Toronto, 15 October, 2006  Dunia sekitar anak-anak:

Anak saya Arika ketika masih sekolah Taman Kanak-Kanak, bersama adiknya Runi yang belum bersekolah, berbicara dengan anak laki-laki yang sulung teman saya bernama Erwin.

Arika: “Saudaraku sudah sekolah SD (Sekolah Dasar)”

Erwin: “Bapakku sudah SH (Sarjana Hukum)”

Erwin merasa perlu memberitahu bahwa dia tidak (mau) kalah. Anak-anak seperti mereka itu sering suka dan nggak mau berada dibawah “derajat”, “gengsi”, “martabat” dan lain-lain yang sifatnya maya seperti itu. Hal seperti ini menghinggapi segala lapisan umur dan lapisan masyarakat manusia. Saya tidak tahu apakah yang seperti itu terdapat juga diantara makhluk lainnya. Apakah demikian juga halnya dengan anjing? Memang kadang kita lihat anjing-anjing yang mempunyai majikan yang sama, sering juga berebutan “kasih sayang” sang majikan, tetapi karena kita tidak mengerti bahasa anjing, maka sukar menilai apa yang mereka perebutkan.

Saya, seperti halnya manusia biasa lainnya telah melakukan boasting sejak masa kecil saya.

Boasting bahwa saudara saya begini dan begitu, bahwa orang tua kita begini begitu dan tentu saja bahwa saya juga begini begitu. Dari “persaingan antar saudara” yang saya tidak mengerti asal-usulnya, saya telah melakukan terobosan karena tidak mau kalah. Dari sebelas bersaudara, saya nomor tiga setelah seorang anak pertama yang perempuan dan seorang kakak laki-laki, saya mungkin sadar bahwa saya adalah kasih orang tua yang ketiga. Itu mungkin dengan tidak amat terlalu sadar saya melakukan hal-hal yang ingin menonjol, tidak dengan cara melakukan mencari muka dari orang tua karena terlahir kemudian, akan tetapi dengan jalan melakukan hal-hal yang tidak sama dengan yang dilakukan kakak laki-laki saya. Apakah ini karena saya akan menarik perhatian orang tua atau apapun, saya telah berbuat seperti itu, unintentionally, tanpa terang-terangan serta tanpa secara sengaja.

Yang seperti itu orang lain mungkin banyak juga yang telah melakukannya dengan caranya masing-masing, sengaja ataupun tidak. Yang saya catat secara pribadi sekarang adalah: dilingkungan saudara saya dirumah, saya paling terdahulu bisa mengendarai kereta angin atau sepeda. Saya juga yang pertama kali naik pesawat udara, yang pertama kali ke Jakarta, karena kami semua hanya berkumpul dan bergerombol saja di Jawa Timur, sampai saya dikelas satu di Sekolah Menengah Pertama dan ayah saya pindah ke Jakarta, dan mengajak saya seorang saja, bahkan ibu dan saudara-saudara yang lainpun tidak.

Naik pesawat udara dan pergi dari Surabaya ke Jakarta pada tahun 1952, saat itu sungguh membanggakan.

Ya secara otomatis, menjadi banyak sekali hal yang menjadikan saya sebagai anak yang pertama sekali dalam keluarga, mau atau tidak, telah terjadi. Begitulah, ketika saya di kelas tiga Sekolah Menengah Pertama, seorang teman ayah saya berbisik kepada saya, karena tidak mau kedengaran oleh ayah saya, bahwa saya adalah yang paling dikasihi oleh ayah saya. Wah saya menjadi malu sekali waktu itu dan saya mulai agak nakal agar supaya “kasih berlebihan dipandangan orang lain seperti itu” menjadi berkurang. Saya tidak mau menyakiti perasaan saudara saya sendiri. Apalagi saya hanya ingin dihargai orang karena prestasi saya, bukan karena mempunyai fasilitas yang berupa kasih sayang orang tua yang berlebihan. Kalau dikatakan sebagai anak aneh, ya biar sajalah. Apalagi saya sebenarnya agak takut juga kepada kakak saya yang umurnya dua tahun lebih tua. Pada umur dua belas tahun mendekati tigabelas tahun saya sudah belajar mengemudi mobil sendiri, diajari dengan diam-diam oleh sopir ayah saya, yang menjabat sebagai Walikota,. Hanya dua jam saja lamanya, berangkat dari jalan Ondomohen (Sekarang jalan Walikota Mustadjab) Surabaya, kearah Ngagel dan Darmo, langsung bisa. Dan ini adalah termasuk yang pertama kali, another first time thing ! Sejak itu saya, mau tidak mau, menonjol diantara saudara-saudara saya. Lepas dari kemauan saya untuk tidak menonjol, saya menjadi menonjol.

