Pernahkan anda berdesakan KRL tiap hari melawan arus manusia, berdesakan di PPD, mengejar-ngejar Metromini, Kopaja, Mendengar teriakan "Enam empat…enam empat…" di Mikrolet? Kalau sudah mendengar itu maka anda bisa mendalami makna tuntutan Perbaikan Transportasi di Jakarta.



Awal tahun 2004 saya masih ingat sekali (kalo ndak salah Tempo)
melihat gambar karikatur Sutiyoso sedang bermain skateboard di Cover
majalah yang secara implisit Busway adalah jalan menuju RI 1. Saat
itu proyek Busway bergulir dan dengan sikap tambeng Sutiyoso terus
melakukan apa yang dia mau terhadap perbaikan Transportasi Jakarta
ditengah hujan kritik. Terlepas dari siapa Sutiyoso di masa lalunya,
apa yang dia lakukan pada proyek busway merupakan sebuah keberanian
luar biasa melakukan revolusi transportasi di Jakarta Raya. Sutiyoso
berani menghadapi jutaan kepentingan modal di Jakarta, tekanan-
tekanan politik dan masalah kemacetan.

Busway adalah sebuah miniatur kecil bagaimana perubahan bisa
dilaksanakan di Indonesia. Sudah lama rasanya kita mengalami
stagnasi, tidak ada lagi inspirasi-inspirasi kepemimpinan yang
berani melakukan perubahan. Dan Busway sebagai langkah awal
perubahan demi kemajuan, efektifitas dan modernisasi Jakarta adalah
contoh bagaimana perubahan menuju perbaikan itu pada awalnya
menyakitkan. Jalanan Jakarta dirubah dengan begitu dramatis oleh
Sutiyoso lewat proyek beraninya. Busway.

Memang Busway jauh dari ideal dari sarana transportasi modern. Tapi
ingat yang dihadapi Sutiyoso adalah masyarakat Jakarta bukan warga
Singapura, Hongkong, London atau New York. Masyarakat Jakarta sudah
lama terbentuk polanya menjadi masyarakat Kapitalis beraliran buas,
KKN dan tidak disiplin. Orde Baru dengan tangan besi-nya pun tidak
mampu menegakkan kedisplinan secara total terhadap warga Jakarta
(masih ingat `Gerakan Disiplin Nasional'?). Tingkat kedisiplinan
yang hancur lebur berkelindan dengan rekayasa Lalu lintas dengan
bangunan bawahnya Imperialisme Kapitalisme menjadi Jalanan
Jakarta `bukan untuk rakyat banyak', bukan untuk kepentingan Publik
dan urusan-urusan publik tapi lebih pada pertarungan buas mengejar
gengsi sosial. Di jalan Raya-lah pertarungan sosial masyarakat
Indonesia terjadi.

Melihat jalanan Jakarta pernahkah kita merenung `apa yang terjadi
pada jalanan yang buas itu?' kenapa bisa begini hancurnya? Dalam
pandangan saya apapun bentuk susunan bangunan sosial selalu saya
perhatikan dulu `bangunan bawahnya' apa yang melandasi susunan
bangunan sosial itu terbentuk. Dan susunan bangunan bawah jalanan
di Jakarta adalah susunan Kapitalis Industri. Jalanan Jakarta
direkayasa sebagai `pusat konsumsi produk-produk Industri negara
maju' dengan liarnya Jakarta seperti tanpa aturan dalam menelan
semua produk otomotif sehingga Jalan Raya bukan saja
kehilangan `makna sosialnya' tapi juga kehilangan `kemanusiaannya'.

Dulu di jaman Bung Karno untuk mendapatkan/membeli mobil seseorang
harus meminta ijin pada Direktorat Perhubungan dan sulit sekali
mendapatkan persetujuan dari formulir yang diajukan. Hal itu
dilakukan karena jalan-jalan Jakarta sudah dianggap penuh. Jadi
kendaraan bermotor di jaman Bung Karno masih merupakan barang
fungsional tanpa kepentingan-kepentingan kapital yang buas. Namun
setelah Suharto naik kendaraan bermotor sudah bertransformasi
menjadi kepentingan bagi akumulasi modal kaum kapitalis. Disinilah
kemudian terjadi penimbunan besi-besi tua kendaraan yang polutif. Di
Tokyo, Paris, London, New York dan Singapura peraturan mengenai
otomotif sungguh ketat bagi kawan-kawan yang pernah tinggal di USA
tentunya pernah merasakan peraturan tidak boleh memanaskan kendaraan
di depan rumah karena dikhawatirkan asap polusi kendaraan
terkonsentrasi di lingkungan perumahan. Namun di Jakarta apa saja
boleh. Apakah di Tokyo diperbolehkan jenis sepeda motor buatan
pabrik Honda, Suzuki, Yamaha yang disini sangat polutif digunakan di
jalan-jalan kota. Saya yakin mereka menolak. Biarlah sampah produksi
dibuang ke negara terkebelakang, dan kita dengan bangga menaiki
barang `sampah' negara maju sebagai bagian dari gengsi sosial.
Mereka yang dapat duitnya.

