Seperti arisan saja kenaikan harga komonditi2 utama di Indonesia;diawali BBM,gula,gas elpiji, beras, minyak goreng dan sekarang susu bubuk,terakhir harga rokok juga ikut naik.

 
Dari semua komonditi yang naik tersebut sebenarnya mampu diproduksi sendiri oleh rakyat Indonesia,tetapi karena pemerintah tidak mampu mengoptimalkan kekayaan yang dimiliki negara untuk memenuhi kebutuhan rakyat saat membuat regulasi2 ekonomi,akibatnya seperti yang kita rasakan sekarang,semua harga dibawah kontrol kekuatan asing.
Dengan penduduk sekitar 210 juta jiwa yang mayoritas hidup dibawah garis kemiskinan,    tentunya sangat riskan bila harga untuk komsumsi lokal harus mengacu pada harga2 luar negeri,mengingat nilai uang Indonesia hanya sepersepuluh ribu dari nilai us dolar.
 
Mengacu pada ucapan para menteri yang selalu memberi alasan kenaikan komonditi2  tersebut karena dipengaruhi oleh naiknya harga Internasional,dapat disimpulkan tanpa melakukan"REVOLUSI" EKONOMI dalam beberapa tahun kedepan,negara Indonesia akan KOLAPS jadi bangkrut "digoreng"pengusaha2 asing.
 
Contoh kongkrit yang terjadi saat ini,karena pengusaha Australia tidak mau ngirim Susu ke Indonesia,harga langsung naik,maklum produk susu di indonesia masih minim ;sedangkan harga minyak goreng saja yang sawitnya berlimpah di Indonesia,gara2 orang eropa butuh untuk biodiesel harga minyak goreng di Indonesia langsung melonjak.
Sangat GAMBLANG sekali bahwa kenaikan2 tersebut akibat kesalahan pemerintah yang tidak mampu mengoptimalkan kekayaan alam untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
 
Seandainya pemerintah mengeluarkan regulasi yang melarang tidak SEGENGGAMPUN hasil tambang dan HASIL BUMI yang boleh keluar dari teritorial Indonesia dalam bentuk mentah,semua barang yang keluar dari Indonesia harus FINISHED PRODUK,kondisinya pasti akan berubah,investor asing terpaksa akan benar2 menanamkan modalnya di Indonesia,bukan investasi SEMU seperti yang dilakukannya selama ini.
 
Pengalaman musnahnya jutaan hektar hutan di Indonesia diboyong kenegara asing untuk kenikmatan rakyat negara tersebut dan sebaliknya hanya meninggalkan MUSIBAH bagi rakyat Indonesia yang justru tidak pernah mengecap sedikitpun nikmatnya memiliki hutan, seharusnya merupakan PELAJARAN PAHIT yang tidak boleh terulang kembali.
KESALAHAN tersebut mestinya sudah cukup menyadarkan penguasa bahwa selama ini bangsa Indonesia hanya dijadikan SAPI[TOLOL]PERAHAN saja oleh"investor"asing.
 
Sayangnya Jangankan sadar,justru kesalahan tersebut tambah menjadi2;setelah hutan gundul dan menimbulkan banjir bandang setiap tahun,saat ini semua jenis mineral alam seperti batu bara,timah,bauksit,nickel,tembaga,emas,minyak bumi,gas alam dan bijih besi diobral murah serta bebas dikeruk dan dibawa kenegara asing oleh para "investor".
Dalam jangka pendek hanya kas negara dan kantong2 pejabat saja yang buncit, tetapi  beberapa tahun kemudian rakyat yang harus terima getahnya,harus menanggung kemurkaan alam tanpa pernah mengecap sedikitpun nikmatnya hasil tambang yang dianugerahkan Allah.
Penyebab terjadinya bencana alam yang silih berganti di Indonesia akhir2 ini adalah akibat bumi pertiwi telah diluluh lantakan oleh gerombolan"investor"pertambangan asing. 
 
Seandainya penguasa sedikit cerdas dan bertanggung jawab,tentunya dengan MODAL kekayaan alam yang dianugerahkan Allah pada rakyat Indonesia,mestinya dengan mudah bisa MEMAKSA para"investor" pertambangan asing tersebut mengolah hasil tambang di Indonesia,bila ada regulasi yang mengatur hanya finished produk sajalah yang boleh dikirim kenegaranya,itupun setelah kebutuhan rakyat Indonesia terpenuhi.
 
