Tuesday, August 14, 2007 Saya ingin menunjuk sebuah kata, yang oleh karenanya, bisa menentukan akibat yang multi dimensi. Hanya oleh karena satu kata inilah, maka banyak orang atau seseorang akan bisa terkejut sendiri akan akibat-akibatnya.

Kata yang saya maksud adalah mindset atau mind-set yang bisa diartikan dalam bahasa Indonesia dengan sikap mental (mental attitude) atau kecondongan (inclination) atau sebuah ketetapan dari sikap pikiran (a fixed state of mind). Sebuah sikap mental terhadap pemahaman yang sukar diubah dari ketetapan yang didapat seseorang atau sekelompok orang, yang sudah demikian mapannya sehingga keinginannya yang akan amat menguat untuk tetap melanjutkan pola pikir, melanjutkan pilihan dan perangkat atau alat yang telah dikenalnya dengan baik.

Yang biasanya sudah merupakan mindset yang dimiliki oleh seseorang, apabila pada suatu saat terjadi pandangan dan pendapat serta keadaan lain daripada yang telah terukir dan mengakar di dalam pikirannya, maka hampir tidak mungkin baginya untuk mengakomodasikan perubahan. Banyak yang dapat kita ambil menjadi conto dari apa yang telah kita alami sendiri di masa yang telah lampau. 

Saya sendiri mempunyai mindset yang tertanam, dalam melihat, mendengar dan merasakan serta mengalami gerak dinamikanya kehidupan di dalam keluarga ayah dan ibu saya. Pola pikiran serta tindakan keseluruhan anggota keluarga atau clan/kaum keluarga ayah ibu saya sepatutnya saya banggakan kebenarannya dan keabsahannya.

Tanpa saya, atau anggota keluarga yang lain, menyadarinya, mindset saya terbentuk dan berakar. Itu adalah penularan yang di bawah sadar atau tanpa kesadaran penuh.

Lebih-lebih kalau ayah dan ibu saya mengajarkan sesuatu yang juga dilakukan oleh mereka sendiri secara berulang-ulang, maka saya akan terobsesi (terasuki) untuk melakukan yang sama. Dari cara makan dan dari cara mereka bergaul dan bersopan-santun atau berhubungan dengan tetangga, melaksanakan ada-istiadat dan lain-lain yang merupakan ritual yang teratur dari hari ke hari, dan dari hari ke hari selanjutnya. Itulah kalau kita hanya berkumpul dalam clan yang sama, dalam kaum yang sama, maka pandangan dan pola pikir serta mindset kita, hanya sebatas clan atau kaum yang sama pula. Kalau terlalu lama, atau malah amat terlalu lama, maka akan memenuhi syarat apa bila disebut sebagai katak di bawah tempurung

Tetapi sesuai pengalaman maka di dunia ini tidak ada sesuatupun yang kekal. Perubahan pasti akan terjadi dan tidak dapat kita tolak. Mungkin pada jaman entah berapa abad yang lalu, nenek moyang ayah saya yang orang Jawa dan nenek moyang ibu saya yang juga orang Jawa, pasti, karena masyarakatnya kecil, tidak mengalami perubahan besar. Interaksi telah terjadi antara keluarga satu dengan keluarga yang lain. Perubahan-perubahan karena interaksi akan terpaksa terjadi, mau atau pun tidak mau.

Mindset yang ada di dalam pikiran saya dahulu, pada waktu saya masih menjadi murid Sekolah Rakjat tentu akan tidak sama dengan yang pada waktu saya sudah berpendidikan setelah Sekolah Menengah Atas. Hal ini tentu saja karena saya setelah menempuh pendidikan lanjutan setelah Sekolah Menengah Atas, tidak lagi tinggal di dalam rumah ayah dan ibu saya, bahkan saya berada di luar kota malah di luar negeri.

Ternyata di luar negeri saya terpaksa menjadi ayah saya dan menjadi ibu saya sekaligus. Hampir tiada seorangpun kepada siapa saya bisa dengan manja, meminta sesuatu atau meminta untuk diadakan sesuatu bagi keperluan saya.

Saya harus bisa mengadakan apapun yang saya ingini, berasal dari apa yang sudah saya punyai dalam bentuk benda maupun akal. Saya punya uang atau barang atau pengetahuan harus saya gunakan untuk mendapatkan apa yang saya ingini. Banyak hal yang secara tiba-tiba harus saya putuskan sendiri, oleh karena sering kali saya harus tahu cara mengambil keputusan secara cepat dan tepat. Kalimat berikut saya temukan berkat keadaan yang “sendiri” yang saya alami: Benar hari ini belum tentu benar esok hari.

