Pejuang HAM almarhum Munir rupanya sempat terperdaya oleh sebuah komplot yang membujuk, kemudian meracuninya di bandara Singapura Changi. Adanya komplot rapi tersebut tampak dari keterangan Kabareskrim (Kepala Bagian Reserse dan Kriminalitas) Polri Bambang Hendarso tentang tiga buah novum atau temuan baru. Jumat 13 April, berkas polisi tersebut resmi diserahkan kepada Kejaksaan Agung. Ada dugaan, mantan Direktur Garuda Indra Setyawan, seorang warga Indonesia asal Ambon dan dua warga Belanda akan segera diperiksa pihak kehakiman. Akankah Kejaksaan segera menahan, dan menjadikan mereka tersangka dalam waktu dekat?  (juga dimuat di Radio Nederland Wereldomroep 13-04-2007)

Laporan Aboeprijadi Santoso dari Jakarta…

Tiga novum yang terungkap
Tiga buah novum yang diungkap Kabareskrim Bambang Hendarso tersebut
meliputi pertama, berkas administrasi Garuda, kedua, sejumlah saksi
kunci baru dan ketiga, sejumlah berkas surat menyurat yang
menunjukkan adanya komplot terrencana. Bambang Hendarso tidak
mengungkapnya secara rinci, tetapi dia berulangkali
menegaskan, “kita tidak boleh berandai-andai, yang saya sampaikan di
sini semuanya adalah fakta-fakta dengan pembuktian yang kuat”.

Kabareskrim Hendarso tampak pelit dalam mengungkap cerita, dengan
alasan standar “tidak ingin mengganggu proses pemeriksaan”. Akan
tetapi, kalangan pegiat HAM di Jakarta, yang biasanya kritis dan
curiga terhadap kinerja polisi, sekarang berwajah lebih cerah.
KASUM, Komite Pembela Kasus Munir, yang meliputi Usman Hamid dari
Kontras dan Rafendi Djamin dari Human Rights Working Groups,
Rachland Nashidik dari Imparsial dan istri Munir, Suciwati –
semuanya pada umumnya mengakui ada kemajuan, meski mereka tidak
serta merta optimistis akan penuntasan kasus ini. “Saya baru akan
percaya, kalau terjadi penangkapan atas para perrencananya,”
demikian Rachland Nashidik.

Masih diselidiki

Berdasarkan keterangan Kabareskrim mau pun sejumlah narasumber yang
kami hubungi kini komplot terhadap Munir tersebut dapat
direkonstruksikan sebagai berikut. Munir bertolak dari Jakarta
dengan sehat pada 6 September 2004. Menjelang naik pesawat Munir
segera dialihkan ke kelas bisnis oleh Pollycarpus. Dua warga Belanda
asal Indonesia Lie Kie Ngian dan istrinya juga duduk di kelas
bisnis, mereka sebelumnya sempat bertengkar dengan Garuda karena
seharusnya duduk di kelas ekonomi. Akhirnya, Lie yang pria, duduk di
sebelah Munir. Rupanya Munir tidak diracun melalui air jeruk atau
pun mie goreng, melainkan dengan cara lain yang belum terungkap.
Metode yang masih gelap inilah yang dilakukan di bandara Singapura
Changi.

Menurut sejumlah saksi dalam sebuah laporan terdahulu, yaitu Dr.
Drupadi Dillon dan mahasiswi Asrini, Munir tampak pucat ketika
memasuki pesawat sbelum berangkat dari Changi. Keduanya juga
menyaksikan Munir terlibat pembicaraan serius dengan dua orang,
diantaranya adalah seorang yang disebut “preman politik” istilah
yang didengar Asrini dari salah satu pegawai Garuda yang duduk di
depan Munir di kelas bisnis. Suciwati menegaskan, suaminya tidak
suka permen, juga tidak akan mau kalau ditawari makanan, tapi ada
kemungkinan dia terbujuk jika ditawari air minum Aqua. Inilah
agaknya yang terjadi di ruang tunggu di kala transit di Changi.

Para saksi

Rupanya komplot ini memanfaatkan peluang semaksimal mungkin. Sebab
kesempatan menggiring dan berbincang dengan Munir itu akan sangat
kecil apabila Munir duduk di kelas ekonomi yang penumpangnya
berjumlah ratusan dan harus antri lama sebelum keluar pesawat. Jadi,
Munir telah direkayasa agar cepat keluar, itu sebabnya, dia ditaruh
di kelas bisnis. Sejumlah nama disebut-sebut dalam berbagai dugaan
rekayasa ini, tetapi peran-peran persisnya belum jelas. Polly adalah
pembujuk pertama, tetapi siapa yang menemani, berbincang dan memberi
minuman kepada Munir di Changi itu?

Sedikitnya, dua orang, yang satu yang disebut “preman politik” tadi,
seorang berambut gondrong berpakaian rapi dengan kacamata yang
ditegakkan di atas kepala. Dia disebut-sebut adalah seorang pemain
musik asal Ambon yang sering mondar mandir Jakarta-Amsterdam.
Namanya disebut-sebut sebagai “Raymond” atau “Ongen”. Yang kedua
ciri cirinya digambarkan mirip Pollycarpus, namun tidak tertutup
kemungkinan dia adalah Bambang Irawan, seorang mantan perwira
Kopassus yang naik di Changi.

Keterlibatan Garuda

Indikasi Changi sebagai TKP (tempat kejadian perkara atau locus
delict) diperkuat oleh penyidikan polisi Amerika FBI di Seattle yang
dapat memastikan jenis racun arsenicum dan dengan demikian dapat
menghitung ke belakang masa kerja racusn tsb. Namun, belum dapat
dipastikan ketiga atau empat nama tadi akan menjadi tersangka. Yang
juga menarik adalah keterlibatan mendalam Garuda. Mantan Direktur
Indra Setyawan yang terlibat pemalsuan surat surat, demikian juga
Nyonya sekretarisnya Rohaini, sudah resmi sebagai tersangka. Lalu di
mana peran BIN yang selama ini juga banyak disebut-sebut? Ini pun
belum tegas, namun ada indikasi Indra Setyawan bertemu sampai tiga
kali dengan Mayjen Muchdi Pr dari BIN di Kalibata sebelum hari
kejadian Munir.

Betapa kompleks kasus Munir ini juga tampak dari isu seputar peran
pasangan Lie tadi. Ada petunjuk, Nyonya Lie sempat menitipkan sebuah
botol Aqua kepada pramugari untuk disampaikan kepada suaminya.
Selain itu, Lie yang pria, ikut membantu Dr. Tarmizi di pesawat
dengan memberinya minuman. Apabila ini benar, maka upaya pembunuhan
Munir juga berlangsung di pesawat selepas Singapura. Dengan kata
lain, TKP-nya tidak hanya dua: TKP-I perrencanaan, yaitu fasilitasi
kelas bisnis dan TKP-II yaitu peracunan di ruang tunggu Changi, tapi
mungkin juga ada TKP-III yaitu di tengah penerbangan antara
Singapura dan Amsterdam.

Peran pemerintah Belanda

Semua ini akan bertambah jelas apabila pihak pemerintah Belanda
membantu mengungkap bahan bahan katanya yang telah diserahkan kepada
Indonesia, khususnya manifest daftar penumpang yang diterima bandara
Amsterdam-Schiphol.

Apakah kasus pembunuhan Munir akan terungkap, berikut para
dalangnya, akhirnya tergantung tidak hanya pada Jaksa Agung, tapi
juga tergantung pada nyali politik pemerintah Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono.

http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/KasusMunir/Pembunuhan
_munir070413