Tag

Rabu, 30 Mei 2007  Menjelang musim semi yang lalu,  Ny. Johanna Lederer, Ketua Perkumpulan  Persahabatan  Perancis-Indonesia, Paris, minta aku menulis sebuah artikel yang bersangkutan dengan  (bangkitnya) BANGSA INDONESIA, bangsa kita. Tulisan itu akan diterbitkan dalam majalah khusus mereka  bernama ‘LE  BANIAN’; pada  kesempatan penerbitan khusus JUBILIUM.  ‘Le Banian’, menurut  keterangan dalam bahasa Perancisnya adalah: ‘Publication de l’association franco-indonésienne Pasar Malam. Selanjutnya dijelaskan bahwa: L’association franco-indonésienne publie tous les 6 mois un journal Le Banian qui traite de l’Indonésie : analyses littéraires, faits de société, poèmes, nouvelles, monographies, etc.

Dengan sendirinya,  terasa   mendapat kehormatan,  suatu Perkumpulan
Persahabatan Perancis-Indonesia, minta aku  menulis tentang BANGSA
INDONESIA, dalam sebuah majalah Perancis, ‘LE BANIAN’,  yang
menerbitkan NOMOR JUBELIUM-nya. Permintaan Mrs Johanna Lederer,
kuterima dengan senang hati. Ini suatu kesempatan baik, fikirku,
untuk sedikit menjelaskan kepada pembaca ‘Le Banian’, yang adalah
orang-orang Perancis, mengenai bangkitnya bangsa kita, BANGSA INDONESIA.

Artikel yang kutulis itu, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa
Perancis. Dan akan disiarkan dalam bulan Juni 2007 ini, khususnya
tertuju kepada  orang-orang Perancis dan pembaca  lainnya yang
berbahasa Perancis. Ketika membaca tulisan ini, harap pembaca
memaklumi, bahwa tulisan ini  pertama-tama dimaksudkan untuk
masyarakat Perancis, dalam rangka memperkenalkan secara singkat dan
pokok-pokok tentang bangsa kita. Dan tanggapan penulisnya, tentu.
Mudah-mudahan berguna juga bagi pembaca Indonesia, khususnya kaum
mudanya.
Sengaja teks bahasa Perancis penjelasan oleh Le Banian dalam paragraf
berikut ini, tidak kuterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Maksudnya
agar pembaca berusaha memahaminya sendiri (tak sulit, kok). Atau
tanya-tanyalah pada kenalan yang mengerti bahasa Perancis. Bisa kan?

‘Le Banian est une publication de l’association franco-indonésienne
Pasar Malam, à la fois consacrée à la vie intellectuelle en Indonésie
ou en lien avec l’archipel et « généraliste », dans la mesure où
chaque numéro propose des poèmes, monographies, études sociologiques,
articles de fond sur la vie culturelle, nouvelles ou extraits de
romans, etc. le tout en français.

Si cette revue cherche à distraire agréablement, son objectif ultime
est de faire connaître la littérature indonésienne en France et de
donner envie aux éditeurs de publier davantage d’oeuvres indonésiennes
en français. C’est pour cela que chaque numéro comporte une nouvelle
ou un extrait de roman d’un auteur indonésien, traduit par nos soins
en français.
*   *   *

BANGKITNYA Suatu NASION INDONESIA
<KHUSUS DITULIS UNTUK MAJALAH ; LE BANIAN’, PARIS.
Untuk Edisi Jubelium, Juni 2007>
Oleh: IBRAHIM ISA,
Sekretaris Wertheim Foundation – Leiden-Amsterdam.

Seorang kawan pernah bertanya: Kapan pada Anda  timbul kesadaran
kebangsaaan Indonesia?
Masih samar-samar teringat,  pada umur 11 th ,  ketika bersama kakak
iparku, kami menghadiri rapat umum GERINDO, di Gg Kenari, Salemba.
Suasananya siap-siap menghadapi kemungkinan meletusnya Perang Pasifik,
dan Jepang menyerbu Hindia Belanda.  Masih terbayang betapa   penuh
sesaknya ruang rapat umum. Para hadirin banyak yang memakai kopiah,
seperti kopiah Bung Karno. Menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang
berbangsa Indonesia.  Kesan kuat yang tinggal  adalah suasana
KEBERSAMAAN sebagai orang-orang Indonesia.

