Rabu, 21 September 2005  Gesundheit adalah kata dalam bahasa Jerman yang berarti Kesehatan. Judul ini adalah sebagian dari judul sebuah buku karangan Hunter Doherty Adams dan Maureen Mylander yang sudah difilmkan dengan judul lengkap: Gesundheit. Goodhealth is a Laughing Matter terjemahan bebasnya adalah Kesehatan adalah masalah tertawa. Film ini dibuat oleh Universal Studios pada tahun 1998 dan beredar pada awal 1999.

 

Saya teringat dalam salah satu tulisan saya berjudul Matsuri (15 Agustus 2005) yang menyinggung masalah tertawa seperti diterangkan oleh dr. Salim Harris Sp.S. (Spesialis Syaraf) R.S. Tjipto Mangoenkoesoemo Jakarta, mengenai tertawa. Dia bilang seorang IPS (Insan Pasca Stroke – orang telah terkena keadaan stroke) telah banyak yang rusak syaraf tertawanya dan terlihat terkesan kaku dan sukar tertawa. Dia menganjurkan kita yang masih sehat ini agar suka tertawa dengan terbahak-bahak membuka mulut selebar-lebarnya dan berbunyi haha haaaa ha ha haaa yang mengakibatkan sehat jiwa dan raga. Apalagi tertawa terbahak-bahak tidak dapat pura-pura seperti halnya kalau tersenyum simpul atau malah tersenyum malu-malu kucing. Tertawa terbahak-bahak amat menyehatkan jantung dan menggunakan banyak pembakaran kalori. Tersenyum sering sekali bersifat palsu dan bohong, itu tidak apa-apa. Meskipun tersenyum itu perlu dan banyak manusia menyukai dan suka juga dibohongi oleh orang lain, itu tidak apa-apa juga! Seringlah tersenyum dan jalan hidup anda akan banyak memperoleh akibat baik karenanya.

Buku ini mengisahkan riwayat seorang dokter yang dimulai sejak tahun-tahun pertama di Fakultas Kedokteran.

Sifat Pribadi sang mahasiswa ini, Hunter “Patch” Adams, memang sering ceria, istilah Betawi memang dari sononya, gembira bahkan menurut sang dekannya gembira yang berlebihan (excessive happiness). Dia tertawa amat banyak kali setiap saat dan juga mengajak dan membuat orang sekelilingnya “terpaksa” ikut tertawa.

Dia tidak perduli bahwa yang diajaknya bergembira itu rekan mahasiswa, perawat dan dokter, boleh dikatakan siapapun saja yang berada disekitar dirinya.

Di sinilah mulai terdeteksi masalah dan timbullah persoalan.

Patch yang masih duduk di tingkat tahun kedua mulai melawak dan melucu di depan para pasien yang dirawat di Rumah Sakit. Hal ini melanggar peraturan internal Fakultas dan Rumah Sakit, yang mengatakan bahwa mahasiswa fakultas kedokteran hanya boleh mendekati atau berada dekat dengan pasien setelah dia menginjak tingkat tahun ketiga. Sebelum tingkat tahun ketiga dilarang dengan keras.

Patch yang secara alamiah adalah seorang penggembira dari dalam hatinya (execessive happiness), secara sungguh-sungguh melakukan pelanggaran demi pelanggaran antara lain mengenai “dekat” dengan pasien ini. Pak dekan marah besar, memperingati Patch berkali-kali akibat sifat gembira serta kemauannya yang menggebu-gebu menghibur para pasien yang sedang murung dan menunggu ajal. Dia bahkan mengunjungi bagian anak-anak yang menderita cancer, yang kepalanya menjadi gundul, bermuka murung dan sama sekali menyepi dari kebisingan dan diam tidak bersuara, serta tidak ada lain kegiatan selain menunggu saat kematian. Datanglah sang Palawak Patch yang tanpa putus asa (dengan mencuri waktu pada waktu petugas lengah) tetap menghibur mereka. Memang kadang-kadang ketahuan oleh pak Dekan Walcott, diperingati dan diancam dihukum, tetapi tetap melakukan panggilan hatinya.

Semua berakhir positive bagi para pasien. Pasien yang gembira menjadi sembuh, yang pemarah menjadi tertawa.

Semua itu menjengkelkan sang dekan, teman-teman dan rekan-rekan mahasiswa, terutama sekali menjengkelkan para dokter. Dean Walcott (si Pak Dekan) mengatakan dengan tegas: “Pasien tidak perlu hiburan, yang diperlukan mereka adalah dokter”.

Para dokter juga merasa terganggu dengan derajatnya yang dianggap menjadi turun, karena “kewibawaannya” di degradasi, diturunkan dan berarti diolok-olok. Pak Dekan ini amat menjaga wibawanya dengan kuat, alasannya karena telah bertahun-tahun lamanya memang begitu.

