Friday, April 27, 2007 Membaca sebuah buku adalah sebuah kesenangan, sebuah nikmat dan sebuah comfort, sebuah pleasant experience dan bisa saja menjadi sebuah kemewahan rasa, yang tidak mudah untuk menggambarkannya. Membaca sebuah buku roman, buku novel atau sesuatu yang menarik perhatian tertentu bagi seseorang, tidaklah sama dengan membaca sebuah artikel pendek, sebuah esai pendek mengenai sesuatu masalah.

 Membandingkan nikmatnya membaca buku bila dibandingkan dengan melihat film yang memang dibuat khusus berbasis cerita dari buku itu, bagi saya malah lebih senang untuk memilih membaca bukunya. Pengalaman saya waktu setelah selesai melihat film The Godfather yang kesatu, kedua dan ketiga, saya merasakan membaca bukunya lebih nikmat daripada melihat filmnya. Membaca tulisan esai, menyebabkan banyak para pembacanya akan menganggap bahwa yang dibacanya itu merupakan sesuatu yang mudah untuk dibuat dan ditulis. Demikian pulalah, mungkin sekali, dengan anggapan bahwa menulis sesuatu itu tidak perlu persiapan apapun. Menurut pengalaman saya sendiri, menulis sesuatu itu sama dengan mengajarkan sesuatu hal di depan orang banyak. Yang jelas membutuhkan persiapan. Saya pernah mengajar dua jam di depan sebuah kelas.

Ternyata bagi saya biasanya membutuhkan pra persiapan membaca bahan dan menuliskan excerpts atau kutipannya yang padat, sampai memakan waktu tiga atau empat kali lebih panjang.

Mengajar bagi seorang professional, untuk satu mata kuliah secara terus-menerus, mungkin akan menjadikan dirinya melakukan sesuatu yang bersifat routine.

Sebuah kebiasaan saja.

Kalau ilmunya adalah ilmu pasti, ilmu eksakta, maka dia akan menjadi, istilah yang digunakan waktu saya masih menjadi pelajar dahulu, adalah seorang yang boleh disebut sebagai inventaris sekolah, semacam sebuah robot. Tetapi kalau sebuah ilmu yang progresif dan dinamis seperti ekonomi dan kimia, maka pengajarnya haruslah bukan seseorang yang seperti inventaris, seperti robot. Dia sebaiknya adalah seorang yang suka membaca pengetahuan yang bukan saja dalam bidang mata pelajaran pokoknya, tetapi juga di dalam bidang umum yang ada di dalam masyarakat.

Persiapan menulis juga amat tergantung kepada siapa pembaca yang ditujunya, persiapan mengajar pun amat tergantung kepada siapa yang meminati mata kuliahnya. Jadi istilah yang sesuai mungkin adalah tailor made, sesuai pesanan. Meskipun saya selama ini belum pernah menulis sebuah buku, saya sudah tahu harus bagaimana persiapannya kalau ingin menulis untuk sebuah buku. Apalagi sebuah novel.

Masalah ini saya pernah dalami dengan skimming (membaca buku secara acak) banyak buku referensi yang tebal-tebal mengenai writing novel, essay, yang historik maupun futuristik.

Dan yang khusus untuk keperluan children stories – cerita-cerita untuk anak-anak sekalipun, saya telah membaca sebanyak puluhan jilid. Buku-buku itu saya baca puluhan jam lamanya di Toronto Reference Public Library, sebuah perpustakaan yang tidak boleh dipinjam bukunya untuk dibawa pulang. Pelajaran apa yang saya dapat dari skimming itu? Yang paling menancap dan saya ingat benar adalah seperti berikut ini.

Kalau ingin menulis sebuah novel, siapkan badan dan pikiran yang sehat berikut semua bahan. Kemudian duduklah dengan disiplin dan memberikan waktu tetap setiap hari, seperti seseorang yang bekerja di sebuah bank. Misalnya menyediakan waktu dari pukul sembilan pagi sampai pukul tiga siang, setiap hari selama sekian hari dalam satu minggu. Tanpa disiplin seperti itu maka novel anda tidak akan jadi. Apa sebab mesti demikian? Karena novel anda adalah sebuah karya yang memerlukan ciri-ciri khas anda selaku penulis. Sama halnya dengan pepatah China yang kuno sekali: melakukan perjalanan sejauh sepuluh ribu batu, harus dimulai dengan satu langkah pertama. Menulispun harus dimulai dengan satu kata pertama, bahkan dengan satu huruf pertama. 

