Ramadhan, siapa tak kenal? Ia tiba setahun sekali, dan dengan segala hiruk pikuknya, pesta pora di akhirnya, siapa tak kenal? Tapi siapa Ramona?



Asrul Sani rasanya orang yang menyandingkan Ramadhan dan Ramona dalam
skenario Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985). Ramona (Lydia Kandouw)
dipasangkan dengan sosok Ramadhan (diperankan Deddy Mizwar) dalam film
arahan Chaerul Umam ini. Ramona adalah tipikal wanita pekerja, aktif,
atlit, namun penuh keraguan dan senantiasa perlu bimbingan Marni (Ully
Artha) dalam mengarungi kehidupannya bersama Ramadhan. Sedikit terlalu
polos, sehingga pemberontakan terhadap pakem-pakem Ramadhan dilakukan
dengan cara yang atraktif-demonstratif, namun tidak mencapai substansi
dan hasil seperti yang diinginkannya. Untunglah ini film semata dan
dibuat di era dimana happy ending masih menjadi pilihan.

Itukah Ramona?

Sosok fiktif lain Ramona pernah hadir dalam film produksi tahun 1992.
Tetap arahan Chaerul Umam, tetapi kali ini ditulis oleh Putu Wijaya.
Masih berada dalam garis yang tak jauh berbeda dengan ramona Asrul
Sani, Ramona Putu juga menggambarkan sosok wanita dalam kehidupan
masyarakat transisi Indonesia, yang masih bergulat dalam sisa-sisa
warisan kemapanan masyarakat agraris dan pertentangannya dengan
dinamika baru masyarakat industrial modern di masa kini.

Itukah Ramona?

Mungkin itu Ramona fiktif karena bermukin dalam ranah fiksi. Seperti
pula Ramona fiksi lain yang menjadi tokoh utama novel karya Helen Hunt
Jackson. Dalam novel berjudul Ramona terbitan tahun 1884 ini, sosok
Ramona adalah seorang gadis berdarah campuran Skotlandia dan Indian
yang dipelihara seorang wanita Mexico, Senora Gonzaga Moreno.

Ramona dalam gambaran Helen Hunt Jackson adalah seorang wanita yang
memperjuangkan cinta. Ia memberontak dari tekanan ibu angkat yang
disadari tak pernah sunguh-sungguh menyayanginya, lari bersama
kekasihnya Allesandro seorang pemuda suku Indian, meski akhirnya sang
kekasih meninggal dalam pelarian mereka dan akhirnya Ramona menikah
dengan saudara angkatnya, Fellipe Moreno.

Kisah cinta Ramona, pelariannya, dan akhir pencarian cintanya menjadi
dongeng yang fenomenal untuk masyarakat Amerika kala itu. Membawa pada
industrialisasi romantisme cinta Ramona yang berujung pada penamaan
jalan, kota, dengan, monumentalisasi moment dan lokasi percintaan
Ramona. Meski bagi penciptanya sendiri, Helent Hunt Jackson,
populraitas itu lebih membuatnya jatuh kecewa. Karena baginya
popularitas Ramona tidak pernah berhasil mengangkat issue sebenarnya
yang diinginkannya.

Itukah Ramona?

Lain Ramona fiksi, lain pula dengan Ramona dalam dunia yang nyata.
Dunia alam, dunia tumbuh-tumbuhan. Ramona dalam dunia alam adalah nama
yang tidak populer untuk dari Sage (Salvia Officinalis), sejenis
tumbuhan dalam keluarga mint (Limiaceae) yang banyak digunakan untuk
menambah aroma pada masakan dan juga dipergunakan untuk obat-obatan.
Salah satu spesiesnya, Sage Putih (White Sage / Salvia Apiana)
misalnya sering digunakan dalam campuran teh untuk menimbulkan efek
mengurangi derasnya keringat, air liur, lendir pada gejala penyakit
pada sinus, kerongkongan dan paru-paru.

Penggunaan tumbuhan ini pada teh dingin dianggap berguna sebagai
penguat perut (stomach tonic), dan pada teh hangat dipercaya akan
memelihara kesehatan kerongkongan. Bahkan penggunaannya juga dipercaya
dapat bermanfaat mengatasi gejala negatif dalam kasus menstruasi
berat, meski karena efeknya mengurangi produksi susu maka tidak
dianjurkan untuk ibu yang tengah menyusui.

