Sunday, July 22, 2007  Saya bukan dokter.  Saya sebenarnya tidak ingin menulis mengenai vasectomy ini, kalau saja yang ingin saya beri anjuran adalah seorang lain yang akan melakukannya (vasectomy) itu adalah dia atau mereka yang belum pernah membaca tulisan masalah ini dari seorang dokter. Lama juga saya memendam keinginan untuk mendapatkan tulisan seperti yang tercantum di Kompas pada tanggal 26 April tahun 2006. Alamat inipun baru datang melalui email kepada saya, dua hari yang lalu dan alamat Webnya adalah:

 

http://www.kompas.com//kesehatan/news/0604/26/123434.htm 

Pak Hendrawan Nadesul ini banyak menulis dan saya dengar dia ini adalah seorang dokter juga. Setelah pembaca tulisan saya ini membaca artikel seperti dimuat di Kompas itu, maka saya akan amat merasa tertolong dalam menuliskan isi artikel saya sendiri, dan tentu saja mengenai pengalaman diri saya sendiri.

Saya memutuskan untuk melakukan vasectomy ketika anak saya yang ke lima lahir di Surabaya di RKZ (Rooms Katholiek Ziekenhuis) Jalan Diponegoro, Surabaya.

Saya sudah membicarakan dengan istri saya terlebih dahulu dan dia juga mafhum dan serta-merta menyetujuinya.

Anak bungsu saya itu, sekarang saya berani menyatakan dengan yakin 100% bahwa anak saya benar anak bungsu.

Usia anak bungsu saya itu sekarang sudah menginjak tiga puluh dua tahun dan telah melahirkan anak, yang merupakan cucu saya yang ke enam.

Mungkin sekitar dua minggu yang lalu ada seorang kenalan baru saya yang bertempat tinggal di Indonesia yang waktu itu sedang berkunjung ke Seattle, State of Washington, Amerika Serikat, menengok salah seorang anaknya. Melalui email maka dia telah menunjukkan alamat email dari dokter yang telah melakukan operasi vasectomy terhadap diri saya. Saya mengirim email ke dokter tersebut. Sayangnya sampai saat saya ketik tulisan ini, saya masih belum mendapat jawaban dari dia. Pada hal saya hanya menyatakan dua hal. Pertama apa kabar dan kedua saya mau mengatakan bahwa saya ingin menulis mengenai operasi vasectomy yang telah dilakukannya terhadap diri saya, pada lebih dari tiga puluh tahun yang telah lalu. Dan tentu saja ini akan mungkin terpaksa untuk menyebut namanya, dan sedikit banyak memang saya mau menyebut namanya di dalam tulisan itu (yang saya ketik sekarang ini). Jadi baiklah, saya teruskan dulu menulis. Kalau nanti mendekati selesainya saya menulis dan melakukan pengetikan, saya akan mengambil keputusan bagaimana: disebut atau tidaknya nama dia. Toh tidak ada bedanya bagi saya. Saya tidak akan dituduh telah melakukan pelanggaran kode etik apapun juga. Yang amat mugkin sekali malah saya menduga akan banyak kaum laki-laki yang kurang senang membaca sebagian isi tulisan ini. Tetapi yang sebaliknya, ini harapan saya juga, pasti akan ada juga yang bisa memperoleh kegunaannya.

Operasi dilakukan, kalau tidak salah pada akhir bulan Maret 1975, kira-kira sebulan setelah anak bungsu saya lahir.

Sesuai perjanjian saya yang diminta datang pada pukul delapan pagi, saya bersama istri saya Jekti, datang naik mobil bersama pengemudi, selain mengantar seperti biasanya, ada antisipasi seperti berikut.

Saya ingin yakin bahwa kalaupun saya nanti mengalami sesuatu yang tidak diharapkan, saya menginginkan, agar pak sopir pengemudi mobil, sebuah mobil merk VW Kombi berwarna hijau yang menjadi favorit keluarga, dapat membawa saya pulang ke rumah dengan selamat, tanpa kurang sesuatupun.

