Sep 28 2006

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Bung Anwari,
Saya mohon maaf karena sejak kiriman tulisan yang mutakhir mengenai Religi dan Agama saya terima dari Bung Anwari, baru sekarang saya balas. Seperti barangkali sudah dapat Bung Anwari duga, kesibukan dengan pekerjaan konsultansi yang harus saya selesaikan hari-hari menjelang Puasa Ramadhan sampai sekarang sangat banyak menyita waktu saya. Hari ini baru agak longgar.

Banyak ungkapan Bung Anwari dalam tulisan-tulisan Religi dan Agama yang
saya sepakati. Keragaman agama dan segala akibat positif maupun –
lagi-lagi – yang negatif, telah sedemikian rupa membawa bias dalam
kehidupan umat manusia dari sejak konsep "beragama" dikenal sampai
sekarang. Persinggungan-persinggungan antara agama yang satu dengan
agama yang lain tidak jarang telah menumpahkan darah sepanjang zaman.
Saya yakin bukan itu yang Dimaksudkan oleh Tuhan. Tapi manusia dengan
sifat egosentris-nya telah mengubah agama dari sarana kedamaian menjadi
sumber atau benih konflik yang berkepanjangan. Yang terakhir barangkali
adalah kemarahan umat islam sedunia yang dipicu oleh ucapan Sri Paus
dalam kuliah umumnya di Jerman baru-baru ini. Walaupun seribu kali Sri
Paus menyatakan bahwa beliau sendiri tidak sependapat dengan apa yang
beliau quote, rasa curiga umat Islam tidak akan mungkin padam.
Demikianlah perangai agama. Sehingga tidak mengherankan ada pendapat
"untuk apa beragama (formal), apabila agama hanya mendatangkan
pertentangan, dan samasekali tidak mendatangkan kedamaian ?"

Sebagaimana Bung Anwari maklumi, tulisan-tulisan saya sering (walaupun
tidak selalu) saya mulai dengan ucapan "Assalamu'alaikum Warahmatullah
Wabarakatuh", yang merupakan suatu doa sederhana namun  indah, yang
seyogianya diucapkan dengan penuh ketulusan bahwa semoga "keselamatan,
rahmat serta barokah Allah menjadi milik Anda". Patutkah kita curiga
pada orang yang mendoakan supaya kita selamat, mendapat rahmat serta
barokah Allah ? Entahlah. Mungkin karena ucapan itu sudah begitu
"standard", sehingga mungkin saja terucapkan hampir otomatis, tanpa
meninggalkan bekas yang dalam, baik pada si pengucap maupun pada
sipenerima ucapan salam sendiri. Sudah begitu melebur menjadi
keseharian yang biasa, sehingga mungkin saja tak meninggalkan bekas
yang sesungguhnya diharapkan sekali oleh Agama. Mungkin juga sikap kita
menjadi mendua karena boleh saja mulut mengucapkan "salam" tapi kalau
itu diucapkan serya tangan pun menghunus pedang bagaimana ?

Tanpa pretensi membela Islam, tapi kalau kita renungkan mengapa salam
dalam bentuk doa itu dijadikan ucapan standard dalam pergaulan, maka
mau-tidak mau kita harus sampai pada kesimpulan umum bahwa
sesungguhnyalah Islam itu bermakna DAMAI. Damai dengan lingkungan,
damai dengan diri sendiri dan damai dengan Tuhan. Tapi kenyataannya
selalu saja jauh dari itu. Mengapa ? Menurut hemat saya, itu disebabkan
manusia cenderung gelisah, merasa dikejar-kejar jadwal, super sibuk,
yang tidak menyisakan sedikit pun rasa tenang dalam batinnya. Dia
cenderung tenggelam dalam kesibukannya yang demikian beragamnya,
sehingga dia pun cenderung menjadi dangkal pemahamannya terhadap apa
yang dimaksud dengan "beragama" itu sendiri.

