Saya akan mencoba bicara dari sisi kanan, sisi kapitalis. Bagaimanapun bila kita bicara realitas Indonesia maka kita akan dihadapkan pada `bangunan bawah' Indonesia yaitu : Ekonomi Kapital.


Dan bicara ekonomi Kapital di Indonesia maka kita bicara pada dua
panglima kakak beradik dari ekonomi Kapital itu, Perbankan dan Pasar
Modal. Bagi saya pribadi dalam perspektif Kapitalis Perbankan,
adalah panglima Kapitalis tua yang sudah sakit-sakitan, masa depan
Kapitalis ada pada Pasar Modal industri inilah yang akan menjadi
urat nadi dari seluruh distribusi kapital dengan segala bentuk-
bentuknya yang rumit. Sekarang yang anda saksikan adalah bangunan
awal dari Pasar Modal yang belum memasuki tahap modernitasnya, Pasar
Modal Indonesia adalah gerbang yang baru separuh dibangun sebelum
menuju pada bangunan Keraton sesungguhnya.

Bicara Pasar Modal maka kita akan bicara tentang dua hal yang paling
dipahami kaum Kapitalis, Distribusi dan Akumulasi. Dulu saya pernah
bertanya dengan alm. Barli Halim (salah seorang tokoh utama
revitalis Pasar Modal gelombang 1977). "Buat apa Pasar Modal ada,
Pak?" pertanyaan saya adalah pertanyaan khas anak muda semester
ketiga yang sok ngerti Pasar Modal dan baru baca buku Bodie Kane.
Pak Barli Halim dengan gaya dosen-nya yang bijak bilang "Untuk
membangkitkan perekonomian Indonesia, sebagai sokoguru keuangan
Indonesia" dititik ini saya tidak paham karena apa hubungan Pasar
Modal dengan sokoguru keuangan, apa hubungan Pasar Modal dengan
Perekonomian Indonesia yang lebih banyak dipengaruhi pedagang-
pedagang Glodok yang rajin bikin Bank sejak Gebrakan Sumarlin.
Setelah ekonomi Indonesia ambruk tahun 1997/1998 barulah saya paham
(-tentunya dalam otak Kapitalis-) bahwa Pasar Modal adalah salah
perahu besar Indonesia yang memang belum digunakan secara penuh
dalam sistem Kapital Indonesia kecuali tempat belajar Titiek Prabowo
yang dimentori Tito Sulistio buat mengembangkan jaringan dananya.
Pasar Modal adalah kunci dari penyelamatan sistem Kapitalis di
Indonesia dengan syarat : Harus menjadi Pasar Modal yang Modern dan
total memenuhi kaidah-kaidah hukum besi Pasar Modal. Sayangnya ini
belum untuk yang masalah paling primitif-pun Pasar Modal Indonesia
belum mampu menyelesaikan : Hukum dan Etika Pasar.

Bagaimana Pasar Modal bisa menjadi Kapal Induk bagi Sistem Kapitalis
sebelum akhirnya kaum Sosialis mengepung mereka? Modern-lah ! atau
meminjam pesan Tsarina pada Tsar Nikolas II : "Bersikaplah
Aristokrat, Tuanku!" dan untuk menjadi aristokrat harus dipenuhi
jalan Ksatria yang penuh cobaan.

Sistem Kapitalis yang semi modern akan menghasilkan sistem Sosialis
yang buruk. Russia di jaman Stalin bisa dijadikan rujukan. Atau
gagalnya kaum Spartasis Jerman menghancurkan Royalis Jerman malah
memunculkan Fasisme, begitu juga dengan sistem Kapitalis Indonesia
yang primitif. Saya adalah orang paling percaya bangunan bawah
Indonesia kelak menjadi sistem Sosialis dan menjadi Sosialis yang
benar, matangkan Kapitalis sematang-matangnya baru kaum Sosialisme
bergerak, dan untuk mematangkan Kapitalis –Matangkan Pasar Modal-
sehingga menjadi perekekomian yang berpengaruh sampai ke desa-desa
bagaimana caranya dan apa filosofinya?

