Keluhan orang kenapa nggak berbisnis biasanya : " Nggak ada modal sih! " Inilah keluhan cengeng, tak percaya diri dan hanya mikir nggak ada modal. Pemikiran ini tersebar luas, bahwa nggak ada modal sedangkan orang lain punya toko, punya bapak kaya, punya saudara kaya raya dan ada fasilitas kekayaan. Dan kemudian lahirlah segala kedengkian kepada orang yang kaya dan kecemburuan sosial katanya.Kenapa penuh kedengkian dan penuh kebencian kepada orang kaya ? Kalau kita belum kaya, carilah kekayaan , bekerjalah ulet atau belajar yang bentuknya 2 macam : pembelajaran formil di sekolah, kuliah a tau kursus-kursus dan banyak membaca. Belajar tidak formil ialah belajar sendiri, membaca buku-buku yang penting untuk meningkatkan pengetahuan, mempelajari apakah bidang bisnis tertentu memungkinkan untuk mencari nafkah dan kemudian mencari duit lebih banyak dan menjadi kaya. Kenapa kita mesti membenci orang kaya atau membenci kemapanan ?



Banyak orang yang sekarang kaya raya berasal dari keluarga miskin,
mungkin keluarga yang hidupnya sangat kekurangan. Di masyarakat etnis
tertentu yang berasal dari negeri kering kerontang dan tidak subur ,
orang-orangnya dikenal sangat ulet dan dimanapun didunia perjuangan
untuk menuntut mencari nafkah adalah sesuatu yang mutlak, tidak
mengganggu orang lain, tidak malas dan ulet serta berjuang keras
untuk mendapatkan nafkah dan kemudian meningkatkan taraf hidup.
Keluarga-keluarga miskin mencari duit lebih banyak agar anak-anaknya
mendapat pendidikan yang lebih baik agar mampu nantinya menuntut
kehidupan yang lebih tinggi ketimbang keluarganya sekarang. Tradisi
mementingkan pendidikan tinggi dilakukan dengan berjuang keras agar
mampu mengirimkan anak-anak kejenjang pendidikan yang tinggi. Itulah
sebabnya begitu ada kebiasaan membatasi jumlah mahasiswa di
Universitas Negeri, keluarga miskin atau menengah mencari duit lebih
banyak agar anak-anak mampu kuliah diluar negeri yang mutunya bagus.
Ada kalanya si anak harus bekerja keras dan belajar keras agar mampu
menyelesaikan kuliah dengan gemilang. Seringkali karena keterbatasan
uang kiriman, mereka belajar agar mendapatkan bea siswa atau bekerja
dibidang apa saja, bahkan menjadi sopir, menjadi penjaga toko,
menjadi pelayan di Kentucky Fried Chicken. Dalam liburan musim panas,
mahasiswa gampang sekali mencari pekerjaan karena kebanyakan pekerja
mengambil cuti musim panas. Pemikiran demikianlah yang harus
dikembangkan, orang tua yang berkorban tak menikmati hasil kerjanya
agar anak-anak mampu menyelesaikan kuliah atau mampu mengirim anaknya
keluar negeri dan mencari ilmu di universitas yang berkelas dan
tentunya sangat mahal bagi ukuran Indonesia. Beaya kuliah di Amerika
termasuk beaya hidup total dikisaran USD 30.000 sampai 40.000
pertahun , suatu jumlah raksasa bagi orang Indonesia : barangkali
suatu jumlah modal yang besar untuk berbisnis. Kenapa kita mau
mengorbankan duit sebanyak itu untuk pendidikan anak-anak ? Agar
mereka mampu mendapatkan ilmu , mendapatkan pola pemikiran yang
komprehensip dan lebih unggul dibandingkan dengan kelompok pencari
kerja atau kelompok berbisnis ! Itulah Benchmarking kelompok unggul,
agar mampu lebih baik dibandingkan tingkatannya dalam pemikiran
maupun dalam pelaksanaan bisnis yang digeluti !

Kerja apa saja selama halal , bukanlah hina atau tak terhormat. Ada
tamatan universitas terkenal di German dan pulang ke Indonesia ,
kemudian membuka jualan kaki lima di emperan toko dengan menjual
burger , ada alumni universitas terkenal di Amerika kemudian pulang
ke Indonesia dan bekerja dengan membuka bengkel yang hasilnya kecil
sekali, padahal dia memiliki potensi untuk bekerja di perusahaan
terkenal dengan gaji besar : mungkin gaji puluhan juta perbulan. Yang
dipikirkan oleh orang tadi ialah bekerja sendiri dan kemungkinan maju
dalam 10 tahun, bukan hari ini ! Belajar dan kuliah diluar negeri
sambil mengamati, bisnis apa yang kemungkinan bisa dilakukan di
Indonesia ? Ia melihat potensi menjual makanan seperti burger atau
membuka restauran dan sembari kuliah mengamati bisnis burger, mencoba
rasa burger dan kemudian bekerja diperusahaan yang menjual burger
sembari mempelajari dengan teliti resep dan cara membuat burger. Jadi
dia sudah memutuskan akan bergerak dibidang bisnis burger dan
meyakini apa yang dituju.