Momentum buasnya jalanan Jakarta adalah ketika kaum mahasiswa-
mahasiswa dikalahkan dengan licik oleh Negara Orde Baru pada
peristiwa Malari 1974 yang kemudian secara simbolik diikuti oleh
kemenangan kaum penyelundup dimana monumennya adalah Robby Tjahjadi,
idola anak muda jamannya. `Robby Tjahjadi Affair' kemudian malah
menggeser Jenderal Polisi Terbaik sepanjang sejarah Pak Hoegeng Iman
Santoso. Inti dari peristiwa Malari adalah gerakan mahasiswa yang
menolak dengan tegas kerakusan impor barang-barang asing. Impor yang
berlebihan akan membuat produksi dalam negeri tersendat sehingga
tidak bisa melahirkan `masyarakat produktif' terbukti apa yang
dikhawatirkan Dorodjatun Kuntjorajakti cs sekarang terbukti.
Masyarakat Indonesia saat ini adalah masyarakat yang memiliki
derajat konsumsi paling fantastis di dunia.

Oleh Suharto momentum Malari digunakan untuk menyingkirkan perwira-
perwira kuat disekeliling dia. Jadilah apa yang dilakukan Hariman
Siregar cs dijebak menjadi proxy war kalangan Istana yang juga
kemudian diikuti kematian gerakan mahasiswa. Robby Tjahjadi sendiri
merupakan sebuah puncak dari rangkaian mata api selundupan yang
terjadi setelah Orde Baru memegang kekuasaan. Suharto sendiri jauh
sebelum menjadi Presiden dikenal sebagai `Perwira Penyelundup'
berikut ulasan Kolonel Latief terhadap kelakuan Suharto pada saat
dia menjabat Komandan WK III :

"Menurut pak Latief, kesatuan pak Harto memiliki beberapa bus
rampasan perang yang kemudian di `obyek' kan dengan rute Solo-
Yogyakarta. Hasil obyekan tersebut tidak jelas keman larinya.
Soeharto juga mengambil beberapa Jeep warisan tentara sekutu yang
seharusnya menjadi milik Sri Sulatan Hamengkubuwono IX. Namun dengan
akal bulusnya jeep-jeep tersebut diambil alih untuk kesatuan dan
keperluan pribadinya".


Di Makassar juga Letkol Suharto pernah ditempeleng oleh Kolonel
Kawilarang karena terbukti ingin membawa mobil selundupan, Rosihan
Anwar dalam bukunya In Memoriam (hal 310) mencatat :
…Kolonel Kawilarang menempeleng perwira bawahannya yaitu Letkol
Suharto, Komandan Brigade Mataram di Kade pelabuhan. Tatkala
dilihatnya kapal memuat kendaraan-kendaraan yang hendak
diselundupkan ke Jawa.

Tidak itu saja Suharto juga pernah mau diseret oleh AH Nasution ke
pengadilan dan mengancam akan mencopot jabatannya karena ada laporan
yang menyebutkan Suharto terlibat dalam `usaha-usaha yang tidak
benar' untuk memperkaya diri sendiri. Kasus ini membuat Suharto
merasa dendam dengan AH Nasution dan orang-orang dibelakang Pak Nas
yang mendukung Nasution, seperti Yani dan perwira SUAD lainnya.
Ternyata apa yang dilakukan Suharto di masa mudanya dengan ketika
dia menjabat menjadi Presiden memiliki korelasi yang kuat, yaitu :
Diijinkannya ekonomi selundupan dan salah satu yang menjadi korban
dari perekonomian selundupan adalah jalan-jalan raya Jakarta. Robby
Tjahjadi yang menjadi `pahlawan kaum Penyelundup' menumbuhkan
semangat importir mobil besar-besaran di Jakarta. Pada awalnya
jalanan Jakarta masih sanggup menampung ledakan kendaraan bermotor
namun di awal tahun 80-an jalan-jalan Jakarta sudah tidak sanggup
lagi menerima pertumbuhan kendaraan.