Dari Ramona dalam dunia herbal inilah, sinonimnya Sage dalam bahasa
Inggris membawa pada makna bijaksana atau kebijaksanaan. Entah apakah
aroma tumbuhan ini berasosiasi dengan ketenangan, sehingga membawa
kata Sage pada makna bijaksana? Entahlah, tetapi...

Itukah Ramona?


* * *

Setiap tahun, lagi-lagi Ramadhan selalu mencari Ramona. Siapakah
Ramona? Apakah ia sebenarnya? Dimana ia?

Apakah menemukan Ramona, kita menemukan jalan kebebasan dari
pakem-pakem yang membelenggu kehidupan dalam sebelas bulan bak Ramona
dalam Asrul Sani punya cerita? Namun seperti Ramona itu pula ritual
hanya demontrasi atraktif yang tak mencapai substansi sebenarnya?
Seperti Ramona kekasih Allesandro yang tak mampu menyampaikan issue
sebenarnya dalam hasrat sang penciptanya?

Kalau itu Ramona, kalaulah itu Ramona yang dicari, Ramadhan beberapa
tahun terakhir ini mungkin telah menemukannya. Ramadhan-ramadhan
terakhir, ritual rasanya menjadi semakin kehilangan makna. Televisi
mungkin jadi penawar dalam arti harafiahnya. Membuat Ramadhan malah
menjadi tawar dengan segala hiruk pikuknya, dengan lelucon dan tebaran
hadiah pengantar sahurnya.

Pengajian-pengajian menjadi semakin tidak menarik karena kali demi
kali Ramadhan seperti tak membawa perubahan yang bermakna dalam
hari-hari setelahnya. Dalam diri demi diri, jiwa demi jiwa, tak
terbatas kecil besar miskin kaya, rakyat pejabat atau ulama. Sampai
akhirnya hari-hari berlalu dan bertemu lagi dengan Ramadhan, dan
Ramona yang sama.
Ramadhan terasa jadi selebrasi. Mengikuti hari di ujungnya. Pesta
demonstratif-atraktif, dan seperti pula Ramona, Ramadhan tak pernah
mencapai hasil subtansi yang dimaksudkan sebenarnya.

Hari-hari puasa mungkin tidak sampai jatuh menyebalkan, atau mungkin
untuk beberapa orang sampai demikian. Tetapi menjadi jamak ketika
cinta menjadi materi yang populer dalam Ramadhan. Di usung dalam
kuliah-kuliah di setiap saat yang bisa dilakukan. Pagi, siang, malam.
Dalam setiap media yang bisa dimasukkan. Koran, radio, televisi. Dan
seperti Ramona kekasih Allesandro, popularitas cinta berlari-lari
dalam Ramadhan. Mati di sini, hidup di sana. Cinta hanya menjadi
jualan dan kerap terasa bagai bualan dongeng populer, ketika kekerasan
tetap menetap dalam hati, dimana-mana. Ketika seperti dalam kisah
Ramona, kepentingan uang, kedudukan, kehidupan material bagi Senora
Gonzaga Moreno membuatnya tak mampu mencintai Ramona dengan setulusnya.

Itukah Ramona? Fiksikah ia?

Apatah Ramona sesungguhnya ada di sana. Ada dalam aroma Ramadhan.
Aroma yang menyejukkan. Aroma yang menjadi obat. Yang membuat tubuh
dan jiwa menjadi kuat. Yang melegakan kerongkongan. Yang menghentikan
pendarahan? Yang seperti tersembunyinya nama Ramona dalam nama populer
Sage, kemudian membawa kita pada kebijaksanaan yang tersembunyi?

Apakah itu Ramona? Nyatakah Ia?

Atau mungkin Ramona sesungguhnya adalah rangkuman seluruhnya. Ia akan
menjadi aroma yang menyegarkan, menjadi obat penguat jiwa ketika
Ramadhan justru diisi dengan pemberontakan terhadap pakem-pakem
Ramadhan yang selama ini mengungkung kita, yang selama ini tidak
membawa hasil apa-apa. Justru Ramadhan harus diisi dengan pancarian
cinta, bukan berlari-lari bersamanya dalam popularitas, namun dalam
pencarian cinta dalam makna issue yang sebenarnya, yang diinginkan
sang pencipta cinta? Mungkinkah Ramona ini yang akan membangkitkan
kebijaksanaan yang tersembunyi dalam sebelas bulan kita
memporak-porandakan kehidupan dunia?

Entahlah. Tetapi Ramadhan ini, rasanya lagi-lagi tetap harus mencari
Ramona.


Sentaby,
DBaonk


"Mohon Maaf Lahir Bathin"