Aku sedang membaca beberapa file tempatku menyimpan artikel-artikel yang telah ku-post di blog tatkala aku menemukan satu artikel yang kutulis setelah mendapatkan inspirasi dari satu artikel dalam harian nasional berbahasa Inggris yang menyebutkan “satu tempat tanpa adanya diskriminasi sosial hanyalah merupakan satu utopia saja.”

Artikel ini mengingatkanku pada satu email pendek yang kuterima dari seorang teman kuliah beberapa minggu yang lalu. Dia bekerja di sebuah universitas swasta di satu kota kecil yang terletak di Jawa Tengah. PTS ini milik salah satu organisasi massa Islam terbesar di Indonesia. Temanku ini mengeluh karena akhir-akhir ini tempat kerjanya mulai memberlakukan beberapa peraturan yang menurutnya mulai mencampuri kehidupan pribadi pegawainya; misal: para pegawai diwajibkan shalat Dzuhur di masjid kampus dan sebulan sekali harus menghadiri acara pengajian yang dilaksanakan pada satu hari pukul 7 malam. Selain itu, setiap fatwa yang dikeluarkan oleh Majlis Pusat organisasi massa tersebut yang berlokasi di Jakarta harus diikuti oleh seluruh pegawai. Para pegawai seolah tidak memiliki pilihan untuk melakukan apa yang mereka yakini sebagai sesuatu yang “benar” karena segala sesuatu yang “benar” telah ditetapkan oleh Majlis Pusat. Jika seorang pegawai tidak shalat Dzuhur di masjid kampus atau tidak menghadiri acara pengajian, maka dia akan dipanggil oleh atasan untuk kemudian diinterogasi.
Temanku ini, seorang perempuan, bisa kukategorikan sebagai seseorang yang kritis terhadap apa yang dia lihat dan alami, dan tidak begitu saja dengan mudah menerima apa-apa yang di”jejal”kan kepadanya. Dia jarang mengikuti acara shalat Dzuhur di masjid kampus, maupun menghadiri pengajian karena pada waktu itu dia mempunyai kewajiban untuk mengajar. Dia bisa melihat dan menilai bahwa apa-apa yang disampaikan dalam acara pengajian tersebut bermisi politik, maupun bertendensi untuk mengajarkan doktrin-doktrin tertentu yang dikeluarkan oleh Majlis Pusat. Di mataku, temanku ini merupakan seorang Muslim yang baik, memakai jilbab dalam kesehariannya, shalat lima kali sehari, dan melakukan rukun Islam yang lain, bukan sebagai hasil indoktrinasi yang lebih sering dipaksakan, namun merupakan hasil pencarian spiritualnya atas satu Dzat yang serba Maha.

Dalam email pendeknya, dia juga bercerita tentang seorang teman kerjanya yang baru saja dikeluarkan dari kantor. Teman kerjanya tersebut tidak pernah menghadiri pengajian yang diselenggarakan sebulan sekali, tidak melakukan apa-apa yang difatwakan oleh Majlis Pusat (misal: tatkala hari Idul Fitri lalu tidak shalat Ied pada hari yang telah ditentukan oleh Majlis Pusat). Tatkala dia dipanggil oleh atasannya dan diinterogasi apakah dia bukan pengikut organisasi massa Islam dimana PTS tersebut membawa benderanya, dengan tegas dia menjawab, “Bukan.” Hasilnya? Sang atasan pun berkata kepadanya, “Anda diberhentikan dari tugas anda di sini. Silakan mencari pekerjaan di tempat lain.”

“Mengapa sebuah PTS (ataupun perusahaan lain) menilai seorang pegawai bukan dari etos kerjanya melainkan hanya dari bagaimana dia menjalankan aktifitas keagamaannya? Bukankah yang paling berhak untuk menilai iman seseorang hanyalah Yang Di Atas sana? Dan bukannya sesama manusia? Kita tidak bisa menilai ketaqwaan maupun iman seseorang hanya dari bagaimana seseorang tersebut menjalankan aktifitas keagamaannya. Hal tersebut bersifat sangat pribadi. Tuhan tidak akan berkurang keperkasaan-Nya hanya karena seseorang tidak menghadiri acara pengajian maupun shalat di masjid yang telah ditentukan.” Komplain temanku dalam emailnya.
Pada saat yang bersamaan aku ingat kasus seorang teman yang kukenal pertama kali lewat dunia maya. Beberapa bulan lalu dia bercerita bahwa dia dikeluarkan dari tempat kerjanya karena dia satu-satunya pegawai yang non Muslim di kantornya. Berbeda dengan kasus di atas, kantor tempatnya bekerja tidak secara terus terang mengatakan padanya bahwa kasus pemberhentian tersebut dikarenakan alasan agama melainkan karena perampingan jumlah pegawai demi keefektifan dan keefisiensian.

Aku juga ingat kasusku sendiri. Beberapa bulan lalu aku diberhentikan dari PTS tempatku bekerja karena aku adalah seorang pegawai Muslim. Beberapa tahun terakhir ini telah terdengar selentingan yang mengatakan bahwa PTS tersebut akan mengubah visinya menjadi Kampus yang berorientasikan ke Gereja Kristen (Church Campus). PTS tersebut memang milik seseorang yang beretnis Cina dan memiliki profesi sebagai seorang pendeta, yang kebetulan juga merupakan seorang pebisnis. Selain itu aku juga tahu bahwa atasanku langsung, Dekan FBS yang juga memiliki profesi sebagai seorang pendeta yang dahulu merupakan mahasiswaku merasa tidak nyaman dengan keberadaanku di situ. Aku dianggap terlalu cerdas dan kritis di matanya. Sama seperti kasus yang menimpa temanku di atas, Rektor berusaha menyembunyikan alasan sebenarnya (diskriminasi agama).

Diskriminasi memang terjadi dimana-mana. Diskriminasi terjadi tidak hanya kepada kaum perempuan di kultur patriarki ini, namun juga terjadi antar etnik, antar agama, bahkan juga terjadi dalam satu agama yang sama namun bergabung dengan kelompok agama/organisasi massa yang berbeda.
PT56 14.25 290607

http://afeministblog.blogspot.com/2007/06/utopia-2.html