ini mengumpulkan uang sedikit demi
sedikit dan mempertaruhkan dananya dengan lambungan luar biasa. Ia
tidak mau menjadi analis portofolio yang pengecut - (yang bisanya
hanya bicara sok ilmiah dengan model-model keuangan yang rumit tapi
tingkat pengembalian portofolio investasinya sama ibu-ibu yang doyan
nongkrong di Gallery Sekuritas aja kalah) -, Ia anti Diversifikasi
jargon "Don't put all your eggs in one basket" adalah kata-kata
pendosa dimata penumpuk Kapital, Ia lebih memilih konsentrasi modal
untuk itu dengan nalurinya ia bisa memilih instrumen investasi yang
tepat. Kemudian memegang kendali dunia. Orang jenis ini adalah Peter
Lynch, Mario Gabbeli atau George Soros. Soros sendiri punya uang
trilyunan tapi lebih memilih naik trem daripada naek taksi, karena
ia tahu lebih praktis naek trem listrik ketimbang naek taksi di
Budapest. Beda dengan orang-orang yang sok kaya di Sudirman, biar
utangnya bejibun dia tidak mau naik busway tapi lebih memilih naik
taksi atau mobil pribadi untuk jarak kurang dari satu kilometer.
Karena ia tidak membutuhkan nilai praktisnya tapi lebih pada nilai
spectacle-nya. Atau naik bus bersimbah keringat tapi limaratus meter
dari kantornya dia naik taksi supaya dibukakan pintu oleh Satpam.
Disinilah Spectacle mendapat lambungan nilai tukar alias harga.
Orang yang melek Kapital adalah orang yang paham bagaimana
memperbudak kemanusiaan untuk kepentingan lambungan nilai tukar
Kapitalnya.

Melek sosial, orang yang paham melek sosial ini juga paham bagaimana
rangkaian modal bekerja dan membelenggu masyarakat. Mereka tidak
lagi bermain di tataran keshalihan sosial hanya untuk spectacle,
tapi mencari akarnya kenapa masyarakat menjadi manusia terbelenggu
yang jauh dari kemanusiaannya?. Ada yang menemukan akarnya itu dari
sistem Kapitalis, ia membedah sistem kapitalistik sampai pada
tingkatan atomistik lalu eureka! Mereka menemukan intinya. Orang
jenis ini adalah Hatta, M. Yunus dan Hernando De Soto.

Hatta dengan landasan Marxian menyatakan bahwa untuk menghindari
adanya kesulitan akses bagi borjuis-borjuis menengah-kecil maka
dibentuklah koperasi sebagai kapal penyelamat dari bisnis yang
dijalankan para borjuis itu. M. Yunus lebih dalam lagi daripada
Hatta, ia membalikkan alur gerak kapitalis dari mencari modal
menjadi mendapat modal. Menurut Yunus konsep alur kapitalis
konvensional merugikan bagi orang yang tidak berpunya maka untuk
menyelamatkan kehidupan manusia ia memberikan modal dan memancing
kaum tak berpunya itu menjalankan bisnisnya. Kalau Hernando De Soto,
ditengah-tengah antara Hatta dan M. Yunus. Bagi De Soto yang layak
diberi modal adalah pengusaha kecil yang sudah berjalan layak tapi
tidak memiliki akses modal untuk memperbesar usaha, disinilah
perlunya legalisasi kemajuan usaha sebagai jaminan kemajuan bisnis.
Ketiga-tiganya berusaha mengenalkan prinsip Kapitalisme kepada akar
rumput.

Melek Sosial bagi penolak apapun yang berbau Kapital adalah Karl
Marx sampai orang-orang Post Marxism. Intinya mereka menolak segala
bentuk transformasi nilai tukar yang kemudian memperbudak
kemanusiaan, kerja bukan lagi dimaknai sebagai bentuk praksis tapi
ditipu oleh kaum kapitalis sebagai bentuk fantastik yang pada
gilirannya membelenggu kemanusiaan. Dan kaum sosialis anti Kapital
menolak bentuk penipuan seperti itu.

Bagaimanapun konsep-konsep ekonomi datang dan pergi sejarah
masyarakat terus bergerak....


ANTON