Kalau diberi kesempatan memilih makan di luar, tempat mana yang dituju? Fast Food ala Fried Chicken, Warteg atau Rumah Makan Padang?



Kalau saya sih ngikut aja. Yang bayar situ kan..?


***

Meski paham "membela yang bayar" menuntun saya untuk ikut saja apa
pilihan yang bayarin. Tapi kalau bicara soal selera saya lebih milih
warteg ketimbang resto fasfood ala friedchicken.

Iya.. ndeso.

Lha gimana lagi, memang variasi hidangan di warteg jauh lebih klop
buat lidah saya ketimbang daftar menu fastfood je...

Begitupula kalau dibanding dengan RM Padang, maap-maap aja, teteup
resto fast food akan berada di urutan terbawah dalam hirarki tempat
makan yang saya pilih untuk dikunjungi. Hanya karena faktor lebih
muahal saja, maka RM Padang mesti tergeser ke urutan kedua dalam chart
tujuan wisata memamah biak saya.

Bicara soal selain selera, misal pelayanan, sebagai konsumen saya
tetep lebih sebel makan di resto fastfood friedchicken. Sudah pula,
saat kita pengen cuci tangan (sebelum & sesudah makan) disuruh pergi
ke wastafel sendiri, mau makannya disuruh ngambil sendiri, eh.. nggak
dikasih sendok pula. *Kebangetan*

Beda dengan makan di warung tradisionil ala tegal atau padang, kita
bisa leha-leha duduk di kursi, tinggal tunjuk kiri-kanan kayak demang,
dan makanan, kobokan (cucian tangan) sampe selembar tissue aja bisa
kita peroleh tanpa perlu beranjak dari kursi. Bahkan mau bayar pun
bisa dilakukan di kursi. *ini kalo jadi tebakan : apa yang makan di
kursi, minum di kursi, cuci tangan di kursi.. orang lumpuh? bukan...
makan di warung tegal :D*

Terkesan sisa jiwa feodal masih membara ya? Biarin..
Namanya konsumen ya pengen pelayanan yang maksimal dong.

***

Meskipun dari segi-segi kenikmatan konsumen warteg dan rm padang
terlihat pointnya jauh meninggalkan si resto fastfood fried
chicken-an, tetapi kalau iseng ngulik-ngulik sisi lain resto F3C ini,
saya suka satu pola yang rasanya jadi kelebihan lain dibanding warteg
dan rm padang.

Kalau anda mengira yang saya bicarakan soal prestise, atau cita rasa
luar nagri atau hal-hal yang terkait dengan experince atau life style,
saya persilahkan anda termenung sejenak. *berjenak-jenak juga bole
si... bebas wae lah..* Kenapa? Soalnya yang saya bicarakan justru hal
yang agak dalem dan prinsipil, nyaeta urusan kenyamanan hati terkait
dengan perkara ibadah.

Halal-Haram? Nyerempet, tapi gak tepat soal itu.

Pola yang saya maksud adalah pola yang diberlakukan manajemen fastfood
dimana konsumen diminta membayar di muka, baru kemudian diperbolehkan
menyantap hidangan yang dibelinya.

Dari segi itung-itungan dagang, kita bisa berbaik sangka dengan
curigai hal tersebut memang diberlakukan semata karena tujuan profit
dari produsen.

Jangan sampe orang makan ga bayar, kelupaan, darmaji -dahar lima ngaku
hiji (makan lima ngaku satu), pura-pura joging keliling meja lalu
meluas ke luar restoran dan akhirnya pulang kerumah, nyemplungin kecoa
dalem mangkok setelah perut terisi, atau hal-hal sejenis yang pada
pokoknya adalah : mencegah kondisi dimana hal-hal tidak diinginkan
terjadi dan produk yang terlanjur keluar dari dapur produsen lalu
tidak dibayar.