Seorang dokter tidak boleh rapat dengan pasien.

Banyak hal yang dirahasiakan, hasil Laboratoris juga dirahasiakan dan sama sekali pasien tidak boleh tahu apa-apa mengenai keadaan klinis dirinya sendiri. Hal ini juga pernah terjadi dinegara kita, bahkan sejak jaman penjajahan belanda yang lalu.

Kalau saya mengambil hasil pemeriksaan laboratorium, baik pemeriksaan darah, urine atau apapun, saya sebagai pasien tidak boleh tahu. Kalau pengirimnya dokter A maka yang membacanya juga harus dokter A, sedangkan karena masalah jarak dan waktu, untuk menenemui dokter A, pasien harus menunggu bukan saja dalam hitungan jam, bahkan dalam hitungan hari, menunggu waktu dokter A praktek. Tetapi sejak tahun 1980 an saya bisa pergi ke Laboratorium, minta diperiksa cholesterol: HDL, LDL, Total Cholesterol, Uric Acid, haemoglobin dan segala sesuatunya mengenai darah, baik glucose atau lainnya, minta periksa urine dan faeces, hasilnyapun menyebutkan atas permintaan sendiri malah pernah dituliskan nama saya dengan gelar dr. Anwari (hahaha). Saya bisa baca sendiri dan menelepon dokter saya, membacakan hasilnya. Dokter saya menganalisa dengan cepat atas hasil pembacaan saya, dia percaya, dan memberikan “vonis”nya.

Saya bisa menyuruh membeli obat tertentu atau saya kirim orang kepada Dokter saya untuk mengambil resepnya.

Bahkan pernah saya mengirimkan photo-photo MRI (Magnetic Resonance Imaging) yang telah dilakukan pada hari sebelumnya malah saya sertakan hasil CT Scan yang sudah agak beberapa bulan lalu.

Ada peralatan baru berupa sebuah W.C. (Water Closet) canggih kalau tidak salah dibuat di negeri Jepang. WC ini disambungkan dengan computer dan bisa menganalisa urine dan faeces pemakainya dan mengirimkan hasilnya secara langsung melalui email ataupun fasilitas “chatting” ke dokter yang menangani sang pasien bersangkutan, sipemakai WC.

Dokternya, dokter benar-benar manusia, pasiennya benar-benar manusia dan peralatan laboratoriumya saja yang electronic. Hasilnya akan lebih cepat dan amat mendekati sama, meskipun dokter-pasien tidak berhubungan langsung.

Mengapa saya sebut amat mendekati, karena ada unsur meraba dan unsur visual yang menurut pendapat saya belum dapat digantikan oleh alat electronic yang paling canggih, baik berupa video maupun sensor yang model manapun juga. Untuk lebih mendalami hal ini saya silakan anda membaca buku baru/ belum sebulan terbit, yang berjudul REIKI karangan sdr. Prof. Dr. Sutan Remy Syahdeini, S.H. – 567 halaman tebalnya.

Patch Adams yang kelihatan tidak pernah belajar, cengèngèsan terus menerus, ternyata adalah mahasiswa terpintar, mencapai angka rata-rata diatas hampir semua mahasiswa lain.

Tingkahnya yang menjengkelkan sang dekan, juga semakin hari semakin bertambah, sehingga pada suatu saat dia dinyatakan dikeluarkan sebagai mahasiswa kedokteran. Hunter Patch Adams mengajukan pertanyaan mengapa, tetapi tanpa mendapat jawaban yang pantas, dan dengan gagah berani dia memasuki ruang arsip dimana dia berhasil mengambil dossier (records, file data pribadi)nya sendiri.

File ini yang biasanya berada dibagian Human Resorces Department – HRD) dan tentu saja dengan cara tanpa ijin. Ini berarti sebuah tindakan pelanggaran peraturan. Tetapi dari situlah diketahui bahwa nilai prestasinya amat tinggi dan sudah siap dinyatakan menjadi dokter. Teman sekamarnya yang semula tidak terlalu menyukainya, justru yang membantu dengan menganjurkan kepadanya agar mau bertindak mengajukan masalahnya kepada sebuah Dewan (State Medical Board) yang dapat mangambil keputusan mengenai masalah seperti ini.