Saya berusaha menyembunyikan segala macam yang “the first” itu sebisa saya, seperti telah mempunyai pacar, atau telah berkelahi dan menyebabkan mata saya bengkak.

Berkelahi karena dikeroyok lebih dari lima orang di jalan Perwira di depan Kantor Pusat Pertamina sekarang dan di belakang Madjid Istiqlal, diatas jembatan. Badan lesu dan letih, lelah dan kesakitan diseluruh badan. Itu semua karena anak-anak dari gang Kenari, di daerah Salemba datang me “ngelurug” kesekolah dan menunggu murid yang dicari. Saya adalah korban yang hanya karena salah tunjuk, yang sebenarnya bukan saya yang dimaksud. Another first dalam keadaan babak belur seperti itu. Saya yang biasa makan sekeluarga duduk di sebelah agak kekanan dari tempat duduk ayah saya, pindah ke sebelah agak arah kekiri. Orang tua bagaimanapun mengetahui ada sesuatu terhadap kelakuan anaknya. Ayah bertanya: “Kenapa matamu yang kiri?” Ya sambil agak takut-takut saya katakan dengan bohong: “Nabrak pintu kelas”. Ayah saya tertawa dan bertanya: ”Apakah pintu kelasmu ada balung(tulang)nya, ya?”. Tersipu-sipulah saya !!

Bermain piano, berbahasa Inggris yang dimulai dengan ngawur bercakap dengan orang India penjual alat-alat olah raga, berurusan dengan kantor Notaris dan berani untuk mengemukakan pendapat apa saja. Itu semua termasuk the firsts, dengan tidak sengaja tentunya. Hal-hal ini teringat oleh saya pada waktu menulis tulisan ini, karena sejak dahulu memang tidak ada unsur kesengajaannya.

Setelah tidak menjadi pengawai negeri lagi, ayah saya mempunyai usaha import cat buatan Jerman melalui negeri Belanda, yang banyak digunakan sebagai bahan cat untuk industri Batik di Pekalongan.

Usaha ayah maju, meskipun kantor usaha bercampur dengan rumah di Jalan Surabaya 13 Jakarta.

Pada siang hari hanya untuk mengatur meja makan saja, bisa sampai tiga empat kali untuk para pegawai ayah saya; mobil ayah saya bertambah-tambah menjadi sepuluh buah, dan semua di pool dirumah yang merangkap kantor itu. Kalau sore hari saya tinggal memilih mobil yang letaknya paling luar dekat jalan, karena selain ayah saya, hanya sayalah yang bisa mengemudi mobil.

Ayah saya dapat membeli di dan mendatangkannya dari negeri belanda, dua buah Mercedes terbaru, satu buah type 180 dan satu buah type 220. Membeli dua buah rumah di jalan Tjerme 14 dan jalan Guntur 29 serta membangun rumah baru di jalan Dempo no. 13 di kota Malang, sama seperti juga halnya yang di jalan Surabaya, Jakarta, nomor 13 juga. Waktu ayah saya membeli rumah di kota Malang itu saya lulus SMP dan pindah ke kota Malang serta masuk SMAK(atholik) di jalan Dempo, dekat rumah dan berjarak sekitar lima puluh meter saja. Saya menjadi anak tertua di kota Malang, karena kedua kakak saya lebih memilih menjadi orang Betawi dari pada menjadi orang udik di Malang.

Kemudian sekali setelah kejadian itu saya masih banyak sekali mengalami first yang satu dan first yang lain.