Hanya sebentar saja saya menunggu dan saya cepat sekali dipanggil untuk masuk ke dalam kamar operasi. Istri saya duduk menunggu diluar ruang operasi.

Mula-mula kikuk juga saya di dalam ruang operasi, lebih-lebih kikuk lagi, karena di dalam kamar operasi itu ada juru rawat perempuan yang menemani dokter, saya masuk ruangan ini kan berjalan sendiri dan berpakaian sehari-hari.

Pada tahun 1960 saya sudah pernah mengalami dioperasi appendectomy (usus buntu) di RS Katholik di Tsukiji, Tokyo, di Jepang, pada waktu itu, saya dalam keadaan sudah disuntik pra bius terlebih dahulu di kamar rawat; lagi pula saya dalam keadaan berbaring dan setengah tidak sadar, didorong di atas kereta roda untuk pasien ke dalam ruang operasi. Semua dokternya orang Jepang sedang bahasa Jepang saya juga belum lancar, tetapi kebetulan dokternya lulusan sekolah dokter di Amerika Serikat, jadi saya bisa leluasa menyatakan keluhan saya dalam bahasa Inggris.

Kali ini kikuk memang, tetapi saya tidak merasa gentar atau apapun. Yang saya inginkan hanyalah bagaimana aturan yang lazim dan seharusnya, lalu saya ini harus bersikap bagaimana. Mungkin dokter melihat kecanggungan sikap saya dan mengatakan: “Buka saja pakaian bagian bawah semuanya”.

Nah, begini dong, barulah saya tanpa ragu, segera berbuat seperti diperintahkan oleh sang dokter.

Dokter ini yang memang teman sekolah saya di SMA Katholik St. Albertus, di Jalan Dempo di kota Malang dulu sekitar tahun 1958. Sekarang dia sudah berhasil menjadi seorang ahli bedah dan akan membedah bagian tubuh saya!

Saya juga tahu dia waktu menjadi pelajar di SMA, telah berada di peringkat sabuk coklat dalam ilmu bela diri Judo. Meskipun demikian halnya, saya juga yakin dia tidak akan keliru menggunakan ilmunya, bukan bela diri Judo akan tetapi Ilmu kedokteran dan sebagai ahli bedah.

Apalagi dia akan membedah bagian tubuh saya yang amat penting bahkan bisa digolongkan amat vital bagi saya selaku seorang laki-laki.

Saya disuruh naik ke meja operasi dan saya langsung berbaring dan terlentang.

Dokter segera melakukan injection di alat vital saya.

Saya lupa di bagian mana tetapi saya duga dan seperti saya rasakan di bagian buah zakar. Rasanya seperti biasa, seperti halnya orang kalau disuntik selama ini (pada waktu itu).

Sedikit saja sakit terasa tusukan jarumnya.

Injeksi yang berikutnya saya sudah sama sekali tidak merasakan apa-apa.

Kalau tidak salah saya diinjeksi sebanyak tiga kali.

Terkejut juga saya waktu dokter mengtakan: “Mau melihat?” Saya belum bergerak dan dia sudah menambahkan:”Duduk saja!” katanya singkat. Saya menurut saja sambil tetap dalam posisi membuka kaki saya lebih lebar daripada kalau saya sedang berdiri tegak sambil berkacak pinggang, atau lebih lebar daripada lebar bahu saya dari kiri ke kanan. Apalagi saya melihat peralatannya yang macamnya tidak banyak; saya hanya ingin agar tidak mengganggu dokter dalam melaksanakan tugasnya. Bukannya saya ini terlalu sopan, akan tetapi saya juga kawatir kalau-kalau dia menjadi repot dan keliru melakukan tugasnya, dan yang rugi kan pasti adalah saya sendiri.

Dia bilang lebih lanjut: “Selama ini yang dilakukan adalah membuat belekan (maksudnya incision, pengirisan, pembedahan awal, atau insisi) di kedua buah zakar, akan tetapi saya akan melakukan cara lain, yaitu hanya melakukan satu kali insisi saja di satu tempat.