Hal-hal tidak diinginkan ini termasuk diantaranya : ada cicak ngejar
kecoa lompat ke meja, kucing ngejar cicak ikut ngacak-ngacak piring,
sementara kecoanya ngumpet masuk ke mangkuk sop, cicaknya nyelip di
balik lauk, orangnya kaget nendang meja, piring mental ke lampu, lampu
korslet, sinyal listriknya bikin pesawat terbang avioniknya terganggu,
jatuh nimpa restoran, kebakaran besar, kompor mleduk, guncangannya
menggeser lempengan bumi, bumi terbelah, bangunan ambruk, lalu masih
ditambah lagi restioran malang itu ketiban sampur kedatangan teroris
nyasar yang masih tega nyalain bom, dan... di saat itu anda sebagai
pemilik restoran baru sadar makanan yang sudah ngga jelas kemana
rimbanya itu ternyata belum dibayarrr. Hancur mina.

Tetapi kalau kita balik pola berpikirnya, pola membayar dahulu (ngga
pake kala) ini, sebetulnya memberikan keamanan yang sama pada sisi
konsumen.

Anda mau memakan makanan yang nggak dibayar? Yang jadi tidak jelas
halal-haramnya?

Okelah kita bilang bahwa rentetan kejadian yang di atas itu agak-agak
mustahil untuk terjadi.

Tapi mungkin dong, kalau anda makan di warteg pinggir jalan lalu
diganggu kucing yang berkeliaran? Sebagai orang baek hati, wajar kalau
anda menyisihkan sebagian rejeki dan melemparkan sisa lauk pindang di
piring anda pada si kucing. Mengingat anda baru makan, dan tenaga baru
terisi , wajar pula kalau lemparannya jadi terlalu kuat, sampai mampir
di jalan. Bukan hal aneh pula mengingat kondisi masyarakat Indonesia,
kalau supir truk yang lewat nggak mau nabrak kucing dan memilih
menabrakkan truknya ke warteg tempat anda makan.

Dan sangat masuk akal bukan kalau tabrakan itu menyebabkan warteg
ringsek, kebakaran dan meledakkan pompa bensin eceran di sebelahnya?
Kalau sudah begitu, masak anda lupa Indonesia ini sedang trend ketimpa
musibah? Jadi nggak anehlah, kalau ledakan besar itu menyebabkan
retakan di permukaan tanah, lalu meluapkan lumpur di dalam bumi ini
sehingga warteg kesayangan anda dengan cepat tenggelam di dalamnya.

Nah, katakanlah anda dan si pemilik warteg ternyata dua sejoli yang
sangat beruntung, sehingga peristiwa heboh itu tidak membuat anda
terluka secuil pun, dan tetap sehat walafiat, nyawa selamat.

Tapi anda bisa menangis tersedu-sedu, kalau sebegitupun beruntungnya
anda, ternyata si pemilik warteg yang tak tahan lagi didera
penderitaan ibukota lalu memutuskan pulang kampung detik itu juga, dan
meski anda ikut mengantarkan ke terminal terdekat, melambai-lambai
dengan haru... tapi saat bis sudah berupa titik kecil dikejauhan, anda
baru ingat... makanan anda belum dibayar.

Di saat itu anda bisa bergumam, kalau saja si pemilik warteg ini
mengadopsi manajemen fastfood dengan menerapkan pola membayar duluan,
maka anda tidak akan terkena resiko telah memakan makanan tidak halal
hanya karena belum dibayar.

***

Berdasarkan betapa besarnya kemungkinan peristiwa di atas terjadi,
maka rasanya kita perlu menelaah ulang pemikiran kita soal pola makan
di fast food dan di warteg. Mungkin kita perlu mengusulkan ke asosiasi
warteg sedunia di Den Haag untuk merombak pola manajemen umum di
franchise warteg-warteg.

Tapi berhubung kantor pusat asosiasi di Den Haag itu agak-agak sulit
dicari, ada baiknya kita saja yang merubah pola makan-memakan kita.
Bolehlah tetap membiasakan makan di warteg atau di RM padang, asalkan
kita biasakan pula untuk membayar duluan.

Atau anda bisa menjalankan pola yang jauh lebih aman seperti yang saya
terapkan,

Biarkan teman anda yang bayar...


Sentaby,
DBaonk ® 2007
Di post sebagai jurnal di :
http://dbaonk.multiply.com/journal/item/103