Friday, July 06, 2007 Ternyata amat banyak yang ingin sekali saya lakukan dan belum pernah bisa terlaksana sampai hari ini.

 

Contoh:

  • Saya ingin menyetop seorang anggota Polisi, terutama seorang polisi Lalu Lintas dan minta dia menunjukkan kepada saya: Surat Ijin Mengemudi yang dimilikinya. Bila jawabannya tidak punya, maka saya akan menyuruhnya untuk membuka pakaian dinasnya disitu dan seketika atau sebaliknya seketika dan disitu, then and there!! Kalau dia memang mempunyainya, maka saya akan bertanya apakah dia diuji untuk mendapatkan SIM nya dulu? Kalau dia bertanya balik apa hak saya bertanya, maka akan saya jawab: hak warganegara dan akan saya lakukan penangkapan, dengan istilah yang akan saya gunakan: penangkapan oleh seorang warganegara (dikenal dengan citizen arrest). Kalau dia masih cerewet dan melawan, saya akan bilang selaku warga negara saya ikut membayar gajinya, jadi dia harus hormat kepada saya selaku penyedia uang gajinya yang saya bayar melalui pajak. Buktinya? Saya melakukan pembelian apapun ada pajaknya, karcis bioskop, beli permen, beli bensin dan beli martabak sekalipun. Keinginan ini meluas sehingga ingin juga menyetop anggota TNI yang sedang memegang kemudi kendaraan militer yang berjalan. Juga termasuk orang yang berpakaian sipil, yang mengemudikan kendaraan militer di jalan.
  • Saya ingin juga memeriksa rombongan presiden, apakah segala sesuatunya beres apa tidak, sesuai prosedur atau tidak. Kalau rombongan tersebut ternyata tidak beres, what next? Saya memang tidak tahu harus bagaimana melanjutkan process nya. Tetapi keinginan tetap ada dan tinggi sekali.
  • Saya ingin bertamu mendadak di sebuah sidang yang sedang berlangsung di dpr pusat di Senayan. Minta daftar hadir dan saya absen mereka secara langsung dan terbuka. Tentu saja sidang harus berhenti dulu, karena saya sedang memeriksa absen. Nah, karena ada hambatan yang inilah, saya tidak bisa melakukannya: karena mereka itu bukan wakil saya. Apa sebabnya? Saya tidak pernah ikut serta memilih dalam Pemilihan Umum, sepanjang hidup saya baru satu kali saya melakukannya, tahun sebelum Suharto jatuh. Lembaganya itu sudah amat koruptip, bukan hanya Lembaga Pemilu terakhir ini saja, tetapi sejak tahun 1970an. Korupsi suaranya dan korupsi uangnya, dua-duanya diembat habis!!!
  • Saya ingin masuk kedalam ruang-ruang tahanan tersangka maupun terpidana yang ada di kejaksaan agung serta di mabes kepolisian, justru yang menyangkut mereka yang orang besar. Mungkin perlu juga menengok penjara di Cipinang dan di Salemba dan di Pulau Nusakambangan. Selain melakukan absen saya ingin melihat fasilitas lebih seperti apa, yang dialami oleh “orang terkenal, pejabat atau keluarga orang besar” yang sedang menghuninya.
  • Saya ingin tahu bagaimana Suharto yang katanya sakit ini, sesungguhnyakah atau pura-pura sakit. Para dokter yang menyatakan dia sakit juga perlu diperiksa polisi, itu normal saja, kan? Betul nggak? Kalau benar sakit juga bisa diadili, terutama orang-orang dekatnya dulu, semua rekening uangnya bisa diperiksa dan kemana saja alur keluar masuk uangnya, a la Wijanarko Puspoyo. Yang memeriksa kan juga bisa diperiksa dulu, Jangan tukang periksa yang masih perlu membiayai hidupnya, nanti rusak kalau disogok. Yang akan melakukan penyogokan bukan hanya Suharto dan keluarganya saja. Bisa orang lain yang takut kedodoran sendiri kalau Suharto morat-marit. Iya kan?

Gitu aja kok repot!! (meniru kata Gus Dur).

  • Saya ingin mengetahui soal judi. Waktu kepala polisi Sutanto diangkat maka para Kapolda baru telah membuat kontrak-kontrak kerja dengan para bawahannya: Kapolwil, Kapolres dan Kapolsek untuk memberantas judi dalam tempoh singkat . Apakah sekarang judi benar sudah hilang?
  • Saya ingin tahu mengapa Habib Amien Rais sudah mengaku terima uang DKP, kok KPK seperti berputar-putar mencari yang lain. Amien Rais dulu diproses, kalau benar tidak salah nyatkanlah tidak bersalah. Bukankah KPK adalah Komisi paling berkuasa dan memang berwenang sampai saat ini? Kekuasaannya dan kewenangannya melebihi lembaga apapun di Indonesia. Kok belum berbunyi sesuatu yang memuaskan rakyat banyak? Kalau masalah Amien Rais ini tidak bisa bilang salah atau tidak, maka saya akan memasukkan KPK dalam daftar hitam saya pribadi. Boleh kan wong daftar hitam itu milik saya pribadi kok!!
  • Ternyata masih banyak lagi, apalagi kalau sidang pembaca menambahnya ……..