Bagi penulis novel terkenal dan yang telah menjadi kaya seperti halnya Arthur Hailey dan Harold Robbins, atau seorang bekas Presiden (Amerika Serikat misalnya), tentu saja akan menikmati fasilitas yang memudahkan dan dapat menggunakan peralatan-peralatan penunjang seperti komputer dan perangkat lunak yang menunjang.

Demikian juga perangkat lunak-keras yang berupa manusia dengan julukan “title” : Ghost-Writer.

Dia adalah seorang penulis yang memang kerjanya hanya menulis; menulis untuk seseorang lain tetapi bersedia menyembunyikan identitasnya untuk keperluan penulis lain yang membayarnya, dengan jumlah bayar yang agak longgar atau lumayan besar. Dengan demikian maka buku memoir Bill Clinton yang tebalnya sekitar seribu halaman dan ditulis dalam tempo singkat setelah dia berhenti dari tugasnya sebagai Presiden, di”curiga”i oleh orang banyak, telah mendapat bantuan menulis dari seorang atau lebih Ghost-Writer(s). Hal seperti ini bukanlah sesuatu yang bisa dianggap kriminal. Sah 100%.

Di kalangan Sekretariat Negara di Republik kita sudah lama menjadi desas-desus bahwa Bung Karno pun dibantu bahan-bahannya dan tentu saja pengerjaannya (mengetik, mengedit dan lain-lain) menyiapkan pidato-pidatonya dan lain-lain persiapan masalah ini. Bahkan Nyoto seorang anggota senior dari Partai Komunis Indonesia, seorang intelektual dan seorang yang cerdik juga selalu membantu Presiden Soekarno.

Itu bukan berarti Nyoto mendikte Bung Karno, akan tetapi Nyoto hanya memberikan konsep-konsep dan Bung Karno dapat menggunakan atau tidak atas dasar kebijaksanaan dan keleluasaan (discretion) sendiri. Yang jelas Nyoto berbuat dan bertindak seperti halnya seorang Ghost-Writer. Pernah diributkan bahwa Yusril Ihzra Mahendra waktu akan diangkat sebagai seorang menteri diragukan kesetiaannya, karena pernah menjadi penulis pidatonya mantan Presiden Suharto. Maka Yusrilpun memang mengaku hanya pernah satu kali saja bertugas untuk satu kali kesempatan saja.

Mana yang benar hal itu tidak dipersoalkan disini akan tetapi jelas sekali bahwa mantan presiden dimaksud memang menggunakan Ghost-Writer.

Ada kejadian yang terjadi pada awal masa pemerintahan presiden Suharto. Dalam pidato sambutannya selaku presiden, yang dibaca sendiri dari teks, disebutkan bahwa pabrik susu Indomilk adalah sebuah industri yang baik dan patut mendapat dukungan pemerintah karena telah menggunakan tenaga kerja dan bahan-bahan lokal dari Indonesia. Maka gemparlah para ekonom, menuduh bahwa penulis pidatonya telah memperlihatkan kebodohannya. Menurut para pengeritik itu, bahan baku didatangkan dari Australia dan bahkan peti kayu yang mengirimkan produk akhirpun didatangkan dari Australia. Indonesia hanya bermodalkan tenaga kerja kasar dan air saja. Itulah kata para pengeritik. Disini bisa dibuktikan bahwa para penulis pidato presiden pada waktu itu bukanlah orang yang handal dan berpengetahuan luas serta kurang sekali tingkat ketelitiannya.

Dunia makin modern dan mungkin saja seseorang akan dapat menggunakan kemampuan modalnya untuk melakukan menerbitkan sebuah buku. Buku seperti ini akan bersifat tailor-made, yang dalam waktu singkat dan isinya akan menunjang untuk menaikkan penampilan atau image / penampilan dirinya di masyarakat luas.

Bukan rahasia lagi bahwa sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Public Relations yang professional, akan sanggup untuk mengerjakan hal yang seperti ini.

Bila ini dinilai sebagai sesuatu yang “kurang” positif, menurut pendapat saya itu kurang tepat. Bagaimanapun penerbitan seperti ini diperlukan untuk masyarakat jaman sekarang.

Saya ulangi sekali lagi: itu sama sekali bukan kriminal. Yang bisa menjadi kriminal adalah isi dari tulisan-tulisan di dalam buku tersebut, kalau saja ada pihak lain yang menuntutnya secara hukum seperti dan diputuskan oleh pengadilan yang membenarkan tuntutannya.