Kuingat-ingat  lagi,  betullah bahwa  kesadaran kebangsaan itu, tak
terlepaskan dari  hubungan kekeluargaan dengan kakak-iparku itu.
Ternyata kemudian memang kakak-iparku itu adalah anggota PNI (Bung Karno).

Semangat kebangsaan  yang ditanamkan pada rapat GERINDO itu, dipupuk
lebih lanjut pada masa pendudukan Jepang (1942-1945). Ketika  itu
secara teratur  anak-anak muda seperti aku,  beramai-ramai mengikuti
rapat-rapat raksasa yang diadakan untuk mendengarkan pidato-pidato
politik Bung Karno. Masih teringat betul  bagaimana Bung Karno dengan
gaya pidatonya yang amat menarik dan mencengkam,   memberikan
pendidikan  politik kepada hadirin, mengenai kesadaran berbangsa
serta menanamkan  cita-cita  mencapai kemerdekaan bagi Indonesia.

Pendidikan  kesadaran berbangsa, patriotisme, cinta tanah air,
membenci kolonialisme,  paling mendalan terjadi semasa Revolusi
Kemerdekaan Indonesia. Ambil bagian langsung dalam revolusi
kemerdekaan telah   menanamkan dan memperkuat  semangat cinta pada
tanah air dan bangsa. Dibarengi dengan semangat  benci serta  berlawan
terhadap kekuasaan asing (Jepang, Inggris dan Belanda) yang ingin
mengembalikan Indonesia sebagai koloni Belanda seperti pada zaman
Hindia Belanda, pada masa  pra-Perang Pasifik.

Kiranya,  sebagian besar pemuda-pemuda Indonesia yang sebaya  dengan
aku ketika itu, memperoleh pendidikan semangat kebangsaan dan
patriotisme kurang lebih seperti yang kualami  itu.

*   *   *

Tanyakan kepada setiap patriot Indonesia bagaimana ia bersikap
terhadap tanah dan bangsanya. Maka bisa dipastikan, akan dijawab
seperti berikut ini: Siapa yang tak akan merasa bahagia dan beruntung;
siapapun  pasti akan  merasa  bangga  secara wajar, bahwa ia
dilahirkan  dan dibesarkan di Indonesia,  sebagai bangsa Indonesia.

Siapa yang telah berkunjung ke INDONESIA,  pasti mengetahui bahwa ,
Indonesia adalah suatu negeri yang begitu indah dengan rakyatnya
begitu ramah dan toleran.  Suatu negeri yang bukan saja  terkenal
karena Pulau Bali-nya,  tetapi juga terkenal  kesuburannya,  ribuan
pohon kelapa  yang menghiasi rangkuman pulau-pulau tropik, sehingga
tepatlah banyak yang memberikannya  nama  ‘Negeri Pulau-pulau Kelapa’.

Seorang ilmuwan/pakar geografi berbangsa  Jerman (1848)  menamakan
ribuan kepulauan di khatul’istiwa itu: INDOS NESOS. Dalam bahasa
Junani, artinya  ‘kepulauan India’. Dulu orang-orang Barat  menganggap
semua negeri di sebelah Timur itu adalah ‘India’.

Dalam waktu panjang dunia tidak mengenal  Indonesia. Mereka hanya tahu
BALI,  atau  Gunung Krakatau yang meledak menghamburkan lava dan abu
pada akhir abad ke-19. Memang tepat, pulau  Dewata  BALI,  lebih
banyak dikenal, karena keunikan kebudayaannya, keindahan dan keramahan
rakyatnya.  Bisanya ada   pandangan yang  demikian itu, tak lain dan
tak bukan ialah karena mereka itu belum mengenal Indonesia  dalam
keseluruhannya, dalam KEBHINNEKA-annya.

Orang dengan sendirinya bangga dengan keunikan negeri  seperti ini.
Ini bisa difahanmi.  Karena,  memang Indonesia adalah  suatu negeri
dengan suatu bangsa yang identitasnya unik. Suatu negeri kepulauan
yang terbesar di dunia. Jumlah total kepulauan Indonesia : 17.508.
Meskipun jumlah penduduknya sekarang ada   225 juta.,  namun kurang
lebih 7000 pulau-pulaunya tidak didiami manusia.  Intresan untuk
diketahui bahwa ratusan  suku-suku bangsa Indonesia itu menggunakan
bahasa daerah yang jumlahnya juga ratusan.

