Sunday, September 09, 2007    “Ini adalah masalah prinsip, menyangkut nama baik saya!!” Dengan garang diucapkan oleh seseorang yang mempunyai nama tenar di dunia media. Semua orang mengenal namanya.

Dengan titik awal seperti itu maka mediapun memukul genderang freedom of speech, tidak peduli dan tidak hirau kepada iblis sekalipun, diterjangnya, agar dapat memasuki file rahasia sang jagoan di atas. Maka terbukalah sedikit, sedikit lagi, menjadi bukit, menjadi gunung dan ketika hampir meledak maka diumumkanlah kompromi dari dua pihak yang bertengkar. Terjadi kompromi dan media tidak mendapatkan ledakan seperti diharapkan semula. Apa sebab bisa demikian? Tidak lain dan tidak bukan, karena yang disebut prinsip tadi secara perlahan sirna karena sengaja disirnakan. Lenyap, karena memang dilenyapkan. Uang berbicara, bisik seseorang yang lain. Uang? Iya, apa lagi? Ada perusahaan Public Relations yang ikut masuk ke dalam kancah perhelatan dan membuat gerakan keras serta efektif, singkat dan tegas. Media bungkam dan kedua pihak yang berseberangan sekarang bisa bersalaman dan malah berangkulan. Itu semua karena ada sarananya: uang. Uang inilah yang melumasi gerakan perusahaan Public Relations tadi.

Masih banyak prinsip yang akan takluk terhadap pendekatan (approach) canggih yang dilakukan, sehingga konfrontasi bisa dijinakkan tanpa merugikan pihak manapun juga. Public Relations Personnel ini adalah orang-orang yang canggih di bidangnya. Ada yang bisa memoles barang buram, menjadi mengkilat berkilauan dengan menggunakan ilmu Image Builder.

Public Relations (PR) ini mulai menarik perhatian saya ketika Libya diserbu oleh Ronald Reagan dengan kapal-terbang kapal-terbang canggih pada masa itu dengan peluru dan bom.

Pesawat-pesawat berangkat dari Amerika dan mampir, difasilitasi oleh Kerajaan Inggris, terus langsung datang tiba-tiba di Libya dan mengamuk sesuka-sukanya. Khadafi, sang pemimpin dan musuh Amerika, menderita kerugian salah seorang anggota keluarganya meninggal dunia akibat serangan itu. Terkenal sekali umpatan Ronald Reagan ini yang menggambarkan Khadafi sebagai The Mad Dog fom Middle East. Wah, cowboy ini amat keterlaluan. Tapi apa yang saya “dengar” kemudian? Khadafi menyewa seorang PR Man yang konon katanya dari Prancis, bayarannya tujuh juta US. Maka media tidak lagi ikut menjuluki The Mad Dog, seperti si Cow Boy itu, cow boypun cuma terbatas didalam film saja. Hahahihi.

Saya anggap itu semua cuma sandiwara politik diatas panggung. RReagan pemain sandiwara yang asalnya aktor film dan mewakili kepentingan yang lebih besar: serakah minyak. Setelah kejadian serbuan di atas, Kadhafi dilarang untuk menerbangkan pesawatnya ke luar dari negaranya sendiri. Dia mau ke Mesir, pakai kendaraan darat. Pemerintahan Amerika ini persis seperti the Global Police.

Itulah sebab-sebab mengapa saya, sudah agak lama, mengurangi dengan agak berangsur-angsur menghilangkan sebanyak mungkin prinsip yang ada didalam pikiran dan ada didalam batin saya. Semuanya ini demi kesehatan saya sendiri.

Anda semua yang sudah cukup umur, pernah mendengar bagaiamana bencinya orang Amerika dan pemerintahnya terhadap Stalisnisme, Leninisme. Dan tentu saja tidak ketinggalan Komunisme yang telah pernah disebut sebagai biang kerok dan biang keladi ketidak-beresan kehidupan di dunia: Republik Rakyat (Tjina) Tiongkok pimpinan Mao Tze Tung dan Chou En Lai. Belum lagi orang yang dimusuhi ini meninggalkan dunia fana, Presiden Richard Nixon datang melawat ke China dan bersalaman dan berhubungan mesra dengan Chou En Lai.

Ini semua berkat kunjungan ke RRT oleh Menteri Luar Negeri Henry Kissinger yang amat rahasia tetapi berkali-kali.

Damailah kedua negara yang bermusuhan itu, Amerika Serikat dan RRT alias China. Inipun tidak akan dibantah karena uang juga, karena dua-duanya mempunyai kepentingan perdagangan.

