"Menurut saya, gerakan feminis itu memang memiliki tujuan yang lebih besar lagi. Menciptakan suatu masyarakat dengan persamaan kelas. Gerakan feminis itu mirip sekali dengan Praxis-Marxis yang menerapkan sistem egaliter. Seperti melakukan penyadaran pada buruh bahwa mereka adalah golongan yang ditindas hingga melahirkan gerakan buruh. Padahal banyak pula buruh yang tak merasa tertindas karena sudah cukup senang dapat pekerjaan dan gaji. Inti  gerakan buruh dan feminisme itu sama. Taktik yang dilakukan, pertama melakukan penyadaran bahwa mereka kaum yang tertindas. Setelah kesadaran itu muncul, apalagi kalau ada figur yang mempersatukan atau ada organisasinya, itu bisa menyatukan kekuatan kaum proletar itu."

(DR. Ratna Megawangi, Republika 2001)

Pernyataan lama DR. Ratna Megawangi yang menentang gerakan feminisme
ini sempat menyentak gerakan perempuan Indonesia, bahwa memang ada
kelompok resisten terhadap gerakan equal perempuan Indonesia atau
Feminisme dari golongan yang merasionalisasi kedudukan perempuan
Indonesia bahwa kedudukan perempuan berada subordinat dari laki-laki
dengan kata lain kaum perempuan tetap menjadi kaum yang tidak
memiliki harkat kemanusiaan secara penuh dalam masyarakat laki-laki.
Apapun rasionalisasinya dari rasio-rasio teori sampai kebenaran
mistis yang mereka lontarkan selama perempuan tetap dikurung dalam
penjara ketidaksadaran bahwa mereka mengalam subordinasi dari laki-
laki selama itu pula-lah tali relasi perempuan-lelaki akan selalu
dipenuhi kutu busuk kepentingan yang pada akhirnya memojokkan kaum
perempuan.

Dari yang saya kutip diatas konstruksi pembebasan perempuan disama
artikan semata pada perjuangan kesamaan kelas bukan hal yang lebih
jauh lagi `kesadaran peradaban'. Saat ini kesadaran peradaban belum
menyentuh wilayah alam pikiran wanita secara total. Sejarah kita
adalah sejarah yang dibentuk dan dianyam oleh pikiran laki-laki
bukan relasi lelaki-perempuan atau bahkan pikiran perempuan. Kita
dilahirkan di dunia pada hari pertama hidup kita disentuh pada alam
pikir laki-laki dan terbentuklah persepsi bahwa dunia laki-laki
adalah satu-satunya kebenaran yang harus menaklukkan kaum perempuan
dan menundukkannya dan keperempuanan hanyalah pelengkap dari tujuan
mulia laki-laki. Itu yang kita pahami dan anggap sebagai kebenaran
mutlak. Saya orang yang paling percaya pada hukum relativitas dimana
tidak pernah ada titik akhir dalam memahami laju sejarah dan tekanan-
tekanan rasional peradaban, dimana laju sejarah selalu mengarah pada
konflik ekonomi dan berlatar belakang pembebasan kemanusiaan
dimanapun juga.

Termasuk pembebasan wanita yang secara sadar atau tidak sadar
dibawah dominasi laki-laki sampai saat ini (!). Tujuan pembebasan
manusia bukan hanya pembebasan laki-laki dalam menyentuh akses
ekonomi tapi juga bagaimana kaum perempuan sama dengan laki-laki
dalam melakukan tugas-tugas ekonominya sehingga kesamaan mereka
dalam relasi-relasi itu bisa tercapai. Untuk itulah diperlukan
kesadaran.

Akar kekerasan di dalam rumah tangga adalah ketidakadilan dalam
masalah ekonomi. Kaum laki-laki yang sejak awal mula dididik sebagai
penyumbang kekayaan keluarga memiliki hak-hak istimewa. Jadi secara
langsung masyarakat mengarahkan baik tidaknya keluarga adalah
bagaimana kepala rumah tangganya, jadi ketika ini dijadikan patokan
utama maka hilang sudah kepribadian-kepribadian individu yang
membentuk keluarga dan kemudian pribadi individu yang terbiasa di
bawah pengaruh sistem yang timpang ini membawanya ke dalam
masyarakat lalu terbentuklah secara sempurna masyarakat patriakal,
dunia peradaban yang sedang kita jalani saat ini.