*   *   *

Dalam perkembangan dan pergolakan perjuangan bangsa ini,  nama Indos
Nesos  menjelma menjadi INDONESIA.  Pada  masa awal lahirnya bangsa
Indonesia, yaitu pada mula abad ke-20, penguasa kolonial Belanda tidak
membolehkan penggunaan nama Indonesia. Karena penguasa kolonial
memperhitungkan bahwa penggunaan nama INDONESIA,  berarti memberikan
kesempatan dan syarat tumbuh dan berkembangnya kesadaran berbangsa.
Penguasa kolonial Belanda  menggunakan  nama  HINDIA BELANDA. Sama
halnya seperti pemerintah Perancis yang  memberi nama ‘Indochine’
terhadap  koloni-koloninya Vietnam, Laos dan Cambodia. Juga seperti
halnya pemerintah London  yang memberikan nama British-India pada
India, Pakistan dan Bangladesh terhadap jajahan-jajahannya di wilayah tsb.

Pada akhir abad ke 19, di wilayah itu oleh Belanda diberi nama Hindia
Belanda,   b e l u m    ada satu bangsa, atau nasion  yang disebut
INDONESIA..

Diantara  kurang lebih 150 nasion di dunia ini,  bangsa INDONESIA,
adalah nasion yang tergolong nasion  muda. Sebelum terbentuknya nasion
Indonesia,  kepulauan Nusantara  didiami oleh pelbaga bangsa dan
sukubangsa. Yang terbesar antaranya adalah suku Jawa,  Sunda  dan
rumpun suku Melayu, yang ,  mencakup banyak suku-suku yang bertebaran
di ribuan kepulauan  Indonesia. Setelah lahir dan tumbuhnya nasioan
Indonesia, suku-suku bangsa Indonesia itu masih ada  dengan identitas
kulturnya masing-masing dan hidup bersama dengan suburnya. Syukur
alhamduillah, negeri  ini tidak mengenal apa yang dinamakan  ‘ethnic
cleansing’.

Kesadaran berbangsa dari penduduk yang mendiami  ribuan kepulauan
NUSANTARA, berlangsung melalui perjuangan dan pergolakan. Proses itu
memerlukan jangka waktu kira-kira 100 tahun untuk lahir, tumbuh,
menguat dan berkembang.

Sesudah mengalahkan  Portugis yang berhasil menguasai sebagian wilayah
di Timur  Indonesia;  sebuah perserikatan dagang Belanda yang dapat
restu  resmi pemerintah Kerajaan Belanda,   dengan memiliki tentara
dan mata uang sendiri,  Verenigde OostIndisch Compagnie – VOC,   pada
awal abad ke-17,  berhasil mencapai  Indonesia.   VOC  yang diberi hak
monopoli oleh Kerajaan Belanda untuk berdagang dengan Indonesia dan
negeri-negeri Asia lainnya,   memberikan nama ‘Nederlandsch Indië’,
atau Hindia Belanda untuk Indonesia.  Maksud nama Hindia Belanda,
ialah bahwa gugusan  ribuan kepulauan yang terletak  diantara  benua
Asia  dan benua Australia itu ,  ada di bawah  kekuasaan  VOC.
Demikianlah,  nama Hindia Belanda, yang diberikan VOC itu  artinya
Hindia ‘milik’ Belanda.

*   *    *

Ketika  dalam bulan Maret, 2002,  pemerintah,  Belanda memperingati
400 tahun VOC,  dimana  sempat hadir Menteri Kwik Kian Gie dari
pemerintahan Presiden Megawati Sukarnoputri,   itu diadakannya  secara
bukan kebetulan dan bukan tanpa alasan.  Orang-orang Indonesia yang
sedikit saja punya pengetahuan sejarah dan  rasa harga diri bangsa,
atau patriotisme,  tidak bisa lain, memandang VOC sebagai suatu
‘kekuasaan’  yang membawa bencana pada tanah air dan bangsa. Sebagai
suatu badan perdagangan yang bersenjata  yang telah menaklukkan  dan
memeras habis-habisan  negeri dan bangsa Indonesia  menjadikannya
jajahan  kolonialisme Belanda.