Dalam menulis sebuah novel, tidak dapat dibantah bahwa kalau isinya begitu menarik perhatian dan pembaca larut di dalam alur cerita, maka hampir pasti penulisnya adalah seorang professional.

Dia pasti telah belajar dari pengalaman menulis, membaca, mengolah data, melakukan survey – penelitian dan mencatatnya dengan teliti hasil surveynya dalam menulis novelnya.

Ada sebuah ungkapan yang dimuat di dalam sebuah buku berjudul kira-kira (maaf saya lupa persisnya), mungkin How to write better English, yang saya tangkap sebagai berikut: Writing in any language is a difficult skill to acquire. Therefore you should approach writing carefully. You have to want to first have an understanding of grammatical structures, vocabulary and tense uses.  Bagi yang sudah pernah dan biasa menulis baik esai ataupun makalah bahkan cerita pendek sekalipun, tentu akan menyetujui apa yang dimaksudkan ungkapan di atas.

Itu adalah salah satu sebab banyaknya hambatan yang cukup berarti bagi seseorang untuk dapat segera menulis.

Akhirnya terjadilah sikap bimbang dan ragu-ragu, menunda-nunda seperti diungkapkan dalam arti kata-kata dalam bahasa Inggris : procrastinating, dilly dally dan bahkan stall atau malah postpone. Terbentuknya sikap seperti ini karena sang calon penulis mempunyai keinginan dan cita-cita yang tinggi mengandalkan kedatangan apa yang disebut: kesempurnaan. Ingin sekali mendapatkan kesempurnaan sehingga terlupa kata kunci yang teramat penting: MULAI. Hal seperti ini pernah saya alami sendiri, sehingga saya mengambil langkah untuk mulai menulis esai, baru setelah saya mendekati umur enam puluh tahun. Timbul tekad saya untuk segera mulai. Saya gunakan kata tekad karena memang saya mengabaikan ketakutan untuk salah eja, salah ketik dan salah secara gramatika.

Bagi saya yang paling penting dalam mengatasi hal-hal tersebut adalah: isi hati saya dapat saya keluarkan dalam bentuk tulisan segera.

Ini dipicu oleh karena saya sudah menulis surat beberapa kali, kepada orang-orang yang saya menaruh rasa amarah atau menaruh dendam, yang harus saya kemukakan kepada mereka. Tahukah apa yang telah telah terjadi? Rasa amarah saya menurun dengan drastis dan surat-surat tersebut telah dengan ketetapan hati saya batalkan untuk dikirimkan kepada mereka, sampai hari ini. Karena rasa amarah saya sudah menurun, waktu saya berjumpa dengan mereka, saya bisa bersikap manis kepada mereka, tanpa melukai perasaan siapa-siapa sekalipun.

Padahal apa yang saya tulis dalam surat hantu itu penuh dengan kata-kata keras dan sedikit kasar.

Tulisan-tulisan saya pada awalnya bersifat keluaran yang bersifat outburst, keluaran yang mendesak bahkan meledak-ledak karena sebelumnya tersumbat ketat, berupa rasa amarah, dendam dan segala macam rasa negatif. Misalnya mengenai saya tidak menyukai para pelaku yang seharusnya menjadi pelayan masyarakat yang lalai, para penyelenggara Negara yang curang dalam menggunakan dana yang berasal dari rakyat dan, seharusnya digunakan untuk keperluan rakyat dan lain sebagainya. Lumayan banyak juga saya menulis yang seperti ini, dan banyak juga yang akhirnya tidak saya biarkan orang lain untuk bisa membacanya, membuangnya ke keranjang sampah dan juga men-delete-nya untuk selama-lamanya.

Itu semua saya kategorikan sebagai junk dan sebagai ungkapan rasa negatif saya saja. Tetapi selain telah tumpah amarah/dendam, saya berpengalaman untuk menuliskan maksud saya, menuliskan apa saja.

Kalau rasa ketagihan seperti ini tidak terbendung, maka saya menulis lagi dengan cepat, penuh emosi, kemudian ada saatnya saya bisa membuat revisi isi maupun format, maka pasti turunlah tingkat kemarahan saya, diteruskan dengan cara berkonsentrasi membuat perbaikan yang perlu. Akhirnya ada juga hasilnya berupa tulisan yang melegakan hati tetapi masih mungkin saja salah ketik, perlu diedit lagi dan sebagainya.

Maka bertambah lagilah pengalaman saya menulis.

