Tuesday, September 04, 2007     Kemarin, Senin 3 September 2007, di Kanada adalah hari libur dan merupakan hari akhir dari long weekend, tetapi ada parade. Parade ini merayakan Labour Day. Saya yang pernah merasakan perayaan Hari Buruh di Indonesia yang diadakan selalu pada tanggal 1 Mei setiap tahunnya, telah membayangkan parade ini akan sama meriah seperti parade 1 Mei Hari Buruh Internasional.

 

Saya bilang meriah karena memang meriah dan pada sekitar pertengahan tahun 1950an mulailah menjadi amat “merah” warna perayaannya. Saya katakan merah karena memang banyak sekali warna bendera dan umbul-umbul merah yang di”tumpang”kan dan ditampangkan oleh sebuah Partai Politik yang dikenal dengan nama PKI (Partai Komunis Indonesia). Akhirnya semua perkataan pekerja dan buruh sudah dikonotasikan dengan Partai Komunis yang besar ini. Memang besar karena sudah dikatakan sebagai Partai Komunis terbesar yang ada di luar negara-negara Soviet Russia dan Republik Rakyat Tiongkok. Apapun dikatakan oleh orang politik maupun seseorang yang berkecimpung dalam politik, dan apapun juga yang dikatakannya dirasakan begitu pentingnya, sehingga mereka ini amat memandang sepele bahkan ringan saja ideologi atau kepercayaan orang lain yang tidak sama dengan haluan politiknya. Jadi himpunan pekerja dan himpunan buruh dari segala kegiatan usaha, selalu dipenetrasi oleh kaum politik yang fanatik seperti ini. Kaum buruh dan kaum pekerja, karena menghendaki forum yang bisa membawa upaya perjuangan dalam memperbaiki nasib, mereka “membutuhkan” dukungan kaum politisi.

Begitulah waktu berjalan, dan harapan saya tidak lain adalah agar kaum buruh bisa berubah menjadi lebih bijak dalam memilih partnernya.

Oleh karena saya bukan pemerhati yang terlalu cermat terhadap gerakan politik dan ideologi apapun dalam ikut menyelenggarakan pengelolaan pemerintahan yang sehat, saya tidak lagi memperhatikan masalah buruh atau pekerja.

Ketika saya sampai di University Avenue/Queen Street West, ujung depan rombongan pertama dan utama dari parade ini sudah bergerak agak jauh. Saya melihat ekor paradenya yang panjangnya sekitar satu kilometer sampai ujung akhirnya.

Eh, mendekati ujung ekor parade inilah saya hampir kaget karena melihat sedikit persamaan dengan parade di Indonesia pada setengah abad yang lalu. Apa yang sama?

Dari jarak sekitar seratus meteran saya lihat banyak warna merah dan peserta paradenya sedikit lebih kasar dan dekil dari para peserta yang telah terlebih dahulu.

Mereka ini laki-laki berusia muda sekitar tigapuluhan, dan menurut pengamatan saya kemungkinan berasal dari Asia Selatan dan Timur Tengah. Setelah banner dan umbul-umbulnya mulai terbaca, maka kelihatan yang merah terbesar adalah banner dengan bunyi: For REAL CHANGE Vote for: Communist Party of Canada. Dalam brosur yang dibagikannya, tertera bahwa tujuan Partai ini adalah Socialist Canada: a society in which the wealth is distributed equitably among the working people who create it, and where the exploitation and oppression of one human being by another is ended. Bukankah hal seperti ini pernah sering didengungkan di Indonesia dulu? Lima puluhan tahun yang lalu? Tersentak juga saya karena sudah sekian lamanya tidak melihat yang seperti ini. Kemudian di belakangnya terlihat para ‘militan” dandanannya, meskipun kelihatan lembut juga wajah manusianya, adalah dari Iran dan Sri Lanka.

Mereka menuliskan diatas banner yang mereka bawa dengan bunyi antara lain Down with Islamic Republic of Iran dan Stop Support of Terrorism in Sri Lanka.

Eh yang begini ini ditujukan kepada siapa?

Bukankah ini terjadi di negara Kanada?

Apakah “protes” seperti ini akan efektif?

Ah saya tertawa melihat foto yang membawa banner ini bukan menertawakan isinya, akan tetapi menertawakan foto hasil jepretan sendiri tanpa sengaja telah menaruh sebagai latar belakangnya: McDonald’s. Kita semua tahu McDonald’s melambangkan sesuatu yang tidak sejalan dengan komunisme jaman dahulu.

Saya tidak tahu persis bagaimana pendirian mereka saat ini, yang saya tahu di Republik Rakyat Tiongkok (China) dan Uni Soviet saat ini sudah banyak outlet McDonald’s beroperasi sejak lama.

Ah, politik!!

Begitu banyaknya pernah berjatuhan korban-korban luka-luka maupun mati, sekarang dengan gampang mereka sudah saling bersinggungan dan saling menyapa di mana-mana. Komunisme dan McDonald’s.

Sayapun di dalam politik selalu melihat digunakannya slogan dan cita-cita yang setinggi langit, menyuarakan dan memberi harapan keadilan dan kemakmuran bersama. Kaum politikus yang menggunakan agama juga selalu mendengung-dengungkan surga dan ganjaran di akhirat yang lainnya. Baik golongan agama maupun komunis kalau kebetulan mempunyai kepentingan yang sama, maka saya yakin mereka akan menggunakan bahasa yang sama dan kata-kata yang sama dalam upayanya membentuk masa pendukung. Setelah sekian puluh tahun lamanya melihat kenyataan ini, maka saya sudah memutuskan untuk tidak akan mempercayai bahwa masyarakat yang adil dan makmur itu akan pernah bisa berhasil datang, sampai bilamanapun juga.

