Mulai Senin 16 Juli minggu lalu selama beberapa hari ribuan buruh PT Hardaya dan PT Naga Sakti Parama berdemo di kantor Nike yang bertempat di Gedung Bursa Effek Jakarta. Mereka mendesak Nike agar tetap memberi order ke dua pabrik sepatu tersebut. Dari orasi dan spanduk yang tampak di layar TV, mereka meminta pertanggung jawaban nasib buruh.



Tanpa menafikan kenyataan bahwa dinegaranya sendiri
Nike menuai kecaman dari LSM karena memanfaatkan
pekerja anak di dunia ketiga, marilah kita mengajukan
beberapa pertanyaan mengenai aksi buruh yang satu ini.


Apakah Nike berhak memutuskan kontrak suplai sepatu
dari PT HASI dan PT Nasa? Bisa saja sesuai dengan
bunyi perjanjian. Malah Nike sudah memberi aba2 9
bulan sebelum masa perjanjian selesai.

Apakah Nike hengkang dari Indonesia? Belum. Karena
selain 2 pabrik tukang jahit sepatu tadi, masih ada 8
pemasok lagi dari Indonesia.

Apakah Nike wajib memberi pesangon sebagai dituntut
pendemo? Tuntutan itu salah alamat. Karena Nike
bukan pemilik PT HASI dan PT Nasa. Yang wajib memberi
pesangon adalah pemilik yaitu Sri Hartati Murdaya.

Tidak sulit untuk menduga, bahwa Sri Hartati Murdaya
telah memperalat buruh untuk menekan Nike. Apakah Sri
Hartati Murdaya orang sakti? Ya, dia itu menyetir
Walubi (Buddha Indonesia). Dia "dermawan". Dia juga
anggota DPR.

Departemen Perindustrian dan Depnaker harus bersikap.
Bersikap sebagai regulator agar persepsi iklim usaha
terjaga baik. Iklim usaha rusak, rusak pula upaya
penciptaan lapangan kerja. Jangan sampai pemerintah
diperalat oleh Sri Hartati Murdaya.

Salam,
RM

http://www.suarapembaruan.com/News/2007/07/16/Utama/ut01.htm