Filosofi utama Pasar Modal selain mencari informasi yang tepat
ditengah dunia `asimetri informasi' yang - (asimetri ini kemudian
bertransformasi menjadi surplus bagi kaum Kapital) - adalah
distribusi kekayaan dari kaum surplus kepada kaum defisit dengan
cara penggelembungan nilai sekarang dengan didasari prospek masa
depan sebuah perusahaan publik. Artinya pada saat IPO
penggelembungan nilai masa depan sudah terjadi dan penggelembungan
ini didasari pada discounted cash flow serta aspek-aspek `mistis'
lainnya macam Economic Value Added (EVA) ataupun persepsi merk. Pada
proses IPO inilah perluasan dana ini menjadi darah segar
perekonomian riil lalu menjadi basis berkembangnya indikator-
indikator Mikro dan Makro perekonomian kita. Lantas kenapa
membludaknya saham-saham baru yang notabene banyaknya dana segar
masuk lewat IPO dan banjir IPO obligasi baik swasta maupun
pemerintah tidak memperbaiki sektor ekonomi riil? Ini pertanyaan
yang mudah dijawab, namun susah dilaksanakan. Pada tataran Makro
para penggede-penggede kapital yang ngeraup untung dari penjualan
perdana saham mereka tidak banyak melakukan diversifikasi dan
pengembangan intensif produk mereka sehingga tingkat penyerapan
tenaga kerja, naiknya angka produksi dan segala macam tetek bengek
indikator sektor riil tak kunjung membaik. Lalu dikemanakan dana IPO
itu? Saya belum melakukan penelitian yang sahih atau membaca
penelitian dari rekan-rekan yang meneliti dikemanakan dana pasca
IPO? Namun kalau dilihat dari tidak adanya korelasi yang tinggi
antara tingginya IPO dengan tingkat pertumbuhan ekonomi riil maka
bisa ditebak dana itu tidak digunakan untuk menggenjot ekonomi riil
tapi direntenkan dengan cara lain. Reproduksi modal tidak berlanjut
pada perusahaan tapi lari ke dana-dana yang diputarkan pada bursa
asing atau malah main lagi di Bursa lokal. Jadi pertumbuhan produksi
tidak terjadi dan pencerapan pengangguran kurang sekali walaupun
pertumbuhan IPO di Bursa lokal tumbuh pesat.

Selain kesimpulan diatas, Pasar Modal kita merupakan akuarium
raksasa bagi konglo-konglo kelas raksasa bukan pengusaha yang
membangun kerjanya dari bawah dan membutuhkan akses modal. Bila kita
baca buku Pasar Modal terbitan Wall Street dengan membaca buku Pasar
Modal terbitan Jakarta, maka ada perbedaan yang jelas. `Buku-buku
Amerika itu selalu dimulai dengan `Si Tom membangun usaha dan
mencari modal di Bursa' tapi kalau di Indonesia `Si Badu ingin
menambah modal lalu pergi ke Bursa' disini terlihat perbedaan
signifikan. Orang Amerika mengenal pasar modal mulai dari
historisnya, mulai dari awalnya. Orang Kita mengenal Pasar Modal
mulai dari akhirnya. Perkara siapa yang menerbitkan saham bagi orang
Indonesia adalah antah berantah, artinya mereka pikir perusahaan
raksasa yang hanya bisa mengakses modal. Itu memang tidak salah
karena Pasar Modal kita tidak menyediakan akses untuk pengusaha
kecil dan menengah. Jadi ketika indikator melejit sampai katakanlah
50.000 itu tidak berarti apa-apa bagi ekonomi riil karena antara
Pasar Modal dengan ekonomi rill terbentang firewall raksasa yang
berkobar-kobar dan sulit ditembus. Kegagalan Bursa Surabaya untuk
terus eksis menunjukkan kegagalan orang-orang Pasar Modal Indonesia
membuka pintu bagi perekonomian rakyat.

Lalu apa perekonomian rakyat itu dalam otak Kapitalis?. Perekonomian
rakyat adalah Nasdaq. Di Amerika perusahaan-perusahaan yang baru
tumbuh bisa mendapat akses modalnya dari segala macam bentuk
perusahaan modal dari modal ventura sampai perkreditan yang rumit,
disinilah kemudian masyarakat Amerika berkembang maju. Tapi di
Indonesia perkembangan akses modal hanya dimiliki oleh sekelompok
orang tertentu saja, bahkan Danareksa sebagai simbol kemajuan
Perusahaan Sekuritas cuma mainan kekuasaan yang gunanya nyeret-
nyeret indeks supaya nggak keliatan jelek bukan membangun peran
perekonomian rakyat seperti misi BUMN dan ini memang penyakit BUMN-
BUMN kita yang selalu menciptakan raja-raja kecil.