Buat saya sudah seperti biasa saja, dan saya memang tidak sengaja mengalami first first selanjutnya.

Saya yang pertama pergi belajar keluar negeri, ke Jepang, dan kembali; saya yang pertama kali menjadi pengusaha yang lumayan sukses dan saya yang pertama kali keliling dunia secara satu kali putaran penuh dunia.

Sekarang ini saya, pada umur enam puluh delapan tahun, adalah yang pertama kali menjadi seorang immigrant yang emigrate ke Kanada.

Semua yang saya ceritakan sekian halaman ini adalah semacam boasting seorang manusia seperti saya. Orang lain banyak yang melakukan perbuatan yang setara bahkan lebih, akan tetapi mungkin sekali hanya berbeda dalam cara mengemukakannya. Saya biasa mengemukakan dalam bentuk tertulis dan tidak hanya secara bisik-bisik saja. Dalam tulisan saya diatas akan tergambar bukan hanya hal baiknya saya saja, akan tetapi yang sebaliknya pun akan terungkap juga. Bagi yang bisa melihatnya syukur sekali bisa melihatnya, karena saya tidak berkeberatan.

Boasting yang saya alami dan juga yang telah dilakukan oleh orang lain, barangkali akan terlalu banyak untuk diceritakan dengan satu rangkuman sebuah tulisan essay.

Sekarang setelah senior dalam umur, dalam pergaulan dengan teman-teman yang seumur atau sebaya, saya dapat membagi kami semua menjadi dua bagian besar.

Ada sebuah pedoman yang patut sekali untuk dapat dipakai dan diterapkan oleh siapa saja, sebagai berikut: A good listener is the one who can listen to a joke, without having to remind him of his own. ==== Seorang pendengar yang baik adalah seorang yang dapat mendengar sebuah lelucon, tanpa mengingatkan kembali kepada leluconnya sediri .

Satu bagian adalah sebagai: Teller (Speaker, pembicara dan juga story teller) dan yang satu bagian lainnya menjadi Listener (Inactive Speaker, Attentive Person, Pendengar Yang Baik).

Anehnya kedua golongan teman ini kedua-duanya bisa saja melakukan boasting juga. Bedanya hanya yang satu secara cepat dan spontan dapat langsung mengatakannya dan yang lain dapat menunggu saat yang tepat pada lain kali.

Kalau digolongkan kedalam dua golongan seperti ini, maka menurut pandangan saya banyak sekali yang tergolong kedalam Teller daripada Listener. Banyak contoh dapat diberikan yang membuktikannya.

Si Endang berbicara kepada Tuti yang berkata seperti ini: “Saya tadi datang kemari agak terlambat karena saya harus ke Rumah Sakit Tjipto, menengok kemenakan saya yang dioperasi ususnya kemarin …….” Belum tuntas Endang berbicara, Tuti sudah memotong dengan cepat dan tangkas: “Kok sama ya dengan Boss suamiku. Ususnya juga dipotong karena kanker dan sebelumnya sudah dilakukan endoscopy segala macam. Malah operasinya dilakukan di Singapura oleh dua orang professor, dokter pribadinya pun juga ikut ke Singapura menemani untuk menjaganya. Anak istrinya ikut mendampingi, bayangkan berapa habisnya ya jeng, belum hotelnya dan biaya selama tinggal disana!!” Celotehnya tiada putus dan dengan semangat yang tinggi.

Sebuah senapan otomatis yang diwakili oleh mulutnya, menembakkan peluru berupa ucapan deretan kata-kata, meletus-letus terus menerus tanpa bisa dihentikan.

Dan sirnalah cerita kemenakan Endang, hilang keudara.

Hilang dihadang oleh gambaran bagaimana kayanya sang boss si suami, yang ususnya sama-sama dipotong. Bedanya yang satu ini dilakukan di Singapura yang mewah dan yang satunya di Rumah Sakit Tjipto Mangoenkoesoemo.

Yang begini bukan milik khas wanita, yang mempunyai istilah gossip yang telah dihaluskan menjadi sharing, atau apalah, whatever.

