Pernahkah Anda mendengar nama Muhammad Yunus dan Grameen Bank? Saya sempat mengeluh dalam hati ketika beberapa anak-anak muda di kantor saya menunjukkan wajah bengong mendengar nama tersebut. Kemana saja mereka selama ini? Apa saja informasi yang ia kunyah sehingga nama Muhammad Yunus dan Grameen Bank tidak pernah didengarnya? Keterlaluan!



Tapi, baiklah!, beberapa di antara kita mungkin sibuk menonton
sinetron, Tukul, dan berita kriminal sehari-hari sehingga tidak pernah
dengar nama Muhammad Yunus dan Grameen Bank. Beliau adalah pemenang
Nobel Perdamaian 2006 atas usahanya yang tidak mengenal lelah
mengentaskan kemiskinan di Bangladesh dengan mendirikan Grameen Bank,
bank khusus untuk dan milik orang miskin.

Saya sudah mengagumi orang hebat ini ketika pertamakali membaca
beritanya bertahun-tahun lalu. Sebagai ‘lulusan’ orang miskin, saya
tahu betapa jarangnya orang yang mau mendedikasikan dirinya untuk
membantu orang miskin. Dunia dipenuhi dengan orang-orang yang sibuk
mencari kekayaan sendiri dan menganggap orang miskin adalah penyakit
sampar yang harus dicurigai dan dijauhi. Muhammad Yunus dan Mother
Teresa adalah sosok yang sangat saya kagumi. Mereka mendedikasikan
seluruh hidupnya untuk mengasihi dan membantu orang-orang miskin.
Mereka adalah semacam nabi bagi partai Kaypang, partainya orang-orang
miskin, dimana saya pernah menjadi anggota tanpa perlu mendaftar. :-)

Cerita tentang Muhammad Yunus dan Grameen Banknya sangat banyak kita
temui di berbagai media. Saya sudah pernah membaca bukunya,
artikel-artikel tentangnya, dan bahkan menonton acaranya di Oprah Show.
Saya menonton hampir tak berkedip. Ketika Oprah bertanya mengapa ia
percaya bahwa orang miskin akan bisa membayar pinjaman tanpa kolateral
alias agunan, beliau menjawab :”Fakta bahwa mereka adalah manusia sudah
cukup bagi kita untuk mempercayainya.” Dan air mata saya mengalir tanpa
bisa saya cegah. Ya, Tuhan! Betapa saya mencintai orang ini. Seandainya
saya bisa bertemu, menyentuh, mendengarkan dan berbicara dengannya,
sungguh akan merupakan momen yang sangat luar biasa bagi saya.

Dan kemarin mimpi saya menjadi kenyataan. Saya mendengarkannya
berbicara langsung, berjabat tangan dengannya, sekaligus mendapatkan
tanda tangan dan kartu namanya pada acara “Sampoerna Foundation’s
Distinguished Speaker Series” di Hotel Mulia! Tuhan mengabulkan
keinginan saya.

Pada acara tersebut beliau yang professor di Fakultas Ekonomi
Chittagong, Bangladesh, menceritakan kembali pengalaman hidupnya ketika
pertama kali ia bersentuhan langsung dengan kenyataan hidup di luar
kampusnya ketika Bangladesh terkena bencana kelaparan. Ia sangat
terkejut menemui kenyataan bahwa keluarga miskin di sekitar kampusnya
sebetulnya hanya butuh bantuan uang sangat sediki untuk dapat mengubah
hidup mereka. Ketika beliau memutuskan untuk membantu para ibu yang
miskin tersebut dengan meminjaminya uang untuk modal beliau berhasil
mengumpulkan 42 orang dengan jumlah pinjaman kurang dari US$27! “Ya,
Tuhan! Ya Tuhan! Seluruh derita semua keluarga itu hanya karena tidak
ada uang dua puluh tujuh dollar!” serunya dalam hati. Malamnya ia tidak
bisa tidur karena merasa muak dengan dirinya sendiri. Ia sangat shock
menemui kenyataan betapa ia mengajarkan teori-teori indah tentang
ekonomi dan bicara tentang uang ratusan juta dollar sementara di luar
kampusnya ia menemui orang-orang yang begitu miskinnya karena terjerat
oleh rentenir. Beliau kemudian memutuskan untuk mendirikan Grameen
Bank, Bank for the Poor, untuk membantu para orang miskin tersebut.

