toaRumah kami lokasinya di kampung. Kurang lebih 300 m dari jalan besar. Dibelakang real estate Bumi Karang Indah, di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Ditengah-tengah habitat Betawi asli. Plus tentunya para pendatang yang non-Betawi juga, termasuk keluarga kami. Tapi dengan gaya hidup Betawi yang masih kental. Yang paling menonjol adalah nuansa religiusitas. Rumah kami dikepung oleh tidak kurang dari  musolla dan 5 masjid jami’. Bagi yang kurang paham apa yang dimaksud dengan masjid jami’,  mungkin perlu diterangkan bahwa masjid “jami'” adalah masjid dimana orang boleh melaksanakan jumatan. Dari mana aturan ini berasal, wallahu a’lam. Sebenarnya kalau mau jumatan dimana saja bisa. Tidak perlu di masjid yang jami’. Tapi OK lah. That’s beside the point.

Suasana pagi ini diramaikan oleh gelegar sound dari sekian banyak
pengeras suara yang nyaris memekakkan kuping. Datang dari sekian
musolla dan sekian masjid. Ada ceramah, ada bacaan-bacaan Al Qur’an,
ada pengumuman-pengumuman, dsb. Inilah ibadah yang gegap gempita.
Beberapa bulan lagi insyaallah kita akan menjelang puasa ramadhan
lagi. Bolehlah diantisipasi bahwa frekuensi telinga ini menderita
pasti akan meningkat. Pagi : azan subuh (didahului oleh bacaan Al
Qur’an, pengumuman-pengumuman). Semuanya lewat pengeras suara. Ba’da
subuh : ceramah-ceramah. Juga lewat pengeras suara. Kemudian agak
siangan sedikit : ceramah khusus untuk majlis ta’lim para ibu-ibu
(pakai pengeras suara). Kemudian berturut-turut azan dzuhur, asar,
maghrib dan isya’. Dan peaknya adalah salat tarawih/witir. Yang
SEMUANYA wajib lewat pengeras suara.

Mungkin gaya “beribadah lewat pengeras suara” ini bukanlah monopoli
habitat Betawi di Jakarta saja. Mungkin di kota-kota – besar maupun
kecil – lainnya suasana tidak banyak beranjak dari gaya “standar” ini.
Jadi mungkin saja ini adalah gejala yang umum di Indonesia. Di Mekah
dan Madinah saja tidak begitu, bukan ? Yang perlu dipertanyakan
adalah : perlukah beribadah seperti itu ? Perlukah ibadah dengan gegap
gempita ? Apalagi kalau kita kembali ke definisi IBADAH yang baku,
mustinya kita sadar bahwa yang dimaksudkan dengan ibadah adalah
PERILAKU yang berlandaskan akhlaqul karimah, moral yang mulia. Apa
yang kita sebut “ibadah” tadi mungkin hanya ritual yang (seharusnya)
hanya menjadi penopang perilaku yang santun, penuh nuansa moral mulia.
Disinilah seharusnya ritual terpantul dan mewujud menjadi cara
bersosialisasi dengan lingkungan dengan penuh santun. Tapi benarkah
nuansa religiusitas berdampak positif terhadap gaya hidup masyarakat ?
Jauhlah panggang dari api rasanya : lalu lintas tetap jugalah semrawut
oleh perilaku yang amat sangat tidak santun, tidak bermoral mulia.Di
tataran yang lebih dalam, kita lihat perangai manusia pun semakin hari
semakin cenderung serakah. Ini mungkin sudah terdengar seperti klise.
dan siapa penyebab utama itu semua ? Bukankah komponen bangsa yang
mengaku beragama Islam masih merupakan mayoritas ? Wajarlah apabila
telunjuk diarahkan ke diri kita sendiri yang mengaku beragama Islam.
Malukah kita ? Rupanya sebahagian besar tidak. Malah mungkin saja
tidak peduli.

Pernahkah Anda mendengar misa di gereja dipantulkan keluar lewat
pengeras suara ? Pernahkah Anda mendengar ritual Hindu Bali
diperdengarkan dengan gegap gempita dari kuil-kuil ? Pernahkah Anda
mendengar doa-doa Budhis yang gegap gempita karena lewat pengeras
suara ? Tidak ! Samasekali tidak. Mereka memuji Tuhan dalam
keheningan. Dalam kesenyapan. Dimana hati yang bertutur, dan bukan
mulut. Dimana jiwa yang berkomunikasi dengan Tuhan, dan bukan raga,
apalagi mulut.

Agama – khususnya Islam – telah gagal membimbing umat. Gagal dalam
memandu umat. Gagal menanamkan pantulan ibadah yang sesungguhnya,
yaitu : perilaku umat yang santun, penuh kasih sayang, sesuai dengan
komitmen yang kita buat setiap kali kita menyelesaikan salat. Bukankah
kita menyelesaikan setiap salat dengan mengucapkan salam sakral
“Assalamu’alaikum Warahmatullah” ke kanan dan ke kiri ? Semoga
keselamatan dan rahmat Allah singgah pada Anda yang di kanan dan Anda
yang dikiri ? Siapa pun Anda. Bangsa apa pun Anda. Apa pun agama Anda.
Semuanya berhak atas rahmat Allah. Manusia, fauna dan flora. Seluruh
semesta berhak atas rahmat dan kasih sayang Allah. Suatu doa, suatu
pengharapan, semoga kita dan lingkungan kita selalu sentosa dalam
pelukan Sang Rahman dan Rahim ? Bukankah kita memulai salat dengan
mengucapkan “Allahu Akbar” : Allah Maha Besar. Yang lainnya kecil
semuanya. Allah Maha Kaya. yang lainnya miskin semua. Lalu mengapa
kita masih pongah, masih angkuh , masih sombong dengan apa yang kita
“miliki” ? Betulkah itu “milik kita” ? Sejak kapan kita “punya” semua
ini ? Bukankah itu semua hanya “amanah”, hanya titipan Tuhan untuk
kita rawat dan manfaatkan sesuai dengan adagium kasih sayang pada
sesama ?

Apa yang lebih perlu : ibadah yang terpantul sebagai perilaku santun
atau ibadah yang gegap gempita lewat pengeras suara ?

Jakarta, 15 Juli 2007