Persisnya yaitu di antara dua buah zakar. Menghindari meng-insisi di dua tempat itu, karena bisa menggeser kedua saluran yang harus dipotong dan diikat dari masing-masing zakar ke tengah dan melakukan ikatannya”. Saya cuma bisa mengangguk-angguk saja, karena hanya itulah yang bisa saya lakukan, biar kelihatan seperti orang pinter yang patut bisa diajak melakukan dialog seperti ini. Dalam batin saya berpikir: Ini methode baru atau saya dijadikan kelinci percobaan, ya? Ah biar saja deh, toh ini bukan bidang keahlian yang saya miliki dan bukan sama sekali menjadi tugas saya!

Not my worry at all.

Saya saksikan dan melihat dia melakukan penggeseran pipa saluran spermatozoa atau sel benih dari arah samping ke lubang lokasi insisi, mengeluarkannya dari dalam dan melakukan pemotongan awal serta mengikatnya kembali. Demikian juga seterusnya seperti halnya yang pertama tadi, melakukan yang kedua kalinya dari sisi samping yang lain.

Dia menariknya keluar dan mengerjakan seperti apa yang dia telah katakan sesuai dengan rencananya semua.

Setelah meyakini semuanya beres maka dia melanjutkan dengan mulai menjahit insisi.

Capai juga saya melihat dengan cara duduk seperti ini, dan saya merasakan tulang punggung saya menjadi kaku, jadi saya mengatakan bolehkah saya berbaring karena capai?

Sambil berbaring saya tidak merasakan bahwa saya sedang dijahit. Dia melakukannya juga dengan ketenangan seperti halnya dulu saya lihat dia dan saya mengenal dia sebagai seorang pelajar yang kalem dan serius.

Iya, saya mengingat bagaimana dia terkenal sebagai murid yang paling pandai dengan nilai-nilai dalam rapotnya yang luar biasa bagus. Terbukti setelah dinyatakan lulus, dia dinyatakan sebagai bintang pelajar di sekolah kami di SMA St. Albertus di Jalan Dempo, Malang. Saya juga mendengar di kemudian hari sebuah berita dari teman lain, bahwa dia telah lulus sebagai dokter dengan predikat Cum Laude.

Saat selesai dokter melakukan tugasnya dia persilakan saya untuk bangun dan perawat menanyai saya apakah saya tidak merasa pening atau perasaan lain? Ketika saya nyatakan tidak, maka saya dibolehkan duduk dan turun dari meja operasi. Saya lihat bahwa bagian yang dioperasi telah dilapisi dengan kain pembalut dan diplester . Sambil menuju ke tempat duduk yang ada di situ, saya tanyakan apa saja yang harus saya perhatikan?

Saya mulai mengenakan kembali pakaian saya yang tadi saya lepaskan sebelum naik ke meja operasi.

Saya diberi tahu bahwa tempat yang dioperasi tidak boleh terkena basah, terutama waktu mandi, upayakan tetap kering selama dua hari dan banyak istirahat. Saya mengangguk dan tidak menjawab dengan kata-kata apapun. Kemudian dengan sedikit menahan suaranya dokter ini membisiki saya: “Hati-hati ya, selama beberapa kali, masih tergolong tembakan seperti dengan peluru tajam!” Barangkali mata saya sedikit melotot mendengar ini, tetapi saya cepat dapat menangkap arti dan maksudnya. Masa orang sudah mempunyai anak lima orang kok tidak mengerti kalau dinasihati seperti ini??!! Dalam batin, saya melucu sendiri, tidak berani berkata-kata, karena nanti dianggap tidak pernah bisa serius: Wah, memang saya tidak dilindungi asuransi apapun untuk diclaim sebagai akibat dari peluru tajam. Lagi pula mana ada asuransi macam itu?? Haha!

Setelah mengucapkan terimakasih kepada dokter dan suster serta selesai semua prosedur administrasi, saya langsung menuju ke mobil dengan berjalan agak perlahan.