Keluarga itu seperti miniatur masyarakat yang memiliki kelas-kelas
seperti di masyarakat, kaum yang berkuasa : Biasanya pemegang sumber
utama ekonomi, kelas borjuasi-tersubordinasi : anak-anak dan yang
memiliki hubungan istimewa dengan kelas berkuasa, Kelas proletar :
Kaum isteri dan Pariah : Pembantu rumah tangga, sopir atau tukang
kebun. Relasi-relasi ini kemudian saling kait mengkait menjadi
hubungan yang saling menindas tapi diselubungi nilai-nilai harmoni.
Dan yang paling menderita terhadap penindasan institusi keluarga
biasanya kelas yang tidak memiliki kapital juga tidak punya andil
dalam pembentukan akumulasi kapital bagi kesejahteraan keluarga
tersebut : Kaum wanita paling banyak menerima kekerasan terhadap
sistem ini.

Keluarga sendiri merupakan proses akumulasi kapital yang pada
akhirnya mengembangkan sistem penindasannya sendiri lalu
menghasilkan korban-korban kekerasan dan ketiadaan masa depan bagi
korban dimana penindas adalah orang yang mengembangkan kapitalnya
atau dengan kata lain terjadinya penindasan atau tidak tergantung
penuh pada kebajikan si penguasa tadi. Terbentuknya keluarga selalu
mengikuti kelaziman umum : Kaum laki-laki dengan didukung atau
tidak didukung keluarga besarnya datang kepada perempuan untuk
dikawini. Pada titik ini kaum lelaki harus memiliki potensi modal
yang berguna untuk membangun keluarga, kapital ini kemudian
diakumulir oleh pihak laki-laki dan perempuan tetap menjadi proletar
dalam rumah tangganya, ia melayani laki-laki dari hasrat seksual
sampai romantikal, dari reproduksi keturunan sampai pelayanan
pendidikan keturunan. Proletariatisasi perempuan ini menjadi hal
yang paling wajar dalam logika peradaban, banyak ujaran-ujaran lama
yang memojokkan kaum perempuan sebagai kaum pinggiran dalam dunia
laki-laki : Perempuan itu hanya di tiga tempat : Sumur, Dapur dan
Kasur. Atau Mocopatan lama Jawa : Wanita = Wani Di tata (berani
diatur), Isteri itu bekti pada suami Suwargo Nunut, Neroko Katut
(kemanapun ikut dan mutlak turut pada suami). Disinilah kemudian
perempuan menjadi paling sering menjadi sasaran amukan dari
ketidakseimbangan psikologis laki-laki baik kekerasan seksual,
kekerasan rumah tangga maupun penindasan psikis.

Alam buas susunan masyarakat kapitalis semangkin menghancurkan
keadaban dalam relasi-relasi lelaki-perempuan. Ditambah sistem
kapitalis ala Indonesia yang hanya menguntungken segelintir kelompok
penguasa yang mainan kapitalisnya bersaing bukan didasari pada
prinsip-prinsip kapitalis kompetitif melainkan kapitalis-patriakal-
korup semangkin memojokkan peran perempuan. Dari sistem Kapitalis-
Patriakal-Korup (KaPkor) maka lahirlah generasi perempuan-perempuan
etalase dimana penyadaran keberadaan mereka hanyalah sebagai alat
kepentingan alam dunia laki-laki. Perempuan-perempuan etalase ini
membenarkan kedudukan kelas laki-laki yang mencerabut akar kebebasan
perempuan dengan pembenaran-pembenaran yang dipahami dari otak laki-
laki. Kaum perempuan jenis ini sebenarnya juga korban dari
ketidakmampuannya memahami makna pembebasan kaum perempuan dari akar
ketertindasannya.

