Kalau kita ingin mengetahui kekayaan orang-orang diseluruh dunia dengan gampang kita cari saja di majalah Forbes dan kemudian kita hubungkan dengan kemajuan ekonomi bangsa atau suatu policy memang bisa juga dikaji berbagai masalah dan berbagai kemungkinan bagaimana suatu kemakmuran tercipta.



Salah satu policy yang dijalankan dinegara tetangga serumpun ialah
Malaysia yang sekarang sedang maju-maju dan pembangunan dimana-mana.
Ada pembaca yang seenaknya dan bernada rasisme menulis bahwa
kemakmuran Malaysia membuat kaum bumiputra menjadi maju dan itu
memang benar, kekayaan warga negara Malaysia tumbuh pesat dan
menjadikan negara tersebut makmur sehingga iri hati dan kedengkian
kayak di Indonesia jauh berkurang. Apakah dengan demikian kekayaan
kelompok pelaku ekonomi naik dengan signifikan ? Memang benar
kemakmuran menciptakan banyak warga negara sanggup hidup dengan
layak, sanggup memiliki kekayaan cukup untuk pendidikan anak-anak,
kemakmuran keluarga, berekreasi dan juga secara umum menghilangkan
hasutan-hasutan yang biasanya disulut dalam berpolitik, hasutan rasisme.

Apakah dengan policy Malaysia menciptakan kaum non pribumi yang
miskin atau kekayaannya kalah dibandingkan dengan kelompok bumiputra
? Nyatanya kekayaan kelompok pengusaha juga naik dengan drastis tanpa
menimbulkan gejolak social yang biasanya digunakan untuk menggoyang
pemerintahan, pola rasisme dengan sikap anti terhadap ras tertentu
yang memiliki kekayaan lebih. Policy yang dijalankan untuk melindungi
serta memberi fasilitas agar kaum bumiputra sanggup bangkit memang
terjadi, tetapi dalam kemajuan nyata bahwa kelompok non Bumiputra
tetap saja unggul dalam usaha. Yah, persis di Indonesia, policy
apapun juga untuk membangkitkan kemakmuran bangsa dengan cara memberi
prioritas atau fasilitas tak akan sanggup mengalahkan sifat alamiyah
ialah keunggulan pengusaha berpengalaman.

Dalam daftar FORBES mengenai orang-orang kaya Malaysia dalam urutan
20 besar , nomor 1 ialah Robert Kwok pengusaha pemilik jaringan
Shangrila Hotel serta industri gula, nomor 2 ialah pengusaha
keturunan India dan dari 20 besar, 16 besar ialah orang Malaysia
keturunan Cina dan 2 orang keturunan India serta 2 orang Bumiputra.
Jadi policy yang dijalankan dan memberikan fasilitas memang berhasil
membikin kemakmuran, hanya saja warga keturunan Cina jauh lebih
kedepan, mau tidak mau itulah yang terjadi dan bagaimana dengan
kerusuhan-kerusuhan yang sering disulut ? Warga Malaysia mengakui
bahwa kerusuhan rasisme cuma merugikan dan memelaratkan, lebih baik
bekerja sama dan kerja keras tanpa rasa dengki dan iri hati yang
dulunya sering terjadi. Kalau berpikir bahwa policy untuk melindungi
bumiputra akan menyebabkan bangkitnya ekonomi bangsa, kayaknya kok
nggak : justru kemakmuran berjalan lurus, yang kaya tetap tambah kaya
dan yang miskin terangkat , mayoritas adalah orang-orang berkecukupan
dan hidup tenang karena tak mengalami kesulitan meskipun dalam jumlah
kekayaan jauh dibandingkan dengan kekayaan pengusaha-pengusaha mapan.

Resep untuk menjadi kaya cuma bekerja keras, ulet, pantang menyerah
serta berpikir positip tanpa kedengkian atau iri hati. Kerja keras
bisa dilakukan oleh siapa saja, yang utama ialah dalam segala hal
berpikir positip dan mau bekerja sama dengan siapa saja tanpa
memandang ras atau agama.