Tapi bagi Belanda, VOC adalah suatu kebanggaan, suatu  instrumen utama
yang membawa kerajaan Belanda ke ‘Abad Keemasannya’, ‘The Golden Age
of Holland’,   ‘De Gouden Eeuw van Nederland’.  Maka  bagi penguasa
Belanda,  kegiatan VOC itu adalah suatu ‘prestasi’ . Karena bangsa
Belanda, suatu bangsa  yang berdiam  di paling Barat daratan Eropah,
dengan jumlah tergolong kecil di Eropah  terbanding negeri-negeri
seperti Perancis, Inggris, Jerman dan Rusia,   —   namun,    masih
pada zaman kapal layar ketika itu,  telah mampu  membuat kapal-kapal
yang cukup besar, kuat dan cepat,  mampu mengarungi  Samudra Atlantik
dan Samudra India,  sejauh puluhan ribuan kilometer.  Dalam
petualangannya mencari  rempah-rempah ke ujung Timur dunia,   VOC
berhasil mendaratkan orang-orangnya di Banten (Cornelis Houtman c.s.,
1596), Jawa Barat, Indonesia.  Dan akhirnya menaklukkan Indnesia di
bawah kerajaan Belanda.

Ini adalah saat permulaan  suatu negeri kecil bernama Nederland,
mampu menaklukkan INDONESIA, suatu negeri dengan penduduk berlipat
kali lebih besar dan punya kebudayaan  yang cukup tinggi

*    *    *.

INDOS  NESOS, INSULINDE,  oleh kaum pergerakan kemedekaan  negeri
Pulau Kelapa ini, oleh kaum mudanya diformalkan dan dibaptiskan
sebagai INDONESIA,  yang tinggal di wilayan bernama INDONESIA,
menggunakan bahasa  INDONESIA, dan berbangsa INDONESIA  (Sumpah Pemuda
Indonesia,  28 Oktober 1928). INDONESIA yang asal muasalnya disebut
Indos Nesos, kemudian Pramudya Ananta Tur, novelis terkenal Indonesia,
lebih senang dan lebih korek katanya bernama NUSANTARA. Karena begitu
cantiknya  dan begitu mempesonakannya negeri ini,  sehingga  seorang
mantan pejabat  kekuasaan kolonial Belanda di Banten, pada akhir abad
ke- 19,  Dr. Douwes Dekker, dalam bukunya berjudul, MULTATULI,
memberikannya  nama GORDEL VAN SMARAGD,  Sabuk Batu Giok . . . . di
Khaltulistiwa.

Betapapun indahnya negeri ini, VOC mengarungi  dua samudra  berlayar
ke Indonesia, bukan tertarik oleh  keindahan Gordel van Smaragd.  ,
tetapi oleh —  REMPAH-REMPAH  yang dikandungnya— ,  yaitu
bumbu-bumbu untuk masakan-masakan lezat yang amat disukai  dan laris
di Eropah.  REMPAH-REMPAH, itulah ‘besi berani’ daya tarik utama  yang
menggerakkan VOC beravontur dan kemudian menguasai Indonesia. VOC
menjelajah ke Indonesia, bukan untuk menyebar agama Kristen atau
mensosialisasikan kebudayaan Eropah yang dianggap lebih unggul,  —-
tetapi adalah demi mengejar keuntungan, laba dan kekayaan yang
berlimpah ruah. Betul,  dengan menyalahgunakan Kitab Injil dan
‘keunggulan’ kebudayaan dan teknologi Barat ketika itu.

*    *     *

Pada  tanggal 28 Oktober1928, ketika bangsa Indonesia masih berada di
bawah  kekuasaan kolonial Belandan,   sejumlah pemuda-pemuda bangsa
mengambil keputusan yang bersejarah, yang turut menentukan haridepan
Indonesia. Pemuda-pemuda harapan bangsa Indonesia itu mendeklarasikan,
bahwa  bangsa ini adalah bangsa Indonesia, yang bertanah air
Indonesia dan berbahasa Indonesia (yang ketika itu masih dikenal
sebagai bahasa Melayu),  menjadi  ‘lingua franca’, bahasa nasional
untuk seluruh bangsa Indonesia.

Diambilnya keputusan tsb, ketika bangsa dan tanah air masih dalam
cengekeraman kekuasaan asing, menunjukkan bahwa kesadaran berbangsa
telah lahir dalam suasana yang penuh keyakinan dan dalam semangat
hamonis dan damai.  Patut dikatakan harmonis dan damai, bila kelahiran
bangsa dan bahasa nasional  yang berlangsung di Indonesia ,  dengan
mengingat bahwa  di pelbagai negeri dunia ketiga,  untuk penentuan
bahasa  apa yang ditetapkan sebagai bahasa  nasional,  seringkali
berlangsung  dalam suasana konflik kekerasan yang berlarut.