Pada waktu sedang menempuh pelajaran di kelas terakhir di Sekolah Menegah Pertama Negeri VII di Jakarta, saya mulai mengeksplorasi keadaan rumah tangga lain di luar rumah tangga ayah dan ibu saya sendiri di Jalan Surabaya nomor 13, Jakarta. Hal itu terjadi di rumah teman-teman saya yang terletak di sebuah gang kecil di daerah Petodjo Entjlek dan Bidara Tjina. Di sinilah saya bertemu dengan teman-teman sekelas saya semasa SMP itu di rumahnya, ada yang orang Betawi asli dan ada yang pendatang juga dari Jawa Tengah dan Sumatra. Sayapun makan seadanya disuguhi orangtua teman-teman saya yang macam-macam asalnya itu. Pertama kali saya makan sayur asem Betawi itu sama sekali lain dari sayur asem nenek saya dan ibu saya. Di rumah ibu, sayur asem itu sayurnya cuma kacang panjang, titik. Variasinya cuma paling-paling labu, sudah, itu saja deh. Sayur asem Betawi amat bervariasi. Ada jenis yang isinya mewakili sebagian besar dari seluruh pilihan sayuran yang ada di sebuah pasar. Mula-mula melihatnya kan saya terkena kejut kebudayaan juga (cultural shock). Malah ada oncom segala. Wah !! Kemudian juga ada bumbu merah cabe. Di rumah ibu biasanya bumbu ini Bumbu Bali dan isinya Bandeng.

Di rumah teman saya bertemu ikan asin yang diberi bumbu merah. Ya mula-mula nyungir juga muka saya, tetapi demi menjaga sopan santun dan tidak bisa menunggu kelaparan perut yang makin ganas, saya makan. Wah lahap saya memakannya dan..eh enak bèèng (banget)!! Dari jenis dan model makanan saja mindset saya berubah, belum terhitung yang ada di dalam adat istiadat. Ternyata di luar rumah ayah-ibu saya banyak juga hal-hal yang bisa membuat saya merasa cocok dan sesuai juga.

Lebih sesuai kalau kita pergunakan: Masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang macan mengaum….

Bahwa pepatah yang menyebutkan: dunia tidak selebar daun kelor, menjadi lebih terasa benar.

Bukalah ingatan anda dan kecondongan anda serta sikap mental anda ………… . Bukalah mindset anda. Singkat kata bukalah mindset anda terhadap masukan hal-hal baru; dan akomodasikanlah hal-hal yang masuk akal, yang selama ini masih tersembunyi bagi anda. Setelah diproses oleh kemampuan anda sendiri, maka mungkin ada bagian baru di dalam mindset anda.

Saya beranggapan bahwa tiap manusia mempunyai mindset yang sah saja untuk berbeda dengan mindset manusia lain. Itu hak pribadi dan hak mindset seseorang untuk berkembang atau menguncup.

Di dalam mindset ada kata mind (yang hampir seperti soul/jiwa). Jadi seharusnya tidak bisa dicampuri oleh orang lain, kalau memang dijaga dan dikehendaki agar seperti itu. Hanya kesadaranlah yang akan bisa mengubah sebuah mindset. Hanya pengajaranlah yang merubah kesadaran.

Perhatikan kata-kata Sir James Dewar: Minds are like parachutes, they only function when they are open.

Saya ingin mengutip kata-kata seseorang yang menanggapi salah satu tulisan saya yang lain:

Younger me dan me di dalam kutipan ini, nama aslinya telah sengaja saya simpan, karena saya kutip tanpa ijin dia.

 

Pak Anwari,

It is very interesting to read this post of yours.

Btw, I was born in a very rigidly religious Muslim family, most things are viewed black and white. And I was brought up in such a condition. It was somewhat difficult (for younger me) to accept people's different opinions, moreover when it is related to religious teachings.

Gradually, slowly but surely my reading has shaped a new me that always tries to accept different opinions from other people, and respect them.

That's why I must say that I absolutely agree with what you wrote:

"Marilah kita hidup sebaik-baiknya, hidup berguna buat diri sendiri dan buat sesama. Jangan berusaha menyamakan pendapat, ideologi, menyeragamkan pikiran dan memaksakan kehendak.

Ini semua akan selalu menjadi penyebab keributan, peperangan dan hal-hal lain yang tidak menyenangkan. Rambut di kepala sama-sama hitam (dan putih, dan pirang dan kuning dan lain-lain) tetapi pikiran bisa berlainan. Anggota keluarga saya sendiripun tidak bisa saya paksa untuk mengikuti pikiran dan pendapat saya, karena sejak lahir semua manusia lain bentuk dan kodrat serta nasibnya."