Apa sebab? Karena ada tambahan beban di bagian tengah tubuh saya, berupa kain pembalut. Tangan saya digandeng oleh istri saya ke arah mobil di tempat parkir. Tarik napas dan membiasakan gerak kaki biar bisa terlihat seperti orang biasa yang sedang berjalan dengan normal. Okay, akhirnya saya bisa seperti yang diharapkan, persis sebelum masuk mobil VW Kombi. 

Pulang dari rumah sakit, saya mengambil tas pakaian yang sudah disiapkan dan langsung menuju Lapangan Terbang Juanda, menuju Jakarta. Perjalanan ini memang sudah direncanakan dan tidak bisa saya batalkan atau saya undurkan. Itulah sebabnya mengapa waktu saya diberitahu agar banyak istirahat, saya tidak berkomentar apapun.

Sampai di Lapangan Terbang Kemayoran, saya dijemput oleh dua orang teman saya dengan mobil. Mereka kelihatan kusut masai mukanya. Tiga EL: Letih Lelah dan Lesu.

Sampai di mobil, mereka bilang kamu yang setir, kita ke Bandung sekarang! Kan mestinya besok?

Mereka bilang sekarang saja. Barulah saya bilang bahwa tadi pagi saya dioperasi vasectomy.

Mereka melotot sambil tergelak tanpa suara, dan kemudian baru sadar akan situasinya. Mereka sedang Tiga EL karena tidurnya sedikit sekali semalam, dan saya baru operasi alat vital. Kita bertiga tertawa lepas dulu dan akhirnya saya toh harus mengalah, daripada celaka di jalan karena berbahaya sekali bila pengemudinya mengantuk.

Di dalam perjalanan ini, saya mendengar dari salah satu teman saya itu bahwa dia pernah berjalan di suatu tempat di Riviera. Dia lihat seorang laki-laki ngganteng menebar pesona dan para perempuan melirik dia tiada berkeputusan.

Dia melihat laki-laki yang diduganya sebagai seorang gigolo itu, mengenakan baju kaus model ketat dan sebuah kalung besar terbuat dari emas menggantung di lehernya dengan sebuah bentuk gantungan yang menarik.

Dia bilang gantungan itu adalah tanda yang akan membuat orang tahu bahwa dia telah di-vasectomy. Bangga!! Hahahaha lagi, sambil saya merasakan bahwa ini disengaja agar saya tersindirrr … Saya bilang: Terlambatlah menjadi gigolo, anaknya saja sudah lima orang ….. .

Saya yang tidak mengharapkan akan mengemudi mobil hari ini, terpaksa demi keselamatan saya sendiri. Tiga jam lebih sedikit, saya bersama dua orang yang hampir selalu tertidur sepanjang jalan, selamat sampai di depan hotel Homann. Beres. Masuk kamar, saya baru ingat, kalau saya perlu mandi. Dan tentu saja saya ingat tidak boleh terkena air. Mulailah saya meributkan di mana saya bisa mencari selembar plastik. Nah, cari-cari tidak dapat, telepon ke Housekeeping, tidak ada, maka saya ingat kan biasanya ada disediakan untuk membungkus pakaian yang akan di-laundry. Itu saja!!

He masih kurang! Apa lagi?

Cellotape!

Akhirnya dengan menyuruh membeli oleh seorang Room Boy hotel, didapatkanlah yang agak lebar dan digulung panjang dan rapi. Sebelum kedua benda tersebut di tangan, maka kedua teman tersebut terheran-heran melihat hasil kerja dokter Surabaya yang dikenal mereka juga. Mereka berdua bergidig-gidik seperti layaknya seekor anjing yang baru disiram air kalau dimandikan.

Kelihatan mereka ini mengalami rasa ngeri.

Dua benda itulah yang menjadi amat penting selama dua hari berikutnya, bagi saya. Amat menolong.

Saya merasakan ada perlunya untuk menceritakan apa yang melatar belakangi mengapa saya mau mengambil keputusan untuk melakukan operasi vasectomy. Saya sendiri tidak mengetahui apa saja yang bisa terjadi kalau melakukan operasi dan bagaimana side effectnya, kalaupun ada.

