Di mana-mana, rakyat biasa menginginkan agar Amrik keluar dari Irak. Tetapi, dari Israel sampai Al Qaida, pemerintah mereka mempunyai pendapat yang
berbeda. Para pemain ini mengharapkan agar Amrik tetap sibuk di Irak, tentunya dengan alasan mereka masing-masing.


Pertama, faktor Arab Saudi, Mesir, dan Jordania. Cabutnya Amrik dari
Irak akan dipandang sebagai suatu kekalahan yang mengakibatnya semakin
melemahnya rejim2 yang pro Amrik. Di negara-negara ini, pihak oposisi
akan semakin mendapat angin dan tuntutan masyarakat akan perubahan
rejim akan semakin nyaring.

Kedua, jika Amrik cabut, rejim Syiah di Irak akan semakin kuat, ini
pun hanya masalah waktu saja. Akibatnya, Irak akan lebih melirik ke
timur, yaitu Iran sehingga nantinya akan terbentuk aliansi Irak-Iran.

Ketiga, keluarnya Amrik mempunyai risiko yaitu Irak akan
terpecah-pecah secara sektarian.

Menariknya, Syria dan Iran juga menginginkan Amrik tetap di Irak.
Selama Amrik tersedot gurun pasirnya Irak, Amrik akan berpikir
berkali-kali untuk melakukan petualangan serupa di negara-negara ini,
baik secara politik maupun militer. Jadi, Syria dan Irak memandang
pendudukan Amrik di Irak ini sebagai jaminan bahwa Amrik tidak akan
menyerang mereka.

Bagi Turki, keberadaan Amrik diharapkan akan menahan ambisi orang
Kurdi Irak untuk membikin negara independen sendiri. Sehingga
kemungkinan adanya kampanye militer Turki yang tidak murah untuk
menyerang pemberontak Kurdi bisa ditekan sekecil mungkin.

Bagi Israel, keluarnya Amrik akan menjadi bencana tersendiri karena
kemampuan deterrence militer Israel akan lenyap di hadapan
musuh-musuhnya. Bagaimana tidak, negara dengan kekuatan militer
terbesar sedunia saja bisa keteteran. Apalagi ditambah dengan hasil
perang yang tidak menggembirakan melawan Hizbullah pada tahun lalu.

Negara-negara teluk juga mempunyai risiko sendiri. Dengan banyaknya
komunitas Syiah dan ketergantungan dengan Amrik, mereka akan terancam
dengan cabutnya Amrik ini. Di Bahrain, yang mayoritas penduduknya
Syiah, hasilnya akan lebih terasa.

Di Irak sendiri, pemerintah yang didominasi Syiah sekarang ini
membutuhkan pelindung sementara untuk membentuk kekuasaan dan kekuatan
militer yang loyal. Proses ini memakan waktu yang cukup lama. Kelompok
Syiah pro-Iran juga bisa membalas aksi anti Iran-nya Amrik dengan
menyerang tentara Amrik yang ada di Irak.

Al Qaida termasuk yang diuntungkan dengan pendudukan ini. Mereka jadi
lebih mudah untuk merekrut orang sehingga tetap bisa menjalankan
operasinya di Irak, bahkan bisa berkembang ke negara lain. Keluarnya
Amrik jelas tidak mereka inginkan karena akan menghilangkan target
buat mereka dan motivasi bagi anggota baru.

Kelompok Sunni juga memandang, pendudukan ini menghindari
pengambilalihan kekuasaan secara total oleh kelompok Syiah. Sedangkan
kelompok Kurdi mengharapkan Amrik menjadi pelindung, terutama dari
kelompok Arab dan Turk, sehingga bisa lebih nyaman untuk mengelola
daerah otonomi khusus mereka sendiri.

Salam,

Khaidar