Mari kita perhatikan berita hari ini di media, mengenai parade Labour Day. Setiap tahun parade seperti ini diikuti oleh sekitar 23,000 sampai 25,000 orang, demikian yang diterangkan oleh John Cartwright presiden dari Toronto and York Region Labour Council.

Para pengikut parade ini yang bekerja di bidang konstruksi, operator-operator mesin-mesin penunjang dan para ahli listrik tidak akan terganggu dengan masalah layoff ini, dan mempunyai masa depan yang lebih baik. Beberapa pekerja manufakturlah yang justru masih merasakan keprihatinan. Menurut laporan yang dikeluarkan oleh Dominion Bank, sejak tahun 2002 sebanyak sekitar 100,0000 pekerjaan manufacturing telah hilang di daerah Greater Toronto Area (seperti Jabodetabek-nya Jakarta Raya) yang meliputi dan menggambarkan sebagai 20 persen dari seluruh sektor. Empat hari sebelum parade, pabrik truk General Motors yang di Oshawa, telah mengindikasikan keputusannya untuk mengurangi pekerjanya sebanyak 1,200 orang.

Salah satu peserta parade ada yang menggunakan truk panjang dan besar, dipenuhi oleh pekerja atau sebaiknya disebut sebagai mantan pekerja, karena mereka adalah orang-orang yang sudah diberhentikan dari pekerjaannya.

Sambil menyanyikan lagu rock dari tahun 1980an, mereka secara bersama meneriakkan syair lagu itu dengan lebih kentara: “It’s the end of the world as we know it……… It’s the end of the world as we know it ..….” Salah seorang diantara mereka ini bernama Martin berusia 42 tahun. Dia memang merasa dunianya telah berakhir setelah dia di-layoff pada tanggal 15 Desember. Perusahaan dimana dia telah bekerja selama 17 tahun lamanya di perusahaan bernama BALL PACKAGING yang menutup pabriknya di Burlington. Dia mengatakan: “Nobody’s paying attention in Government. I want to see them address all the manufacturing job losses that are going on. There’s a lot of people suffering – me being one of them.”

(Tidak ada yang memperhatikan dari pihak pemerintahan. Yang saya inginkan adalah agar mereka mengatur dalam mengatasi semua kehilangan pekerjaan di dalam bidang manufacturing yang sedang berlangsung ini. Banyak orang sedang susah dan saya adalah salah satunya).

Isu-isu yang seperti inilah yang patut ditonjolkan dan diketengahkan di dalam masyarakat dan bukan teriakan yang sifatnya hanya slogan-slogan kosong belaka. Bukankah saya sudah melihat sendiri selama setengah abad lamanya, bahwa sistem kapitalisme pun tidak selamanya berhasil, sama halnya dengan komunisme. Yang berhasil di Republik Rakyat China dan Soviet Russia sekarang ini adalah kepandaian para pemimpinnya membawa rakyat menjadi pekerja-pekerja tangguh, untuk secara positif berproduksi untuk menjual dan menghasilkan pendapatan serta nafkah halal bagi setiap rakyat yang hidup di negaranya.

System partai atau anutan politik tertentu di manapun di dunia ini tidak akan berhasil kalau hanya berhalusinasi dan melamun tiada habisnya. Berhentilah selalu melamun berkepanjangan, hai para pimpinan Republik Indonesia, dan gerakkanlah rakyat untuk menjadi produktip, bukan saja untuk mengisi kas Negara, tetapi utamanya mengisi kantong-kantong setiap manusia Indonesia yang bekerja, dengan lebih banyak uang. Itu berlaku di negara manapun, bahkan di Indonesia.

Bagi saya, bukankah lebih baik apabila kita kehilangan dan atau menghilangkan nafkah bagi yang selama ini menangguk keuntungan dalam bidang materi karena menggunakan politik dan agama, daripada kita tidak berhasil mengajak rakyat untuk tidak berpenghasilan? Berapa orang jumlah politikus? Berapa pula jumlahnya yang menggunakan agama untuk kepentingan kantong uangnya sendiri? Pasti jumlahnya kecil sekali. Bukankah baik bila semua potensi yang menambah kemakmuran ekonomi disalurkan dengan piawai ke arah rakyat jelata??

Mereka ini yang biasanya hanya rakyat jelata tidak bisa atau kurang mengetahui diarahkan ke mana mereka selama ini?

Saya menganggap apa yang tertera diatas adalah logic yang amat saya yakini telah dipahami pula oleh para politikus dan juga oleh para agamawan. Berhentilah serakah Tuan-Tuan dan ingatlah anda pasti akan memperoleh imbalan yang juga baik, apabila sekeliling anda juga makmur, atau setidak-tidaknya menjadi lebih makmur daripada sekarang ini.

Dalam ajaran politik dan agama manapun saya tidak pernah menjumpai bahwa seseorang dilarang menjadi kaya, akan tetapi secara etis dan secara moral normal, kekayaan itu harus didapat dengan normal pula. Tidak ada justifikasi, bahwa seorang pegawai Bea Cukai atau pegawai Pajak dari tingkat dan golongan manapun untuk bisa memiliki rumah kediaman lebih dari tiga atau empat buah; apalagi masih ditambah dengan mobil yang aneka warna.

Saya ulangi: marilah kita ciptakan peluang bekerja yang efektif dan halal sebanyak-banyaknya. Janganlah bermimpi akan pernah bisa datang masyarakat yang adil dan makmur sampai bilamanapun, dan berhentilah bersifat serakah, hai para tokoh masyarakat. Bersikaplah sederhana, hiduplah sederhana dan kurangilah berfikir yang muluk-muluk, apalagi yang hanya dipakai sebagai alasan untuk menyenangkan diri sendiri pula.