Kesadaran peranan perempuan harus dipusarkan pada semangat
pembebasan untuk memanusiakan manusia dan dimulai dari akarnya,
Kapital –pembebasan ekonomi – (dalam ruang Kapitalis M. Yunus sudah
berhasil secara bertahap membebaskan wanita dari keterasingan akses
kapital) – . Perempuan bukan lagi sekedar objek-kepemilikan tapi
merupakan manusia yang utuh, yang memiliki hak-hak asasinya sama
dengan laki-laki. Penyadaran kaum perempuan dan penyadaran posisi
perempuan yang secara sadar atau tidak sadar terkooptasi oleh
kepentingan laki-laki merupakan tugas panjang dari aktivis perempuan
dimana konflik-konflik sejarah menjadi medan juangnya.

Pernyataan Ibu Ratna Megawangi yang mengatakan "Padahal banyak pula
buruh yang tak merasa tertindas karena sudah cukup senang dapat
pekerjaan dan gaji. Inti gerakan buruh dan feminisme itu sama…"

Pernyataan itu merupakan pernyataan kelas borjuis, pernyataan alam
bawah sadar kelas ini untuk melakukan politik defensif. Bila dilihat
dari kajian historis, ini pernyataan dungu, dimana penyadaran
kemanusiaan tidak dimasukkan ke dalam proses pengadaban manusia.
Jelas manusia yang kurang informasi dan terdidik tidak akan sadar
akan posisi dirinya, akan eksistensi dirinya pada susunan masyarakat
yang didalaminya, masalahnya ketika susunan masyarakat itu
melahirkan sistem yang menindas, persoalan kesadaran tidak lantas
menjadi persoalan sebagian anggota masyarakat elite yang terdidik
dan mengetahui sistem yang menindas itu dijejali kebohongan tapi
juga persoalan bersama sadar atau sadar bagi kaum yang kurang
terdidik, peran elite terdidiklah yang membangun penyadaran ini dan
merubahnya bukan dilemparkan pada kesadaran palsu masyarakat yang
dibentuk lewat kebohongan. Kebohongan dari sistem yang menindas
merupakan bagian dari kerja kapitalis. Ini bisa kita analogikan,
seorang Suharto muda dia tidak tahu dan sadar negerinya dijajah dari
ia menjadi penggembala kerbau di dusun-dusun pedesaan Yogya sampai
menjadi serdadu KNIL, kesadaran kemerdekaan sama sekali tidak ada,
yang ia tahu adalah bagaimana berusaha untuk tetap hidup dengan
menjadi kuli di sana-sini, kesadaran kemerdekaan Indonesia ada di
pikiran Suharto ketika ia ikut proses penyadaran politik di Pathuk,
Yogyakarta. Disinilah peran Sukarno, Hatta, Sjahrir atau Tan Malaka
dalam melakukan proses penyadaran bagi bangsa Indonesia bahwa diri
mereka dijajah. Atau pernyataan Jenderal AH Nasution ketika
dimintai pendapatnya tentang Sukarno dia berkata "Bung Karno sudah
mengobarkan penyadaran kemerdekaan, sejak saya belum tahu apa
artinya merdeka"

Begitu juga dengan perjuangan penyadaran kelompok tertindas kita
tidak bisa melihat dari tingkat utilitas ekonomi kaum tertindas,
mengatakan bahwa buruh cukup senang dengan gajinya, adalah
pernyataan dari teropong orang yang terima duit 30 juta sebulan dan
berjibun fasilitas dengan orang yang terima duit 600 ribu sebulan
dengan beban ekonomi berat. Dan pernyataan itu dikeluarkan oleh
pihak pertama dengan selubung jangan sampai saya disamakan dengan
yang enam ratus ribu. Disinilah kunci dari permasalahan konflik
sejarah bermula. Kelas yang menindas punya kemampuan berkomunikasi
dan akses penyebaran komunikasi sementara kelas tertindas masih
sibuk mempertahankan hidupnya….termasuk perempuan-perempuan
Indonesia korban kekerasan subordinat

Majulah Perempuan Indonesia !!!!

ANTON