Sepulang shalat Jumat pada hari Jumat sebulan yang lalu, ponsel saya yang ring style-nya masih saya set ‘vibrate’, tiba-tiba bergetar memberi tahu saya, bahwa sebuah pesan pendek masuk. Saya tersenyum ketika mengetahui pengirimnya. “Pak, saya baru (men)darat di Narita, dan akan terbang ke Seattle” demikian terbaca oleh saya begitu SMS itu saya buka. Pesan diakhiri dengan kalimat: ”Maaf akhir2 ini kurang mengikuti
aktivitas BSA. Salam, Tjan Swie Yong” Persahabatan yang tulus kadang-kadang menimbulkan hal yang “aneh”.

Sebagaimana halnya dengan sahabat-sahabat saya aktivis darat Apakabar
lainnya seperti Mas RM, pak HZM, kang Suryana dan Kang Anton, saya
sering berkomunikasi lewat SMS dengan pak Tjan atau yang lebih dikenal
dengan JASP, soal BSA tentu saja, di samping isu-isu lain seperti
perburuhan, penanganan flu burung, pilkadal DKI, atau just to say
“hallo”, seperti di atas, bahkan ketika beliau berada di LN.

Tetapi tidak “sari-sarinya” beliau bertanya tentang kesehatan saya,
seperti yang beliau lakukan pada pertengahan pekan sebelum itu. Batin
beliau seperti dapat merasakan ada yang tidak beres dengan kesehatan
saya, dan beliau tidak salah. Hari Jumat sebelumnya serangan asma yang
lumayan berat akibat cuaca yang belakangan ini tidak menentu, sering
begadang semalaman guna memenuhi tenggat pekerjaan saya, menyebabkan
saya sempat dibantu dengan oksigen, dinfus dan diinhalasi di sebuah
Rumah Sakit di bilangan jalan raya Bogor.

Tentu saja saya ketika itu tidak shalat Jumat.

Tetapi saya juga tidak jarang mengganti shalat Jumat dengan shalat lohor
walaupun dalam keadaan sehat dan ada masjid jami yang dekat. Seperti
yang terjadi beberapa pekan sebelumnya.

Loh Pak Haji koq gak shalat Jumat?

Ketika itu saya dan kawan-kawan bekerja bersama dengan Tim Pemda di
sebuah kawasan di Jabodetabek dalam sebuah perencanaan infrastruktur.
Dalam usaha mencari tarif terendah, seorang anggota Tim Pemda minta
dibuat simulasi yang memerlukan modifikasi pada model finansial yang
kami gunakan, yang hanya saya yang dapat melakukannya di Tim kami. Waktu
itu sudah lewat jam setengah dua belas dan kami sudah siap-siap untuk
Jumatan ke masjid yang yang hanya sepelemparan batu dari bangunan tempat
kami berkolaborasi. Ketika berdiri dan berniat untuk berwuduk di kamar
mandi, terfikir oleh saya, memodifikasi model itu butuh waktu sekitar
satu jam, yang apabila saya lakukan sepulang shalat Jumat, kedua Tim
akan “bengong” selama satu jam menunggu hasil hitungan saya, jadi akan
ada waktu terbuang sia-sia.

Akhirnya saya duduk kembali dan berkata: “Saya akan mengganti shalat
Jumat dengan dzuhur saja,” dan membuka kembali laptop saya guna
meneruskan pekerjaan saya, sehingga ketika mereka kembali, hasil
hitungan saya dapat saya jelas pada saat kami makan siang bersama.

Setelah itu baru saya pagi ke kamar mandi, berwuduk dan shalat dzuhur
dengan tenang di sebuah kamar di bangunan tersebut yang disediakan untuk
tempat shalat.

(bersambung)

Wassalam, Darwin