Dewan ini dengan argumentasi yang tinggi mendengarkan juga pembelaan diri Patch yang “kurang bersikap hormat” karena dia menghadap kepada hadirin, termasuk anak-anak yang mengidap cancer yang datang hadir untuk memberikan dukungan kepadanya. Mereka mengenakan karet merah, berasal dari pompa karet yang digunting, dan menaruhnya diujung hidung mereka layaknya para badut sebuah circus. Mereka menunjukkan dengan “diam tanpa berkata” bahwa mereka menyukai apa yang telah dilakukan Patch dalam usahanya yang “non medis” seperti telah amat sering dilakukannya. Para anggota Dewan juga memperhatikan ini.

Kata-kata pembelaannya juga menyindir apakah pak Dokter juga harus diperlakukan dengan hormat, membungkukkan badan dan memakai jas putih untuk menjaga wibawa. Saya tidak perlu itu semuanya dan saya hanya ingin menjadi seorang dokter, dari hati saya yang paling dalam.

Mereka reses sebentar dan berunding diantara para anggota Dewan sebelum membuat keputusan akhir. Kata-kata yang digunakan dalam keputusan akhirnya antara lain berbunyi: meskipun Dewan tidak setuju dengan methods (metode-metode) yang diperlihatkan oleh Patch, Dewan tidak dapat menemukan kesalahan apapun mengenai ke“gairah”annya membantu para pasien untuk bergembira dan sembuh.

Dewan juga melihat ada api yang membara dalam diri Patch, yang amat diharapkan akan menyebar seperti layaknya sebuah kebakaran di antara semak-semak dan merasuki dunia kedokteran.

Dewan mengatakan juga bahwa agar pak Dekan Walcott tidak mengajukan kasus Patch ke Dewan yang lebih tinggi lainnya, dan malah sebaiknya ikut sedikit demi sedikit menerapkan metode-metode yang dia sebut sendiri dalam menulisi dossier Patch Adams yang dianggap sebagai sebagai excessive happiness. Akhirnya Dewan memutuskan untuk menyatakan dia lulus sebagai dokter.

Ternyata film ini ingin menunjukkan bahwa bukan academic gowns (toga) dan titel akademi yang menjadi acuan utama sebagai final confirmation atas apa yang paling penting di dunia ini.

Dalam upacara wisuda dia sebagai orang yang ketiga dalam antrian menerima ijazah dan apakah yang terjadi? Dia membungkukkan badannya ketika menghormat dekan dan para pengajar, dan toga yang dipakainya, ternyata bagian belakangnya sengaja dibelah di tengah dan memperlihatkan pantatnya. Semua yang hadir tertawa dan para dekan dan dosen tidak dapat melihat apa yang terjadi.

Patch kemudian bebalik, dan seperti pada waktu sebelumnya, badannya membungkuk serta menghormat kepada hadirin. Tentu saja kali ini sekali lagi tampak pantatnya yang telanjang oleh guru- gurunya dan dekannya “Patch” Adams ini.

Dia berkenalan dengan rekan mahasiswa wanita lainnya, Carin Fisher, yang mau berhubungan dan menghargai sifat-sifat “aneh” Hunter.

Penyesuaian pikiran dan akal budi mereka, Patch dan Carin, bermula dengan alot dan sulit. Patch dan Carin ternyata menjadi dua orang yang saling menyukai setelah Patch bertanya: Who are we? Are we friends who just occasionally kissing each other? – Siapakah kita ini? Apakah kita ini hanya sekedar teman yang kadang-kadang berciuman?

Ini adalah momen yang amat menentukan dalam masa percintaan mereka. Carin sudah amat mengerti sifat Adams.

Carin juga menyadari bahwa hanya 16 orang mahasisiwi diantara 140 lebih mahasiswa yang belajar ilmu kedokteran, dia akan kentara sekali kalau dia tidak lulus. Dengan belajar secara bersungguh-sungguh saja dia hanya mencapai tingkat angka 72 sedang Patch Adams mendapat 98, hanya dengan guyon hahaha kekanan hahaha kekiri, melawak dan melucu. Bacaan buku dan/atau makalah Patch ternyata juga cukup banyak dan sering mengutip kata-kata bahkan kalimat-kalimat dari bacaannya diluar kepala. Ini adalah kelebihan yang luar biasa. Sayang peran Carin diakhiri setelah dia berhasil membacakan sebagian sajaknya, karena Carin Fisher dibunuh oleh seorang weirdo (berkelakuan aneh seperti psychopath) atau memang gila.

Hal ini terjadi waktu Patch sedang “bertugas mencuri” obat untuk memenuhi kebutuhan clinic pribadinya bernama: Gesundheit, di Rumah Sakit. Dia melakukan hal ini karena terpaksa, sebab meledaknya jumlah walk-in-patients (pasien yang datang seenaknya kapan saja, dan membutuhkan bantuan secepatnya. Biasanya para pasien ini tanpa ditanyai apa asuransinya dan tanpa diminta untuk mengisi formulir apapun juga). Pada saat ini terjadilah kejadian tragis yang merenggut nyawa Carin, sang Kekasih. Patch menyalahkan dirinya sendiri karena kematian Carin adalah karena dia menjalankan ajaran Patch untuk mendekat kepada pasien yang memerlukan. 

