Yang terlupakan dalam perjuangan bangsa ini adalah melihat nasionalisme yang tumbuh diluar tanah jawa, yaitu nasionalisme yang tumbuh ditanah Dayak. topik ini tersendiri dalam episode-episode dari zaman bergerak sejarah Indonesia. Sejarah yang selalu ditulis dengan indoktrinisasi, miskin dialog, pengangungan individu akhirnya akan membuat sejarah itu kering tanpa makna.

  Sejarah yang kering tanpa makna selalu dikaitkan dengan individu dan logika mistika. Saat upacara penguburan tembakan senapan yang mengeluarkan bunyi, Sering didatangi roh dari tokoh tersebut dan membisikan kondisi daerah saat ini. Minta ijin jika ingin menjadi kepala negara/daerah ke makam yang dianggap pada masa lalunya adalah yang orang berkuasa. Atau cerita mistikus bahwa ditempat tokoh dikuburkan tersebut hanyalah kosong namun sebenarnya tokoh tersebut masih hidup. Logika mistika dan sejarah seperti ini pada akhirnya bermuara kepada indoktrinisasi dan pengagungan individu/pengkultusan. Membicarakan, mendiskusikan serta memperdebatkan dalam kontek ilmiah peran seorang individu  yang yang dianggap tokoh merupakan studi yang relevan dari masa lalu ke masa kini. Kejadian tokoh masa lalu terjadi dan berulang terus pada masa sekarang dari sistem kapitalisme dan perbudakan di penjara kedalam kelas-kelas masyarakat.  Keberadaan dan peran tokoh lokal adalah inspirasi kekuatan lokal identitas dalam menapaki kemajuan zaman yang terus bergerak.

 

Permulaan penindasan Orang Dayak sewaktu dibawah pemerintahan kesultanan Banjarmasin. Orang Dayak tidak mengenal istilah negara (state).  Orang Dayak berkenalan dengan negara sewaktu membayar pajak/upeti kepada sultan Banjarmasin. Kesultanan Banjarmasin memberi mereka gelar Demang dan Temanggung sebagai hadiah dari hasil loyalitas orang-orang Dayak dipedalaman dalam upeti tersebut dan memfungsikan mereka sebagai jaringan dalam masyarakat tersebut.  Setelah Perang Banjar (1859-1906) berakhir dengan runtuhnya pemerintahan pengustian dan temanggung, lahir penindas baru yang bernama pemerintah Kolonial. Pada masa kolonial orang Dayak dibiarkan dalam keadaan terisolasi. Namun diluar dugaan Anak didik Pemerintah belanda dan misionaris  yang bernama Hausmann Baboe menjadi benih penyemaian Nasionalisme yang secara sadar mengunakan kedayakannya untuk Indonesia.   

 

Membicarakan Nasionalisme Indonesia dari Tanah Dayak berawal pada Juli 1919 dibawah kiprah tokoh lokal yang dilupakan sejarah yaitu Hausmann Baboe dan organisasi Pakat Dayak. Bagi kebanyakan generasi muda Kalimantan Tengah, tokoh Husmann Baboe tidak lebih dari sebuah nama jalan di kota Palangka Raya. Kiprahnya tidak pernah dibicarakan.  baik sekolah maupun Universitas.  Husmann Baboe Lahir di Kampung Hampatung Kuala Kapuas sekitar tahun 1885 yang juga adalah cucu dari pendiri kampung hampatung Temanggung Ambo Nikodemos. Seorang Temanggung yang sangat terkenal di kalangan pemerintah belanda saat itu. Dan sosok tokoh temanggung ambo nikodemos ini diceritakan oleh M.T.H Perelaer yang pernah ikut dalam perang Banjarmasin dalam bukunya Borneo van Zuir Naar Noord/Borneo from South to North. Dan dalam Buku yang ditulis oleh marko mahin dengan judul Temanggung Ambo Nikodemos Jaya Negara. Hausmann Baboe ditangkap Jepang pada bulan agustus 1943 atas penghianatan seseorang. Dan dihukum mati pada bulan Desember 1943 di Banjarmasin bersama dengan Pimpinan tertinggi pemerintah kolonial Gubernur Haga dan Pimpinan tertinggi Dajak Evangelis (ketua Sinode). Sampai sekarang Husmann Baboe tidak memiliki kuburan. Sikapnya yang kritis yang kemudian dimusuhi oleh Gereja dikarena praktek bigami dan anti pemerintah kolonial saat itu. Membuat Husmann Baboe dipecat dari posisinya sebagai Kepala Distrik dan diasingkan dari gereja sebagai inspirasi teologi moral.