Si Samiun ini, teman si Harto dan si Amin, bercerita bahwa Harto dan Amin, teman-teman dekatnya sejak SMA itu, mempunyai karier yang berurut-urutan. Harto maupun Amin bekerja di sebuah Badan Usaha Milik Negara dengan pangkat setingkat Kepala Cabang. Pada jaman orde baru, pangkat setingkat ini menjamin yang bersangkutan akan dapat menikmati sisa hidupnya dengan nyaman. Harto telah meninggal dunia dan meninggalkan harta yang lumayan banyak kepada jandanya. Samiun bercerita bahwa janda Harto, gaya dan cara hidupnya tidak memperlihatkan diri sebagai seorang Princess tetapi sebagai worker. Masih terlihat harta yang dimiliki sang janda Harto, menampakkan sedikit kelebihan diatas rata-rata. Tetapi sang janda masih bekerja dan anaknyapun juga bekerja seperti pencari nafkah yang lain. Sebaliknya dengan si Amin yang penampilan sehari-harinya seperti orang tak berharta. Sering sekali dia kalau bepergian, menggunakan kendaraan umum.

Kalaupun dia membawa mobil maka sungguh teman-temannya sering terperangah melihat mobil yang sedang dikemudikannya. Model mobilnya kurang umum dan umur mobilnyapun tergolong tua serta kurang perawatan.

Masalahnya si Harto semasa hidupnya berkedudukan sama dan mempunyai fasilitas yang sama.

Mereka berdua sekarang seperti bumi dan langit.

Samiun ini sering membuka rahasia kedua teman akrabnya bernama Harto dan Amin tersebut. Dia selalu siap dengan ceritanya sejak masa pacaran, melamar kerja dan sampai sejak sebelum dan sesudah menjadi para pembesar diperusahaan tempat Harto dan Amin bekerja.

Dengan kedudukan tinggi yang telah dicapai oleh mereka kedua-duanya, “sepatutnyalah” mereka memiliki harta sekian puluh milyard Rupiah. Patut? Iya, siapa takut?? Wah. Wah !!

Samiun bercerita: ”Siapa bilang si Amin itu tidak punya apa-apa? Rumahnya gueede!, Isinya pun hooookay! dan seterusnya. Kalau Harto sih punya tanah di Amerika dan tambaknya aja ada 300 hektare. Samiun boasting seperti ini sebenarnya hanya ingin menunjukkan kepada teman-teman yang lainnya bahwa dia “cukup dekat” baik dengan Amin maupun dengan Harto. Itu saja! Itu saja sih memang, akan tetapi dia membuka rahasia seseorang lain ke kasanah pengetahuan umum. Samiun kurang menyadari bahwa apa yang dia katakan itu akan dapat mencelakakan teman-temannya tersebut dikemudian hari. Saya yang tidak mempunyai keinginan mengetahui perihal kekayaan orang lain pun menjadi mengetahui karena boastingnya.

Hal-hal seperti diatas membutuhkan alat yang berupa saringan maya didalam diri kita selaku pendengar.

Kita selaku pendengar yang baik harus pandai-pandai bisa.

Bisa apa??

Bisa menyaring dan menghentikan sampai sekian saja. Kalau terpaksa harus membicarakan dengan pasangannya sendiri, baik istri atau suami, bisalah kiranya untuk menyaring dan menghentikan hal ini agar tidak berlanjut. Saya tulis ini memang terlihat berlawanan dengan maksud menyaring dan menghentikan, akan tetapi saya sudah mengambil tindakan yang menurut istilah perbankan adalah : fiduciary atau kehati-hatian. Bagaimana tindakan fiduciary ini dalam bentuk nyatanya. Anda tidak akan bisa mengorek saya agar mau menerangkan siapa sebenarnya si Endang, Tuti, Samiun, Harto dan Amin!! Itu semua adalah nama samaran saja. Orang sesungguhnya benar-benar ada. Kalau teman-teman saya yang lain yang mengetahui siapa yang saya maksudkan, saya harap juga menaruh satu jari telunjuknya melintangi kedua bibirnya!! Itu namanya bijak. Bijak disana dan bijak disini. Tetapi terus terang saja, siapa bisa menjamin?? Boasting adalah manusiawi ……