Solusinya kemacetan Jalan-Jalan Jakarta bukan menciptakan sistem
transportasi massal yang efisien dan memihak pada rakyat kebanyakan
tapi dibangunlah jalan-jalan tol ditengah kota dan jembatan layang
baru dimana pada akhirnya yang menerima akumulasi modal ya…kroni-
kroni Suharto. Jalan raya seakan-akan terlarang bagi kaum marginal,
kemanusiaan jalan raya yang bersahabat, dekat dengan lingkungan dan
menjadi ruang publik yang nyaman terampas oleh kepentingan-
kepentingan kapital.

Apa itu kepentingan-kepentingan kapital yang menjadikan jalan raya
sebagai objeknya? Bila anda melihat transportasi umum di Jakarta
selama 30 tahun tidak berubah disitulah kaum kapitalis sedang
memainkan surplusnya. Coba perhatikan bentuk metro mini, Kopaja,
Angkot-Angkot kota, dan kendaraan publik lainnya semuanya dirancang
untuk tidak nyaman. Bila kita menganggap itu karena memang
penumpangnya memiliki daya beli rendah itu mungkin masuk akal `ada
barang ada rupa' tapi perlu diingatkan Indonesia adalah negara kaya
raya, setidak-tidaknya lewat boom minyak 73 saja Negara bisa
memordernisir infrastruktur dan instrumen-instrumen penunjang
lainnya untuk kepentingan publik. Negara bisa mengeluarkan obligasi
Modernisir Angkutan umum misalnya yang memiliki maturity date sampai
30 tahun atau pinjaman asing berbunga rendah dengan jaminan
tertentu. Tapi itu tidak dilakukan negara. Cash Inflow (dana yang
masuk) digunakan untuk kepentingan-kepentingan yang kurang strategis
dan sisanya dikorup habis-habisan. Lalu disinilah kemudian para
kapitalis yang berkepentingan dengan lakunya produksi otomotif
bermain dengan pihak pejabat yang korup untuk sengaja membiarkan
pembusukan angkutan jalan raya, sehingga pelan-pelan angkutan umum
dijadikan kelompok Marginal, bahkan dibuang dalam sistem masyarakat
Orde Baru. Jadilah kelompok yang menumpang angkutan umum dicap
sebagai `orang-orang diluar sistem yang gagal dan tidak terhormat'
dan memiliki kendaraan dijadikan sebuah `destination of life' tujuan
hidup, padahal di negara-negara yang sistem transportasi-nya maju
kendaraan bermotor hanyalah sistem penunjang saja, bukan menjadi
bagian dari hidup mereka (kecuali Amerika Serikat). Dengan sistem
angkutan Jalan Raya yang bobrok maka dalam alam bawah sadar manusia
Indonesia diarahkan oleh kekuatan Kapital menjadikan kendaraan
bermotor pribadi menjadi kebutuhan pokok. Disinilah kemudian manusia
Indonesia diperbudak oleh kendaraan bermotor pribadi. Apa yang
semula adalah benda fungsional digeser secara transformatif menjadi
benda primer berbungkus sejuta tampilan dan kepentingan. Jadilah
memiliki kendaraan bermotor menjadi kewajiban bagi warga Jakarta
lengkap dengan gradasi-gradasi kemewahannya. Namun apapun yang buruk
akan selalu melahirkan kontradiksi. Pertumbuhan konsumtif kendaraan
bermotor di Jakarta tak sebanding dengan angkutan Jalan Raya kota.
Saya dititik ini belum tahu apakah kemudian MRT juga merupakan
bagian dari rekayasa Imperialis dan Kapitalis, namun stagnasi
terhadap kekacauan sistem lalu lintas Jakarta satu-satunya solusi
hanyalah mengurangi kepemilikan kendaraan bermotor dan memodernisir
angkutan kota secara komprehensif. Angkutan Jalan Raya dibangun
terintegrasi dengan desakan kebutuhan masyarakat diluar kepentingan-
kepentingan akumulasi kapital.

Busway adalah pembuka jalan untuk mewujudkan transportasi massal
yang dibangun dengan rasa hormat terhadap pemakainya. Bila anda naik
Busway, setidak-tidaknya ada senyum dan pelayanan yang baik dari
pengelola terhadap penumpangnya. Disini pihak pengelola menempatkan
penumpang sebagai person yang dimanusiakan. Walaupun memang ada
keluhan disana sini terhadap kelemahan sistem Busway, namun segala
sesuatu pada awalnya adalah sulit tapi yang terpenting kita berani
memulainya.

ANTON