Meskipun dengan terpaksa,investor2 tersebut pasti akan menambah investasinya untuk membangun pabrik2 pengolahan,mengingat begitu berlimpahnya kekayaan alam Indonesia yang sangat dibutuhkan negara mereka. 
Sebenarnya istilah MENAMBANG kurang tepat diterapkan di Indonesia,yang tepat adalah MENGERUK mineral2 berharga tersebut.
Bandingkan saja dengan pertambangan2 dinegara lain,untuk mendapatkan batu bara saja mereka harus membuat terowongan berkilo2 meter dalamnya,sedang di indonesia cukup dengan membuang top soil setebal satu dua meter sudah menemukan batu bara maupun mineral2 lain.
 
KONYOL rasanya melihat pemerintah mesti NGEMIS2 memohon investor asing menanamkan modalnya di Indonesia dengan bumbu upah buruh murah[sungguh tragis  keringat rakyat dikorbankan untuk sesuatu yang tidak sepatutnya],padahal SDA Indonesia melimpah ruah.  
 
Tentu dapat diprediksi berapa ribu pabrik yang"terpaksa"dibangun oleh investor2 tersebut, karena negara mereka SANGAT MEMBUTUHKAN HASIL TAMBANG2 Indonesia bila tidak ingin industri2 dinegara mereka mandeg.
Bila semua hasil perkebunan dan hasil tambang harus difinish produk di Indonesia; multiple efeknya tentu luar biasa,disamping tersedianya lapangan kerja bagi rakyat juga terbuka peluang peningkatan ketrampilan rakyat, otomatis akan tercapainya kemakmuran rakyat sesuai dengan substansi dari pasal 33 UUD 45.
Sehingga rakyat tidak DIUYO2 karena menjadi TKI/TKW dinegara asing,yang ada adalah banjirnya orang asing sebagai TKA di Indonesia.
 
Seandainya regulasi yang pernah diterbitkan oleh ORBA mengenai eksport kayu yang hanya diizinkan dalam bentuk barang jadi diberlakukan terus secara konsisten ;tentunya hutan Indonesia TIDAK GUNDUL, rakyat akan memperoleh ketrampilan mengolah kayu, karena banyak perusahaan2 pengolahan kayu yang dibangun di Indonesia sehingga menghasilkan tenaga kerja terampil,barulah slogan NEGARA UNTUNG RAKYAT JUGA UNTUNG berlaku,tidak seperti kecapnya Pertamina yang jauh dari kenyataan.
 
Seandainya birokrat dan politikus2 Indonesia bermoral dan SEDIKIT CERDAS tentunya bisa belajar strategi negara2 Asia lain dalam menarik investor asing kenegara mereka, mempelajari sweetener apa yang mereka tawarkan sehingga sukses menarik investor asing kenegaranya,birokrat Indonesia harus mau bercermin pada birokrat Thailan,Vietnam, Kamboja dan RRT yang sukses menarik investor asing ,padahal mereka tidak memiliki kekayaan alam sekomplit dan berlimpah seperti negara Indonesia. 
 
Kita patut mengacungkan jempol pada birokrat negara RRC karena mampu"menyulap" kelemahan menjadi kekuatan untuk menarik investor seluruh dunia menanamkan modalnya di China.
Dengan Populasi rakyat sekitar 1,4 milyard bila tidak dimanage secara cerdas akan menjadi BENCANA,ternyata China mampu"MENYULAP"beban menjadi daya tarik yang luar biasa ampuhnya untuk menarik investor asing menanamkan modalnya disana,sehingga dalam waktu singkat menjadi salah satu negara adidaya didunia.
Sebaliknya negara Indonesia yang DIANUGERAHI alam yang melimpah tambangnya dan yang subur ijo royo2,pemerintahnya tidak mampu menfaatkan kelebihan tersebut untuk menarik investor,bahkan merubah anugerah tersebut menjadi MUSIBAH.
 
TRAGIS !,pemerintah justru membuat regulasi agar "investor"asing yang MENIKMATI KEKAYAAN ALAM INDONESIA,rakyat Indonesia yang HARUS MEMIKUL BENCANA yang diakibatkannya.
 
 
nuwun sewu.
 
singo.