 

Hausmann Baboe dan Pakat Dayak pada masa itu didirikan untuk memajukan orang Dayak baik secara ekonomi dan pendidikan. Tahun 1920 Hausmann Baboe mendirikan Koperasi Dagang Dayak untuk menghadapi pemodal-pemodal cina.  Sikap ini yang sama terjadi sewaktu Sarekat Islam berdiri di Lawean Solo dibawah pimpinan Rekso Reomekso yang menghadapi aksi organisasi  kong-sing ditahun 1911 dalam pencurian batik sehingga dikenal dengan nama ronda.  Organisasi Pakat Dayak dan Husmann Baboe menginginkan kesejajaran Orang Dayak dengan orang Eropa.  Hal inilah membangkitkan semangat Pakat Dayak dan Husmann Baboe untuk bersama tolong menolong mengejar pendidikan bagi orang Dayak. Bentuk penindasan pemerintah kolonial dalam pendidikan adalah tidak membolehkan orang Dayak untuk bersekolah OSVIA yang merupakan sekolah pegawai negeri pribumi.  Hausmann Baboe kemudian mendirikan Sekolah untuk pertama kali bernama Sekolah Dayak Belanda atau Hollandsche Dajak School (HDS) dengan Kepala Sekolahnya yang pertama adalah Mahir Mahar.  Hausmann Baboe juga mendirikan sekolah dasar swasta di daerah Mentangai.  

 

Pada Fase politik pergerakan, Pakat Dayak berkerja-sama dengan Sarekat Islam di Banjarmasin. Fase ini Hausmann Baboe telah sampai pada daya jangkau yang sangat jauh. Fase ini melampaui perbedaan antara Dayak dengan Banjar, Islam dengan Kristen. Hausmann baboe bersama Pakat Dayak telah menebus batasan etnisitas dan agama. Sebuah politik konservatif dari luar tanah Jawa.  Mereka mengundang tokoh nasionalisme dari Jawa yaitu Tjokroaminoto (bapak Ideologi Ir. Soekarno) dan H. Agus Salim sebagai angin segar dari ide-ide pergerakan menuju kemerdekaan. Namun Pemerintah kolonial melarang kedua tokoh nasionalisme dari tanah jawa ini untuk masuk ke Banjarmasin, akan tetapi acara tersebut tetap berjalan. Pada kongres Sarekat Islam di Banjarmasin, Hausmann Baboe diberi kuasa untuk menyampaikan mosi kepada Gubernur Jenderal Belanda dan Majelis Volkksraad dengan isi antara lain: Bea impor 8% dari tanaman rotan dihapuskan, karena sudah dikenakan pajak pendapatan, Dan pengembalian uang pajak penyembelihan yang diambil pemerintah belanda yang diambil secara tidak sah (Permohonan ini datang dari masyarakat Kuala Kapuas dan tanah Dayak).  Sedangkan masyarakat Muara teweh dan Dusun Tengah merasa keberatan dengan pembukaan tambang batu bara di daerah tersebut untuk perusahaan asing karena dikuatirkan merusak pertambangan rakyat. Selain itu juga tambang batu bara merusak tanaman rakyat.  Tahun 1926, Hausmann Baboe mendirikan koran yang bernama Soeara Borneo.  Bahkan Hausmann Baboe adalah Tokoh lokal Suku Dayak yang berprofesi awal sebagai jurnalis dan dianggap sebagai Bapak Perintis Pers Kalimantan Tengah.

 

Sejarah yang diajarkan dilingkungan sekolah adalah seorang tokoh yang dinarasikan sebagai sosok sempurna tanpa cacat-cela penuh dengan mistik yang melingkupi dirinya. Begitu juga dengan sejarah tokoh lokal yang ditulis kebanyakan di Kalimantan Tengah sosoknya selalu dibuat tidak mudah di diskusikan secara penuh, tabu untuk dibicarakan. Bagi penulis yang mempelajari sosok tokoh Hausmann Baboe  secara mendalam dengan beberapa perbandingan pustaka adalah inspirasi dari gerakan pembebasan. Sosok yang sangat mudah didiskusikan, diceritakan dalam fase sejarah kemanusiaan buruk dan baik sosoknya terceritakan secara mudah. Nasionalisme dan keDayakannya dibawa dalam sebuah kontek ideologi pembebasan dari belenggu dan image-image tentang Dayak yang selama ini digambarkan dengan kemana-kemana membawa mandau dan adegan eksotis kayau, bodoh dan buas yang selalu diceritakan bangsa-bangsa barat terhadap kita. Hausmann Baboe berani menentang kolonialisme dengan petisi dan mosinya serta menyelenggarakan rapat politik dan bersama-sama suku Dayak memperjuangkan nasibnya agar sejajar dengan suku lain. Nasionalisme Indonesia dan integrasi Dayak dalam bingkai Indonesia sudah muncul di masa Hausmann Baboe dengan organisasi yang didirikannya yaitu Pakat Dayak. Kolaborasi dengan SI (Sarekat Islam) membawa Pakat Dayak melewati batas-batas etnisitas dan Agama. Selamat hari kemerdekaan Indonesia. Semoga menjadi manusia yang merdeka terhadap kebodohan politik, ekonomi, budaya dan sejarah yang ada didaerah kita.