"Pak, klo ke Banda Aceh 2 bulan bisa?" demikian bunyi sebuah pesan pendek masuk ke Ponsel saya sekitar pertengahan Juni lalu. Saya hanya >butuh waktu beberapa detik guna mengucapkan: "Alhamdulillah!" dalam hati untuk menyatakan kesediaan saya.



Selain dapat pekerjaan baru, Aceh, di samping Papua adalah daerah
yang sangat "excited" bagi saya untuk dikunjugi. Apalagi saya tidak
hanya stationed di Banda Aceh, tetapi juga akan berkeliling ke
beberapa Kabupaten, termasuk yang berada di pesisir Barat, kawasan
yang terkena bencana Tsunami dan gempa bumi paling berat Provinsi
tersebut yang belum pernah saya kunjungi. Pertengahan tahun 1990-an
saya pernah mengunjungi Banda Aceh beberapa kali. Salah satu di
antaranya saya tempuh melalui jalan darat dari Medan menyusur pantai
Timur, karena kantor konsultan tempat saya bekerja dulu juga punya
proyek di Lhok Seumawe.

Aceh, di samping Papua dan---dulu---Timor Timur, adalah nama yang
sering menyesakkan dada siapapun, termasuk saya, yang berpendapat
bahwa NKRI bukan berhala, yang darah dan nyawa manusia dapat
dikorbankan begitu demi sang berhala. Timor Timur dan Aceh kini sudah
memperoleh solusinya sendiri-sendiri yang melegakan hati para
pencinta prdamaian dan kemanusiaan.

Timor Timur walaupun relatif tetap miskin dan masih ada kerusuhan
akibat pembangkangan sejumlah tentara, sekarang sudah mempunyai
pemerintahan sendiri yang terpilih secara demokratis, dan jelas---
dengan tidak mengurangi rasa penghormatan saya terhadap prajurit-
prajurit TNI yang gugur dalam Operasi Seroja dan penegakan keamanan
di sana---mereka lebih bahagia dari pada ketika masih menjadi bagian
NKRI.

Aceh, sekalipun masih menyimpan sejumlah masalah yang berkaitan
dengan masa lalu akibat rusuh berkepanjangan selama 32 tahun yang
mengakibatkan mayoritas rakyat yang masih hidup dalam kemiskinan---
PDRB perkapita Aceh di luar minyak bumi hanya sekitar USD 500
(separuh rata-rata Indonesia), terhambatnya pengembangan SDM,
birokrasi dan unit-unit pelayanan publik, rehabilitasi kerusakan
akibat Tsunami dan gempa yang menelan korban jiwa tidak sedikit serta
meluluhlantakkan sebagian besar kawasan pemukiman, perdagangan,
infrastruktur di hampir seluruh kawasan pesisir provinsi yang yang
memerlukan dana di samping waktu yang tidak sedikit, keamanan yang
belum sepenuhnya pulih, tetapi sebagai tindak lanjut Pernjanjian
Helsinki Aceh sudah mempunyai kepala-kepala daerah yang terpilih
melalui salah satu Pilkadal yang relatif paling demokratis dan
aspiratif di Indonesia di samping Sumatera Barat. Terpilihnya tokoh-
tokoh GAM sebagai Kepala Daerah walaupun sempat mengkhawatirkan
sementara kalangan, adalah pilihan masyarakat Aceh yang harus
dihormati. Saya tidak percaya bahwa hal tersebut merupakan pertanda
rakyat Aceh ingin memisahkan diri dari NKRI. Ya, jelas tidak
sesederhana itu.

Masyarakat Aceh dan Timor Timor waktu ini masih banyak yang hidup
susah, tetapi sekarang mereka punya harapan yang dulu nyaris punah,
harapan yang membuat orang hidup dan bertahan.

Tinggal kini Papua, yang sekalipun sudah mendapat otonomi khusus
tetapi impelemntasinya tampaknya jauh dari memuaskan memuaskan
sebagian masyarakat di sana. Dan ini tentu saja merupakan lahan subur
bagi gerakan separatis. GAM, OPM, RMS dan lain-lain bukan turun
begitu saja turun dari langit, ada faktor-faktor riil penyebabnya,
demikian antara lain tulis saya dalam sebuah diskusi di Apakabar---
kalau tidak salah dengan Van Helsing----sekitar 3 tahun yang lalu.
Tidak ada Negara yang mentolerir gerakan separatisme, termasuk
Indonesia tentu saja. Tetapi mengatasinya dengan pendekatan keamanan
tanpa mencari dan memecahkan akar permasalahannya, jarang yang
berhasil mencapai hasil yang diharapkan, kecuali pertumpahan darah,
termasuk jatuhnya korban di kalangan orang-orang yang tidak bersalah.
Masih terbayang di pelupuk mata saya siaran televisi yang
menayangkan Alm Baharudin Lopa, ketika itu masih menjabat Ketua
Komnas HAM menyaksikan pembongkaran sejumlah kuburan masal di Aceh
yang penuh dengan tulang belulang manusia.

Papua mungkin memerlukan format yang berbeda, tetapi harus dengan
semangat yang sama dengan pemecahan masalah Aceh, dan kesedediaan
untuk berkompromi, termasuk perlakuan terhadap anggota-anggota
gerakan separatis yang bersedia kembali ke pangkuan RI sebagai mana
yang diberlakukan di Aceh.

Dan sekitar jam 11 Selasa siang, pesawat Adam Air dari Jakarta yang
saya tumpangi mendarat di Bandara Iskandar Muda, dengan perut agak
keroncongan karena pada penerbangan yang memakan waktu sekitar 3.5
jam itu cuma dapat suguhan satu gelas air kemasan.

"Menunggu cerita aneh dari`Aceh," demikian pesan singkat dari Mas RM
yang masuk ke ponsel saya tidak lama setelah saya mengirim SMS kepada
sahabat-sahabat aktivis darat Apakabar di Jakarta dan sekitarnya,
bahwa saya sudah tiba di Aceh.

Ya, tentu banyak "cerita aneh dari`Aceh", seperti apa Aceh pasca
pemberlakuan Syariat Islam, bencana Tsunami dan gempa bumi yang
sangat dahsyat itu, kondisi setelah Perdamaian Helsinki yang mungkin
dapat saya ceritakan, tentu saja sebatas aspek-aspek sosio-
kulturalnya.

Dan pertanyaan yang paling menarik tentu: "Seperti apa pemberlakuan
Syariat Islam di Aceh, yang kalau mengikuti berita-berita dari media
masa terkesan "seram"?

Sekian dulu, nanti Insya Allah disambung lagi.

Wassalam, Darwin
27/07/07 Dari sebuah Wartel di Banda Aceh untuk Apakabar