Pasar Modal Indonesia bagaimanapun akan tumbuh karena desakan
kapital, tapi masalahnya apa masyarakat Indonesia bisa mengikuti
dinamika kapital yang menggebu-gebu. Persoalan terpokok dalam sisi
masyarakat Indonesia adalah kurangnya watak enterpreneurship,
kurangnya watak mandiri. Kebanyakan orang kita adalah manusia
penakut dan manja, setelah selesai sekolah mereka mencari bentuk
perlindungan baru dimana orang tua-orang tua mereka sudah tidak bisa
melindungi lagi, bentuk perlindungan psikologis itu menjadi
karyawan, menjadi pegawai. Hal ini membuat budaya Kapital tidak
tumbuh maksimal. Dan memang tidak salah bagi kaum muda Indonesia
melihat dunia enterpreneur adalah dunia buas, karena infrastruktur
berupa akses modal sulit sekali dan tidak adanya dukungan dari
pemerintah yang ada malah bila kita bangun usaha maka pungli datang
bertubi-tubi. Sistem yang malas akan melahirkan masyarakat yang
malas.

Ditengah budaya yang tidak mendukung itu saya yakin Pasar Modal
Indonesia bisa berkembang karena ya....itu tadi desakan Kapital,
namun bila desakan Kapital tidak diimbangi kesadaran berwiraswasta
dari generasi muda maka yang terjadi adalah Membludaknya Kapital
hanya menjadi akuarium konglo-konglo raksasa.

Namun diluar perkembangan itu adakah Pasar Modal bisa menjadi Pasar
yang memiliki dimensi sosial, dimensi perekonomian rakyat.
Sebenarnya bisa bila kita mendobrak firewall yang menjadikan Pasar
Modal hanya akuarium besar yang ditaruh pada menara gading ekonomi
Makro. Salah satu bentuknya adalah membangun Pasar Modal-Pasar Modal
baru, hakikat Pasar Modal adalah berkumpulnya para broker yang bisa
mempertemukan akses modal kepada pihak surplus ke pihak defisit.
Perangkat peraturan yang ketat dan etika pelaku bursa menjadi kunci
dan itu tidak bisa diutak-atik. Yang bisa dikembangkan adalah skala
bursa. Di Inggris tahun 1972 ada sebuah perusahaan bernama
Granville, perusahaan ini berkembang menjadi Pasar Modal Over The
Counter (OTC) yang pada akhirnya menjadi bagian dari Pasar Modal
Inggris dengan regulasi-nya tersendiri. Di Indonesia hal ini bisa
saja terjadi bila kapitalis sudah matang dan tidak adanya peran
intervensi pemerintah yang berlebihan (warisan Orde Baru, masak
Ketua Bapepam musti Manggala P4 segala) dan masih dirasakan sampai
sekarang, namun bila intervensi itu sudah hilang dan kaum Kapitalis
punya kemampuan berdiri sendiri maka tidak aneh akan tercipta
cluster-cluster Pasar Modal yang memberi akses permodalan bagi
lingkungan terdekat. Bisa saja Pasar Blok M punya pasar modalnya
sendiri untuk pengembangan pedagang kaki lima yang mau cari modal
untuk buka cabang, kemungkinan ini tidak mustahil.
Namun kemungkinan terdekat adalah keberanian dari kaum muda untuk
membongkar hambatan-hambatan distribusi uang ke lapisan masyarakat
sampai kelas bawah sekalipun. Gumpalan-gumpalan lemak kapital yang
ditahan sekelompok kapitalis raksasa harus segera dicairkan biar
peredaran darah perekonomian lancar kembali dan kita harus meneliti
dimana simpul-simpul kemacetan itu. Dan Pasar Modal bisa berperan
lebih baik dalam mengurai distribusi modal di dalam masyarakat.

Segera Matangkan Kapital, Untuk Kita Hancurkan....Hiduplah
Sosialisme.


ANTON