Dengan emosi tinggi dia ingin meninggalkan usaha clinicnya, meskipun telah dicegah dengan sekuat-kuatnya oleh sahabat dan wakilnya didalam usaha clinic, Truman Schiff, dia tetap ingin meninggalkannya. Dia berkendaraan dan sampai disebuah tebing curam dimana adalah tempat tujuannya kalau suatu saat nanti, bersama Carin ingin mendirikan Rumah Sakit idamannya. Dipinggir jurang ini dia menendang sebuah kerikil dan jatuh kedalam jurang. Akan tetapi Patch tidak melompat dan bunuh diri seperti dikesankan kepada penonton.

Dia berbalik dan melihat di tas yang tadi dibawa olehnya dan ditaruhnya beberapa meter dibelakang, ada hinggap seekor kupu-kupu yang indah. Kupu-lupu ini terbang dari tas dan terbang menuju dia dan hinggap didadanya beberapa lama. Semua penonton masih ingat bahwa sebuah kupu-kupu menghias jendela kamar tempat tinggal Patch. Sungguh romantis adegan ini dan banyak kesan seakan-akan kupu-kupu itu adalah reinkarnasi Carin Fisher.

Banyak komentar dari para ahli, baik film atau tokoh masyarakat atau anggota masyarakat biasa. Para pemberi komentar mengirimkan surat dan email berisi pendapat masing-masing. Yang beragama Kristen, seperti halnya yang Muslim, menggugat dan menyatakan ketidak-setujuannya terhadap sebagian adegan yang menggambarkan seakan-akan dikesankan adanya indikasi hal reinkarnasi. Tetapi saya amati tidak terlihat adanya hal yang dengan jelas dapat disebut sebagai reinkarnasi, akan tetapi hanya dikesankan menjadi anggapan saja dari para pemberi komentar.

Menurut catatan, pada tahun setelah dia lulus menjadi dokter, dia mendirikan sebuah Rumah Sakit gratis sesuai cita-citanya: “first fun hospital in the world” where “love is the ultimate goal” atau “sebuah rumah sakit yang menyenangkan pertama didunia” dimana “kecintaan adalah tujuan utamanya”.

Semua orang tahu ungkapan bahwa Laughter is the best Medicine – Tawa adalah obat paling manjur.

Kata Patch lebih lanjut: Sincerecity, interactions, hugs, holding hands, community, play, humour, laughter… Great Medicine – Kejujuran, interaksi, pelukan, berpegangan tangan, komunitas, sandiwara, humor dan tawa…Obat Mujarab.

Patch Adams pada waktu menjawab pertanyaan Dewan, benarkah anda melakukan praktek kedokteran yang tidak sah? Dia menjawab panjang lebar.

Jawabannya antara lain mengatakan bahwa semua pasiennya adalah selain pasien tapi juga dokter dan dokternya juga pasien, karena saling belajar dan saling membantu. Waktu ditanya bagaimana kalau pasiennya meninggal. Jawabnya: meninggal? You treat a disease, you win, you lose. You treat a person, I guarantee, you will win no matter what the outcome. – Anda mengobati penyakit, anda bisa berhasil dan bisa tidak berhasil. Anda mengobati manusia, saya jamin, anda akan berhasil apapun hasil akhirnya.

Ada komentar berbunyi: EVERY DOCTOR SHOULD SEE IT

Dec 31, 1998. This was the most inspiring movie I’ve seen in a long time. Why, I guess it touched me so, is the fact that four years ago I was in a automobile accident and the doctors I’ve seen during this time has been many. (Still under several doctor’s care). Often I’ve come out of their office feeling as I was just a disease rather than a human being. I think every doctor should see this movie. – SETIAP DOKTER HARUS MELIHATNYA. 31 Des. 1998. Itu adalah sebuah film yang amat penuh inspirasi yang pernah aku lihat sejak waktu yang lama sekali. Mengapa, karena saya tersentuh sekali, karena faktanya bahwa empat tahun yang silam, saya mengalami kecelakaan mobil dan dokter-dokter yang saya lihat dan kenal dalam kurun waktu itu amat banyak. (Saya masih dalam pengawasan dan pengobatan dokter). Sering sekali ketika saya keluar dari kantor dokter, saya merasa bahwa saya hanyalah seakan sebuah penyakit saja dan bukan seorang manusia seutuhnya.

Saya pikir setiap dokter harus menyaksikan film ini.