Yang saya ingin garis bawahi adalah bagian yang mengatakan: Gradually, slowly but surely my reading has shaped a new me that always tries to accept different opinions from other people, and respect them – secara bertahap, perlahan tetapi pasti, bacaan saya telah membentuk saya yang baru yang selalu mencoba menangkap pendapat-pendapat yang berbeda dari orang lain serta menghormatinya

Di atas, dalam masa proses me kecil menjadi me besar ternyata bisa berubah mindsetnya disebabkan oleh unsur bacaan dan pengalaman langsungnya dalam bermasyarakat. Dengan demikian terbuktilah yang dia sebut sebagai a very rigidly religious Muslim family itu, yang bisa disamakan dengan tegarnya batu karang, macam The Rock of Gibraltar, ternyata tidak dapat membendung perubahan yang terjadi di dalam diri si me kecil menjadi si me besar.

Pendekatan untuk melakukan upaya pengubahan mindset sebuah golongan adalah dengan pendekatan pendidikan, dialog atau berterus terang saja: mengenalkan idea baru yang mungkin bertentangan dengan mindset yang dituju. Ada kalanya memang yang pahit itu dikemukakan untuk menghindari rasa pahitnya. Terus terang saja, pahit bisa berkurang, berkurang sampai minimum, tergantung kepada tingkat kekenyalan dan kekerasan mindsetnya.

Ternyata untuk mengadakan perbaikan keadaan bernegara dan berbangsa itu membutuhkan perubahan mindset. Bukan cukup mengubah satu mindset tetapi yang diubah harus banyak mindset. Mengubah mindset bukan berdosa!!

Mari kita ambil conto seperti berikut: Apakah anda percaya bahwa Indonesia itu masih seperti diceritakan oleh para pendahulu kita, sebagai sebuah negara yang gemah ripah dan loh jinawi, sebuah negara yang makmur dan subur?

Kalau sebatang kayu dilemparkan saja akan tumbuh menjadi pohon yang rindang dan akan mengayomi? Hal seperti itu amat sering didengungkan dan saya mendengarnya puluhan ribu kali. Sekarang apakah saya masih percaya yang seperti itu? TIDAK sama sekali!! Saya sudah lama mengadakan perubahan mindset saya, yang bukan dosa, sebagai berikut.

Indonesia memang kaya, tetapi tidak usah percaya bahwa tanpa kerja, kita akan bisa melangsungkan hidup dengan layak seperti manusia yang berkebudayaan. Seperti halnya kayu yang akan tumbuh menjadi pohon yang rindang dan mengayomi!! Kita harus bekerja, harus tetap tidak berhenti berusaha dan berupaya, agar kayu benar-benar diupayakan untuk bisa ditanam dengan benar, agar bisa menjadi pohon. Negara kita kaya raya alamnya, tetapi manusianya sedang miskin uang dan miskin budi pekerti. Saya juga telah mengubah mindset saya yang mengatakan, berdoa itu amat berguna bagi keseimbangan jiwa seseorang. Hanya dengan berdoa saja ternyata masih tidak cukup menunjang kehidupan saya, itu jelas. Maka doa bisa disebut baik, kalau disertai dengan ibadah yang seimbang. Setiap hari kita harus menggerakkan badan kita agar bisa menghasilkan sesuatu.

Agar bisa kita bebas menggerakkan badan dalam bekerja, diperlukan pelengkap pakaian yang sesuai. Kita tidak bisa memakai pakaian seperti muslimah yang rapat menutupi seluruh tubuh yang dikatakan sebagai aurat, kalau bekerja di sawah dan ladang. Baju gamis pun tidak sesuai untuk bekerja fisik. Bisakah saya dengan berpakaian sarung dan baju koko melaksanakan pekerjaan saya, misalnya selaku pegawai PLN yang memeriksa kabel udara? Saya harus menaiki tangga-tangga kerja yang tinggi untuk bisa melaksanakan tugas saya. Selain tidak praktis maka akan membahayakan diri saya sendiri.

Ternyata alangkah mudahnya saya bisa mengubah mindset saya, kalau saya hendak, setelah mau untuk ikut berpikir hal-hal yang baru dengan menggunakan logika yang sehat.