Memang anak saya sudah lima orang dan sebenarnya saya pun berasal dari keluarga besar juga. Ada sebelas orang bersaudara di dalam keluarga ayah ibu saya, dan saya nomor tiga. Cucu ayah dan ibu saya waktu itu juga sudah banyak, mungkin hampir tiga puluh orang. Saya sudah biasa bergerombol beramai-ramai di dalam rumah.

Pada awal 1970an program Keluarga Berencana mulai digalakkan dan saya melihat progam baik ini menggebu-gebu dan saya lalu curiga. Biasalah saya mencurigai hampir semua program pemerintah kita. Apa sebabnya? Seperti biasanya kalau Pemerintah mempunyai kemauan, maka para punggawanya melakukannya dengan giat.

Amat kentara bersungguh sungguh dan condong berlebihan- excessive, dengan tujuan sampingan yang tidak resmi.

Tidak resmi?

Iyalah, biasa …… korupsi!

Pembuatan kondom dan mendatangkan pil KB dan alat-alat kontrasepsi dari negeri lain serta pembiayaan-pembiayaan untuk supervise – menyelia kegiatan-kegiatan semua jenis program-program itu.

Saya juga medengar keluhan ibu-ibu yang masih muda terhadap kelainan rasa aman dan rasa ke-tidak-nyaman-an yang dialami mereka dalam program : – Intrauterine Devices (IUD) .

Pil KB juga ada akibat bersisi buruknya: menjadi gemuk, menjadi kurus dan hal-hal lain. Mendengar “kericuhan” inilah saya mulai berpikir bahwa ada ketidak-adilan dalam perlakuan terhadap jenis manusia yang disebut kaum perempuan. Saya juga mengerti bahwa kondom memang mempunyai nilai berhasil yang tinggi.

Tetapi cukup banyak juga yang mengatakan ada rasa yang menyebabkan berkurangnya rasa kenikmatannya.

Saya sudah mendengar sedikit-sedikit mengenai vasectomy dan akhirnya saya beranikan diri menghubungi dokter yang teman saya tadi, apalagi karena dia ahli bedah.

Apa salahnya kalau saya memulai sesuatu, tidak lagi dengan berbisik-bisik dan tidak lagi taboo untuk membicarakannya dengan orang lain. Waktu itu belumlah bersifat serta bernilai yang wajar untuk membicarakannya biarpun di antara pria, membicarakan seperti ini dengan seorang dokter sekalipun, bagi kaum laki-laki seperti saya, ada rasa segan tidak menentu. Apalagi saya mendengar bahwa mungkin sudah ada sekitar duaratus anggota Angkatan Udara Republik Indonesia yang telah di-vasectomy. Jadi di seluruh Jawa Timur, mungkin belum mencapai tiga ratus orang yang melakukannya.

Saya ingin menjadi salah satu pemula yang melakukannya dengan diam-diam karena data yang saya sebutkan tadi saya dapat juga dari berbisik-bisik.

Sama sekali saya tidak memperolehnya dari sumber yang “bisa dipercayai” kebenarannya.

Kaum laki-laki biasanya berpikir amat manja dan ingin mendapatkan kemudahannya saja. Penderitaan istrinya sendiripun mungkin tidak terlalu diperhatikannya. Kalau diambil hasil survey mengenai vasectomy, saya hampir bisa memastikannya bahwa kaum laki-laki amat terbukti “pengecut” juga terhadap masalah ini. Atau boleh dicari korban lain: penerangan dari pihak pemerintahnya sangat kurang. Coba baca karangan Pak Nadesul di website Kompas di atas yang ditulisnya, dan dimuat pada tahun lalu di Kompas. Di dalamnya tersiat masih ada rasa enggannya kaum laki-laki untuk melakukannya.

Padahal saya telah melakukannya dan di dalam lingkungan sendiri, saya termasuk yang pertama kali.