Mungkin karena itulah Tuhan pun menyediakan suatu sarana bagi kita
untuk beranjak dari kegalauan yang menyesakkan dada itu, dengan mencoba
secara periodik mengambil jarak dari keseharian kita untuk bermeditasi,
semedi, salat, tafakur, dsb. Ada suatu hadits yang meriwayatkan bahwa
Rasulullah saw pernah mengajak Bilal " Hai Bilal, marilah kita
istirahat dahulu sejenak". Rasulullah pun bangkit dari duduknya dan
langsung mengajak Bilal salat. Ya. SALAT. Jadi ternyata salat adalah
ISTIRAHAT. It is a moment when one distances himself or herself from
his/her everyday life and contemplates. Ini barangkali juga yang kurang
dirasakan : bahwa sesungguhnya salat itu hanya akan terasa berat
apabila memang kita sendiri sudah berniat untuk menganggapnya berat.
Untuk memandangnya sebagai suatu KEWAJIBAN. Memang benar salat adalah
kewajiban, tapi lebih daripada itu sesungguhnya salat adalah ISTIRAHAT.
Untuk contemplation. Berdua-dua dengan Tuhan dalam bilik privat.
Apabila kita focused, insyaallah akan kita rasakan kedmaian didalamnya.
Dan kalau kita sudah menghayati kedamaian hakiki dalam batin kita,
insyaallah salam pun akan terasa tulus sekali.

Ada kecenderungan untuk menjadi dangkal dalam beragama. Banyak diantara
kita beragama seoalh-olah menjadi supporter suatu klub sepakbola. Kita
gembira kalau club kita menang. Kita geram kalau club kita kalah,
diejek, dilecehkan, dsb. Kalau itu terjadi, maka kita pun menjadi
marah, dan serta merta hilanglah kedamaian batin. Ingin rasanya kita
perangi mereka yang melecehkan agama kita. Maka berkumandanglah seruan
jihad dari kiri dan kanan, dari belakang dan depan, dari atas maupun
dari bawah. Agama KITA harus menang ! Demikianlah kita beteriak sambil
tidak lupa berseru "Allahu Akbar". Alangkah teganya kita merendahkan
martabat ucapan "Allahu Akbar" untuk maksud-maksud yang sama sekali
jauh dari kedamaian.

Mengapa ? Karena kita dicekoki terus oleh para ulama, para pendeta,
para pandita, para empu, pastor, dan seabrek pemuka agama, bahwa agama
KITA-lah yang PALING BENAR. Yang lain SALAH semua. Kita memonopoli
kebenaran. Padahal kebenaran yang kita pandang sebagai kebenaran MUTLAK
sesunggunya hanya RELATIF. Karena bukankah kebenaran mutlak itu hanya
SATU ? Yaitu TUHAN sendiri ?

Dalam Surah An-Nisaa (QS 4) ayat 164 Tuhan berfirman "Dan (Kami telah
mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah kami kisahkan tentang mereka
kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak kami kisahkan tentang
mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara dengan Musa secara
langsung". Jadi, SEMUA umat manusia ini, apa pun warna kulitnya, apa
pun bahasanya, dimanapun tempat tinggalnya, SUDAH mendapat pesan Tuhan
lewat rasul masing-masing. Ada yang kita ketahui dari Quran. Mungkin
lebih banyak lagi yang tidak kita ketahui. Ada suatu riwayat yang
mengatakan bahwa rasul-rasul itu berjumlah lebih dari 125,000 orang !
Jadi : saya yakin Sang Budha Gautama adalah rasul. Lao Tze adalah
Rasul. Dan semua Rasul diberi risalah membawa KEDAMAIAN. Semua umat
manusia mendapat kewajiban beriman kepada Tuhan dan Hari Akhir serta
berbuat baik. Sehubungan dengan hal itu, simaklah Surah Al-Baqarah (QS
2) ayat 61 dimana Tuhan berfirman "Sesungguhnya orang-orang Mukmin,
orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabi'in, siapa
saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari
kemudian dan beramal saleh (= berbuat baik) mereka akan menerima pahala
dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak
(pula) mereka bersedih hati."

Demikian dahulu Bung Anwari. pada kesempatan lain kita sambung lagi
insyaallah.

Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Arifin