Saya juga belajar dari banyak pengalaman langsung, misalnya yang berikut ini. Seorang pemuda berbadan sehat dan terkesan menampilkan kerapian, ingin menemui saya. Setelah memperkenalkan diri dengan sopan dia mengatakan bahwa dia anak seorang teman saya. Maksudnya yang utama adalah ingin mendapatkan pekerjaan langsung di dalam perusahaan yang saya pimpin atau mencarikan dia agar bisa bekerja di tempat lainnya. Menjawab pertanyaan saya, tanpa ragu dia mengatakan bahwa dia baru saja berhenti bekerja karena diperintahkan oleh ayahnya, yang memang teman saya itu. Amat terkejut saya mendengar bahwa dia diperintahkan berhenti dari pekerjaannya hanya oleh karena perusahaan tempat dia bekerja itu adalah sebuah perusahaan keagenan dan penjualan. Produknya adalah minuman keras merek Johnny Walker, whiskey yang terkenal itu! Karena menurut keyakinan ayahnya adalah haram sesuai dengan agama yang dianutnya, maka sang anak harus kehilangan nafkah dan masa depannya menjadi tidak menentu. Sayang sekali saya tidak dapat membantu dia bekerja di tempat saya bekerja, karena kualifikasi yang dimilikinya tidak sesuai.

Berdasarkan pengalaman ini saya berpikir keras, bagaimana kalau ada kasus serupa, kita harus secara bijak dapat menghadapinya? Saya berpikir keras untuk waktu yang lama. Akhirnya saya runut dan saya secara mendalam merasakan bahwa hal pokoknya adalah masalah keyakinan dalam menyembah Allah. Di sinilah saya secara pribadi mengambil kesimpulan bahwa manusia itu tidak boleh menjadi lebih susah atau sengsara karena agama dan kepercayaan yang dianutnya. Menurut keyakinan saya Tuhan tidak akan mengijinkan hal itu.

Mayor Jenderal KKO Ali Sadikin yang pernah menjadi Gubernur DKI Jakarta, mendapat julukan Gubernur Judi, karena menggunakan uang hasil judi untuk membangun Jakarta Raya. Pembangunan amat berhasil, tetapi kaum agama telah mencaci dan memaki di belakangnya, sambil berbisik dan berdesas-desus. Apa kata sang Gubernur? Kalau anda menganggap bahwa biaya pembangunan di Jakarta dibiayai oleh uang haram, maka anda jangan keluar rumah karena aspal yang digunakan untuk jalan di depan rumah anda itu berasal dari hasil perjudian. Kata-kata ini tentunya bukan kata-kata yang populer, akan tetapi amat terkenal beredar di dalam masyarakat. Dari titik inilah saya mengembangkan pengertian, bahwa apa yang dikatakan orang besar ini, benar adanya. Kalau anda tidak memakan daging babi karena begitu ajaran agama anda, maka tidak usah mempunyai upaya untuk menutup warung yang menjual makanan daging babi, atau menjual minuman keras. Kalau harus mau lebih dirinci, sudah sering juga saya mengatakan, bahwa saya menyesalkan cara teman saya memandang masalah haraman, sesuatu seperti minuman keras Johnny Walker, sehingga rela untuk menyuruh anaknya sendiri melepaskan pekerjaannya. Bukankah sebaiknya pula apabila para karyawan yang bekerja di hotel-hotel internasional besar yang menjual makanan babi dan minuman keras yang tergolong haram, berhenti bekerja juga segera. Termasuk akuntan dan SatPam-nya. Dan terpaksalah mereka akan harus melayang di udara, karena kalau berjalan akan menginjak sesuatu yang sama. Apa?

Aspal!!

Aspal sekarang mungkin juga dibiayai oleh pajak hasil penjualan barang haram seperti whiskey dan babi di hotel. Bukankah hotel membayar pajak? Lalu bagaimana dengan pelacuran? Berlangsung juga di hotel-hotel dan tempat-tempat lain.

Uang haram ada di dalam pajak yang dibayarkan oleh tempat-tempat tadi. Uang pajak negara tidak dapat disebut uang halal semuanya!!

Bagaimana melawan sistem yang sudah berjalan seperti ini? Mau pindah negara?

Ke negara mana?

Wah sudah terlalu jauh kita membahas yang tidak akan dapat kita selesaikan, dalam upaya mencari kebenarannya. Lalu bagaimana nasib orang banyak kalau pikiran begini, selama ini, seingat saya belum pernah saya tulis dalam bentuk tulisan seperti sekarang ini? Kalau uang Pajak diragukan halal tidaknya, bagaimana dengan APBN? Bukankah uang anggaran belanja negara dibiayai oleh APBN? Apa saja di dalam APBN? Harus berhenti hidupkah kita?

Mindset yang seperti apa pula ini?

Saya harap para pembaca dapat membantu mencari penyelesaiannya masing-masing sehingga membahagiakan. Tidak usah menjawab pertanyaan di atas dan menujukannya kepada saya atau kepada siapapun.

Saya akan mengupayakan yang terbaik untuk diri saya sendiri dan tidak akan saya ajarkan kepada siapapun, karena kemungkinan akan merepotkan, menimbulkan konflik. Menimbulkan debat yang saya tidak akan bersedia terlibat.