Sampai hari ini setelah saya meneliti, sampailah kepada kesimpulan, kegiatan menulis dan membaca ini tidak akan bisa diakhiri sampai masa kapanpun.

Sebaik apapun perangkat manusia yang bisa membuat pekerjaannya lebih ringan, misalnya komputer, Personal Digital Assistant, I-Pod, Cellular Phone atau Telepon Genggam dan perangkat lunak dan keras elektronik, akan tetap mengharuskan manusia untuk menulis dan membaca. Bahkan para Tuna Netra pun perlu perangkat untuk menulis dan membaca.

Saya merasa beruntung bisa tinggal di kota ini sekarang, pada umur saya yang sekarang ini, karena banyak data yang dengan mudah saya akses, informasi saya dapatkan dan kebebasan menulis yang saya rasakan.

Selama saya masih dapat mengunakan tangan saya dan pikiran saya, selama masih ada pensil dan kertas, serta peralatan komputer yang serba lengkap, saya seharusnyalah tidak boleh mengatakan bahwa hidup saya susah, secara mental. Kesehatan jasmani maupun rohani sungguh menunjang orang yang suka membaca dan menulis.

Karena hal seperti ini, kepada teman-teman saya yang membaca tulisan saya, sudah saya katakan jangan memberi komentar melalui lisan, melalui telepon, tetapi berilah komentar melalui tulisan juga. Maksud saya agar mereka dapat mengalami hidup sehat yang saya sekarang mengalaminya.

Ambil pensil kalau tidak bisa mengoperasikan komputer. Jangan membuat hambatan virtual untuk menulis, hanya karena tidak bisa berkomputer ria.

Tendanglah semua hambatan, dan mulailah menulis.

Ada seorang yang sudah berumur enam puluh lima tahun menceritakan mengapa dia ingin mempelajari ilmu menulis. Dia menceritakan bagaimana kagetnya dia ketika anak perempuannya yang sudah dewasa, tiba-tiba mengatakan: “Mom, I think I do not know anything about you, why don’t you write about your life?! When you were young …” 

Bu, saya kira saya tidak tahu apa-apa mengenai diri ibu, mengapa ibu tidak mulai menulis mengenai kehidulan ibu?! Ketika ibu dulu masih muda … Ah, benar juga anakku ini, kata batinnya, maka dia mulai menulis di mana saja dia sempat, sedang duduk di Taman Kota, di kereta api di mana saja dia sempat. Bukankah teman-teman saya yang sebaya sebenarnya bisa berbuat seperti ibu diatas?

Dua hari yang lalu saya menerima email dari seorang anak perempuan dari Balikpapan, mengatakan baru selesai membaca tulisan saya Very Senior. Dia mengatakan suka, katanya bahasanya gampang dimengerti oleh dia yang masih muda. Dia memanggil saya Opa dan istri saya Oma. Apa jawab saya?

Selain mengucapkan terimakasih saya katakan bahwa dia juga bisa menulis seperti saya. Saya minta dia untuk menghubungi seorang tua di sekelilingnya, minta diceritai dan menuliskan cerita yang didengarnya. Tetapi kalau yang bersangkutan mau menulis sendiri, alangkah bahagianya … . Dengan menulis seperti itu saya ingin memberitahu dia bahwa diapun akan bisa menulis kalau dimulai, demikian juga orang tua yang dihubunginya.

Saya ingat bahwa ada wawancara wartawan dengan salah satu putra Bapak Roeslan Abdulgani.

Saya baca wawancara tersebut menyebutkan antara lain:

“Kami putra-putranya tidak mengetahui persis apa yang dikerjakan ayah kami, meskipun karya tulisnya bertebaran di media mana-mana.” Saya tidak tahu kebenaran isi wawancaranya, atau saya yang salah mengerti, tetapi bagaimanapun yang dimaksudkan, terbukti ada banyak sekali karya tulis pak Roeslan yang ditinggalkan untuk para generasi penerusnya. Saya juga tahu bahwa tulisan saya tidak banyak dikomentari oleh anak-anak saya, akan tetapi saya menulis memang karena tidak untuk menunggu komentar siapapun.

Saya cuma menulis.

Menulis apapun sebagai hasil saya membaca.

Membaca apapun.

Membaca, mendengar dan mengalami informasi yang datang baik sengaja ataupun tidak disengaja telah datang, diundang maupun tidak diundang.

Itu semua adalah santapan rohani saya dan keluaran rohani saya.

Semua harus seimbang, masuk dan keluarnya.