"Mbak, kalau malam hari warnet ini buka nggak?" tanya saya kepada gadis penjaga warnet yang terletak hanya sekitar 100 m dari tempat kos saya di Kuala Sakti, Peuniti.



"Ya Pak, buka sampai jam dua malam," jawab gadis tersebut.

"Sampai jam dua malam?" saya membatin.

Saya biasanya pulang dari kantor jam enam atau setengah tujuh, setelah
makan malam dulu di kafe masakan Aceh di sebelah kantor, dan tiba
sekitar jam tujuh tempat kos saya, waktu shalat magrib di Banda Aceh
dan sekitarnya.

Beberapa hari setelah sampai di Banda Aceh, saya bertanya kepada Agus,
pengemudi yang mengantar saya pulang, apakah situasi sudah aman benar,
yang dijawab sudah. "Dulu jam-jam segini sudah sepi, orang-orang tidak
berani lagi keluar rumah," jelas Agus. "Malam sering terdengar
tembakan, dan pagi-pagi ditemukan mayat di selokan-selokan, tidak
jelas, siapa dan siapa yang membunuhnya," imbuh Agus. Yang jelas
mayat-mayat tersebut menambah daftar korban konflik bersenjata di Aceh
sejak tahun 1952, dan sekaligus menambah daftar ibu-ibu yang
kehilangan anak-nya, para isteri yang menjadi janda, dan anak-anak
yang menjadi yatim, yang sudah tidak terbilang banyaknya. Tentu saja
ibu-ibu yang kehilangan anak-nya, para isteri yang menjadi janda, dan
anak-anak yang menjadi yatim, tidak hanya dari kalangan masyarakat
Aceh saja, tetapi juga dari aparat keamanan RI yang jumlahnya juga
tidak dapat dikatakan sedikit.

Pertanyaan kuncinya kemudian adalah: "UNTUK APA?"

Ketika MOU Perdamaian Indonesia-GAM ditandatangani di Helsinki tanggal
14 Agustus dua tahun silam, puluhan TV dan layar besar dipasang di
halaman Masjid Baiturrahman yang bersejarah itu, dan begitu nota
kesepakatan ditandatangani tepuk sorak membahana, diselang-selingi
pekikan Allahu Akbar.

Tidak sedikit yang menangis, tetapi juga ada yang tidak, bukan
kenapa-kenapa, sangat mungkin air mata mereka sudah kering, sehingga
tidak ada lagi yang dapat ditangiskan. Rakyat Aceh memang sudah
mengalami berbagai kekejaman dan penderitaan yang luar biasa, baik
dari oknum aparat keaamanan maupun oleh personil-personil GAM
sendiri. Benar-benar masyarakat Aceh, seperti kata pepatah, "Gajah
bertarung dengan gajah, pelanduk mati di tengah". Bagi masyarakat Aceh
sendiri akhirnya, dianggap mendukung GAM mati, mendukung RI mati, ya
mendukung GAM saja sekalian. Karena itu upaya aparat keamanan menumpas
kombatan GAM selama bertahun-tahun jauh dari berhasil. Yang jadi
korban kebanyakannya adalah rakyat sipil yang tidak bersenjata karena
mereka dianggap "pendukung GAM"

Lalu, seperti masih "kurang", bencana alam Tsunami tujuh bulan
sebelumnya, yang disusul oleh gempa bumi dahsyat, meluluhlantakkan
provinsi tersebut , menewaskan sekitar 70.000 orang dan sekitar
200.000 ribu lainnya perlu dirawat di rumah sakit. Dan sekitar 500.000
orang harus hidup di tenda-tenda selama berbulan-bulan. Tidak sedikit
pula yang mengalami trauma psikis, seperti seorang Bapak yang
kehilangan anak perempuannya, dan sesekali datang ke sekolah anaknya
hanya untuk mebagi-bagikan uang kepada teman-teman si anak.

(Ketika menulis alinea ini saya tidak kuasa menahan air mata saya.
Tidak dapat saya membayangkan bagaimana kalau saya kehilangan Meila
atau Ira, apa lagi kedua-duanya)

Selasa pekan lalu saya dan kawan-kawan, bertugas ke Jantho, ibukota
Kabupaten Aceh Besar. Menjelang masuk sampai ke pusat kota, bendera
dan umbul-umbul Merah-Putih berkibar dengan damai. Dulu Jantho dikenal
sebagai basis GAM, di mana para PNS tidak berani memakai pakaian
seragam. Bisa-bisa kepala berpisah dengan badan.

Tetapi apakah semua orang di Aceh dan di Jakarta suka dengan adanya
perdamaian di Aceh?

Sudah menjadi menjadi rahasia umum, namun tidak mudah dibuktikan
secara hukum, bahwa di balik konflik berdarah-darah di Poso dan Maluku
bermain para "profitur" yang mengeruk keuntungan dari konflik berdarah
dari perdagangan senjata illegal dan proyek-proyek operasi militer
lainnya.

Aceh jelas tidak merupakan kekecualian!

Anehkah kalau ada usaha-usaha untuk memprovokasi, agar Aceh yang mulai
tenang dan damai ini agar kembali kisruh? Seperti insiden penurunan
bendera Merah-Putih oleh sejumlah orang tidak dikenal di Lhok Seumawe
beberapa hari menjelang peringatan hari proklamasi?

Yang aneh, bahkan sangat aneh, adalah reaksi Yang Terhormat Ketua
DPR-RI Agung Laksono. "Rakyat Aceh hendaknya menghormati bendera
Republik Indonesia!" sergahnya gagah, yang bagi saya, selain jarang
"menaruh kuping di tanah" Pak Ketua DPR ini juga benar-benar tidak
paham sejarah.

Rakyat Aceh?

Pak Ketua DPR Yang Terhormat, jangan renggut lagi damai dari Aceh,
jangan. Mereka sudah berbuat sangat banyak buat Republik dan mereka
sudah sangat-sangat menderita.

Pelajarilah kembali sejarah!