Deklarasi Pemuda Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928 itu, merupakan
tonggak penting dalam sejarah perkembangan kebangkitan kesedaran
nasional bangsa Indonesia. Tepat sekali peristiwa tsb dicatat dengan
tinta emas dalam sejarah bangsa Indonesia.

*   *   *

Namun,  peristiwa-peristiwa penting yang mendahului Hari Sumpah Pemuda
Indonesia pada tanggal 28 Oktober  1928 itu, tak boleh luput dari
perhatian, studi dan dokumentasi bangsa ini.  Yang dimaksudkan ialah,
didirikannya  P.N.I. , Partai Nasional Indonesia, oleh Bung Karno,
yang kemudian  bersama  Moh. Hatta, menjadi  PROKLAMTOR  KEMERDEKAAN
INDONESIA, pada tanggal 17 Agustus 1945. PNI didirikan dalam tahun
1927, berarti 1 tahun sebelum Hari Sumpah Pemuda  28 Oktober 1928.

Arti teramat penting dari didirikannya PNI oleh Bung Karno dkk, ialah
bahwa partai nasional ini menjadikan Indonesia Merdeka, sebagai
programnya yang terpenting Jadi  program strategisnya  jelas, yaitu
KEMERDEKAAN INDONESIA. Dan cara perjuangannya adalah NON KOPERASI.
Artinya menolak kerjasama dengan kekuasaan kolonial Belanda.  PNI di
bawah pimpinan Bung Karno dkk, sudah tidak percaya lagi kepada
kekuasaan kolonial. Beberapa bulan sebelum didirikannya PNI,
pemerintah kolonial Hindia Belanda dengan kekerasan militer telah
menghancurkan pemberontakan PKI yang dilancarkan  oleh PKI dalam tahun
1926. Kelanjutannya adalah penangkapan besar-besaran terhadap
anggota-angota  PKI dan pendukungnya. Mereka kemudian dibuang ke Boven
Digul, Papua Hindia Belanda.

*   *    *

Dalam pada itu di  negeri Belanda, sejumlah mahasiswa Indonesia, yang
telah mendirikan ‘Indische Vereniging’,  mengubah nama tsb menjadi
‘Perhimpunan Indonesia’, PI.

*    *    *

Ditelusuri ke belakang lagi, idé tentang suatu bangsa Indonesia,
dapat  dijumpai pada didirikannya  ‘Syarikat Islam (SI)’, 1905, dan
kemudian  ‘Indische Partij’  (1912) oleh Douwes Dekker, Tjipto
Mangunkusumo dan Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara), yang
kemudian di buang ke negeri Belanda, sebagai ganjaran atas ‘dosanya’
membangun suatu partai nasional.

Didirikannya Partai Komunis Indonesia, PKI,  pada tanggal 23 Mei 1920,
sebagai kelanjutan dari Indische Sociaal Democratische Vereniging
(1917), ISDV, adalah satu mata rantai penting, dalam kesadaran
berbangsa serta tekad untuk mencapai suatu Indonesia yang adil.

*   *    *

Bila hendak disimpulkan,  lahir, tumbuh dan suburnya semangat
kebangsaan, semangat patriotisme, cinta-tanah dan bangsa, berlawan
terhadap setiap kekuasaan asing yang hendak menguasai Indonesia,
terjadi dalam suatu proses panjang. Suatu proses reaktif terhadap
penguasaan dan penghisapan yang dilakukan oleh kekuasaan asing Barat.
Yang kita kenal dengan nama kolonialisme dan imperialisme.

Penindasan asing  yang kejam dan tak adil itu telah melahirkan
semangat perlawanan yang tak terkalahkan.
Proses perjuangan tsb telah melahirkan pula suatu nasion, nasion baru:
INDONESIA. Singkat kata, nasion dan negeri INDONESIA, dilahirkan dalam
suatu pergolakan yang lahir dari bawah, dari kehendak rakyat itu
sendiri. Bukan  muncul dari kekeinginan kekuasaan asing atau seorang
raja feodal.

INDONESIA LAHIR DARI PERGOLAKAN PERJUANGAN YANG ADIL.
Maka ia tidak mudah berkeping-keping dan hancur berantakan, seperti
halnya sementara negeri dan bangsa, yang lahir dengan paksaan kekuatan
dari luar atau dari atas.

*     *     *
*) Majalah ‘Le Banian’ diterbitkan oleh Asosiasi Persahabatan
Perancis-Indonesia;
Ketua —  Ny. Johanna Lederer)