23 Juli 2007 Dulu waktu saya masih kecil, banyak yang bertanya kepada saya " Nanti kalau sudah besar mau jadi apa, nak ?". Kebanyakan yang bertanya tentu  mengharapkan jawaban saya tidak akan jauh beranjak  dari "mau jadi  insinyur" (akhirnya memang saya alhamdulillah berhasil meraih gelar insinyur dari ITB sebelum ITB dikenal sebagai ITB, tapi masih  merupakan fakultas teknik dari Universitas Indonesia. Gelar itu
sendiri sudah sekian lama ini tidak lagi saya cantumkan didepan nama
saya). Atau dalam kesempatan lain mungkin saja jawaban saya – dan
ribuan kalau bukan jutaan anak-anak lain di persada tanah air tercinta
ini – adalah "mau jadi dokter" misalnya. Keinginan mau jadi dokter
mungkin saja terpicu melihat cara kebanyakan orang memandang profesi
kedokteran tempo doeloe kira-kira seperti menjadi setengah dewa, atau
setengah tuhan begitu. Itulah aura dokter zaman dulu. Selalu gagah
(mana ada dokter zaman dulu yang "kucel"), selalu rapi, dan selalu
bersih. Rumahnya saja seringkali bau disinfectant. Jadi bukan saja
deretan bukunya yang membuat orang ternganga (wah…dokter yah….),
tapi juga bau interior rumahnya. Nyaris steril. Tak ada ceritanya dulu
dokter itu "slebor".  Bicara mengenai cita-cita, seingat saya, tidak
pernah saya menjawab "mau jadi Mr.". bagi orang yang tidak tahu apa
itu gelar "Mr." : dua huruf itu adalah kependekan dari "Meester In De
Rechten" (bahasa Belanda). Kalau sekarang lebih dikenal dengan "SH",
yang dicantumkan dibelakang nama. Seorang ahli hukum, begitu.

Demikianlah orang dahulu punya cita-cita mau jadi seorang profesional.
Tidak banyak yang berubah. Sekarang pun masih begitu. Cuma perlu kita
sadari bahwa jenis profesi zaman sekarang sudah jauh lebih  banyak
dari dulu. Dulu mana ada yang namanya "MBA" misalnya ? Montir mobil
dulu sudah banyak. Tapi montir TV 'kan belum ada ? Polisi dari dulu
sudah ada. Tapi Satpam 'kan belum ada ? Ojek juga belum ada ? Serdadu
dulu ada. Sekarang namanya ditukar menjadi Tentara. Istilah "Anak
Panggung" dulu banyak dikenal. Mungkin sekarang lebih dikenal dengan
"artis". Suatu kata generik yang bisa menunjuk pada "artis panggung",
"artis film", dsb. Yang sekarang cenderung digabung jadi satu :
"selebriti", yang (di Indonesia) juga dapat mencakup anggota DPR wakil
rakyat yang terhormat, terutama sekali yang suatu sisi kehidupannya
bersinggung dengan kehidupan artis, eh..maaf :  "selebriti", yang
kadang-kadang berakhir dengan "direcall"-nya sang anggota DPR tadi.
"Recall" adalah semacam euphemism yang lazim digunakan supaya tidak
terdengar se-vulgar "dicopot" misalnya, atau "dipecat" misalnya.
Substansi-nya sama saja : tidak lagi jadi anggota terhormat wakil
partai (setidak-tidaknya begitu, kalau pun bukan wakil rakyat).

Bicara mengenai "artis" atau sebutan yang lebih digandrungi lagi :
"selebriti",  maka untuk sebagian masyarakat tertentu inilah "profesi
idaman". Betapa tidak ? Pendapatan ber-M sekali kontrak. Rumah wah.
Mobil wah. Gaya hidup penuh glamour. Makan di resto high cuisine.
Kalau ke luar kota menginap di hotel berbintang. Hidup kawin cerai tak
soal. Asal duit melimpah. karena bukankah duit segala-galanya ? Untuk
apa jadi dokter, kalau "kucel" begitu ? Ke tempat praktek saja sering
pakai motor. Mobil tdk terbeli.

Seluruh anak tangga menuju predikat "selebriti" ditempuh orang. Kadang-
kadang at all cost, if you know what I mean. Dari mulai tangga
terendah sebagai foto model. Lalu meningkat sebagai artis iklan.
Kemudian menjadi pemeran ekstra. Kabarnya sungguh berliku jenjang
untuk menuju martabat idaman itu. Walaupun kabarnya bukan tidak ada
"jalan pintas". Asal mau saja. Hal ini begitu mewabahnya, sehingga
orang membanggakan anaknya sudah berhasil menjadi artis, nada
bicaranya seperti orang dulu membanggakan anaknya sudah jadi dokter
yang penuh disinfectant.

Produk para selebriti adalah "mimpi". Mereka menjual "mimpi" dalam
wujud cerita2 picisan yang diramu menjadi suatu taferil bergerak  yang
disebut "sinetron". Orang-orang tertentu tahan menonton berjam-jam
apabila sang artis pujaan sedang bergaya di layar TV.  Itulah mimpi
yang mereka beli. Yang jualan mimpi adalah industri mimpi dengan
sendirinya. Yaitu jaringan-jaringan usaha yang melibatkan production
house, artis (eh……selebriti), dan seabrek profesi pendukung,
seperti cameraman, tukang sorot, scriptwriter, property, dsb, yang
diramu menjadi adegan-adegan yang aduhai, dengan latar belakang
exterior dan interior rumah mewah, mobil mewah, sekompi pembantu rumah
tangga, glamour lah pokoknya. Semua bermuara di layar TV orang-orang
yang menonton di rumah. Tersaji sebagai "mimpi". Orang pun hanyut
dalam peran para selebriti. Si ayah membayangkan dirinya adalah "ayah"
di layar TV. Yang lebih gagah, lebih mentereng busananya, mungkin juga
lebih tebal sakunya. Lebih…lebih…lebih. Si ibu membayangkan
dirinya sebagai Sang Nyonya cerewet yang berdandan bak toko berjalan
di layar TV. Si remaja juga tidak ketinggalan bermimpi menjadi remaja
di layar TV, yang kemana-mana hilir mudik naik mobil sport super
mewah. Dsb….dsb….dsb………..

Siapa yang membayar ini semuanya ? Pada tataran pertama yang membayar
kelihatannya adalah biro iklan. Dari situlah duit mengalir. Biro iklan
dapat duit dari mana ? Dari pemasang iklan, yang biasanya terwakili
oleh segmen-segmen produksi barang dan jasa yang mengiklankan
produknya masing-masing. Tapi pada akhirnya sebetulnyua penontonlah
yang membayar. Penonton adalah konsumen dari produk-produk yang
dipajang oleh sekian banyak iklan itu, bukan ? Bukankah mereka yang
membeli ? Pertanyaannya : is it worth buying ?

Orang bisa berargumen bahwa ini adalah suatu win-win deal. Industri
mimpi dapat income. Dan konsumen pun terhibur. Logis 'kan ? There is
no such thing as a free lunch, bukan ? Nothing is free in this world.
Kalau mati pun harus bayar bukan ? Paling tidak kuburan harus disewa.

Salah satu bait dalam lagu kebangsaan kita berbunyi
"……….bangunlah jiwanya, bangunlah badannya…………….".
Dengan cara begitukah kita membangun jiwa bangsa ? Dengan menjual
mimpi ? Membudayakan hedonisme ?

Arifin Abubakar
Jakarta, 23 Juli 2007