Pada tahun 1980an, saya sempat mengikuti sebuah seminar berjudul KB UNTUK LAKI-LAKI yang moderatornya antara lain ada yang bernama Bondan Winarno yang terkenal sebagai penulis dan seorang Kiai (Dahlan? Saya lupa).

Pak Kyai menyatakan program Vasectomy itu dinyatakan tidak disetujui oleh Majelis Ulama Indonesia. Haram hukumnya. Saya mengacungkan tangan menginterupsi.

Saya memberitahukan dan menyatakan bahwa saya sudah vasectomy pada tahun 1975 dan saya sampai saat itu belum pernah mendengar pernyataan seperti itu. Saya hanya mendengar bahwa Departemen Kependudukan dan Program Keluarga Berencana, ikut menggalakkannya. Saya minta dengan sangat agar persoalan ini di“bereskan” antara MUI dengan Pemerintah. Agak berapi-api saya mengemukakan ini. Kemudian pak Kiai ini mengatakan bahwa saya tidak berdosa karena saya tidak mengetahui sebelumnya. Saya bukan tambah merasa diredam kejengkelan saya, malah rasa nya bertambah jengkel dan saya mengatakan lebih lanjut: “Pak Kiai tidak bisa mengatakan saya berdosa atau tidak berdosa dan saya hanya akan memperoleh hasilnya nanti di pintu akhirat, bukan ditentukan oleh pak Kiai!!”

Dia tidak mengeluarkan pernyataan apapun lagi mengenai hal ini dan memperlihatkan muka yang kecut asam dan pandangan yang tidak menentu. Istilah Jawa yang sesuai adalah: clingak-clinguk! Hadirin bertepuk tangan riuh.

Dalam seminar ini, sdr. Bondan Winarnopun juga ingin mendemonstrasikan sesuatu. Dia minta kepada salah seorang hadirin untuk secara sukarela maju kedepan dan sesampai didekatnya dipasangi di salah satu jarinya dengan sebuah kondom. Sdr. Bondan ini menggeser-geserkan jarinya sendiri di sepanjang kondom, dan bertanya apa terasa atau terasa kurang nyaman? Si sukarelawan menyatakan tidak.

Bangga sdr. Bondan ini menirukan iklan American Express Credit Card: Do Not Leave Home Without It !!

(Jangan lupa untuk membawanya kalau keluar rumah).

Ah, saya yang telah dibuat jengkel oleh pak Kiyai, masih juga ingin melampiaskan kejengkelan dan sdr. Bondan ini bagi saya adalah tempat yang sesuai. Saya ambil secarik kertas dan saya scribbled (corat coret) di atasnya dan menghasilkan sepotong kalimat yang berbunyi: Do Not Leave Home Without It, meaning that you do it outside your home??? (Jadi artinya anda melakukannya di luar rumah???). Waktu dia turun dari panggung dan berjalan melalui daerah yang dekat dengan tempat saya duduk, saya gamit dia dan saya berikan kertas itu. Dia meneruskan beberapa lagkahnya sampai di belakang saya duduk, dan saya merasakan pandangan matanya di tengkuk saya; dia meneruskan langkahnya keluar ruangan.

Saya bertempat tinggal di Tebet sejak 1977 sampai 2005 dan saya pernah mendapat Piagam sebagai satu-satunya penduduk di dalam Kelurahan Tebet Barat, yang pernah mengikuti program KB Laki-Laki: Vasectomy. Saya mendapat sebuah Kartu Discount dari Program Keluarga Berencana untuk membeli obat-obatan dan lain-lain.

Saya ingin rekan-rekan saya yang laki-laki, mau dan bersedia mengikuti langkah saya pada lebih dari tiga puluh dua tahun yang lalu yang telah saya lakukan, tanpa mengalami effect samping berupa apapun. Lelucon yang paling saya sukai: Kalau ada yang berkomentar bahwa saya kelihatan berpenampilan lebih muda daripada umur sebenarnya, maka saya jawab karena saya suka makanan yang pedas-pedas.

Sering juga saya sebut karena saya sudah vasectomy!!

Mulai memperbaiki keadaan sekeliling?

Mulailah dari diri sendiri!!