Ceritanya mengalir begitu indahnya dan suasana menjadi hening karena
it’s so absorbing. Rasanya semua orang menahan nafas mendengar
ceritanya. Saya menahan nafas berkali-kali. It’s so dramatical. Saya
seolah melihat dan mengalaminya sendiri bagaimana beliau memperjuangkan
bank bagi orang miskin tersebut meski mendapat penolakan terus menerus
dari para bankir. Pada beberapa bagian diam-diam saya menangis dalam
hati karena kisahnya begitu menyentuh. I am really touched by his
story.
Suatu ketika datang seorang ex napi ke Grameen Bank untuk minta
pinjaman juga sebagaimana orang-orang lain. Staff Muhammad Yunus
kebingungan menghadapinya. Ex napi ini sangat terkenal reputasinya
sebagai seorang kriminal dan mempercayainya adalah tidak masuk akal.
Tapi staf bank juga tak berani menolaknya karena takut ex napi tersebut
marah dan mengamuk. Ia terkenal dengan reputasi buruknya tersebut. Ia
minta bantuan Muhammad Yunus untuk mengatasi masalah tersebut. Muhammad
Yunus memintanya untuk menemuinya dan tidak perlu takut. Ia adalah
manusia juga seperti kita, katanya. Kalau ada lima orang lain di
desanya yang mau menjaminnya (ini adalah sistem yang berlaku di Grameen
Bank sebagai ganti dari kolateral) maka dia layak untuk mendapat
pinjaman seperti orang desa lainnya.
Jadi Grameen Bank memberinya pinjaman. Dan ex napi ini membayar
cicilannya seperti orang-orang miskin lainnya. Ia kemudian menjadi
pemimpin kelompok. Dan naik…naik…menjadi pemimpin kelompok yang lebih
besar dan lebih besar. Ia tak pernah lagi melakukan tindakan kriminal
sejak mendapatkan pinjaman dari Grameen Bank. Grameen Bank telah
mengubah hidupnya! Sangat luar biasa!

Ketika beliau ditanya apa tindakan yang ia lakukan jika ada nasabah
miskinnya yang tidak dapat membayar. Bank lain tentu akan menyita apa
saja yang dimiliki oleh nasabah ‘bandel’ tersebut. Tapi di Grameen Bank
tidak ada kolateral atau agunan. Lagipula nasabahnya adalah orang-orang
miskin yang tidak punya harta benda yang bisa disita.
“If anybody cannot pay, you should come and help him more, not punish
him.” Jawabnya. Mereka tidak membayar karena memang tidak bisa
membayar dan itu berarti mereka dalam kesulitan dan lebih memerlukan
pertolongan daripada sebelumnya. Mereka harus ditolong dan bukannya
dihukum. Ya, Allah! Betapa benarnya kata-kata itu.
Kredit mikro bukanlah obat ajaib yang bisa menghapuskan kemiskinan
dalam sekali tenggak. Tetapi kredit mikro bisa mengahiri banyak
kemiskinan banyak orang dan mengurangi penderitaan orang-orang lainnya.
Digabungkan dengan program-program inovatif lainnya dalam meningkatkan
potensi masyarakat, kredit mikro adalah alat utama dalam upaya kita
membangun dunia yang bebas dari kemiskinan. Demikian katanya.
The story is sooo beautiful and told by Muhammad Yunus himself. It will
be the best day in my life.

Pada tahun 2015, katanya, Grameen Bank, Bank for the Poor, yang
sahamnya mayoritas dimiliki oleh orang-orang miskin akan berubah
menjadi Grameen Bank, bank for the formerly poor, bank milik
orang-orang yang DULUNYA miskin. Saat itu mereka tidak lagi miskin dan
telah bangkit menjadi orang-orang yang hidup layak dan sejahtera. Saya
mempercayainya.
Sayang sekali hari itu Jum;at, hari yang pendek, dan beliau harus
menghentikan ceritanya yang indah dan penuh inspirasi tersebut. Setelah
acara selesai saya segera menghampiri beliau, menyapanya untuk minta
tandatangan dan kartu nama, sebagaimana biasa saya lakukan pada penulis
buku lainnya. Dan beliau menandatangani buku “Bank Kaum Miskin”
terbitan Marjin Kiri yang saya beli semalam khusus untuk ditandatangani
beliau. Buku saya adalah satu-satunya yang berbahasa Indonesia yang
ditandatangani beliau. Peserta lainnya membawa buku asli yang berbahasa
Inggris “Bank for the Poor”.

Malamnya saya bermimpi duduk-duduk di teras dan ngobrol berdua bersama
beliau. “Everybody is enterpreneual, Satria. You have to believe that.”
Saya mendengarkannya dengan penuh takzim. “Charity works once. Social
business continues.”, lanjutnya.
Sayup-sayup saya mendengar beliau berkata,:”Touching somebody’s life is
addictive. Once you do it, you’ll do it more and more.” Dan saya
terbangun karena alarm handphone saya.
Dalam sholat Subuh saya berdoa dalam hati,:”Ya Tuhan! Jika saya masuk
surga kelak, perkenankan saya menjadi tetangga Muhammad Yunus.” Amin!

Jakarta, 11 Agustus 2007
Satria Dharma