Maka berita-berita di dunia ditambahi dan dilengkapi dengan berita dibukanya usaha Kentucky Chicken atau Mac Donald’s di negara-negara Komunis. Sekarang di China manusianya tidak berbaju hitam atau biru tua dengan potongan pakaian model Mao Tse Tung lagi, tetapi sudah naik mobil mewah dan berdasi serta berjas yang menggunakan bahan kain mahal. Mana itu orang-orang China yang dulu memaki-maki imperialisme dan materialisme serta menyumpahi dan menyerapahi kaum padat modal Amerika?

Sirna, sirna…

Mana yang pernah disebut dan bernama prinsip??

Ah, mungkin sekali saya sudah lupa.

Viet Nam sekarang, selalu siap sedia menerima investasi apapun dari bekas musuh bebuyutannya: Amerika. Dan Amerika juga sudah lupa pernah memasok uang sebanyak sepuluh juta USDollar setiap hari di seluruh Viet Nam berupa peluru, senjata kimia serta bom-bom. Uang itu di dapat dari pajak rakyat Amerika. Tidak mungkin kita dapat melupakan medan-medan pertempuran yang menyita nyawa serta harta yang tidak ternilai dan menyerahkan sebanyak seratus ribu lebih jiwa prajurit Amerika Serikat. Ini semua demi apa? Tidak akan ada yang bisa menjawab dengan gamblang dan tepat. Jawaban akan kabur dan tidak akan bisa memberikan judgement yang masuk di akal.

Terbukti nyawa manusia telah digunakan tanpa hasil guna dan kita bisa saja mengatakan bahwa tidak dapat atau dapat memberikan pembuktian penghilangan nyawa sebanyak itu hanya percuma saja.

Di Indonesia juga selama ini banyak terjadi, mindset yang bersandar kepada prinsip atau sebaliknya, yang menyebabkan darah saudara sendiri tumpah atau darah sesama anggota suku atau organisasi juga tumpah, bahkan nyawa sekalipun melayang.

Apa yang diperoleh? Jawabannya pun bisa saja secara acak malah acak-acakan dan tidak kuat alasannya.

Kalau markas PDI bisa diluluh-lantakkan dengan lemparan batu dan pukulan tinju, apakah hasilnya? Malah Ketua Umumnya menjadi Wakil Presiden dan kemudian sekali menjadi Presiden Republik Indonesia. Berapa korban? Rahasia. Tidak jelas.

Orde Baru juga tidak kurang menggunakan prinsip yang kuat. Habiskan PKI sampai ke akar-akarnya. Maka bergeraklah Babinsa, Kodim, Korem dan Kodam menghantam siapapun: rakyat jelata, Angkatan Tentara Darat sendiri, angkatan Tentara yang lainnya, Angkatan Kepolisian dan lain-lain kelompok dengan sekenanya dan bebas dan tegas serta keji.

Apa yang diperolehnya? Duit?? Kegagah-beranian??

Prinsip-prinsip seperti ini secara makro bisa dilihat dan dirasakan telah merugikan luar biasa ke dan di segala sudut kehidupan.

Secara moral, seluruh bangsa Indonesia telah merugi.

Secara materi juga. Dan sejarah berwarna hitam kelam, tak terlihat!! Pura-pura lupa dan juga sengaja melupakan.

Kalau semua kejadian yang saya ungkapkan diatas banyak ditutupi sekarang, hal itu tidak ada gunanya. Bukankah sejarah yang terjadi pada ribuan tahun yang telah lalu bisa diungkapkan? Saya telah membaca banyak tulisan yang meragukan banyak hal mengenai Jesus, mengenai Muhammad dan mengenai Eisenhower atau Roosevelt dan mengenai Hang Tuah.

Apa susahnya, sekarang saja, tidak usah menunggu kalau saya sudah mati, bagi cucu-cucu saya mencari mengenai hal-hal yang mengungkapkan kejelekan saya. Gampang itu. Saya yang telah berhati-hati sejak lama, malah sudah cukup lama juga mengurangi berprisip ini dan itu, masih juga telah melakukan kesalahan di sana dan di sini.

It is only human to err atau to err is human. Whatever….

Apakah ada orang yang bebas salah di dunia ini? Biar AA Gym?? Biar Abu Bakar Baasyir?? Biar Gus Dur? Biar Ibu Teresa? Bahkan Pavarotti?? Menteri Agama RI saja dihukum penjara.

Menurut pendapat saya, karena saya amat percaya bahwa apapun yang ada di dunia ini, tidak mungkin menolak perubahan, maka yang tinggal dan tetap tidak berubah itu cuma satu:

Perubahan itu sendiri yang tidak pernah berubah !!!

Setelah merenungkan hal-hal ini, masihkah saya harus berprinsip??

Tentu saja saya jawab IYA.

Prinsip apa lagi??

Kali ini saya sedikit ragu, apa yang berikut ini bisa disebut sebagai prinsip: tidak mengambil hak orang lain, tidak mencuri, tidak melanggar undang-undang dan meminta maaf segera atas kesalahan yang telah disadari dan tidak bersenang-senang di atas penderitaan atau kesusahan orang lain. Saya ingin tidak terlibat lagi dengan prinsip dan tidak lagi melakukan patriotisme yang akan saya sesali di kemudian hari.

Bukankah dulu pernah ada semboyan yang amat hebat terdengar di telinga kita: Right or Wrong is My Country. Kalau ditanya sejujurnya apa masih hebatkah semboyan itu, apa masih relevant dan apa masih mau saya atau kita bersikap seperti itu? Saya sih akan menjawab: Kemungkinan besar saya tidak akan bersikap apa-apa yang seperti itu. Right is right and wrong is always wrong. Ya memang pada hal-hal tertentu kita terbuai, sekarang ini saya sedikit sekali untuk takut atas ancaman apa saja, misalnya nasionalisme, sorga dan neraka, kualat atau tidak sopan dan lain-lain yang ukuran besarannya tidak ada standardnya. Kalau orang bilang saya kurang sopan, saya bisa saja selalu betanya kembali: ukuran siapa sopan yang dimaksudkan untuk saya itu? Bukankah pembantu jaman dulu itu kalau lupa memanggil majikannya dengan perkataan ndoro atau tuan saja sudah bisa diusir karena tidak sopan? Demikian juga kualat, berdosa atau mendapat ganjaran dari Allah, saya tidak mau percaya. Saya berdosa atau mendapat ganjaran dari Allah, itu tidak lain adalah uusan nanti kalau di pintu akhirat, akan diberitahukan. Bukan disampaikan oleh manusia lain seperti kiai atau pastor atau oleh siapapun yang masih dalam bentuk makhuk hidup termasuk berbentuk manusia, sepanjang dia masih hidup di dunia ini.

Lalu ada lagi semboyan favourite saya: Never again Indonesia will be the life blood of any other nation. Biarpun semboyan ini amat sesuai dengan kondisi masa awal kemerdekaan, kadang-kadang saya merasakan apakah benar isi pesan itu untuk saat ini, pada tahun 2007, sekarang ini? Kadang-kadang juga terasa sudah tidak ada lagi yang namanya life blood itu, karena terlalu banyak dihisap oleh para koruptor yang bergentayangan.

Lalu bagaimana nasib selanjutnya dari prinsip yang artinya jelas tercantum di dalam Kamus: dasar pendirian, tindakan dsb.; yang dipegang sebagai anutan utama?

Jadi tinggallah prinsip atau apapun namanya yang menyangkut diri saya sendiri, saya ulangi: tidak mencuri, tidak menghaki hak-haknya orang lain, tidak melanggar undang-undang negara manapun sebisa dan semampu saya, tidak bersenang senang di atas penderitaan atau kesusahan orang lain, meminta maaf segera setelah menyadari kesalahan yang telah dilakukan, dan lain-lain semacamnya. Yang berhubungan dengan segi sosial akan selalu saya amati dengan hati-hati sekali terlebih dahulu, sebelum mengambil sikap. Sebab sesuai dengan pengalaman selama ini, maka emosi saya telah pernah membawa saya kepada hal-hal yang mengecewakan saya sendiri di kemudian hari. Terlepas dari pendapat orang lain karena sikap yang saya ambil ini, saya tetap akan memakai judgement saya sendiri. Pertimbangan dari istri saya, kalau saja saya rasakan keperluannya, pasti akan saya minta. Saya tidak akan meminta pendapat seorang kiai karena dia adalah seorang kiai, pendapat seorang pastor karena dia adalah seorang pastor atau seorang presiden karena dia adalah seorang presiden. Tetapi saya bisa saja minta pendapat seorang cucu saya karena mungkin saja cucu saya adalah orang yang paling tepat.

Allahhu Akbar – Tuhan Maha Besar.